Wuhan

November 19, 2009

9 jam terkapar di Kuala Lumpur International Airport. Akhirnya China Southern Airlines CZ366 membawa juga badan wadagku meninggalkan tanah Melayu. Menuju negeri antah berantah yang tak pernah kubayangkan akan berada di sana. Cina, Republik Rakyat Cina. Entah takdir apa, yang akhirnya membawaku mendarat di Baiyun Airport, Guangzhou, setelah lebih dari empat jam terapung-apung di angkasa.

Baiyun Airport, Guangzhou. Melebihi dugaanku tentang sebuah negara bernama Cina. Sangat luas, modern dan mewah. Mungkin 3 kali lebih luas dari KLIA, berpuluh kali lipat dibandingkan bandara kebanggaan kota asalku, Adisutjipto. Kekhawatiran bingung dan tersesat sirna, melihat papan informasi dan penunjuk arah yang mencantumkan huruf-huruf yang sangat aku kenal, tidak hanya menampilkan gambar thokolan pencak yang sama sekali tak kumengerti. Ratusan atau bahkan ribuan manusia lalu lalang di antara terminal-terminal yang ada, namun tak membuat suasana crowded (sst… wartawan ka er nulisnya krodit) yang mengurangi kenyamanan. Suara dalam perut pun mengundang. Takut ada genjik yang nyasar masuk mulut, dan demi alasan kepraktisan, maka gerai makan siap saji mekdi pun jadi sasaran tembak. Harga? Standar. Cuma yang bikin heran, french fries ukuran besar, cukup dibanderol 1 yuan, alias 1500 perak!

4 jam menunggu, plus muter-muter sana sini urusan imigrasi, custom dan cek in untuk penerbangan lanjutan, B737-400 milik China Southern Airlines membawaku menuju Wuhan, di provinsi Hubei. Alhamdulillah, dapat pesan pendek via telepon genggamku dari Pahang, kalau nanti di Wuhan Airport ada mahasiswa dari South Central University for Nationality yang siap menjemput. Kekhawatiran menjadi tarzan masuk kota pun sirna. Dan aku baru tahu, kalau di sini DiGi lebih sakti ketimbang Maxis. Begitu menginjak airport, HP on, langsung sinyal DiGi muncul. Sementara Pakcik Haizal yang menggunakan layanan Maxis, masih harus ngutak atik setting di HPnya yang notabene jauh lebih canggih dari HPku, sebelum akhirnya menyerah tidak bisa mendapatkan international roaming. Hanya saja, satu SMS berharga 2 ringgit, jadi cukuplah kirim pesan kepada istri tertjinta kalau sang suami yang senantiasa dirindukan ini telah sampai di negerinya Zhang Ziyi, nir ing sambikala.

17.45 waktu setempat. 10 menit lebih lambat dari yang direncanakan, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Wuhan. Sebelum mendarat, sempat terlihat dari angkasa, kota Wuhan yang diapit beberapa sungai besar dan danau. Belakangan aku tahu bahwa salah satu danau itu berada di dalam kompleks SCUN, tepat di depan jendela kamar dormitory yang kuhuni. Urusan bagasi beres, tampaknya perlu dipertimbangkan lain kali untuk membawa koper yang berwarna mencolok agar mudah untuk menemukannya di tengah-tengah puluhan koper yang mayoritas berwarna hitam, di pintu keluar kami telah dicegat dua orang yang mengacungkan tulisan besar, font arial, size mungkin sekitar 200 pt, nama depan kami. Seorang lelaki, dengan badan tegap, mengenalkan diri sebagai Tao Congliang alias Peter, mahasiswa doktoral dari SCUN, dan seorang gadis, mudah-mudahan, dengan rok mini, kaki berbalut stoking dan mengenakan sepatu boot, menyalami kami sambil menyebut nama: Yuxi Lei alias Rosy. Dia adalah mahasiswa S1 tingkat akhir di SCUN.

Honda Accord keluaran tahun terakhir membawa kami melintasi jalan bebas hambatan menuju SCUN. Hari sudah gelap, kendaraan yang lalu lalang di jalan pun mulai berkurang. Agak aneh juga, melihat mobil berjalan di sebelah kanan, dengan sopir berada di sebelah kiri. Satu jam berlalu, sekitar 60 km jarak telah ditempuh. Sampailah kami di gerbang South Central University of Nationality. Rosy meminta sopir untuk tidak langsung memasuki kampus, namun menuju ke sebuah tempat. Ternyata sudah dipersiapkan welcome dinner untuk kami, di sebuah restoran yang tampaknya berkelas. Sebelumnya kami telah menyampaikan bahwa kami muslim, dan kami menolak segala makanan yang berbau genjik beserta turunannya. Mereka faham, dan di restoran dengan bijaknya memilihkan kami menu sup ayam, ikan, dan bebek panggang. Masalah berikutnya, mana sendoknyaaaa??? Terpaksa, mengetes keahlian japit menjapit dengan sumpit. Giliran menjapit bebek, nggak terlalu masalah. Cuma sewaktu bertanding dengan nasi, lhadalah, mawut kabeh. Beruntung, Rosy tahu masalah kami, dan berinisiatif memintakan sendok dan garpu. Tak menunggu hitungan menit, bablas bebeke!

Selesai makan, kami dibawa menuju ke tempat kami menginap, international transit dormitory, atau apalah namanya. Lantai empat, tanpa lift. Beruntung, Peter yang baik hati dengan suka rela memanggul koper ajaibku yang beratnya hampir mencapai 20 kilo. Melampaui harapanku, kami mendapat kamar sendiri-sendiri, bed ukuran jack (maksudnya di bawahnya king dan queen size), ber-AC, kamar mandi di dalam (tapi tidurnya juga di dalam, bukan kamar mandi dalam, tidur luar) plus water heater, TV 20 in, lantai parquet. Begitu Peter dan Rosy berlalu, aku mandi, shalat jama qashar, terus ngringkel di bawah selimut, menahan dinginnya udara akhir musim gugur di Wuhan…

8 Responses to “Wuhan”


  1. wah, senangnya bisa nyampe ke negeri cina. mau belajar kung fu ya, bos? atau mau ngajarin mereka pencak silat? selamat deh…

  2. mabukbahasa Says:

    wah asyik tenan.

    tur mbok dikasih foto2 lah ben luwih gayeng bos🙂

  3. venus Says:

    nerusin kuliah di sana atau…..

    lha mulih jogja kapan? *bingung saking lamanya gak ke sini*

  4. itikkecil Says:

    wogh… ada bebek panggang…
    *ngiler*
    berapa lama di sana pakde?


  5. To visit mainland China, Hong Kong and Macau residents of Chinese nationality need to apply at the China Travel Service, the sole authorized issuing agent, to obtain a Home Return Permit (回乡证), a credit card sized ID allowing multiple entries and unlimited stay for 10 years with no restrictions including on employment. Taiwan residents may obtain an entry permit (valid for 3 months) at airports in Dalian, Fuhzou, Haikou, Qingdao, Sanya, Shanghai, Wuhan, Xiamen and China Travel Services in Hong Kong and Macau. Visitors must hold a Republic of China passport, Taiwanese Identity Card and Taiwan Compatriot Pass (台胞证 táibāozhèng). The Compatriot Pass may be obtained for single use at airports in Fuzhou, Haikou, Qingdao, Sanya, Wuhan and Xiamen. The entry permit fee is ¥100 plus ¥50 for issuing a single use Taiwan Compatriot Pass. Travellers should check the most up-to-date information before traveling.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: