Tentang Alarm dan Dongeng Penggembala Kambing

April 3, 2012

Seperti biasa, selepas makan siang, kantuk dan kemalasan akan menyerang dengan hebatnya. Ditambah lagi dengan cuaca panas yang sungguh amat sangat tidak bersahabat. Maka saya memutuskan untuk membatalkan sesi pengambilan data lapangan, dan mengalihkan fokus kerja pada studi literatur. Sambil berselancar ke sana ke mari tentunya, memanfaatkan jalan lebar konekisi internet yang ditinggalkan oleh para mahasiswa S1 yang pulang kampung selama libur pertengahan semester ini. Tampaknya penyakit serupa juga menyerang beberapa kolega saya dalam satu ruangan. Wajah terkantuk-kantuk di depan layar laptop menjadi pemandangan umum siang ini.

Mendadak, siang hari bolong yang sunyi senyap ini dikejutkan dengan gemerincing suara alarm penanda bahaya kebakaran. Sungguh memekakkan dan menyakitkan telinga. Berbekal insting waspada bencana yang terasah akibat gempa Jogja dan erupsi Merapi, saya sekuat tenaga meloncat dan bergegas menunju ke pintu darurat, selanjutnya menuju ke assembly point di depan pintu utama laboratorium. Sungguh mengherankan, dalam kepekakan telinga akibat rauang alarm tersebut, hanya segelintir orang yang berjalan menuju ke titik berkumpul. Itupun dengan langkah santai, bak putri Solo lengakp dengan candran lakune kaya macan luwe. Betapa luar biasa teman-temanku ini, nyali mereka untuk berhadapan dengan bahaya kebakaran sungguh mengagumkan. Begitu tenang. Dingin, tanpa ekspresi panik atau cemas. Sementara kebanyakan di antara mereka tetap meneruskan kesibukan mereka di dalam ruangan, seolah-olah kuping mereka tersumpal headset yang mengalunkan dentuman musik heavy metal. Tanpa peduli dengan jeritan alarm.

Keherananku segera terjawab, saat seorang pegawai sains berkata kepadaku, ini sudah yang ketiga kalinya sensor asap di ruang inductively coupled plasma mass spectrometry berulah. Terakhir kalinya terjadi sejak hari Jum’at kemarin. Wajar saja, semua orang merasa tenang, dan tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya aku saja, yang kebetulan waktu hari Jum’at tidak berada di ruangan yang kalang kabut dengan jeritan alarm tersebut. Sayapun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam bangunan, dan meneruskan pekerjaanku yang tertunda. kali ini saya benar-benar memasang headphone dan memutar lagu-lagu Judas Priest dengan kencang untuk mengalahkan suara alarm.

Mendadak terlintas di benak saya sebuah dongeng lama yang sering dikisahkan ayah mengantarkan tidur saya. Tentang seorang penggembala kambing yang mempermainkan penduduk kampung dengan teriakannya tentang kedatangan segerombolan serigala. Sekali dua kali, penduduk kampung terkecoh dengan teriakan itu, namun berikutnya, mereka sudah tidak mau lagi mengacuhkan teriakan sang gembala. Hingga akhirnya sang serigala itu benar-benar datang. Saya berandai-andai, seandainya besok pagi alarm itu kembali berbunyi, namun ternyata bukan karena ngaconya detektor asap, melainkan akibat sambaran api atau benda eksplosif lainnya, masihkan kawan-kawan di dalam sini asyik masyuk dengan kesibukannya, dan abai terhadap peringatan dini tersebut? Kalau dalam dongeng di atas, yang menjadi korban akhirnya adalah sang gembala, alias si alarm, maka dalam kasus ini, korbannya dalah penduduk, alias para penghuni lab.

Akhirnya saya memilih untuk bersikap, suatu esok nanti, apabila alarm kembali berbunyi, tak peduli apa penyebabnya, saya harus keluar menuju ke assembly point. Dan menunggu sampai saya yakin bahwqa keadaan memang aman terkendali. Saya tak mau seperti domba yang menjadi korban terkaman serigala akibat kebohongan yang dilakukan oleh sang penggembala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: