Tumbang
Mei 17, 2008 at 1:34 am | In Dari Sudut Kampung | 2 CommentsTags: cerita, gugur gunung, jangkang, kampung, sungai progo, takhayul
Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. Di barisan terdepan, Mbethu memanggul paculnya laksana seorang mayoret marching band. Sesekali dia mengayun-ayunkan doran paculnya, kemudian berbalik menghadap ke arah kami sambil berteriak laksana seorang komandan peleton memberikan komando kepada anak buahnya. Tak kurang dari dua puluhan beyes-beyes berbaris satu satu, sambil menabuh ember, kaleng, tumbu atau tenggok yang mereka bawa. Semua tertawa gembira, penuh sukacita menunaikan kewajiban yang dibebankan para bapak-bapak kami. Nglangsir pasir dari tepian Progo ke jalan setapak di sekitar wot glugu pasetran gandamayit.
Di bawah sana, Kang Mbolo dan Mas Perung, sudah ngunthuk pasir yang siap untuk kami angkut ke atas. Maka mengantrilah kami, menunggu giliran tenggok kami diisi. Berjajar urut kacang sambil menenteng tenggok, seperti ngantri sembako atau minyak tanah. Kang Mbolo mengisi tenggok beyes-beyes itu sesuai dengan kemampuan angkat masing-masing beyes. Gandung yang badannya pothok, dapat jatah lima sekop di tenggoknya, sementara Thole yang otot kawat balung thok, cukup diberi kuota dua sekop. Aku? Namanya saja Lompong. Jangan berharap ada kekuatan luar biasa yang mampu mengangkat lima atau enam sekop. Putaran pertama, aku masih mampu nyunggi tiga sekop. Putaran berikutnya, haqqul yakin, dua sekop saja sudah mlendek.
Matahari sudah semakin meninggi. Sudah tiga kali kami bolak balik naik turun tebing nyunggi tenggok. Beberapa teman sudah mulai kelelahan. Thole sudah mulai ndheprok di hamparan pasir. Dabul malah sudah ndhodhok di gemericik aliran air sungai. Nggak jelas apakah tadi pagi dia memang belum sempat buang hajat, atau gara-gara terlalu berat beban nyungginya sehingga isi perutnya keplenet dan memberontak minta dikeluarkan. Melihat situasi yang sudah tidak kondusif lagi, Kang Mbolo menghentikan aktivitasnya mengisi tenggok para beyes. Dibiarkannya tenggok-tenggok itu mlumah centang perenang di sekitar bukit pasir hasil karya Mas Perung. Maka para beyes pun pada pating besasik ngglesot di hamparan pasir. Aku ngglethak di sebelah tenggokku, menatap langit, sambil menyeka butir-butir peluh yang membasahi leherku. Sementara di sampingku, Mbethu dan Anthuk malah pada asyik main lungsuran, menebak posisi kerikil yang disembunyikan di gundukan pasir. Ndrewel, agak jauh di kananku, malah membuat gundukan pasir kecil, kemudian di puncaknya dibuat lubang.
“Iki lho saya mbuat gunung merapi, sebentar lagi kawahnya akan kebanjiran lahar panas”
Dan dengan wajah tak berdosa, dia plorotkan celananya, mengarahkan ujung tomahawknya ke kawah gunung merapi, mengucurkan campuran air dan garam amoniak ke lubang kawah gunung merapinya. Trembelane, ndilalah angin bertiup sepoi, menebarkan percik-percik amoniak ke wajahku yang sedang tengadah menatap langit. Sontoloyo! Jangkrik! Gedhang goreng! Gombal Amoh! Semua koleksi pisuhanku keluar, sambil berlari menuju ke air sungai mensucikan najis mutawasithah yang mencemari wajah tampang bayiku. Ndrewel cuma cengegesan saja, melihat tingkahku yang seperti cacing kepanasan.
Yu Tini dan Mbokdhe Sarminah menggendong tenggok dan nyangking ceret mendekati gundukan pasir Mas Perung. Semua tanggap ing sasmito. Waktunya istirahat. Telo break, gendruk break, atau mbili break. Kang Mbolo memukul paculnya dengan gagang arit, laksana memberikan komando kepada para pasukannya. Maka kami, para beyes, salang tunjang rebut dhucung berlari mendekati bukit pasir Mas Perung. Untuk hal yang satu ini, tak boleh kami ketinggalan. Sesuatu yang harus disegerakan. Bahkan Dabul pun berlari-lari sambil susah payah menaikkan celana kolornya yang belum terpasang sempurna. Embuh, apakah dia sempat cawik, atau cukup dipasrahkan pada aliran air sungai untuk membersihkan serpih-serpih keemasaan di kawasan brutunya.
Kami pun duduk melingkar mengelilingi tenggok yang segera dibuka oleh Yu Tini. Asap sedikit mengepul dari balik selendang yang menutup tenggok itu. Dari aromanya kami tahu pasti, singkong dan mbili rebus! Tangan Anthuk langsung kemlawe hendak nyaut mbili di tenggok.
“Hush, nanti dulu. Satu-satu, semua kebagian kok!” Yu Tini dengan sedikit galak menggak sambil menepis tangan Anthuk.
Kang Mbolo dan Mas Petruk dengan cekatan membagikan potongan singkong dan mbili rebus kepada para bolo dhupakannya, yang seperti kere kelaparan nyadhong sesuap makanan. Tak sampai hitungan detik, amblas satu tenggok telo rebus dilahap para beyes itu. Maka, ceret menjadi sasaran berikutnya. Entah disengaja, atau karena memang tak ada, Mbokdhe Sarminah hanya membawa ceret tanpa membawa serta gelasnya. Isinya teh anget, dengan sedikit tambahan gula pasir. Tak manis, sekedar klenyit-klenyit. Mungkin cuma tiga sendok untuk satu ceret. Jelas konsentrasinya tak cukup menebarkan rasa manis dalam air teh itu. Tapi tak jadi mengapa. Satu persatu mulut beyes itu menganga, dan cucuk ceret pun mampir ke mulut mereka, mengucurkan tetes demi tetes air, menghantarkan kesegaran surgawi.
Telo, mbili dan teh klenyit sudah tandas. Mas Perung dan Kang Mbolo sudah mengangkat senjatanya lagi.
“Ayo bocah-bocah, dua angkatan lagi!”
Maka kami pun kembali berbaris. Kang Mbolo sengkut mengisikan pasir ke tenggok kami. Kali ini sudah tidak sempat lagi memperhitungkan kuota dan daya angkut kami. Pukul rata. Semua dapat jatah tiga sekop. Tak ada yang protes. Meskipun Thole jalannya sampai kobol-kobol, dan kelihatan lehernya semakin mblesek. Sudah satu putaran. Tinggal satu ambalan lagi. Dan selesailah tugas kami pagi ini.
Matahari belum sampai ke titik kulminasinya. Masih kira-kira satu setengah jam lagi menjelang dhuhur. Bapak-bapak dan kakak-kakak kami masih sibuk di atas sana. Sebagian dari mereka masih meratakan tanah di sekitar jalan setapak. Mas Nardi, tukang andalan kampung kami, sedang sibung memasang pondasi untuk sesek bambu, dibantu oleh Kang Parjo dan Pakdhe Dulkromo. Sebagian lagi mengerubuti pohon jangkang raksasa itu. Lik Giyono sedang beraksi memangkas dahan-dahan di atas sana utnuk memudahkan penebangan pohon. Bersenjatakan pethel dan arit, Kang Giyono dengan tangkasnya berjalan dari satu dahan ke dahan yang lain, mengurangi kelebatan daun, dan memotong dahan-dahan yang dapat mengganggu proses perobohan pohon. Sementara di bawah, beberapa orang bergantian mengayunkan wadung dan pethel ke batang jangkang. Perlahan, sedikit demi sedikit, pokok batang jangkang mulai terluka, semakin lama semakin melebar. Hingga akhirnya Pak Dukuh, selaku komandan penebangan memerintahkan Lik Giyono untuk menghentikan memangkas dahan dan turun, karena pohon mulai bergoyang-goyang. Lik Giyono tanpa banyak membantah turun dengan cekatan.
Episode berikutnya, para pengayun wadung menghentikan kegiatannya. Memberi kesempatan kepada Kang Warijo untuk naik ke pohon. Dengan membawa kelat, batang bambu yang dibelah tipis-tipis sebagai tali penarik, Lik Warijo berusaha mencapai dahan tertinggi, dan mengikatkan kelat tersebut. Tak banyak membuang waktu, Lik Warijo sukse menunaikan misinya. Setelah turun, Pak Dukuh menginstruksikan semua orang untuk menghentikan aktivitasnya, dan naik ke tebing untuk bersama-sama menarik tali kelat. Merubuhkan pohon jangkang. Kami, para beyes, tak ingin tertinggal momen menarik ini. Kami beramai-ramai naik ke tebing.
“He, bocah-bocah. Awas jangan dekat-dekat. Bahaya!” Pakdhe Dulkromo menghardik kami
Kami pun menjaga jarak. Mengkirig juga membayangkan kalau tiba-tiba ambruknya pohon berganti arah dan menimpa kami, apa nggak ajur sewalang-walang?
Tinggal 2 orang lagi yang mengayunkan wadung dan pethelnya ke pangkal batang pohon jangkang. Sementara yang lainnya berjejer pasang kuda-kuda sambil memegang kelat bambu, menunggu aba-aba dari Pak Dukuh untuk menarik kelat ke arah tumbangnya pohon. Mas Nardi dan Kang Parjo sementara menghentikan pekerjaan mereka, dan ikut bergabung dengan para lelaki lainnya. Ibu-ibu pun keluar dari dapur Pakde Karyo. Mereka tak mau ketinggalan menyaksikan peristiwa bersejarah ini.
Pohon jangkang mulai sedikit bergoyang. Kami menahan nafas dalam-dalam. Keheningan dan ketegangan semakin mencekam. Hanya terdengar suara mata kampak menghantam pokok jangkang. Banyaknya kisah keangkeran pohon jangkang, serta mitos-mitos tak masuk akal yang sering diceritakan, tak ayal sempat membuat kami miris juga. Takut kesiku. Kualat. Tapi tekat masyarakat kampung kami sudah bulat. Tak bisa lagi dipupus. Kami terus berdoa dalam hati. Pohon kembali bergoyang kali ini agak keras. Dengusan napas tegang semakin nyaring terdengar. Hingga terdengar gelegar suara mengejutkan
“Tariiiik!!!”
Sekuat tenaga Pak Dukuh berteriak memberikan komando. Bersamaan dengan itu, Lik Paimun dan Kang Kobet, kedua pengayun wadung, berlari menjauh dari pangkal pohon jangkang. Mak regudug, barisan para lelaki perkasa menarik kelat sekuat tenaga, sambil berteriak-teriak menyamakan langkah.
Pohon jangkang bergerak semakin kencang. Amplitudonya semakin melebar. Akhirnya sampai sudah batas kelenturan batang jangkang. Perlahan tapi pasti, dengan diiringi suara gemuruh gesekan antara ranting-ranting dan daunnya, pohon jangkang semakin condong dan mulai rubuh ke arah para lelaki penariknya.
“Lariiii….!”
Tanpa perlu diulangi lagi, komando Pak Dukuh segera diikuti dengan kocar-kacirnya para penarik kelat, menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa rubuhnya pohon jangkang. Sejurus kemudian suara berdebam yang maha dahsyat mengiringi tumbangnya pohon jangkang. Kami merasakan seolah bumi bergetar. Debu mengepul di sekitar tempat tumbangnya pohon jangkang. Sejenak kami semua terdiam dalam keheningan.
“Allahu Akbaar!!!”
Kali ini Mbethu yang bikin ulah. Teriakannya mengagetkan kami semua, sekaligus menyadarkan kami. Dan sesaat kemudian, pekik heroik dan sorak sorai warga pun menuntaskan prosesi terhebat pagi ini. Menumbangkan simbol irasionalitas kampung kami. Membungkam tahyul, menyingkirkan gugon tuhon.
Beduk berbunyi. Adzan Dhuhur menggema. Beringsut kami ke sungai, mencuci muka, tangan dan kaki. Menu makan siang telah tersedia. Nasi putih yang panas mengepul, tempe garet, jangan gori, dan kerupuk legendar. Sungguh membangkitkan selera kami. Sebagian langsung mengerubuti tempat makan, sementara sebagian lagi memilih untuk lebih dulu menunaikan shalat Dhuhur di langgar sebelah rumah Pakde Karyo.
Selepas dhuhur, para lelaki dewasa kembali meneruskan karyanya. Sementara kami, para beyes, bertugas untuk ngangon wedhus, atau sekedar leyeh-leyeh di pinggir sawah.
Kategori
Mei 16, 2008 at 2:14 am | In Jagad Gumelar | 7 CommentsTags: blogging
Setelah dipikir-pikir, ditimbang-timbang, akhirnya ulun memutuskan untuk memilah-milah tulisan-tulisan dalam kelir ini menjadi beberapa kategori saja, dari sekian banyak kategori sebelumnya, yang rancu, ruwet, tumpah suh, serta tidak jelas mangsutnya. Dengan ini ulun beritakan ke segenap penjuru dunia, kiblat papat limo pancer, bahwa kelir ulun (sementara) hanya berisi kategori berikut ini:
Terkumpul segala tulisan yang merupakan opini, penggayuhan, dan olah batinku. Tentang pergulatan batinku, pencarian makna sejati kehidupanku, penghayatan akan keyakinan, keimananku pada Sangkan Paraning Dumadi, Allah ingkang Maha Tunggal.
Tentang segala sesuatu yang menyangkut diriku, keluargaku, dan kehidupanku. Peringatan keras, bahwa tulisan dalam kategori ini dapat mengakibatkan gangguan pencernaan, fungsi penglihatan atau bahkan membahayakan kehamilan anda, karena mengandung kadar narsisme yang cukup adigang adigung adiguno.
Refleksi perjalanan hidupku, semenjak jabang bayi, hingga setua ini. Tentang torehan kisah masa lalu. Tentang masa depan dan cita-cita.
Alam yang membentang. Riuh rendahnya dunia di sekitarku. Dunia nyata, dengan segala intrik sosial ekonomi dan politiknya. Dunia maya, dengan segala serba-serbi uniknya. Semua peristiwa di muka bumi ini dalam sudut pandangku.
Penggalan-penggalan fiksi, fragmen-fragmen kehidupan. Tak terlalu penting untuk dibaca, kecuali sampeyan ingin mengetahui sejauh mana imajinasiku dalam berkhayal dan menuangkan dalam rangkaian kata-kata. Semacam bunga rampai cerita pendek lah.
Tulisan-tulisan yang terinspirasi dari kehidupan masa kecil, remaja dan beranjak dewasaku di sebuah kampung kecil di barat kota Yogyakarta. Sampeyan boleh mempercayai tulisan ini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, atau sekedar fiksi. Nyatanya, semua tokoh adalah fiksi belaka, namun ada kalanya berawal dari sebuah karakter yang pernah sangat membekas dalam kenanganku. Tentang ceritanya, silahkan sampeyan nilai sendiri, gosip atau fakta.
Mungkin sampeyan sudah ada yang pernah tahu, jejak ulun di masa lalu. Dua kelir telah tutup. Dalam kategori ini, terangkum beberapa tulisan yang sempat terselamatkan dari kelir-kelir di masa laluku.
Sudah lebih dari empat episode lakon wayang kulit yang selesai saya simak. Terimakasih buat Mas Kandar yang telah memberikan 10 rekaman wayang kulit Ki Hadisugito. Terprovokasi Ki Sawali, ulun berniat untuk berbagi cerita dengan sampeyan-sampeyan yang kurang beruntung tidak dapat menikmati wayang dengan berbagai alasan, kendala waktu, bahasa, atau memang kurang tertarik. Memang belum ada isi tulisannya, mudah-mudahan saya diberi waktu dan kekuatan lebih untuk memulai menuliskannya. Insya Allah minggu depan
Catatan: maaf, tak ada terjemahan untuk kata-kata berletter miring. Lagi males translate ![]()
Kuntul Baris
Mei 2, 2008 at 3:02 pm | In Dari Sudut Kampung, Goresan Masa Lalu | 19 CommentsTags: fiksi, Jogjakarta, kampung, klasik, kontemplasi, tempo dulu, wayang
Setelah sekian lama terbengkelai akibat tragedi Kang Basiyo, rencana untuk melebarkan jalan di sekitar pasetran gandamayit kembali mengemuka. Hal ini dipicu oleh keresahan para warga pengguna jalan setapak itu yang merasa tidak nyaman dengan keharusan untuk menempuh perjalanan memutar menghindari kewingitan kawasan pasetran gandamayit. Maka para tetua kampung pun berembug, dan akhirnya mengambil keputusan secara bulat, golong gilig, pasetran gandamayit harus direhabilitasi. Harus dipulihkan kondisinya. Jangan sampai kewingitan tempat itu mengganggu roda perekonomian, ngrusuhi para remaja yang sedang sengkut ngudi kawruh. Targetnya, pasetran gandamayit tidak lagi menjadi tempat di mana sato moro sato mati, jalmo moro keplayu.
Beberapa langkah yang akan dilakukan oleh para warga adalah menebang pohon jangkang yang mungkin usianya lebih tua dari umur mbah canggahku, melebarkan jalan setapak sehingga bisa dilewati dengan leluasa oleh kafilah bakul sengek, dan para blantik wedhus dapat berpapasan dengan leluasa dengan bu tani yang nuntun sepeda memboncengkan krombong berisi panenan yang hendak dijual ke pasar Sentolo. Penggantian wot glugu dengan sesek bambu selebar satu setengah meter juga menjadi program prioritas dalam rencana strategis revitalisasi pasetran gandamayit. Pelaksanaan program akan dilakukan Nga’at Kliwon mendatang, dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada di kampung. Seluruh warga laki-laki yang sudah tetak, sebagai tanda kedewasaan, wajib hadir, dengan membawa peralatan yang dimiliki. Parang, arit, pacul, sekop, linggis, tenggok dan sebagainya. Anak-anak yang ingin berperan serta, diberi jatah untuk nyunggi pasir dari pinggir kali ke sekitar lokasi, dengan syarat tak boleh ngisruh dan ngribeti. Ibu-ibu, mbokdhe-mbokdhe, para perawan kencur maupun jahe, wajib berkumpul di dapur umum darurat di halaman belakang rumah Pakdhe Karyo Dubruk, untuk mendukung logistik bagi para lelaki.
Soal dana, beruntung Ki Lurah Donowilopo yang beberapa waktu baru saja terpilih sebagai lurah desa, sanggup menyumbang seratus ribu untuk pembelian semen dan bahan-bahan yang diperlukan. Untuk batu putih, Kang Bandros merelakan tanah tegalannya digali untuk diambil batu putihnya. Sebenarnya dia juga berkepentingan, dengan terambilnya lapisan watu putih, dia bisa lebih leluasa menggarap tegalannya, tidak melulu ditanami telo puhung sepanjang tahun. Pasir, kerikil dan batu hitam, Progo telah menyediakannya dalam jumlah tak terbatas. Bambu untuk sesek, dan untuk keperluan lain, cukup ditebang di perbatasan kuburan di atas pasetran gondomayit. Maka siaplah semuanya untuk dilaksanakan.
Seminggu sebelum pelaksanaan gugur gunung, terlebih dahulu para tetua, dipimpin oleh kaum rois
Mbah Duladi memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, meminta perlindungan dan keselamatan dalam mengerjakan tugas berat ini. Sementara itu, di lokasi, para penganut aliran kebatinan, yang dipandegani oleh Mbah Atmopawiro melakukan ritual khusus bersih-bersih di sekitar pasetran gandamayit. Asap kemenyan, ingkung pitik cemani, kembang pitung warna, degan ijo dan kembar mayang tampak dipajang di sela-sela akar pohon jangkang yang menjulur. Walapun, menurutku, bukannya menambah padhang, justru semakin mebuat pasetran gandamayit singup. Tapi itulah kepercayaan mereka, dan kami di kampung terbiasa bersanding dengan damai, tanpa saling mengganggu dan mempengaruhi.
Nga’at Kliwon, selepas subuh. Sinar matahari mulai terbit. Kang Sukro berjalan menuju pos ronda di ujung jalan kampung. Masih tercecer beberapa lembar kartu ceki, sisa semalam para pemuda kampung lek-lekan menjaga keamanan desa. Dengan sekuat tenaga, Kang Sukro memukul kentongan yang terbuat dari akar pohon bambu dengan nada doro muluk. Menandakan bahwa para warga sudah dinantikan kedatangannya untuk cancut tali wondo, ngayah-ayahi kewajiban yang telah mereka sepakati. Gugur gunung mengubah wajah pasetran gandamayit. Segera saja suara kentongan Kang Sukro dibalas oleh bunyi serupa dari cakruk lainnya. Tak lupa Mbah Jayadi ikut-ikutan latah membunyikan beduk masjid di tengah desa. Jadilah pagi itu kampung kami sangat sibuk. Seperti hendak berangkat ke padang kurusetra. Pacul, gobang, bendho, arit, linggis telah ditenteng di tangan. Semuanya mengarah kepada satu titik. Pasetran gandamayit. Anak-anak nggendong dan nyunggi tenggok sarangan, ada juga yang nyangking cemong bekas cat, untuk nglangsir pasir dari tepi Progo ke setapak di sekitar pasetran. Ibu-ibu, mbok rondho, dan para perawan kunir asem, ngemban wakul, ngindhit klenthing, menuju rumah Pakdhe Karyo. tak ada satu warga pun yang ketinggalan. Semua satu arah, satu tujuan. Rakyat bersatu, dhemitpun dikalahkan.
Meneguhkan niat, menguatkan raga, serta membarakan semangat, para pemuda-pemudi rengeng-rengeng tembangan:
Ayo konco ngayahi karyaning projo
kene, kene, gugur gunung tandang gawe
sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane
lilo lan legowo kanggo mulyaning negoro
Siji, loro, telu, papat, mlaku papat-papat
diulang ulungake mesti enggal rampunge
holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris ….
Catatan:
wingit = angker; golong gilit = mufakat; ngrusuhi = mengganggu; sengkut = tekun; ngudi kawruh = menuntut ilmu; sato moro sato mati jalmo moro keplayu = hewan datang pun mati manusai datang pasti tunggang langgang
canggah = di atas buyut; bakul = penjual; sengek = makanan tradisional dari tembe benguk; blantik wedhus = pedagang kambing; krombong = keranjang besar yang diletakkan di boncengan sepeda; wot glugu = titian dari pohon kelapa; sesek = jembatan; Nga’at = Ahad, Minggu; arit = sabit; pacul = cangkul; tenggok = keranjang bambu; nyunggi = memanggul diatas kepala; ngisruh = membuat keributan; ngribeti = mengganggu
telo puhung = ubi kayu; gugur gunung = gotong royong; kaum rois = pemimpin agama Islam; dipandegani = dipimpin; ingkung = ayam dimasak utuh; pitik cemani = ayam hitam; pitung warna = tujuh macam; padhang = terang; singup = angker
kartu ceki = kartu cina; lek-lekan = begadang; doro muluk = salah satu nada pukulan kentongan,menandakan aman; cancut tali wondo = menyingsingkan lengan baju; ngayah-ayahi = menjalankan kewajiban; cemong = kaleng; ngalngsir = memindahkan sdikit demi sedikit; ngemban wakul = menggendong bakul; ngindhit klenthing = menggendong tempayan ai
Lompong
April 23, 2008 at 3:36 am | In Dari Sudut Kampung, Pancaran Diri, Perjalanan Panjang | 17 CommentsTags: celeng, Jawa, nama, wayang
Kebiasaan ini sudah berlangsung sedemikian lama di kampungku. Sudah mendarah daging. Mungkin sudah bisa disebut sebagai budaya lokal. Sesuatu hal yang mungkin kelihatan konyol, ngoyoworo, tapi entah mengapa hal ini begitu membekas dalam diri kami. Hanya sebuah paraban. Nama panggilan. Bagi kami, bukanlah sekedar nama panggilan. Paraban adalah cerminan eksistensi di komunitas kami. Paraban adalah tetenger, pertanda. Suatu prasasti. Bahkan semacam pengakuan. Belumlah diakui oleh komunitas, selama kami belum memperoleh paraban yang unik.
Seburuk apapun, sekonyol apapun, paraban yang kami terima dari komunitas kami, adalah sebuah penghargaan, bukanlah pelecehan atau penghinaan. Justru terkadang kami merasa bangga. Karena nama itu memuat prestasi dan kebolehan kami. Bahkan sebuah gelar kepakaran. Celeng, bagi Mulgendruk bukanlah suatu nama yang mengandung penghinaan, namun suatu pengakuan atas kecepatan dan kegesitannya dalam berlari, terbukti medali emas pekan olahraga antar sekolah tingkat kabupaten yang dia rebut untuk adu lari cepat 100 meter. Sayangnya, dia tidak pandai bermanuver. Tak bisa menggok. Persis perilaku celeng, yang memiliki kecepatan laksana kilat, namun tak memiliki kemampuan untuk berbelok. Pernah Mulgendruk alias Celeng mencoba mengikuti lomba lari 400 meter, namun kalah, karena pada saat seharusnya berbelok mengitari sisi luar stadion, dia mengalami kesulitan untuk mengalihkan arah berlarinya. Celeng, baginya adalah predikat kebanggaan atas kemampuan berlarinya.
Paraban adalah tetenger. Milestone. Kejadian yang tak terlupakan. Umur tujuh tahun, Parjo kejeblos ke dalam kakus di belakang rumah Mbah Marto saat mbedhag bajing dengan teman-temannya. Evakuasi berhasil dilakukan setelah satu setengah jam dia terperangkap di lubang neraka dunia itu. Sebagai tetenger, julukan Kopet pun disematkan di dadanya. Hingga saat ini, berkat julukan itu, tak seorangpun di kampung kami yang melupakan kejadian mengenaskan itu, dan efeknya, berangsur-angsur mengubah budaya kakus menjadi jamban bergulu-banyak, agar kejadian itu tak terulang lagi.
Paraban adalah sifat, karakter, pembawaan, lageyan. Paling cocok adalah menempelkan karakter wayang dalam diri seseorang. Bagong, dengan omongan yang waton suloyo, memang pas dengan karakter Wagino, yang kebetulan juga memiliki anatomi mulut yang semi ndower. Atau liciknya Yono dalam berbagai permainan, membuatnya menyandang nama Cuni, alias Sengkuni. Teringat aku bagaimana dia tak pernah terkalahkan dalam permainan umbul gambar, karena ternyata dia melekatkan dua gambar bolak-balik, sehingga dalam posisi apapun, akan terlihat sebagai sisi muka dari gambar yang diadu lempar ke udara itu. Atau kepandaian dia mendekatkan atau menjauhkan jarak antar dua kelereng saat bermain gundu. Yang paling mengesankan adalah pada saat kami nyolong pelem Mbah Wito. Karena licinnya pohon, Mbethu jatuh dan menimbulkan suara gaduh. Mabh Wito keluar. Seperti biasa sambil menenteng bendho dia teriak-teriak hendak merajang kami, ajur sewalang-walang. Kami semua, terkecuali Cuni, kocar-kacir, lari sipat kuping, menyelamatkan diri kami masing-masing. Cuni dengan santainya mengadu kepada Mbah Wito: “Lha itu lo Mbah, dasar anak-anak nggak tahu aturan, tadi saya pergoki hendak nyolong pelem panjenengan. Saya bentak pada lari semua. Dasar pengecut. Padahal kan kalau minta baik-baik, pasti Simbah nggak keberatan kan?” Bukan hanya selamat, Cuni malah dapat bonus mangga satu tenggok sarangan!
Paraban juga mewakili penampilan fisik. Sedikit kejam memang. Tapi entah kenapa, tak ada yang protes kalau akhirnya mendapatkan julukan Pengkor, Cekot, Perung atau Tuan Sinyo. Tak ada juga yang menyalahkan orangtuanya yang suka sewenang-wenang memaksakan gaya rambut tertentu, sehingga mendapatkan paraban Kuncung, Kucir, Gundhul atau Brindhil.
Tak terkecuali aku. Sebuah paraban akhirnya disematkan buatku. Bukan karena kecemplung kakus, atau disruduk sapi birahi. Fisik masa kecilku memang lemah. Kurus kering. Candrane seperti Gatutkoco, otot kawat balung thok. Mengangkat seember airpun ngrekoso. Suatu hari, aku pulang angon dua ekor cempeku. Entah mengapa sebabnya, si bandot memberontak, dan berbalik lagi menuju ke sawah. Aku mencoba menahan tali pengikat bandot, dan menyeretnya pulang ke kandang. Bandot semakin menjadi-jadi. Tubuh lemahku tak kuasa bertahan. Terjerembab, terseret oleh bandot yang berlari kencang menuju ke tengah sawah. Beruntung, beberapa orang melihat kejadian ini dan mereka menyelamatkanku. Kang Tris aku lihat nyaut tali yang melilit leher bandot, dan menguasainya, sementara Kang Paimo mengangkat tubuhku yang babak bundhas terseret-seret bandot keparat.
“Owalah, le… awak kok lemes koyo lompong!” Celetuk Kang Giyo yang ikut menolongku.
Lompong. Itulah parabanku.
Pasetran Gandamayit
April 12, 2008 at 2:48 am | In Dari Sudut Kampung | 19 CommentsTags: bethari durga, cerita, Jogja, kampung, pasetran gandamayit
Jalan setapak itu sudah ada sejak aku belum lahir. Menyusur sepanjang tepian kali Progo. Berawal dari ujung kampung, merupakan akses tersingkat menuju ke pangkalan gethek yang melayani penyeberangan ke Sentolo, salah satu kota kecamatan yang cukup ramai di Kulon Progo. Jalan setapak itu bermula dari sebelah kandang sapi Pakdhe Karyo Dubruk, menurun menyusuri kontur tepian sungai, kemudian sedikit berbelok menghindari akar pohon jangkang yang mungkin sudah berusia ratusan tahun. Setelah pengkolan itu, setapak terputus oleh grojogan kecil yang mengalirkan air buangan dari kebun tebu di utara kampung. Sebagai penghubung, oleh warga sekitar dipasang dua batang glugu yang ditebang dari tepi kuburan yang berada tepat di atas grojogan itu. Selepas sudut kuburan, jalan setapak sedikit berbelok, tertutup pohon preh yang tak kalah besarnya dengan pohon jangkang di dekat grojogan. Dua belokan, serta keberadaan pohon raksasa di ujung belokan tersebut, dengan sempurna menutup akses pandangan mata pejalan kaki yang berada di antara dua pengkolan itu. Setelah pengkolan pohon preh, dua ratus meter kemudian, sampailah pada tambatan gethek yang akan menyeberangkan penduduk kampung ke dunia luar.
Setiap pagi, jalan setapak itu selalu ramai. Setidaknya ada tiga kategori pelintas jalan setapak itu. Yang pertama adalah anak sekolah. Banyak anak-anak kampungku yang melanjutkan SMP di seberang sungai. Pelintas kedua adalah para ibu-ibu yang hendak ke pasar Sentolo. Mereka kebanyakan para bakul kecil yang hendak menjual hasil kebunnya, atau makanan kecil yang dibuatnya, atau juga yang hendak kulakan untuk dijual kembali di warung rumahannya. Kelompok ini akan dominan pada saat hari pasaran, yaitu Pahing dan Wage. Kelompok terakhir adalah bapak-bapak. Mereka biasanya adalah para blantik, ditandai dengan dua atau tiga ekor kambing yang mereka tuntun. Atau juga petani yang hendak ngrabuk paculnya ke tukang pande. Kategori ini punya hari keramat setiap Kliwon, dimana pasar Sentolo mendadak menjadi pusat transaksi hewan, mulai dari gemak sampai kerbau.
Semakin meningkatnya mobilitas penduduk kampung, serta semakin banyaknya anak-anak sekolah, maka semakin terasa sempit jalan setapak itu. Jalan yang hanya cukup untuk satu orang, sangat meyulitkan apabila harus berpapasan dari arah yang berlawanan. Terlebih lagi jika harus berhadapan dengan mbok bakul yang menggendong sekarung brambang atau lombok kulakan dari pasar. Atau berpapasan dengan blantik yang menggiring kambing peranakan etawa. Maka rembug kampung memutuskan untuk memperlebar jalan setapak itu, setidaknya bisa untuk berpapasan dengan leluasa. Konsekuensinya, pohon jangkang dan pohon preh haruslah ditebang, karena akar-akarnya telah menyita ruang di sekitar jalan setapak. Diputuskanlah secara bulat, besok Nga’at Legi, akan dilakukan gugur gunung untuk melebarkan jalan setapak. Mas Panjul bahkan sudah tempah sinso pada Koh I Ngin untuk menebang pohon preh dan jangkang.
Hari itu Jumat Wage. Dua hari menjelang gugur gunung. Warga sudah melakukan persiapan. Gergaji, pacul, arit dan linggis sudah diasah. Pakde Sastro dan Mbah Karto sudah membuat welit yang nanti akan sangat berguna untuk menebang pohon. Di rumah Pak Dukuh, simbok-simbok sudah sibuk membungkus dele yang sudah diusari, agar besok Nga’at sudah jadi tempe yang siap dimasak untuk pemasok tenaga para suami mereka. Dan hal yang tak terduga pun terjadi!
Selepas subuh, Mbok Kromo dan Yu Tinah, seperti biasa, beriringan menuju ke pasar. Hari masih gelap. Memasuki pengkolan jangkang, mak jegagig! Langkah mereka berdua terhenti. Kerongkongan mereka bagai tercekat. Detak jantung serasa berhenti, sementara paru-paru mereka seolah macet menyedot oksigen dari udara. Sejenak tertegun, mereka berdua berteriak kencang, membalikkan badan dan lari sekencang-kencangnya menuju kampung. Sipat kuping. Tak perduli cemplon dan lenthuk di atas tenggok yang digendongnya berloncatan keluar. Tak perduli kaki mereka berkali-kali terantuk kerikil atau akar pepohonan. Mereka hanya ingin berlari, dan berlari. Meninggalkan sesosok tubuh yang tergantung di dahan jangkang. Bergoyang-goyang dengan kaku. Kedua kakinya menjuntai ke tanah.
Seisi kampung terbangun oleh teriakan mereka berdua. Sejurus kemudian, hebohlah kampung kecil yang adem ayem itu. Berita segera menjalar ke kampung tetangga. Semua berbondong menuju pengkolan jangkang. Kami, anak-anak yang dianggap belum cukup umur, hanya bisa mendekati lokasi hingga sebelah kandang Pakdhe Karyo. Tak seorang dewasapun membolehkan kami mendekat. Selain itu, rasa takut juga terbersit di hati kami. Bahkan Mbethu, yang biasanya paling kendel, kali ini tak punya nyali untuk dekat-dekat dengan pengkolan jangkang.
Dua orang polisi serta seorang berpakaian putih-putih, kami mengira mantri dari puskesmas, datang ke lokasi. Diiringi oleh pak jogoboyo dan beberapa pejabat kelurahan. Kami tak tahu apa yang dilakukan mereka. Namun akhirnya berita itu pun sampai ke kami. Kang Basiyo, anak sulung Mbah Goprak, menggantung diri. Dari sepucuk surat yang ditemui di kantung bajunya, diketahui bahwa dia patah hati akibat sir-sirannya, Mbak Sinem, kawin dengan Slamet, pedagang wungkal dari kampung sebelah.
Rencana melebarkan jalan setapak pun berantakan. Jangankan menebang, tak seorangpun berani mendekati pohon jangkang itu. Anak-anak sekolah, simbok bakul atau para blantik, memilih memutar melalui jalanan tepi sawah. Meskipun lebih jauh, namun terasa lebih nyaman dan tidak menakutkan. Tak ada yang berani melewati setapak itu.
Dua tahun telah berlalu. Setapak itu telah dipenuhi belukar. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan, apabila ada ayam penduduk kampung yang tersesat ke sekitar pengkolan itu, jangan harap bisa pulang. Jalmo moro jalmo mati, sato moro sato mati. Mitos dan cerita pun semakin berkembang. Pengkolan itu menjadi sasana berkumpulnya para jin setan peri prayangan. Berbagai jenis lelembut, sering sebo ke tempat itu. Maka tak heran, orang kampung kemudian menjulukinya sebagai pasetran gandamayit. Tempat Bethari Durga bersemayam.
* * * * *
Aku baru selesai memompa petromaks ketika Mbethu, Dabul dan Ogling datang. Kami memang bersepakat untuk nyuluh sepanjang sungai. Musim kemarau telah tiba. Debit Progo sudah berkurang banyak. Ikan-ikan sudah mulai keluar dari kedhung, dan berkeliaran di sepanjang sungai. Saat inilah yang dinanti oleh anak-anak kampungku. Pesta ikan. Beragam cara mereka lakukan untuk menangkap ikan. Mancing, nggrabyak, tawu, bendung atau mecak. Nyuluh adalah salah satu metode favorit kami. Berbekal lampu petromaks dan arit cinthuk, kami memulai perjalanan selepas Isya dari hilir menuju ke hulu. Ikan-ikan akan mendekati cahaya petromaks, dan tanpa ampun, mata arit cinthuk akan menebas putus tubuh ikan yang malang itu. Mbethu, yang tak mahir memainkan arit cinthuk, telah bersiaga di belakang kami dengan embernya untuk menangkap dan menampung ikan yang sirno margolayu tersebut. Biasanya kami nyemplung sungai dari dekat buk jumbleng, sebuah muara anak sungai di hilir kampung kami, dan setelah dua jam kami akan mentas di belakang rumah Pakde Karyo, tepat sebelum pasetran gandamayit. Salah satu alasan mengapa kami begitu tergila-gila dengan nyuluh ini, karena kami selalu dapat hasil sampingan, berupa rampasan mangga atau ketela pohon yang tertanam di sepanjang sungai. Hukum yang berlaku di kampung kami saat itu, mencuri mangga adalah halal, sepanjang tidak ketahuan atau tertangkap tangan. Maka, kadang kami pulang dengan segenggam wader atau kutuk, namun ember tetap penuh dengan mangga lemampo hasil rampasan di kebun Pakde Wito.
Malam ini, kami agak telat nyemplung. Maka kami putuskan untuk tidak turun di buk jumbleng, tapi di belakang rumah Mbah Arjo, agar kami tidak kemalaman saat mentas. Sial, begitu kami turun, kami melihat telah ada sekitar tiga kerlip lampu petromaks yang bertebaran di sepanjang sungai. Kami telah keduluan kelompoknya Jendul, Glebos dan Klembak. Tandanya, kami tak akan kebagian ikan lagi, karena sudah kocar-kacir digurah mereka. Maka, sasaran pun segera dirubah. Mbethu mengajak kami untuk langsung menuju ke kebun Mbah Wito, untuk nyuluh mangga. Kami mengangguk setuju. Lampuk petromaks pun dimatikan, dan kami berjalan dalam kegelapan. Bulan tanggal 5 tidaklah cukup terang untuk bisa membedakan mana jalan berlubang atau bongkahan batu. Beruntung kami telah terlatih untuk menggunakan mata hati kami sebagai panduan berjalan dalam kegelapan.
Seperempat jam kemudian, kami sampai ke tepian kebun Mbah Wito. Ada lebih dari sepuluh batang pohon mangga di sana. Petromaks kelompok-kelompok kompetitor kami masih jauh di hilir. Kami berbisik-bisik mengatur strategi. Mbethu dan Dabul kebagian tugas untuk memanjat pohon mangga. Mereka memang sangat jago dalam memanjat pohon. Kethek ogleng pun mungkin akan kalah. Ogling bertugas mengumpulkan manga yang dipetik Mbethu dan Dabul. Sementara aku, yang memang betul-betul tak bisa memanjat, bertugas sebagai telik sandi, yang mengawasi sekitar dan memberikan kode bagi seluruh anggota pasukan untuk segera ngacir apabila keadaan dirasa berbahaya.
Kami mengendap-endap memasuki kebun. Semuanya berjalan lancar. Sampai akhirnya Mbethu terperosok dalam lubang, yang kelihatannya memang dibuat sebagai jebakan. Betapa kagetnya kami, ternyata di atas lubang yang ditutupi dedaunan, terdapat dadhung yang terhubung dengan kaleng-kaleng yang tergantung di atas pohon mangga. Tak ayal, suara gedombrengan membahan memecah keheningan malam. Tanpa dikomando, kami berlari sekencang-kencangnya. Di belakang, Mbah Wito keluar dari pintu rumah sambil mengacung-acungkan gembel ke arah kami. Tak lupa pisuhan-pisuhan khasnya keluar dari mulutnya.
Kami terus berlari. Tanpa sadar, ternyata tinggal aku dan Mbethu yang berlari bersama. Aku tak tahu di mana Ogling dan Dabul. Entah mereka telah tertangkap Mbah Wito dan sudah dirajang-rajang, ajur sewalang-walang, atau lolos entah kemana. Aku tak sempat berpikir tentang mereka. Lari dan terus berlari. Yang penting lolos dari lubang jarum. Setengah jam sudah kami berlari. Tak kami rasakan perihnya kaki kami tergores batuan atau tertusuk duri rendhet. Suasana telah sepi. Tak terdengar lagi teriakan Mbah Wito. Kami berhenti berlari. Terduduk di akar pepohonan. Terengah-engah. Kami menenangkan hati. Diam. Dalam keheningan. Sesaat. Kami berpandangan. Menoleh ke sekeliling. Mendongak ke atas. Lebatnya daun pohon jangkang menaungi kami. Sulur-sulurnya bagaikan hendak merengkuh kami, membelai dan menenangkan hati kami. Seolah berkata, kalian aman di sini, damailah bersamaku di sini.
JANGKANG! Satu-satunya pohon jangkang di kampung kami adalah di …. PASETRAN GANDAMAYIT!!! Jalmo moro jalmo mati!!! Daun-daun jangkang di atas kami seakan hendak menimbun tubuh kami. Sementara sulur-sulurnya bagaikan tangan dewi Medusa yang hendak membelit kami. Kami segera berlari. Lebih kencang dari yang tadi. Tanpa menyadari bahwa kami salah arah. Kami berlari ke arah pohon preh, bukan ke arah kampung. Kami tak sempat menoleh lagi ke belakang. Seolah seribu satu bayangan mengejar kami. Pohon preh selangkah lagi di depan kami. Dan hal yang tak terduga pun terjadi!
Sebuah sosok muncul dari balik pohon preh! Bruukk! Tak ayal lagi kami menabraknya. Kami terpental dan jatuh tersungkur. Sejenak kami tak sadarkan diri. Kami pasrah. Menjadi tawanan para jin setan peri prayangan pasetran gandamayit. Pulang tinggal nama.
Perlahan aku membuka mata. Gelap di sekeliling. Mataku nanar. Menatap berkeliling. Tak ada genderuwo, tak ada glundhung pringis. Tak ada pula wewe gombel. Sepi. Hanya tubuh Mbethu yang masih diam, serta sesosok tubuh yang tadi menabrak kami. Hantu macam apakah dia? Rambutnya njewowok, tangannya sedikit cekot, gigi-giginya agak tonggos.
“Walah, le, bengi-bengi kok klayapan tekan kene. Nanti bopo biyungmu bingung nyari kamu lho. Ayo tak antar pulang” Aku bernapas lega. Sangat lega. Dia bukan sejenis lelembut. Dia adalah Lik Marto, tukang mancing dari kampung sebelah. Orangnya memang terkenal sangat pemberani. Bahkan dhemit ora ndulit, setan ora doyan. Mbethu menggeliat bangun. Sempat terkejut, namun setelah melihat kami, dia pun tenang kembali. Dan kami pun pulang. Melalui pasetran gandamayit. Yang tak terasa menakutkan lagi.
Catatan:
gethek = rakit bambu;
pengkolan = belokan;
grojogan = air terjun;
glugu = batang pohon kelapa;
jangkang, preh = pohon besar semacam beringin;
bakul = pedagang;
blantik = pedagang kambing/sapi;
ngrabuk pacul = menajamkan cangkul;
pande = penempa besi;
gemak = puyuh;
brambang = bawang merah;
Nga’at = berasal dari kata Ahad, minggu;
gugur gunung = kerja bakti;
tempah = pesan;
sinso = chain saw, gergaji mesin;
welit = tali dari kulit bambu;
dele = kedelai;
usar = ragi tempe;
mak jegagig = sekonyong-konyong;
sipat kuping = berlari sekencang-kencangnya dengan penuh ketakutan;
cemplon, lenthuk = jajanan pasar berbahan baku ketela;
tenggok = keranjang bambu;
kendel = pemberani;
jogoboyo = bagian kemananan;
sir-siran = tambatan hati;
wungkal = batu asah;
jalmo moro jalmo mati, sato moro sato mati = semua makhluk hidup yang datang akan pulang tak bernyawa;
jin setan peri prayangan, lelembut = hantu, makhluk halus;
pasetran gandamayit = dalam cerita pewayangan, adalah tempat bersemayamnya Bethari Durga, dewi segala kejahatan, pasetran identik dengan kuburan, gandamayit berarti berbau mayat;
nyuluh = mencari ikan di malam hari dengan penerangan lampu untuk mengundang ikan mengerumuni lampu;
kedhung = lubuk;
nggrabyak = menggiri ikan ke daratan dengan menggunakan pelepah daun kelapa;
tawu = menguras air;
mecak = menangkap ikan dengan jaring yang dibentuk seperti ayakan
arit cinthuk = semacam sabit berujung runcing, seperti clurit tapi lebih kecil
sirno margolayu = mati
buk = gorong-gorong
jumbleng = tempat buang air besar
mentas = naik ke daratan;
gurah = dikacaukan;
kethek ogleng = monyet gila;
telik sandi = mata-mata;
dadhung = tali yang terbuat dari rami;
gembel = semacam kenop, tongkat pemukul
pisuhan = umpatan
rajang = iris
ajur sewalang-walang = hancur berkeping-keping
rendhet = duri kecil-kecil
glundhung pringis = hantu berbentuk kepala tanpa badan, yang senantiasa tertawa meringis;
wewe gombel = hantu perempuan;
dhemit ora ndulit, setan ora doyan = hantu tak mau menyentuh, setan tak doyan
Ngumpulke Balung Pisah
April 11, 2008 at 11:42 am | In Jagad Gumelar, Perjalanan Panjang | 19 CommentsTags: blogging, blogwalking, komunitas, wordpress
Dua bulan meninggalkan dunia maya, ulun banyak sekali kelangan enggok kiprah teman-teman. Menatap ke depan, ternyata banyak belokan dan persimpangan di sana. Saya tak tahu, kemana mereka perginya. Bahkan ulun nyaris tak tahu ontran-ontran rebutan roti susur di tanah air, atau tarik menarik kutub positif dan negatif di alam maya. Jangankan kangmas Caplang yang nggeblas di atas Vitrinya, itik kecil yang jalannya megal-megolpun sudah tak terkejar lagi. Mungkin hanya Ki Sawal yang gliyak-gliyak waton kecandhak, yang masih mampu ulun deteksi olah kridha-nya.
Maka, turun gunung dari padepokan Karang Kabolotan, ulun mestilah menyesuaikan diri dengan gebyaring kadonyan. Jangan seperti katak dalam tempurung. Jangan sampai diteriaki kemalumon oleh warga pangablogan. Jadilah pekerjaan pertama ulun keliling-keliling tlatah pangablogan. Njajah deso milang kori. Ngumpulke balung pisah. Memungut kepingan-kepingan puzzle untuk menyusun suatu gambaran lengkap tentang jagading pangablogan terkini. Mengunjungi teman-teman lama. Sowan kepada para begawan di berbagai padepokan, sebo sampeyan dalem kanjeng sultan, juga para punggowo, abdi dalem, dan bolo dhupakannya. Tak lupa, menyambangi para putri di tamansari, beserta para dayang dan emban pamomongnya. Terakhir, tentunya marak sowan kepada poro pukulun dewo gung binathoro.
Catatan:
Ulun = saya (biasa digunakan oleh dewa dalam pewayangan); kelangan enggok = kehilangan jejak; ontran-ontran = masalah besar; nggeblas = melaju dengan kencang; megal-megol = lenggak-lenggok seperti angsa berjalan; gliyak-gliyak waton kecandhak = pelan-pelan asal terselesaikan; olah kridha = aktivitas (terutama secara fisik); gebyaring kadonyan = gebyar dunia; tlatah = wilayah; njajah deso milang kori = dari pintu ke pintu, mengembara; ngumpulke balung pisah = mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan; sowan, marak sowang = menghadap; sebo = menghadap raja; punggowo = aparatur kerajaan; abdi dalem = pembantu raja; bolo dhupakan = prajurit kroco :); pukulun dewo gung binathoro = para dewa yang maha bijaksana
Wastra Lungset ing Sampiran
April 7, 2008 at 10:05 am | In Dari Lubuk Hatiku, Pancaran Diri, Perjalanan Panjang | 6 CommentsTags: blooging, fashion, hati, otak, pecasndahe, pikiran, positif, saya
Anda tidak bisa bahasa Jawa? Jangan khawatir. Hanya judul saja yang berbahasa Jawa, kalaupun ada di tubuh postingan, pasti ada penjelasannya.
Wastra lungset in sampiran, kain yang kusut di gantungan. Begitulah kira-kira terjemahannya. Kain, yang tak pernah dipakai, ternyata akan kusut juga. Di sampiran maupun di tumpukan lemari. Bahkan kalau kurang beruntung, bisa-bisa hancur lebur dibuat pesta pora oleh para ngengat keparat. Tak peduli seberapa bagusnya kain itu, seberapa mahalnya kain itu, tak pernah dipakai pun niscaya akan rusak. Seandainya bisa dirawatpun, tentu butuh biaya perawatan yang tak sedikit. Sehingga, daripada kusut dan rusak tak terpakai, bukankah lebih baik kita pakai, cuci, seterika sehingga senantiasa terlihat indah, rapi, harum dan wangi. Kalaupun nantinya rusak juga, toh kita sudah merasakan kenyamanan dan kenikmatan saat memakainya, dan orang-orang di sekitar kita pun telah kecipratan menikmati keindahan pakaian yang membalut tubuh seksi kita.
Otak, hati, dan tubuh kita. Laksana pakaian. Lungset, seandainya kita tak mengoptimalkannya. Tanpai pernah dipakai untuk berpikir, otak akan beku. Sama-sama mumetnya, alangkah lebih baik kalau otak itu mumet karena dipakai berpikir, daripada otak mumet karena memang tak bisa dipakai berpikir. Hati yang senantiasa diasah dengan simpati, tawadhu, khusnudhon, dan empati, niscaya akan menjadi seumpama samudera teduh yang mampu menenggelamkan siapapun ke dasar hatinya. Hati yang tak pernah disentuh, laksana hati yang mati, laksana air kopi pahit yang keruh, yang tak mengenakkan sekedar untuk disapa. Tubuh yang tak pernah dilatih, hanya diberi aktivitas rutin madhang-ngising-turu, bisa dibayangkan penampakannya seperti apa. Mungkin akan lebih menarik melihat wewe gombel atau buto terong daripada melihat momprotnya tubuh anda. Bandingkan dengan tubuh atletis orang-orang ini, yang saya yakin senantiasa terlatih secara fisik.
Maka, agar hati dan pikiran saya tak seperti wastra lungset ing sampiran, saya memutuskan untuk memulai kembali kegiatan per-ngeblogan ini, tak peduli seberapa positif atau negatifnya energi yang ditimbulkan dari ngeblog ini. Namun saya berharap, semoga kain lusuh ini, dengan seringnya dicuci dengan ide-ide segar, dan diseterika dengan komentar-komentar panas sampeyan-sampeyan, akan menjadi rapi, nyaman saya pakai, serta indah sampeyan pandang.
Catatan:
Wastra = kain, pakaian; lungset = kusut; sampiran = tali jemuran, gantungan baju; mumet = pusing, pecasndahe; tawadhu = rendah hati; khusnudhon = berbaik sangka, positive thinking; madhang = makan; ngising = berak; turu = tidur; wewe gombel = hantu betina buruk rupa; buto terong = raksasa dalam pewayangan yang nggak mbodi blas.
Ketika Cinta Harus Memilih
Februari 12, 2008 at 2:03 am | In Goresan Masa Lalu | 3 CommentsBukan. Bukan judul novel, atau lagu, apalagi judul sinetron. Hari-hari yang telah aku lalui, 24 jam sehari masih menyisakan ruang 2 - 3 jam untuk jalan-jalan di dunia maya. Namun, semuanya telah berubah. Ujug-ujug. Mak bedunduk. Laboratorium seakan menjadi penjara baru. Lembar demi lembar jurnal pun menjadi rapalan baru. Tak ada waktu lagi. Maka cinta pun harus memilih. Harus ada yang mengalah atau dikalahkan. Harus ada yang berkorban atau dikorbankan. Demi sesuatu yang lebih besar. Demi sesuap nasi yang harus didapatkan. Demi segantang harapan yang harus senantiasa dikorbankan.
Bukan. Bukan hendak hibernasi. Bukan hendak mati suri. Apalagi niatan bunuh diri. Hanya sekedar ngudoroso, cukupkah 15 menit berkeliaran di dunia maya, menyapa teman-teman, menuangkan pikiran dan perasaan dalam rangkaian kata-kata? Secara nalar, jauh dari cukup. Namun itulah yang terjadi. Itulah kenyataan yang harus dihadapi. Mau apa lagi? Ketika cinta harus memilih, dunia nyata pun menjadi prioritas utama.
Wis to? Jelas? Mudheng? Clear? Aku nggak hendak istirahat dari ngeblog-ngeblogan. Namun mungkin frekuensi posting akan menurun jauh, serta mungkin tak lagi ditemui sampah-sampah atas namaku di halaman muka sampeyan. Mungkin sesekali. Atau dua tiga kali. Dalam beberapa kasus, boleh jadi berkali-kali. Wis yo???
Mayat Bayi Dalam Ransel Hitam
Februari 5, 2008 at 2:00 am | In Kisah Kecil Yang Terlewatkan | No CommentsAkhirnya, Pakde Kamso, tetua kampung, angkat bicara:
-”Ibu-ibu, bapak-bapak, sampun, sekarang kondur ke rumah masing-masing dulu. Biar Mas Narjo dapat beristirahat dan menenangkan pikiran. Nanti setelah lerem, barulah kita berkumpul lagi dan rembugan untuk ikut memikirkan permasalahan yang dihadapi Mas Narjo.”
Kata-kata tegas Pakde Kamso cukup membuat warga beringsut meninggalkan pelataran rumah Mbokde Soma. Mbokde Soma membimbing Mas Narjo memasuki rumah, sementara Pakde Kamso menggamit lenganku.
“Mas, panjenengan rak ndak ada keperluan lain to, temani saya ngurusi Mas Narjo dan Mbok Soma ya?”
Aku mengangguk kecil, dan kakiku pun bergerak mengiringi langkah-langkah Pakde Kamso menuju ke dalam rumah Mbok Soma.
Kami duduk berempat di atas lantai tanah di dalam rumah Mbokde Soma, beralaskan tikar pandan yang sudah mulai berlubang dimakan ngengat. Di tengah-tengah, masih mengepul empat cangkir teh panas, serta sepiring mbili rebus yang baru saja dibawakan oleh Mbokde Kamso. Mas Narjo masih terdiam. Kami semua terdiam. Sampai akhirnya Mas Narjo memulai kisahnya ….
***
Kamis petang. Mas Narjo bergegas meninggalkan lokasi proyek perumahan tempatnya bekerja. Satu jam lebih lambat dari hari biasanya. Pekerjaan mengecor plafon kali ini cukup menyita waktu dan tenaga. Mas Kliwon, mandornya, menginginkan agar bisa diselesaikan hari ini. Dengan satu dua butir peluh yang masih menetes, setengah berlari Mas Narjo menyusuri kali kecil di pinggir jalan, menuju bedeng kontrakannya, dimana Yu Narni, istrinya yang sedang busung tua menunggunya.
Mendekati bedeng kontrakannya, jantung Mas Narjo berdegup semakin kencang. Ia melihat pemandangan yang tidak biasa. Tampak para tetangganya berkerumun di depan pintu bedeng kontrakannya.
+”Nah, itu lakinya datang”, salah seorang berseru ketika melihat Mas Narjo.
Mas Narjo semakin mempercepat langkahnya. Tangannya menyibak kerumunan orang-orang, dan mendapati istrinya tengah tersengal-sengal, terbaring lemah di kasur tipis yang terhampar di lantai.
+”Mas, istri sampeyan kayaknya mau melahirkan, dari tadi mengerang-erang” Bang Mamat menjelaskan. “Tadi mau dibawa ke rumah sakit, tapi istrimu menolak, katanya menunggu sampeyan pulang dulu. Lha itu, mobil Eyang Probo masih di depan gang, siap-siap buat ngangkut ke rumah sakit”
Mas Narjo masih bengong. Pikirannya meloncat-loncat tak karuan. Menurut perhitungannya, kandungan istrinya baru mau memasuki bulan kedelapan. Belum lagi soal biaya. Di sisi lain, dia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anak di dalam kandungannya.
-”Wis mas, sampeyan sekarang siap-siap aja, kita langsung berangkat, soal yang lain-lain kita pikir belakangan. Selak mesakno istrimu” Mas Tono menyela dari kerumunan.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Mas Narjo meletakkan tas berisi alat tukangnya, kemudian dibantu Bang Mamat memapah sang istri menuju ke mobil Eyang Probo yang telah siap di mulut gang. Mas Tono yang dipasrahi nyopir, segera melarikan mobil ke RSUD.
Dua hari telah berlalu. Malang tak dapat ditolak. Takdir telah jatuh. Bayi dalam kandungan Yu Narni tak mampu bertahan. 30 jam di rumah sakit, bayi pun terlahir dalam kondisi tak bernyawa. Setelah berembug dengan para warga, akhirnya Mas Narjo memutuskan untuk membawa pulang jasad bayinya, untuk dikuburkan di kampung halaman, berhubung biaya untuk menguburkan di kota sangatlah mahal. Masalah selanjutnya, bagaimana membawa mayat bayi ke kampung? Menyewa mobil jenazah, jelas tidaklah memungkinkan. Ide muncul dari Mas Tono, untuk memasukkan mayat bayi ke dalam tas ransel, kemudian dibawa oleh Mas Narjo naik bis, seolah-olah membawa barang biasa. Semua orang mengangguk-angguk, dan menganggap itulah solusi yang mungkin masuk akal untuk dijalankan.
Mas Narjo pun pulang kampung. Diantar Mas Tono dan Bang Mamat hingga terminal antar kota. Mas Narjo naik ke atas bis, sambil mendekap ransel hitamnya. Dia memilih tempat duduk paling belakang, sebelah kanan dekat jendela. Sepanjang perjalanan, Mas Narjo tak pernah beringsut dari tempat duduknya, dan tak pernah lepas mendekap erat tas ranselnya.
03.00 dinihari. Bis berhenti di tengah persawahan. Mas Narjo turun dari bis. Tepat di mulut jalan desa yang menuju ke kampungnya. Masih kira-kira 5 kilometer lagi, dan akan ditempuh dengan berjalan kaki oleh Mas Narjo. Setelah bis berlalu, Mas Narjo memindahkan ransel ke punggungnya. Sudah mulai tercium bau yang kurang sedap, Mas Narjo pun merapatkan kembali ritsleting ranselnya, sehingga bau tersebut tidak lagi keluar. Pelan-pelan Mas Narjo berjalan dalam kegelapan. Pikirannya sudah mulai tenang, tidak lagi dihantui rasa was-was seperti yang dirasakannya sepanjang perjalanan tadi.
Sepuluh menit sudah, Mas Narjo menembus kegelapan malam. Kiri kanan jalan masih merupakan areal persawahan. Kampung terdekat baru akan ada kira-kira dua kilometer lagi di hadapan. Mendadak Mas Narjo melihat seberkas sinar muncul dari belakang, diiringi deru motor. Sekilas. Ada benda berat menimpa tengkuknya. Dan Mas Narjo tak ingat lagi apa yang kemudian terjadi.
Suara ayam jantan mulai terdengar jauh dari arah kampung. Mas Narjo membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, dan sangat berat. Dia memusatkan pikiran, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
+”Anakku!!” serunya ketika dia mampu mengingat semuanya. Matanya jalang menatap sekeliling. Tak ada tanda-tanda keberadaan tas ranselnya. Hanya samar-samar di kegelapan malam, ada tapak-tapak roda motor di sekitar tempatnya ambruk. Mas NArjo tak kuasa menahan emosinya, dan untuk kedua kalinya dia ambruk. Dan tak terbangun. Sampai subuh tiba. Sampai matahari terbit. Dan sampai akhirnya Paklik Juwari yang hendak ke pasar menemukannya dan membawanya pulang…
***
Seminggu berlalu. Mas Narjo sudah kembali ke kota tiga hari yang lalu. Sebuah berita mengejutkan datang dari desa tetangga. Sesosok mayat bayi ditemukan membusuk di semaksemak dekat kali. Dan sebuah tas ransel hitam tergeletak di dekatnya…
Gaya Mahasiswa Masa Kini
Juni 15, 2007 at 1:46 am | In Goresan Masa Lalu | 1 CommentTags: kuliah, mahasiswa, sms
ass pak maaf gnggu mlm2,ini dari mhswa tek** u** pngn ktm bsk kira2 bpk ada wktu ga?Soalnya ak pngn ktm bpk kalo bs sktr jam 10 di ruang tggu dosen ya pak.mksh
14-Jun-07 22:14
Tg dijelaskan utk keperluan apa,identitas anda jg dijelaskan.sy besok ada keperluan di luar.kalau mau silahkan ke kantor saya di ***** ***
14-Jun-07 22:19
oh ia pak skli lg maaf ya pak g sopan lewat sms,nmku d**** *******i(0******4)tdnya pngn tnya mslh nilai.prasaan ujianku insya allah bsa pak, trs g hdr cm 2x dan jg tgs ak ngrjain pak,mgkn ak cm pngn tau aja, skali maaf bngt ya pak dah ga sopan.mksh ya pak
14-Jun-07 22:30
Silahkan anda introspeksi mengapa anda memperoleh nilai c.Yg menurut saya adlh hsl yg ckp fair buat anda.
14-Jun-07 22:35
oh ya udah mgkn ak yg krg bljrnya pak, ak skdr pngn tau aja yg pntg dr ak dah brusha tp kalo kira mnrt bpk dah ckp ak g bs apa2.mksh ya pak dan maaf dah gnggu.
14-Jun-07 22:37
Maaf pak kalo ada kringanan dri bpk blh ga pak ak mnta tgs tmbhn dr bpk untk memperbaiki nilai saya?tgs apa aja pak
14-Jun-07 22:40
Maaf saya sdh kena deadline memasukkan nilai tg 14,shg data sudah msk f** hr ini dan sdh final
SMSan berakhir, dan aku kembali meneruskan tidur malamku yang terganggu.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.