Wisanggeni Gugat 1: Perselisihan di Suralaya

Mei 28, 2008

Pengantar:

Akhirnya saya mencoba menepati janji untuk mengisi kategori ringgit purwo. Saya ambil lakon Wisanggeni Gugat, yang berdasar pada sanggit Ki Hadisugito, yang rekamannya saya dapatkan dari Kangmas Kandar. Bagi yang hendak mendengarkan versi rekamannya, silahkan ngunduh di sana. Dalam bahasa Jawa tentunya …. Selamat menikmati

Kahyangan Suralaya….

Suralaya, kahyangan tempat bersemayam para dewa, adalah tempat yang wingit, gawat keliwat-liwat, dan penuh wibawa. Dari sanalah sumber kekuatan yang menguasai jagad. Sebagi tempat persemayaman para dewa, sungguh sangat diluar jangkauan akal, seorang titah ngarcapada mampu mencapainya, kecuali bahwa ia memiliki nyali dan kemampuan yang luar biasa. Sesuai namanya, sura berarti berani, dan laya yang berarti kematian, maka seorang titah yang kementhus menjejakkan kakinya di Suralaya wajib menyadari bahwa dirinya saat itu tengah berjudi dengan taruhan nyawa. Demikain wingitnya, sampai-sampai diibaratkan sato moro sato mati, jalmo moro keplayu. Dari singgasana yang penuh cahaya, kahyangan Suralaya memberikan nuansa yang penuh wibawa, tak terbatas kekuasaannya atas jagad yang gumelar, sak lumahing bumi, sak kurebing langit. Kewingitan Jonggringsalaka, sebutan lain untuk Suralaya, semakin terasa dengan keberadaan kawah Candradimuka, tempat para dewa nakal yang perlu diluruskan akhlak dan perilakunya.

Sang Hyang Pramesthi Bathara Guru, penguasa tunggal kayangan Suralaya, sebagai pemilik wewennag dan tanggung jawab memberikan contoh bagi para titah, mengelola jagad gumelar, menjadi raja bagi seluruh bumi seisinya. Memberikan kelimpahan rezeki dan makanan bagi para penghuni jagad dari arah kiblat papat. Bathara Guru, dikenal juga sebagai Sanghiang Manikmaya, dalam menguasai jagad, menjadi ratuning poro ratu, dibantu oleh para dewa, para bathara dan bethari. Keempat tangan Bathara Guru, menggenggam kembang Dewandaru, Cupu Manik Astagina yang berisikan air kehidupan. Tergenggan pula pusaka cis trisula dan cis jaludara, sebagai lambang penguasaan terhadap hajat hidup seluruh titah ngarcopodo.

Hari itu, Sang Hyang Guru sedang duduk di singgasana Marcu Pundhamanik. Tampak Sang Bathara Guru sedang dirundung kegalauan. Tak ada para Dewa yang berani mendekat. Hingga akhirnya beliau memanggil patihnya, Sang Hyang Kanekaputra, alias Bathara Narada. Narada adalah seorang dewa yang lurus, teguh dalam pendirian serta terkenal jujur. Narada menghadap didampingi dua puterannya Bethara Masno dan Bethara Panyarikan.

Sementara di luar, para dewa berkumpul. Mereka menantikan apa yang akan disabdakan oleh Bathara Guru. Hening, penuh ketegangan. Angin laksana berhenti berhembus, daun-daun seakan tak bergerak. Sayup-sayup terdengar gamelan Lokananta, yang berbunyi tanpa ada yang menabuhnya, menambah tintrim suasana.

Beberapa saat membisu, akhirnya Bathara Guru membuka suara:

+ ”Kakang Narada, mudah-mudahan tidaklah menjadikanmu terkejut, hari ini ulun panggil secara mendadak”

– ”Terus terang saya bertanya-tanya sejak dari luar, dan saya sangat menantikan sabda paduka Adi Pramesti”

+ ”Sebelumnya, ulun ingin mendengar kabar tentang para dewa, bagaimana keadaan mereka, apakah segalanya baik-baik saja”

– ”Pangestunipun, semuanya aman terkendali, seluruh kebutuhan tercukupi tanpa kekurangan suatu apapun Adhi Pramesthi”

Seperti yang sudah-sudah setiap kali ada pisowanan, Bathara Guru menanyai satu per satu para dewa yang hadir dalam pisowanan tersebut. Sampai akhirnya, Sang Hyang Guru kembali berpaling ke Narada.

+ ”Kakang Narada, ulun percaya, kalau segala sesuatu yang ada di atas bumi dan di bawah langit berjalan dengan sempurna, tak kurang satu apapun. Namun, sampai saat ini, ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku, masih menyisakan satu noda bagi kita para dewa dalam nggulawentah jagad seisinya”

– ”Seandainya boleh tahu, apa yang membuat adhi Guru gundah gulana? Tidakkah semua prestasi yang telah adhi Guru raih dalam memakmurkan seluruh alam raya telah menghantarkan kedamaian dan kepuasan bagi batin Adhi Guru?”

+ ”Seperti telah kita tahu bersama, ulun dan kita para dewa adalah ratunya para ratu. Tak ada titah yang tidak menghormati kita. Semuanya tunduk dan patuh kepada kita para dewa. Namun ada hal yang menjadi klilip. Ada sementara titah yang tidak bisa bertatakrama. Jangankan kepada sesama titah. Bahkan dengan kita para dewa pun mereka nungkak kromo. Maka ulun berkehendak ingin membersihkan anasir-anasir buruk itu dari muka bumi, sehingga seluruh alam semesta, terlebih lagi kahyangan Suralaya, tidak terkotori oleh mereka”

– ”Lalu siapakan yang Adhi Guru maksud?”

+ ”Tak lain dan tak bukan adalah Werkudoro, Antasena dan Wisanggeni yang tak tahu tata krama, tak tahu menghormati para dewa. Yang selanjutnya adalah Priyagung Madukara Raden Janaka, yang dengan berani-beraninya mengawini para bidadari. Karena itu, ulun ingin membinasakan mereka, agar pengaruh buruk yang mereka timbulkan tidak menyebar di kalangan para dewa maupun titah ngarcopodo, sehingga kahyangan Suralaya tetap terjaga kesucian dan kewibawaannya, tidak terlecehkan oleh sikap dan perilaku mereka”

Narada terkesiap. Tampak rona wajah memerah, menahan rasa terkejut atas titah dari Bathara Guru. Sejenak dia terdiam, sampai akhirnya keluar kata-kata dari mulutnya.

– ”Perkenankan saya mengemukakan pendapat. Kesalahan para titah tadi, sebenarnya bersumber dari kesalahan adhi Guru sendiri”

+ ”Lha kok malah aku yang disalahkan?”

– ”Pertama, Werkudara. Werkudara itu sejak kecil dimomong oleh Bathara Bayu. Sepanjang yang kita tahu, Bathara Bayu itu memang tidak bisa bertutur kata yang lembut dan sopan. Kesalahan Adhi Guru, mengapa Adhi tidak mampu mengajar cucu Adhi, Bathara Bayu untuk bisa berbahasa yang halus dan bertutur kata yang sopan, sehingga hal yang serupa juga diturunkan kepada Werkudoro?”

Narada melirik Bathara Guru, yang masih dengan seksama menyimak argumentasi Narada tanpa membantahnya.

– ”Selanjutnya, Antasena. Sejatinya, Antasena itu telah meninggal, saat diminta menjadi martir di kahyangan Suralaya. Hidupnya Antasena itu karena kekuasaan Sang Hyang Wenang yang mentakdirkan Antasena tetap hidup tetapi punya cacat mental tak bisa bertata krama. Nah salah Adhi Guru, anak yang masih belum cukup umur kok diajukan untuk membela kahyangan Suralaya.”

– ”Tentang Wisanggeni, ingatkah Adhi, sewaktu Wisanggeni berusia tujuh bulan dalam kandungan Dewi Dresanala, Adhi Guru mencoba menggugurkan kandungannya, karena ingin menikahkan Dresanala dengan Dewasrani, putera dari Bathari Durga. Akhirnya Wisanggeni lahir prematur. Karena saking takutnya Bathara Bromo terhadap Adhi Guru, maka Bathara Bromo berusaha untuk membunuh Wisanggeni. Tapi atas kekuasaan Sang Hyang Wenang, Wisanggeni tak mampu dilenyapkan nyawanya oleh Bromo, malah akhirnya ngamuk di kahyangan Suralaya. Ingat nggak, Adhi Guru? Makanya, jangan sekali-kali menyiksa jabang bayi yang masih ada di gua garba, karena justru jabang bayi dalam kandungan itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Apalagi sampai berusaha menggugurkannya”

Tampak dari rona wajah Guru semakin memerah, manndakan kemarahan yang mulai naik. Namun sebagai seorang penguasa jagad, Guru masih berusah meredakan emosinya

+ ”Tentang Janaka. Terus terang saya merasa sangat terhina dengan kenekatannya memperistri para bidadari. Padahal sudah takdirnya bahwa bidadari bukanlah pasangan titah ngarcopodo. Ini sama saja dengan merusak tatanan yang sudah ulun buat. Hal ini tak bisa diterus-teruskan”

– ”Coba Adhi ingat-ingat. Siapa sebenarnya Janaka? Dia tak lain adalah pangejawantahan Sang Hyang Siwerna. Makanya dia mampu memperistri dan menata para bidadari sebagai pendamping hidupnya. Dan semuanya berawal dari Adhi Guru. Ingatkah Adhi Guru, saat Janaka diminta tolong untuk mengusir Prabu Niwatakawaca dari kahyangan, kemudaian atas keberhasilannya, Adhi Guru mengijinkan Supraba untuk diperistri Janaka? Sejak itulah, para bidadari berlomba-lomba untuk diperistri Janaka. Seandainya tak ada contoh sebelumnya, saya kira tak akan terjadi hal tersebut”

Kali ini, Bathara Guru sudah tidak lagi mampu mengendalikan emosinya.

+ “Sekarang, ulun mau tanya. Siapakah sejatinya dirimu? Kamu itu adalah seorang patih. Hanya patih. Sudah jamak, seorang patih itu sendika dhawuh kepada ratu. Akulah ratu. Tak perlu mendebatku. Atau kakang Narada memang sudah bosan jadi patih? Sudah bosan jadi dewa?”

– “Saya memang hanya patih. Tapi tugas patih juga untuk mengingatkan raja, apabila raja hendak berbuat sesuatu yang menyimpang dari paugeran. Apa adhi Guru tak ingat, kalau Sang Hyang Wenang pun menghendaki agar pandhawa tidak diganggu gugat hingga Perang Baratayuda nanti? Selamanya pandhawa harus tetap lima, tak boleh dirubah jumlahnya. Apa adhi Guru hendak menentang kehendak Sang Hyang Wenang?”

– “Diam, aku tak perlu nasihatmu. Sekarang, aku hanya ingin jawabanmu. Kamu mendukung, atau menolak putusanku untuk membinasakan para titah ngarcopodo yang kurang ajar itu?”

+ “Ya sudah, nggih sumonggo. Mau dibinasakan, ya saya nggak ikut-ikut. Saya sendiko dhawuh saja. Tapi saya nggak mau nanggung resikonya. Tugas saya mengingatkan sudah saya lakukan. Kalau adhi Guru tetap berkeinginan untuk membinasakan Werkudoro, Janaka dan anak-anaknya, ya silahkan. Tapi kalau nanti sampai terdengar oleh para titah ngarcopodo, terus pada tahu kalau adhi Guru membuat keputusan yang tak bijaksana, ojo takon dosa, kalau sampai suatu saat nanti adhi Guru akan dipermalukan. Apalagi kalau kakang Semar sampai tahu, terus ngamuk menuntut balas di kahyangan. Apa nggak tambah repot? Tapi ya kalau memang sudah jadi keputusan adhi Guru, ya saya sedermo nglakoni kewajiban saya sebagai patih”

Sang Hyang Pramesthi Bathara Guru bergeming. Tetap pada keputusannya untuk membinasakan Werkudoro, Janaka, Antasena dan Wisanggeni. Dengan suara menggelegarnya dia memberikan instruksi pada Bathara Panyarikan untuk menghadirkan Bathara Bromo, tak lain adalah eyang dari Wisanggeni, serta menyuruh Bethari Durga untuk menjemput puteranya Dewasrani, yang akan ditugasi untuk menghabisi nyawa Janaka. Narada hanya tertunduk lesu. Tampak kekecewaan yang sangat mendalam tergambar di wajahnya. Namun apa daya, dia hanyalah seorang patih, yang harus tunduk dan patuh pada sabda sang raja. Hatinya masih galau, tak mampu menggambarkan apa yang akan terjadi nantinya.

(Bersambung)

26 Responses to “Wisanggeni Gugat 1: Perselisihan di Suralaya”


  1. wah, akhirnya ki nayantaka mosting juga cerita pakeliram ringgit purwa. salut banget. yang aku kagumi dari sosok wisanggeni adalah keberaniannya dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, tanpa memedulikan beranta rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. lakon ini mendedahkan sebuah pesan moral bahwa kita mesti konsisten dalam memperjuangkan nilai2, apa pun yang kita yakini kebenarannya. wah, malah sudah memiliki rekamannya segala, ki hadi sugito, versi ngayogyakarta. sugeng nguri-uri kabudayan jawi, ki, rahayua ingkang sami pinanggih, rahayu widada nir hing sambikala *halah*

    wah, kulo sampun dangu mboten pinanggih rahayu je, sakploke lulus SMA lajeng mboten ngertos sakmeniko wonten pundi


  2. Siip … nambah referens Ki Dalang … asyip punya

    salah satu yang bikin saya nulis-nulis ya sampeyan Pak Ersis, maturnuwun

  3. iway Says:

    more more moreee **gelar tikar nyiapin klenikan**

    klethikan???

  4. Joko Says:

    Wah bagus mas…… salut saya dengan usaha anda untuk mentransformasi pagelaran ki hadi sugito dalam bentuk prosa….. saya tunggu bagian yang Wisanggeni, Werkudara, Antasena dan Bagong yang jadi gajah …… seru sekali mas

    lha itu udah mau tamat mas, berarti sampeyan sudah dengar sampai tancepkayon😆

  5. itikkecil Says:

    dah lama gak nonton wayang…..

    emang di plembang ada wayang Ir?

  6. edy Says:

    jadi inget waktu kecil baca buku wayang:mrgreen:
    lanjut, pak dee

    sabar Ed, tarik napas panjang dulu

  7. arif Says:

    Waiyah pakai bersambung. Padahal aku udah siap-siap sampai shubuh wayangannya.

    Yo wis, tak merem dhisik nek ngono.

    dhalange durung kuwat melekan kang🙂

  8. adipati kademangan Says:

    tak enten enteni ket biyen sing koyok ngene iki

    matursuwun sampun kerso nyrantos

  9. aprikot Says:

    kapan crito perang baratayuda ki kang?

    diganti perang brotoseno wae po ndhuk?

  10. edratna Says:

    Tk sabar menunggu sambungannya

    semoga tak terlalu lama menunggu budhe


  11. Ayo, ora wayangan wae. Ingat, piala Eropa sudah dekat:mrgreen:


  12. merasa orang lain sebagai klilip pertanda tak mampu mengelola diri
    monggo Ki dilanjut😀

  13. Ndoro Seten Says:

    asyik…..iso nglaras ki hadi sugito meneh
    mengko dilanjut crito liyane nggih kang!

    nderek tepang!

  14. Yoyo Says:

    lanjut Ki…., buat selingan sambil nunggu pertandingan bola…..🙂

  15. sigid Says:

    Akhirnya sesudah tancep kayon, pak Ki Dalang Dee mulai mementaskan lakon …:mrgreen:
    Monggo dipun lanjut, kulo tak pados papan wonten wingking kelir …

  16. zam Says:

    woh..

    menarik ini, ki.. saya pengen banget dengar eh baca cerita2 ringgit kados mekaten..

    ditunggu kelanjutannya, ki..

  17. Nayantaka Says:

    Dear all,
    Sorry, dhalange lagi ketungkul nonton Brontoyudo Joyobinangun di padang KuruSwissAustria, belum sempat melanjutkan. Sementara begadangnya ditemani sama Fernando Torres, Dirk Kuyt, dan baju barat lainnya ya

  18. hanna Says:

    lumayan panjang. syukur deh akhirnya selesai juga dibaca meski bersambung dan agak lamban saya membacanya. tidak bisa cepat karena bahasanya ada yang tidak saya mengerti. nama2 tokoh wayang dalam cerita di sini pun masih ada yang asing bagi saya. tapi, mengasyikkan. menambah pengetahuan saya tentang dunia perwayangan. trim’s ya.

  19. kw Says:

    wah dalange lagi nonton euro. ki boleh reques.. aku pengen baca cerita bimasakti mencari air suci….

    terimakasih

  20. Abdee Says:

    salam penggemar wayang… wisanggeni gugat versi Ki Hadi Sugito adalah favorit saya…

  21. Tancep Kayon Says:

    […] cerita, durga, guru, Hadisugito, suralaya, wayang, werkudoro, wisanggeni Kelanjutan dari sini. Setelah sekian lama terlupakan. Terimakasih untuk Kang Kandar atas file wayangnya. Bathara […]

  22. welly dana indiarta Says:

    waw-waw kalau semua lakon wayang bisa di akses melalui internet bakalan bisa jadi dalang otodidak dong.
    hidup kebudayaan jawa……!!!!!!!!!!!

  23. Sugiarno Says:

    Izin copy paste, terima ksih…

  24. auroraindra Says:

    sediakan wayang dengan lakon yang selengkap-lengkapnya

  25. rama Says:

    ceritanya seru kalau ada sambungannya pasti saya ikuti, matur suwun.

  26. Musa paweden pekalongan Says:

    Crito wisanggeni gugate manteb kang.. Tk tunggu lanjutane opo ganti lakon, cobo aku pingin lakon sing judule WAHYU WIDAYAT saget mboten kang.. suwun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: