Lahire Wisang: Lelakoning Urip (bag. 1)
Juni 29, 2009
LAHIRNYA WISANG: SEBUAH PERJALANAN HIDUP
Sabtu, 13 Juni 2009
Sudah sejak pukul delapan pagi, Dewi mengeluhkan perut yang mulai tersa nyeri. Kontraksi terasa semakin sering dan berkelanjutan. Bukan braxton hicks, ini kontraksi beneran, katanya. Kami menunggu sampai Jasmine bangun, sarapan dan siap untuk berangkat ke klinik. Pekerjaan pertama sebelum berangkat adalah membujuk Jasmine untuk membatalkan acara belanja di Giant, dengan upeti akan dibelikan Play Doh, adonan mainan, pada kesempatan belanja berikutnya. Alhamdulillah, Jasmine mau mengerti, bahkan exciting mendengar bahwa adik sudah mau lahir.
Pukul sebelas, kami telah sampai di klinik yang hanya memakan waktu kurang dari 8 menit dari kediaman kami. Sabtu adalah hari libur. Beruntung selalu ada staf paramedis yang on call. Dewi menghubungi nomor ponsel yang tertera pada papan yang tertempel di pintu masuk unit gawat darurat. Sekejap ya, dia meminta kami menunggu sebentar. Dan lima menit kemudian seorang paramedis datang. Membukakan pintu unit ibu dan anak, kemudian mempersilahkan Dewi masuk. Aku memarkir mobil, kebetulan Auditya baru pulang ke Indonesia dan dia mempersilahkan aku memakai mobilnya sewaktu waktu, kemudian bersama Jasmine menyusul masuk ke ruang tunggu unit ibu dan anak.
Tak lama kemudian, datang lagi 2 paramedis. Yang satu berseragam, tampaknya baru saja pulang dari kunjungan ke rumah pasien. Satu lagi, berpakain preman, he..he.., bersama suaminya. Tampaknya perawat yang pertama mengkontak mereka untuk ikut menangani Dewi. Mereka segera menyusul masuk ke ruang periksa. Sementara aku mulai menurunkan tas berisi pakaian new born, dan juga perlengkapan Dewi, yang sudah ia persiapkan sejak sebulan silam.
Setengah jam berlalu. Jasmine mulai bosan berada di ruang tunggu, dan aku biarkan ia bermain-main di teras klinik. Akhirnya, Dewi keluar juga dari ruang periksa. Baru bukaan dua, pulang dulu aja, katanya, nanti pukul 4 disuruh ke klinik lagi untuk dilihat perkembangannya. Seluruh “peralatan perang”kembali aku masukkan ke bagasi. Jasmine nggak mau diajak pulang, dia kepingin ke Giant, dan menagih Play Doh-nya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Giant, sekalian belanja untuk jaga-jaga kalau seandainya adiknya Jasmine benar-benar mau keluar hari ini juga. Berhubung situasi mewajibkan aku siaga satu, maka aku menghubungi teman-teman, bahwa aku tak dapat menghandle pengajian di kebun sayur Gambang, yang sedianya jadwal hari itu diamanatkan padaku karena Pak Ustad Cikgu Anwar dan Kang Yudi yang biasanya bertanggungjawab atas event ini sedang menjumpai Ustad Cahyadi di KL. Akhirnya Pak Yoyo dan Cak Joe yang sedang sibuk di Pekan ketiban sampur untuk melaksanakan tugas tersebut.
Mampir sejenak di rumah untuk ganti baju, kan gak lucu shopping Dewi masih pakai lilitan sarung di pinggangnya, makan siang dan shalat dhuhur, kami melaju ke arah bandar Kuantan. Alhamdulillah, dengan mudah kami mendapatkan spasi parkir, sesuatu yang sangat susah didapat di Giant, terutama pada saat penghujung minggu. Sasaran pertama jelas berburu Play Doh, yang sudah membuat Jasmine termimpi-mimpi selama beberapa hari terakhir. Berikutnya adalah belanja mingguan. Kami memutuskan untuk tidak membeli bahan-bahan basah seperti daging, ayam dan ikan, dengan pertimbangan tidak akan sempat mengurusnya, karena kami berencana untuk langsung ke klinik selepas berbelanja.
Tanpa terasa sudah puku16.15. Perawat klinik baru saja mengkontak ponsel Dewi. Kami pun segera menyelesaikan urusan berbelanja dan langsung meluncur ke klinik. Selama berbelanja, perut Dewi masih terus nyeri dan berkontraksi. Seperti paginya, sesampai di klinik Dewi langsung masuk ke ruang periksa. Setengah jam lagi. Dan belum ada perkembangan lebih lanjut. Pulang lagi ke rumah. Menunggu lagi.
(bersambung)
Wisanggeni Gugat 4: Pembelotan Batara Bromo
November 8, 2008
Lanjutan dari sini….
Senja menjelang. Di beranda Gresilageni, Dewi Dresanala sedang berwawan kata dengan sang putera, Wisanggeni, ketika dikejutkan kedatangan seseorang yang gagah pidekso. Dari angkasa, sang ksatria yang tak lain adalah satria Pringgondani, Gatotkaca, meluncur deras sepanjang runway yang membentang di depan pendopo kahyangan Gresilageni. Dengan mulus, sang Gatotkaca mendarat dan sejurus kemudian sudah berada di hadapan Dewi Dresanala.
“Kok njanur gunung, putraku Gatotkaca, bagaimana kabarmu, orang tuamu dan seluruh pepundenmu di Amarta?” Dewi Dresanala membuka pembicaraan.
“Pangestunipun ibu Dresanala, segala lindungan dan rahmat Sang Podo Wenang senantiasa tercurah kepada keluarga besar Pandhawa”
“Kakang, sehat-sehat saja kan? Ada perlu apa kok kelihatan tergopoh-gopoh, langsung saja disampaikan, tak perlu membuang-buang waktu!” Wisanggeni tak sabar mendengarkan pawarta yang dibawa kakak sepupunya.
“Hari ini dimas dipanggil menghadap ke kraton Amarta. Ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan, berkaitan dengan persiapan menjelang perang Baratayuda. Sri Kresna pun akan hadir, untuk ikut menentukan para putera pandawa yang akan dinobatkan jadi senopati perang.”
“Ooo… kalau begitu saya manut saja. Sayangnya, aku saat ini baru suntuk pikiranku. Aku baru tak bisa berpikir jernih. Aku harus menyelesaikan dulu urusan yang sangat penting. Nanti aku akan menysul ke Amarta kalau urusan penting ini sudah selesai!” Wisanggeni setengah tak sabar memberikan jawaban.
“Ada apa to, putraku, kok sepertinya ada hal yang rumit?” Dewi Dresanala menyela
“Begini ibu, kangmas Gatotkaca menjemputku untuk datang dalam musyawarah yang akan digelar di kraton Amarta, namun pikiranku merasa tidak enak, dan aku harus menyelesaikan satu urusan terlebih dahulu”
“Urusan apa to le, kok sepertinya sangat penting”
“Ibu saya beri tahu, tapi jangan kaget ya. Keluarga kita baru dapat cobaan yang berat. Suralaya menghendaki kematian empat titah ngarcopodo. Tak lain adalah aku, kakang Antasena, wak Werkudoro, dan suamimu”
“Suamiku?”
“Iya, suamimu bu, Arjuna”
“Lha rak bapakmu to?”
“La iya, bapakku”
“Terus, alasannya apa?”
“Aku, kakang ANtasena dan wak Werkudoro dianggap tak punya tatakrama, sementara bapak dianggap sering melecehkan kewibawaan dewa, dengan hobinya yang memperistri para bidadari. Dan nanti, eyang Bromo akan pulang, mencariku, dan akan membunuhku, sebagaimana ditugaskan oleh Eyang Bathara Guru”
Ketajaman mata hati Wisanggeni sangat teruji. Tak heran, karena sejak lahir dia sudah digodog di kawah Candradimuka, sehingga anginpun mampu membawa kabar baginya. Semua bisik-bisik di Suralaya telah menjelma menjadi gaung yang sangat nyata dan terdengar di telinga Wisanggeni. Dewi Dresanala sangat terkejut dengan kenyatan itu. Tak kalah terkejutnya Raden Gatotkaca, mengethaui bahwa ayahnya dan saudara tirinya menjadi target operasi Sang Batara Guru.
“Bapak dan kakang Antasena juga mau dilenyapkan, dimas?”
“Iya kang. Batara Guru sudah mengutus Dewasrani untuk memenggal kepala wak Werkudoro, kakang Antasena dan juga bapak Arjuna”
Dewi Dresanala tak kuasa menahan derai tangis
“Duh Gusti ingkang murbeng dumadi. Lelakuon kok koyo mangkene. Harus bagaimana lagi kita menghadapinya anakku?”
“Sudahlah, ibu tak perlu khawatir. Sekarang ibu masuk ke kamar, beristirahatlah. Serahkan kepada anakmu ini. Aku akan menyongsong eyang Bromo, dan menyelesaikan semua persoalan ini. Kalau perlu, aku obrak-abrik Suralaya, demi mendapatkan keadilan.”
“Biarkan aku ikut mendampingimu, thole. Aku ingin berjumpa dengan Rama Bathara Bromo”
“Tak perlu ibu, nanti hanya akan jadi hujan tangis dan airmata. Kesedihan dan airmata tak akan menyelesaikan masalah. Ibu percayakan saja kepadaku. Jangan khawatir, ini ada satu sukarelawan yang bisa dimanfaatkan untuk ikut ngobrak-abrik Suralaya” Wisanggeni menenangkan sang ibu sambil melirik kepada Gatotkaca
“Bers Dimas, aku pasti akan membantumu” Sahut Gatotkaca
“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan nenepi dulu, memanjatkan doa untuk keselamatanmu, keselamatan eyangmu, bapakmu, dan seluruh pandawa” Dewi Dresanala beranjak ke dalam
“Sebentar bu…”
“Ada apa anakku”
“Ini, kinang dan mbako susurnya ketinggalan”
**********
Sesaat setelah Dewi Dresanala, datanglah Batara Bromo dengan berurai airmata…
“Aduh Ngger Wisanggeni cucuku, aku tak tahu harus bicara bagaimana”
“Kaki Bromo, kamu kok datang-datang becucuran airmata. Dewa itu nggak boleh nangis, tahu?!”
“Nggak ada undang-undang yang melarang dewa nangis kok. Dewa juga punya emosi, kalau memang susah ya boleh-boleh saja nangis”
“Terserah, nggak usah nangis. Sekarang kaki ngomong saja yang jelas. Dewo kok gembeng!”
“Duh, Wisanggeni cucuku. Aku benar-benar nggak mampu mengatakannya. Aku tak sanggup…”
“Wis to kaki. Kamu tadi disuruh apa sama Guru? Sekarang, terserah kamu, saguh atau nggak? Kalau sanggup, cepet-cepet saja bunuh aku. Penggal leherku!”
“Duh ngger putuku, kamu kok sudah tahu segalanya? Siapa yang bilang kepadamu?”
“Lho kaki nggak tahu ya, kalau aku punya penyadap yang maha hebat. Nah sekarang, tinggal gimana kemauan kaki. Mau nggugu karepe Guru, aku patenono. Atau kalau mau berpihak padaku, siap-siap saja nyemplung bareng ke kawah Candradimuka!”
“Sebenarnya aku tak mampu membiarkanmu mati, namun aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Kakang Guru”
“Kalau kaki memang ngeman nyawaku, sekarang kaki masuk saja ke dalam. Biar aku dan kakang Gatotkaca yang menyelesaikannya”
“Duh ngger putuku, kepurusan yang amat berat. Kamu harus menghadapi para dewa-dewa di Suralaya, yang kesaktiannya luar biasa.”
“Jangankan hanya dewa, Guru pun aku tak takut. Kalau perlu, aku bisa nglengserkan dia dari singgasananya. kalau perlu, nanti aku angkat kaki jadi Guru”
“Emoh, aku nggak sanggup jadi Guru, nggak punya ijazah!”
“Wis, sekarang kaki ke dalam sana. Temani ibu Dresanala. Pokoknya kaki sama ibu tahunya beres! Sana Ki, jangan buang waktu, keburu para dewa datang ke sini!”
Batara Brama bergegas masuk. Wajahnya masih tergurat kesedihan dan kebimbangan. Air mata pun masih menetes dari sudut bola matanya.
Dari kejauhan, Narada dan kawan-kawan menyaksikan pembelotan Bromo. Maka tanpa pikir panjang, Narada memberikan instruksi kepada para dewa untuk turun, dan menyambangi Wisanggeni dan Gatotkaca.
“Wisanggeni, mana eyangmu?” tanpa basa-basi Narada menanyai Wisanggeni
“Ada perlu apa, wo Narada?”
“Eyangmu sudah mengabaikan perintah Batara Guru”
“Memangnya kenapa, kalau kaki Bromo nggak mau membunuhku?”
Narada menoleh ke Panyarikan
“Panyarikan, tangkap dan seret Bromo. Langsung cemplungkan ke kawah Candradimuka!”
“Halah, ngapain susah-susah nangkap Bromo? Mending nangkap aku dulu yang sudah ada di sini. Baru setelah bisa meringkusku, silahkan kalau kalian mau menyeret kaki Bromo ke kawah Candradimuka.”
“Welha, dasar bocah ora urus. Njaluk mati tenan iki. Berani-beraninya kamu menantang para dewa. Nggak takut kuwalat, hah!”
“Apa yang kutakutkan? Dewa itu kalau salah ya tetep salah. Nggak ada kata kuwalat bagi yang membela kebenaran!” tegas Wisanggeni
“Panyarikan, jangan buang waktu, segera bereskan anak ingusan itu!” teriak Narada kepada Panyarikan
“Lha, terus kaki Narada ngapain?”
“Ulun tak nonton, mbotohi saja. Biar yang muda-muda yang maju” Narada beringsut dan duduk di bawah pohon preh. Tak lupa menyulut rokok klobotnya, sambil mengawasi para juniornya bersiap-siap melabrak Wisanggeni.
Panyarikan melompat ke hadapan Wisanggeni. Wisanggeni pun telah memasang kuda-kudanya.
“Ayo kaki Panyarikan, jangan ragu-ragu, hantam saja dadaku!” tantang Wisanggeni
Sejurus kemudian Panyarikan menarik kuda-kudanya, dan siap melompat menerjang dada Wisanggeni. Sepersekian detik, angin deras menerpa tubuh Panyarikan. Beruntung, kesigapan dan ketangguhan seorang dewa mampu mempertahankan posisi tubuhnya tetap tegak berdiri. Tanpa diduga, ternyata Gatotkaca sudah berdiri di hadapan Wisanggeni, membentengi adiknya dari serangan Panyarikan.
“Hadapi aku dulu. Langkahi mayatku, sebelum kalian dapat meringkus adimas Wisanggeni”
“Lho Gatotkaca, kamu kok melu-melu Wisanggeni? Nggak takut kualat, sama dewa kok ngoko!”
“Nggak perlu susah-susah kromo inggil. Boso atau nggak yo tetep akan jotosan kok. Sini, hadapi dulu Gatotkaca, satria Pringgondani!”
Senja sudah berganti malam. Bulan sabit tanggal 2 telah pula memasuki bilik peraduan. Blencong di pendapa kraton Gresilageni tak mampu menerangi seluruh halaman pendopo. Hanya kelebat-kelebat sinar yang tak mampu diikuti oleh mata, saling sahut menyaut di kegelapan malam. Serta suara-suara benturan yang timbul dari pertempuran tanding maha dahsyat antara seorang titah ngarcapada melawan seorang dewa.
Bersambung lagi…
Wisanggeni Gugat 3: Mata-mata para Dewa
Oktober 4, 2008
Pukulun Bathara Guru memerintahkan Bathara Bromo untuk membunuh cucunya Wisanggeni, dalam rangka membersihkan anasir-anasir di ngarcapada yang dianggap merongrong kewibawaan dan melecehkan kehormatan para dewa yang bertahta di kahyangan Suralaya. Pada saat yang sama, Bathara Guru juga mengutus Bethari Durga untuk memerintahkan putranya Dewasrani membinasakan Janaka, Werkudara dan Antasena, dengan tujuan yang sama, serta diiming-imingi imbalan akan dinobatkan sebagai lelananging jagad menggantikan Arjuna.
Sebelum meninggalkan pisowanan, Bathara Guru sempat memanggil Bathara Narada untuk mengawasi langkah Bathara Bromo dan memastikan bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan tugasnya membinasakan Wisanggeni. Dengan berat hati, Narada menyanggupi, demi kesetiaan terhadap pimpinannya. Dengan ditemani dua puteranya, Masno dan Panyarikan, Narada pun bergegas keluar dari sitinggil dan menghampiri para dewa yang masih berkumpul di luar pintu gerbang sitinggil.
“Wo Narada, ada dhawuh dan berita apa dari pukulun Bathara Guru? Kok sepertinya keadaannya gawat?” tanya Yomodipati mewakili rasa ingin tahu para koleganya.
“Iya, wo. Kami siap nyadhong dhawuh nungsung pawarto. Kalau ada apa-apa, kami siap membantu”, sergah Bathara Sambu dari belakang.
“Masno, Panyarikan, ini para teman-temanmu pada ingin tahu dhawuh dari Sanghyang Guru. Bagaimana ini?” Narada meminta pertimbangan kepada dua puteranya.
“Lha monggo pukulun. Lebih baik disampaikan saja apa yang menjadi dhawuh pukulun Bathara Guru, biar semuanya jelas, dan seluruh warga kahyangan Suralaya mengerti duduk perkaranya”. Masno memberikan pertimbangannya.
Maka Bathara Narada pun menceritakan semuanya.
“Indra, Tatra, Sambu, Yomodipati dan semuanya. Janganlah kalian terkejut dengan apa yang disabdakan Bathara Guru. Bathara Guru hendak menjaga kewibawaan kahyangan. Titah ngarcapada yang dianggap merendahkan martabat kahyangan harus dimusnahkan. Menurut Pramesthi Bathara Guru, ada 4 titah yang harus dilenyapkan”
“Siapa Wo?” potong Indra
“Tiga, Wisanggeni, Werkudara dan Antasena. Mereka dianggap tidak punya tatakrama. Tidak bisa bertutur kata dengan halus dan lemah lembut. Bahkan dengan dewa saja mereka tidak bisa kromo inggil. Kemudian satu lagi Arjuna. Kekurangajarannya adalah pada hobinya memperistri bidadari. Padahal menurut pukulun Bathara Guru, jangan sampai para bidadari itu jatuh ke tangan manusia biasa. Sudah ditakdirkan bahwa bidadari hanya untuk para dewa. Bayangkan, tiap-tiap ada bidadari yang cantik, diambil istri oleh Janaka. Lama-lama stok bidadari akan habis. Kasihan para dewa, terutama yang bertampang buruk, besok-besok nggak bakalan kebagian jodoh bidadari. Apa disuruh kawin sama celeng?! Maka jalan satu-satunya untuk menghentikan penghinaan itu adalah dengan membinasakannya.”
“Nuwun sewu Wo, saya boleh mengemukakan pendapat?” Yomodipati menyela.
“Boleh-boleh saja Yom”
“Menurut pendapat saya, menghilangkan salah satu atau lebih anggota Pandhawa, itu sama saja dengan mempersiapkan kehancuran bagi kahyangan Suralaya. Ingat sabda Sanghyang Wenang, jangan sampai mengganggu gugat keberadaan Pandhawa. Bahkan para dewa sendiri tidak diperbolehkan untuk ngucap ngrasani matine Pandawa. Lha nanti kalau benar terjadi pembunuhan Pandawa, terus bagaimana selanjutnya nasib kita Wo Narada?”
“Lha kalau berani sana, protes sama Bathara Guru, jangan sama ulun. Lha wong ulun cuma sekedar disuruh kok. Wong ulun tadi sudah bilang seperti itu sama pukulun, bukannya didengar, malah ulun hendak dipensiun jadi dewa! Makanya kalau sudah siap pensiun jadi dewa, silahkan kalian menghadap Adi Guru, dan matur rame-rame”, ketus Narada.
“Saya kira, kalaupun harus dipecat dari kahyangan, asal beramai-ramai, bagi saya tak ada masalah kok Wo” tantang Yomodipati, “nggak jadi dewa juga nggak patheken. Yang saya cari itu adalah ketenteraman hidup. Coba buktikan besok, kalau Janaka mati, bisa dipastikan kahyangan Suralaya geger!”
“Sebabnya?” sergah Narada
“Kahyangan akan diserbu para jandanya Janaka. Mereka pasti akan berunjuk rasa dan minta pertanggungjawaban kita. Belum lagi, kalau orangorang itu pada tahu banyak stok janda di sini, mereka pasti akan nglurug ke Suralaya, memburu para janda bidadari itu”
“Maksudumu, para titah ngarcapada?”
“Iya, Wo”
“Yen ngono, kalau ada titah yang berani datang kesini, bunuh saja sekalian”
“Lha, nanti kalau bidadari terus mengamuk, gara-gara tak dapat jodoh”
“Bunuh sekalian!”
“Padahal bidadari itu anaknya para dewa. Kalau mereka tidak rela kehilangan anak, dan ikut-ikutan ngamuk?”
“Bunuh juga sekalian, gitu aja kok repot”
“Dewa itu padahal ada yang juga anaknya Wo Narada, lha nanti kalau Wo Narada nggak terima terus juga mengamuk?”
“Yo binasakan sekali…. weee… dengkulmu mlocot kuwi. Lha kok terus ulun didaftarkan mati sekalian, dasar bocah ra urus” Narada menyerapahi Yomodipati.” Sudah, sekarang nggak usah dipikirkan dalam-dalam lagi. Sekarang semuanya juga bernagkat ke kahyangan Gresilageni”
“Tujuannya apa Wo?”
“Mengawasi gerak-gerik Bathara Bromo. Kalau dia bisa membunuh Wisanggeni, maka berikanlah bantuan secukupnya. Namun bila dia tidak mampu membunuh cucunya, maka tangkaplah keduanya, dan ceburkan ke kawah Candradimuka.”
“Kalau begitu caranya, berarti saya batak besanan dengan Bathara Bromo” protes Indra
“La kenapa?”
“Sudah rembug tuwa, kalau anak saya Prabasini akan inikahkan dengan Wisanggeni dalam waktu dekat ini”
“Batalkan! Kalau sudah terlanjur pesan tempat, batalkan. Undangan yang sudah tersebar, segera ditarik. Daripada jadi masalah nantinya!”
“Sudah, sekarang semuanya berangkat, dibawah komando ulun. Kalau Bromo mbalelo, tangkap dan cemplungkan Candradimuka!”
Dengan setengah hati, para dewa pun berangkat ke Gresilageni. Demi sebuah kesetiaan terhadap pimpinan mereka …
Bersambung
“
Di sana
Oktober 1, 2008
Wisanggeni Gugat 2: Menguji Kesetiaan Bathara Bromo
September 14, 2008
Kelanjutan dari sini. Setelah sekian lama terlupakan. Terimakasih untuk Kang Kandar atas file wayangnya.
Bathara Panyarikan tidak membuang waktu lagi. Segera madal pasilan meninggalkan pisowanan di Jonggringsalaka menuju ke Gresilageni untuk menjemput Bathara Bromo. Mengetahui dirinya dipanggil Sang Hyang Bathara Guru, Bathara Bromo segera melesat menuju ke paseban di Marcupundhamanik, menjumpai penguasa tunggal Suralay yang masih nampak galau. Sejenak berbasa-basi, akhirnya Bathara Guru ndangu Bathara Brama.
+ “Jangan terkejut ya Bromo, ulun memanggilmu untuk sowan, ada satu hal yang sangat penting yang harus ulun bicarakan denganmu”.
- “Sendika, pukulun Bathara Guru”
+”Sebelumnya ulun tanya, sejauh mana kira-kira pengabdian dan kecintaanmu terhadap ulun, selaku pepundhenmu?”
- “Pukulun, panjenengan adalah pepundhen hamba, yang sangat hamba hormati dan hamba cintai. Sampai detik ini pun, dari lubuk hati yang terdalam, segala cinta dan pengorbanan hanyalah untuk paduka. Jiwa raga hamba hanyalah untuk kemuliaan paduka”
+ “Ulun percaya, tiada yang lebih setia terhadapku melebihi dirimu. Kecintaanm pun telah teruji selama ini. Maafkan ulun, kalau terkesan mempertanyakan kesetiaanmu. Hal ini ulun rasa perlu, karena ulun hendak mempercayakan satu tugas yang maha berat, yang ulun percayai hanya dirimu yang mampu mengembannya”
- “Sendika paduka. Demi kehormatan dan kemuliaan paduka, ijinkanlah hamba nyadhong dawuh pukulun, semua yang paduka titahkan akan hamba laksanakan dengan penuh tanggung jawab”
Bathara Guru terdiam sejenak. Menghela napas panjang, kemudian melanjutkan sabdanya, sambil menatap tajam wajah Bathara Bromo yang tertunduk takzim.
+ “Sekarang pulanglah ke kahyangan Gresilageni. Jumpai cucumu Wisanggeni, dan bunuhlah dia untukku”
Lirih namun tegas sabda Bathara Guru, namun bagi Bathara Bromo, terdengar bagaikan gundhala sasra, seribu guntur yang bersuara bersamaan dalam topan badai. Pucat pasi, gemetar, Bathara Bromo tak mampu mengeluarkan suara.
+ “Bagaimana Bromo, ulun sangat bergantung pada dirimu. Hanya kamulah yang mampu menyelamatkan kahyangan Suralaya dari kehinaan”
- “Punten dalem sewu pukulun, kalau diperkenankan tahu, mengapa hamba harus membunuh cucu saya? Apa dosa yang telah dia perbuat sehingga mampu mencemarkan kehormatan Suralaya?”
+ “Kau tak perlu tahu. Ulun hanya ingin kesanggupanmu. Kalau kamu sanggup, bunuhlah Wisanggeni, dan itu membuktikan bukti kecintaan dan kesetiaanmu pada Suralaya. Namun apabila kamu tak sanggup, berarti tak ada gunanya dirimu jadi dewa. Satu-satunya hal yang pantas untukmu adalah tanggalkan seluruh pakaian kebesaran kedewaanmu, dan terjunlah kamu ke kawah Candradimuka”
Bathara Bromo terdiam lama, sampai akhirnya dengan suara tercekat dia memohon kepada Bathara Guru
- “Punten dalem sewu pukulun, bagaimana saya bisa membinasakan cucu saya, sedangkan pada saat dalam kandungan, saat lahir, maupun pada saat masih kecil, melalui keadaan yang sangat kritis dan membahayakan dunia seisinya. Apalagi sekarang, saat dia sedang beranjak dewasa, apa tidak berbahaya bagi Suralaya?”
+ “Tak perlu banyak cakap Bromo. Sanggup atau tidak? Take it or leave it! Bunuh Wisanggeni atau nyemplung kawah Candradimuka!”
Bathara Bromo bimbang, dan menoleh pada Bathara Narada, meminta pertimbangan.
- “Bagaimana ini kakang Narada, mengapa saya dihadapkan pada posisi yang sangat sulit. Mohon bantuan kakang untuk meredakan amarah pukulun Bathara Guru”
+ “Luweh, aku ora melu-melu. Bagimu hanya ada pilihan. Bunuh Wisanggeni, atau nyemplung kawah. Ulun tadi sudah memberikan saran pada adi Guru, tapi malah ulun mau dipensiun dini jadi dewo. Semua tergantung kamu. Keputusan di tanganmu”
Dengan berat hati akhirnya Bromo menyanggupi perintah Bathara Guru yang sebenarnya dirasa tidak masuk akal. Namun apa daya, sebagai seorang dewa, dia hanya bisa tunduk dan patuh pada sang penguasa jagat, meskipun harus mengorbankan cucu kesayangannya. Akhirnya Bromo meminta ijin untuk kembali ke Gresilageni. Menjalankan misi yang sangat berat baginya, yang hampir-hampir tak mungkin dilakukannya.
Selepas kepergian Bromo, segera Bathara Guru memerintahkan Narada beserta anak-anaknya untuk mengikuti langkah Bromo, memastikan bahwa Bromo akan melaksanakan perintahnya. Apabila Bromo tidak mampu melaksanakan tugas, maka menjadi kewajiban Narada untuk meringkus dan menjerumuskan ke dalam kawah Candradimuka.
Bathari Durga, yang saat itu telah datang menghadap, segera diperintahkan oleh Bathara Guru untuk menemui sang putra, Dewasrani di Parang Gupito dan menugaskannya untuk melaksanakan misi berikutnya. Membunuh dan mempersembahkan kepala Werkudoro, Antaseno dan Janaka. Sebagai sipat kandel, Bathara Guru membekali Durga dengan pusaka cis jaludara miliknya. Apabila Dewasrani berhasil melaksanakan tugasnya, Bathara Guru berjanji untuk mengangkat dan mewisuda Dewasrani sebagai lelananging jagad menggantikan posisi Arjuna. Tanpa menunggu diperintah dua kali, Bathari Durga yang memang sangat berambisi untuk meraih kedudukan di kahyangan Suralaya melesat menuju Parang Gupito untuk menyampaikan amanat itu kepada puteranya.
Selesai memberikan sabda, dengan diiringi para dayang, Bathara Guru beranjak menuju bilik peraduan untuk beristirahat.
Bersambung lagi sesempatnya
Istighfar
September 11, 2008
Selepas matahari naik sepenggalah, di tegalan sawah di pinggiran padukuhan Klampis Ireng, Gareng dan Petruk baru asyik bercengkerama, sambil melepas lelah, selepas matun di sawah milik Semar, tak lain adalah sang ayah asuh mereka.
Pet: “Reng, opo bedane gajah lanang dengan wong lanang?”
Gar: “Halah, sipil Truk. Cangkriman kedaluwarsa saja kok ditanyakan. Jangankan anak SD, wakil rakyat pun bisa jawabnya. Toh-tohane opo?”
Ikhlas
September 8, 2008
Siang terik di Padepokan Karang Kabolotan. Ki Lurah Semar Bodronoyo masih bercengkerama dengan anak-anaknya, Ki Lurak Petruk Kanthongbolong dan kakaknya Ki Lurah Gareng. Tak berapa lama kemudian, muncullah si bungsu, Bagong.
B: “Pak, pak…”
S: “Ono opo to le, kok sajak penting gitu”
Adol Lengo Kari Busik
September 5, 2008
Nggak. Nggak ada hubungannya dengan harga minyak dunia yang naik turun gak karu-karuan. Apalagi sama gasnya mas Tangguh. Adol lengo kari busik, dalam bahasa Jawa adalah sebuah ungkapan yang kira-kira memiliki arti mendistribusikan sesuatu, tapi sang pembagi tersebut malah tidak kebagian.
Ramadhan hari pertama. Dan untuk pertama kalinya aku sekeluarga menunaikan ibadah puasa di kerajaan seberang. Tentu, tak ada kolak, tak ada mendoan, juga tak ada kipo untuk sekedar membatalkan puasa. Maka, siang harinya sang bidadaripun berinisiatif untuk membuat sesuatu yang istimewa untuk buka puasa pertama. Browsing sana sini, akhirnya ketemu satu jenis makanan pembuka yang sudah lama tak pernah kami cicipi. Jenang candil! Semacam bubur tepung beras yang dicampur dengan bola-bola ketan dan diberi kuah santan. Mmmmmh, baru dari bayangannya saja, sudah terasa lezatnya untuk mengawali buka puasa.
Tentang Singkatan Ituh…
September 2, 2008
Nuwun sewu jeng Tika, gaya sampeyan ulun pinjam …
Bermula dari iseng di warung sego kucing saya yang sudah kukut, dan ulun ulangi di sini. Ternyata kata-kata itu bagaikan anak panah, sekali dilepaskan, dia tak akan pernah kembali. Dan kata-kata itupun kembali mendengung, keluar dari sabda seorang lelananging jagad.
Mohon maaf, kalau saya menganggap beberapa singkatan itu adalah keisengan ulun, yang mungkin sudah melanglang ke berbagai milis dan sebagainya. Mohon maaf juga, kalau ada yang menyesatkan dalam akronim itu. Tahukah sampeyan, di mana Panjatan, Temon, Toyan, atau Kokap? Okelah, bagi yang suka blusukan di tlatah Kulon Progo, mungkin tahun beberapa nama kota kecamatan kecil di sana. Atau bagi anda penggemar Ki Hadisugito, pasti tahu kampung kecil di barat Wates yang bernama toyan itu. Tapi tahukah sampeyan, bahwa sampai saat ini pun ulun tak pernah menemui atau mendengar ada kota atau bahkan kampung bernama Tegalan, di sekitar sana? Ah, itu memang hanya kambuhnya waton suloyo ulun saja.
Mungkin ulun kegedhen rumongso juga. Bisa jadi, pada saat yang sama, ada seorang teman yang memiliki pikiran serupa… Sudahlah, saatnya kembali ke serambi rumahNya. Manembah ing ngarsane gusti. Melupakan sejenak gebyar dunia. Sampai jumpa lagi sebulan mendatang.
Selamat berpuasa Kisanak, sudahkan anda memutuskan untuk tidak dolan ke Pakistan lagi?
***pinjam style ndoro ndah pecase***
Gendhel Wurung
Juli 19, 2008
Catatan: Cerita ini kelanjutan dari sini.
Malam semakin larut. Embun mulai turun menyetubuhi bumi. Para tonggo sekapat yang tadi berkerumun di sekeliling rumah sudah mulai beranjak pulang. Tinggal menyisakan beberapa mbok-mbok yang masih ngobrol di dapur, dan sekitar tiga atau empat orang di patehan. Para baju barat yang tadi petang mendampingi aku menghadapi sang bong, sudah mulai terkapar dan terlelap di atas tikar pandan yang digelar di pendopo rumah. Perut mereka yang kenyang oleh gule menthok dan lemper semakin membuat tidur mereka kepati, seperti doso buto mati, peminum arak yang nglempus sehabis menenggak sepuluh sloki. Aku masih klisikan di kamar. Rasa panas dan perih mulai terasa seiring dengan semakin menurunnya pengaruh dry ice pada adik mungilku. Namun, rasa lega dan capai mengalahkan rasa sakit, dan menuntunku menuju alam mimpi. Dan malampun berlalu tanpa ada suatu kejadian yang berarti.