Seperti biasa, setiap Kamis sore di perhentian Gambang, sekitar 3 km dari kampus, diselenggarakan pasar malam. Jangan bayangkan pasar malam di sini seperti halnya pasar malam di Jogja. Tidak akan anda jumpai arena permainan komidi putar atau atraksi maut tong setan. Bayangkanlah pasar becek di pinggiran kota. Ya, pasar malam di sini adalah event yang memfasilitasi transaksi antara pembeli, biasanya penduduk lokal, dengan penjual yang mayoritas bumiputera, alias Melayu. Dagangannya juga khas, sayur mayur dan buah-buahan hasil pertanian lokal (rambutan, mangga, duku, durian, jagung, bayam, sawi dll), daging, ikan dan makanan serta jajanan khas setempat (laksa, murtabak, keropok lekor, nasi ayam, ayam percik, dll). Produk pertanian impor diharamkan untuk dijual di pasar malam. Selain itu, pedagang sepatu bekas, baju dan kain, mainan anak, serta sesekali ada pengemis dan peminta derma yang turut berpartisipasi.

Sore itu, di lapak pedagang daging sapi, saya melihat seonggok limpa. Sungguh hal yang langka, biasanya kami cuma kebagian daging atau tulang. Kesempatan ini tidak saya lewatkan. Tanpa berkonsultasi dengan istri sebagai pembuat keputusan tertinggi dalam hal belanja dapur, saya segera memborong seluruh limpa yang hanya seberat 576 gram itu. Dan ternyata, istri saya yang melihat dari kejauhan cukup tanggap dengan keinginan saya, dan dia dengan sigapnya memenuhi tas belanjanya dengan daun singkong, daun kunyit, dan beberapa rempah-rempah yang ditujukan khusus untuk memasak limpa tersebut. Ya, kami memang sudah meniatkan untuk membuat rendang apabila kami bisa mendapatkan limpa di pasar malam.

Malamnya, seusai shalat maghrib, kami bahu-membahu menyiapkan segala keperluan untuk memasak rendang. Sialnya, stok kelapa parut di pasar malam kebetulan habis, sehingga saya harus berjibaku untuk mengupas kelapa, mencungkilnya serta sesekali menggantikan istri untuk memarutnya. Setelah semuanya siap, sesi memasak pun dimulai. Maaf, saya tidak akan menceritakan jalannya memasak, ataupun mengulas tentang resep yang kami pakai. Kalau mau, silahkan berkelana ke blog-blog lain tentang kuliner yang memang menyajikan resep masakan. Yang perlu saya sampaikan, di balik kelezatan rendang, yang bahkan pernah dinobatkan sebagai masakan terlezat sedunia pada polling pembaca yang diadakan oleh CNN GO, ternyata diperlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Banyaknya rempah dan bumbu yang diperlukan, persiapan dan tahapan memasak menjadi salah satu pengorbanan tersendiri. Bayangkan, kami memerlukan total waktu 7 jam untuk menyiapkan dan memasaknya hingga matang dan siap saji. Maka, perjuangan yang dimulai pukul 8 malam itu baru berakhir saat jarum jam telah menunjuk angka 3 dinihari. Dan berhubung sejak jam 12 istri saya sudah terkapar bersama si Wisang, maka berarti saya harus mengambil alih proses penyelesaian akhir masakan tersebut.

Dan alhamdulillah, pagi ini saya dengan khusuknya melahap sarapan nasi plus rendang plus rebusan daun singkong, dan tak ketinggalan lalapan ketimun. Ditambah dengan teh Tong Tji yang nasgithel, jadilah awal hari Jum’at Kliwon yang sempurna. Sungguh terbayarkan pengorbanan semalaman dengan kenikmatan yang saya dapatkan pagi ini. Dan memang, rendang pantas dijadikan sebagai raja masakan, walau sebenarnya dia tidak cukup bersahabat dengan lingkungan, karena boros energi (termasuk konsumsi gas dan energi manusia untuk marut kelapa dan menumbuk bumbu), serta membutuhkan waktu lama untuk memasaknya.

Sekatan

April 4, 2012

Jam 10:00 waktu setempat. Saya bergegas menuju parkir lab. Ada janji untuk mengambil sampel decanter cake di pabrik pengolahan sawit Lepar Hilir. Perlahan saya jalankan Kancil berkapasitas silinder 650 cc menyusuri jalan menuju kilang yang terletak kira-kira 20 menit dari kampus saya. Betul-betul perlahan, karena memang tidak memungkinkan untuk memacu kotak sabun ini melebihi 70 km/jam. Jalannya sendiri cukup menyenangkan. Teduh dinaungi pepohonan besar di kiri kanan jalan. Menembus kebun karet dan kelapa sawit, ditemani pemandangan beranekan burung berterbangan. Sesekali terlihat monyet berekor panjang bergelantungan di dahan atau di kabel listrik.

Hampir separuh jalan, ketika perjalananku sedikit tersendat karena beberapa truk trailer yang berhenti di pinggir jalan. Semakin ke depan, semakin banyak truk yang berhenti. Hal yang tak biasa, dan mungkin dikarenakan oleh salah satu dari tiga sebab: kecelakaan, perbaikan jalan, atau roadblock. Melihat mayoritas yang berhenti adalah truk-truk besar, maka saya menyimpulkan bahwa penyebab ketigalah yang paling masuk akal. Dan memang benar. beberapa puluh meter ke depan, nampak di tengah-tengah jalan berderet kerucut berwarna merah bertuliskan JPJ. JPJ atau Jabatan Pengangkutan Jalan Malaysia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan transportasi di negeri ini. Mungkin serupa dengan DLLAJR, namun lingkupnya lebih luas termasuk dalam penerbitan surat-surat kendaraan, pajak jalan raya, dan surat ijin mengemudi. Dan kononnya, instansi ini kebal disogok. Berapapun, mereka tetap teguh berpegang pada aturan. Tidak ada istilah damai-damaian.

Semakin dekat dengan giliran diperiksa, hati sedikit berdebar-debar juga. Karena selama ini saya tidak pernah mengkonversi SIM Indonesia saya dengan SIM Malaysia, alias Lesen Memandu. Memang ada kesepakatan antara negara-negara ASEAN, bahwa SIM negara asal bisa dipakai untuk mengemudi di sesama negara anggota ASEAN. Namun kalau tidak salah, dalam Akta Pengangkutan Jalan Malaysia, ada kewajiban bagi warga asing yang sudah tinggal dalam kurun waktu tertentu untuk mengkonversi SIM asal ke SIM Malaysia. Tidak susah sih, cukup berbekal surat keterangan dari Kedutaan Besar (yang ini harus membayar 60 ringgit, kalau peraturan belum berubah), kemudian dibawa ke JPJ untuk dikonversi. Biayanya sekitar 30 ringgit. Namun, malas adalah malas, tak peduli berapa banyak atau sedikit biayanya🙂

Dan tibalah giliranku! Seperti biasa, pertama kali Pak JPJ akan memeriksa stiker road tax. Yang ini aman, karena baru akan kedaluwarsa bulan Juni 2012. Berikutnya, kalau dirasa perlu, dia akan menanyakan Lesen Memandu. Dan kelihatannya Pak JPJ merasa perlu menanyakannya pada saya. Dengan gaya meyakinkan, saya ambil SIM A dari dompet saya.

“Oh, Indonesia ya? Sudah berapa lama di sini? Belum convert?”

“Di sini sudah lama, tapi itu lesen baru lagi. Tak sempat nak convert” Saya ngeles dengan bahasa Melayu sak-kecekel-nya. Memang betul, itu SIM baru, oleh-oleh dari Ambarukmo Plaza waktu saya pulang kampung Desember tahun lalu. Pak JPJ pun manggut-manggut dan mempersilahkan saya berlalu. Saya segera meluncur perlahan menuju ke kilang.

Setengah jam kemudian, segala urusan beres, dan saya kembali mengambil jalan yang sama. Masih seperti tadi, rombongan truk berderet di tepi jalan. Pak JPJ kembali menghentikan saya, namun setelah saya kasih kode dengan bahasa tubuh bahwa saya tadi telah melintas dari arah berlawanan, diapun memberikan jalan bagi saya untuk lewat.

Satu hal yang menarik, Pak JPJ ini tidak serajin Polisi Indonesia kalau melakukan mukmen, alias cegatan. Selama 4 tahun di sini, mungkin baru 3 atau 4 kali saya mengalaminya. Dan meskipun ada puluhan truk yang mendadak berhenti dan menepi menunggu mukmen selesai, mereka tidak menjemput bola untuk mendatangi dan memeriksa truk-truk itu, yang tentunya terindikasi melakukan pelanggaran, karena mereka memilih berhenti daripada harus melewati pemeriksaan. Dan setelah ini, akankah saya mengkonversi SIM saya menjadi Lesen Memandu? Entahlah, kita tunggu saja kisah selanjutnya.

Seperti biasa, selepas makan siang, kantuk dan kemalasan akan menyerang dengan hebatnya. Ditambah lagi dengan cuaca panas yang sungguh amat sangat tidak bersahabat. Maka saya memutuskan untuk membatalkan sesi pengambilan data lapangan, dan mengalihkan fokus kerja pada studi literatur. Sambil berselancar ke sana ke mari tentunya, memanfaatkan jalan lebar konekisi internet yang ditinggalkan oleh para mahasiswa S1 yang pulang kampung selama libur pertengahan semester ini. Tampaknya penyakit serupa juga menyerang beberapa kolega saya dalam satu ruangan. Wajah terkantuk-kantuk di depan layar laptop menjadi pemandangan umum siang ini.

Mendadak, siang hari bolong yang sunyi senyap ini dikejutkan dengan gemerincing suara alarm penanda bahaya kebakaran. Sungguh memekakkan dan menyakitkan telinga. Berbekal insting waspada bencana yang terasah akibat gempa Jogja dan erupsi Merapi, saya sekuat tenaga meloncat dan bergegas menunju ke pintu darurat, selanjutnya menuju ke assembly point di depan pintu utama laboratorium. Sungguh mengherankan, dalam kepekakan telinga akibat rauang alarm tersebut, hanya segelintir orang yang berjalan menuju ke titik berkumpul. Itupun dengan langkah santai, bak putri Solo lengakp dengan candran lakune kaya macan luwe. Betapa luar biasa teman-temanku ini, nyali mereka untuk berhadapan dengan bahaya kebakaran sungguh mengagumkan. Begitu tenang. Dingin, tanpa ekspresi panik atau cemas. Sementara kebanyakan di antara mereka tetap meneruskan kesibukan mereka di dalam ruangan, seolah-olah kuping mereka tersumpal headset yang mengalunkan dentuman musik heavy metal. Tanpa peduli dengan jeritan alarm.

Keherananku segera terjawab, saat seorang pegawai sains berkata kepadaku, ini sudah yang ketiga kalinya sensor asap di ruang inductively coupled plasma mass spectrometry berulah. Terakhir kalinya terjadi sejak hari Jum’at kemarin. Wajar saja, semua orang merasa tenang, dan tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya aku saja, yang kebetulan waktu hari Jum’at tidak berada di ruangan yang kalang kabut dengan jeritan alarm tersebut. Sayapun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam bangunan, dan meneruskan pekerjaanku yang tertunda. kali ini saya benar-benar memasang headphone dan memutar lagu-lagu Judas Priest dengan kencang untuk mengalahkan suara alarm.

Mendadak terlintas di benak saya sebuah dongeng lama yang sering dikisahkan ayah mengantarkan tidur saya. Tentang seorang penggembala kambing yang mempermainkan penduduk kampung dengan teriakannya tentang kedatangan segerombolan serigala. Sekali dua kali, penduduk kampung terkecoh dengan teriakan itu, namun berikutnya, mereka sudah tidak mau lagi mengacuhkan teriakan sang gembala. Hingga akhirnya sang serigala itu benar-benar datang. Saya berandai-andai, seandainya besok pagi alarm itu kembali berbunyi, namun ternyata bukan karena ngaconya detektor asap, melainkan akibat sambaran api atau benda eksplosif lainnya, masihkan kawan-kawan di dalam sini asyik masyuk dengan kesibukannya, dan abai terhadap peringatan dini tersebut? Kalau dalam dongeng di atas, yang menjadi korban akhirnya adalah sang gembala, alias si alarm, maka dalam kasus ini, korbannya dalah penduduk, alias para penghuni lab.

Akhirnya saya memilih untuk bersikap, suatu esok nanti, apabila alarm kembali berbunyi, tak peduli apa penyebabnya, saya harus keluar menuju ke assembly point. Dan menunggu sampai saya yakin bahwqa keadaan memang aman terkendali. Saya tak mau seperti domba yang menjadi korban terkaman serigala akibat kebohongan yang dilakukan oleh sang penggembala.

Turun Gunung…

Februari 14, 2012

Ya, saya datang lagi. Saya apdet blog lagi.  Setidaknya untuk detik ini. Entah esok hari, entah lusa nanti…

Bermula dari keinginan Bathara Guru untuk membersihkan ngarcapada dari unsur-unsur yang bisa merongrong kewibawaan Jonggringsalaka, beliau memerintahkan segenap jajaran dewa untuk membinasakan Werkudara, Arjuna, Antasena dan Wisanggeni. Bathara Bromo diperintahkan untuk menyerahkan cucunya, Wisanggeni, hidup atau mati, sementara Dewasrani, putra Bathari Durga ditugaskan untuk membinasakan Werkudara, Arjuna dan Antasena, dengan iming-iming menggantikan predikat Arjuna selaku lelananging jagad. Bathara Narada, yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan itu, diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya operasi. Bersama Masna dan Panyarikan, kedua anaknya, Bathara Narada medhak ngarcapada untuk memastikan bahwa Bathara Brama patuh menjalankan perintah Bathara Guru…

Setelah bertarung beberapa saat, tampak Gatotkaca mulai kepayahan, dan akhirnya memilih mundur.

“Dimas Wisanggeni, sejuta maaf, aku nggak bisa memenuhi janjiku melindungimu. Aku kewalahan menghadapi Panyarikan. Serangannya luar biasa, sementara aku tak mampu membalasnya”

“Kenapa Kang?”

“Lha setiap aku mau megang kepalanya, tubuhku malah terbanting. Tampaknya kodratku sebagai titah memang tidak mampu menyentuh kepala Bathara Panyarikan”

“Wo, dasar kurang pengalaman. Menghadapi dewa itu ada trik-triknya. Nggak sembarangan bisa nggrayang tubuhnya, apalagi kepalanya.”

“Lha terus gimana, Dhi?”

“Aku kasih tahu rahasianya. Titah itu tidak bisa menyentuh bagian atas tubuh para dewa. Bisanya ya cuma nyerang bagian perut ke bawah.”

“Jadi aku nggak bisa nguntir kepala Panyarikan kang?”

“Libur nguntirnya dulu Dhi. Kalau mau ngantem kepalanya, sembah dulu tiga kali, baru ngantem sekali. Kalau mau ngantem lagi, ya nyembah tiga kali lagi.”

“Oo, jadi nyerang bawah dulu ya Kang. Baik, aku coba lagi ya. Tapi Kangmas mau nanggung kan, kalau triknya gagal”

“Jangan khawatir, kalau gagal, kepalaku taruhannya”

Dengan semangat baru, Gatotkaca pun kembali maju ke medan laga, menyongsong Bathara Panyarikan yang sudah bersiap-siap menghadapinya. Tanpa banyak kata, Gatotkaca langsung menyerang kepala Panyarikan. Namun sebelum tangannya menyentuh sasaran, dengan tiba-tiba dia membelokkan arah kepalan tangannya ke perut Panyarikan yang terbuka. Panyarikan terhempas ke belakang. Tanpa menunggu lagi, Gatotkaca segera menyembah tiga kali dan disusul dengan hantaman telapak tangannya ke kepala Panyarikan. Tak ayal lagi, tubuh panyarikan terlontar sejauh dua puluh depa dan terjatuh tepat di depan kaki kakanya, Bathara Masno. Bathara Masno tak tinggal diam. Dimintanya Panyarikan untuk mundur, dan diapun menggantikan posisi Panyarikan menghadapi Gatotkaca. Pertempuran kali ini benar-benar imbang. Kedua pihak tampaknya sudah sangat tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun lama-lama Masno pun terdesak, setelah Gatotkaca terus menerus menyerang perutnya. Menyadari hal yang semakin gawat, Bathara Narada pun lari meminta bantuan Bathara Yamadipati.

Yamadipati baru klepas-klepus menghabiskan ududnya yang kesekian, tatkala Bathara Narada tergopoh-gopoh menjumpainya.

“Dasar Yamadipati ra urus. Kayangan geger, malah klempas-klempus di bawah pohon”

“Ada apa to Kangmas Narada?”

“Lha kita mau nangkap Wisanggeni, malah tahu-tahu sudah diporak-porandakan oleh Gatotkaca. Semua dewa yang nglurug ke sana sudah terkapar. Sakit perut semuanya, dihajar oleh si Gatot. Semua gara-gara Wisanggeni yang membocorkan kelemahan dewa. Sekarang tinggal tugasmu, kuperintahkan untuk nyabut nyawa Gatotkaca, biar nggak ngerecoki kerjaan kita”

“Waduh kang, kalau nyabut nyawa Gatotkaca, aku nyerah deh. Sejak dicemplungkan ke kawah Candradimuka, nyawanya telah diikat erat ke tulang iganya. Tak akan bisa dicabut sebelum waktunya tiba”

“Ini perintah Bathara Guru, harus dilaksanakan! Dan ingat, barangsiapa yang bisa menyerahkan Wisanggeni ke Jonggringsalaka, hidup atau mati, maka dia berhak mengawini Dewi Mampuni. Aku tahu, kamu sudah sejak lama naksir dia. Kalau nggak sekarang, kapan lagi kamu punya kesempatan yang langka ini?”

“Hah, jadi hadiahnya Dewi Mampuni kang? Wah kalau begitu, di mana sekarang Gatotkaca dan Wisanggeni. Sampai kapanpun akan aku layani mereka! Bawa aku ke medan pertempuran sekarang juga kang! Demi Mampuni, rasakan kepalan tanganku Gatotkaca!”

Yamadipati segera melesat menuju Gresilageni. Naluri dan ego kelelakiannya mengalahkan rasionalitasnya bahwa sangat sulit untuk mencabut nyawa seorang Gatotkaca dan Wisanggeni, yang semasa kecilnya telah digodog di kawah Candradimuka. Namun bayangan akan Dewi Mampuni di dalam pelukannya, membuatnya lupa segalanya.

“Gatotkaca, kalau boleh aku sarankan, mundurlah sekarang juga, sebelum aku bertindak”

“Aku takkan mundur, sampai putus leherku”

“Dasar tak tahu diuntung, aku cabut nyawamu!”

Yamadipati segera menyerang Gatotkaca, yang dengan trengginas mencoba mengimbangi setiap serangan Yamadipati. Namun ternyata tak berbeda jauh dengan dewa-dewa lainnya, kelamahan Yamadipati dengan segera dapat terbaca oleh Gatotkaca. Tanpa berlangsung lama, Yamadipati terdesak dan memilih meninggalkan gelanggang. Narada menghampiri Yamadipati.

“Gimana ini, kok kalah juga? Gak jadi dapat Mampuni? Padahal dia sudah berharap dapat bersanding denganmu lho”

“Ampun wo Narada, soal bidadari, lebih baik aku cari yang lainnya, daripada harus menghadapi Gatotkaca”, jawab Yamadipati sambil beringsut pergi menahan sakit dan malu.

Tak ada pilihan lain. Narada pun kemudian mengutus Bathara Indra untuk mencari Dewi Prabasini cucunya yang juga kekasih Wisanggeni, untuk dijadikan “rantai emas”, menangkap Wisanggeni. Segera Indra memanggil Prabasini, dan menyuruhnya menemui Wisanggeni sekaligus mengajaknya menghadap Bathara Guru. Prabasini tak punya pilihan lain. Posisinya yang sangat lemah memaksanya untuk mengikuti perintah eyangnya.

(Bersambung)

Image of Garuda
Pin Garuda yang terpampang di salah satu ruang Hubei Provincial Museum

Museum. Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata itu? Remang-remang, kusam, kuno, berdebu, atau bahkan sedikit kesan angker. Suatu tempat yang bukan merupakan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan. Suatu tempat yang dikunjungi karena keterpaksaan, entah tugas dari sekolah, atau memang tiada tempat lain yang lebih layak dikunjungi. Buang-buang waktu, bongkahan batu kok ditonton, begitu kata teman saya beberapa tahun silam. Maka ketika sahabat baru saya, Liew Liu alias Leona, menyodorkan usulan untuk mengunjungi Hubei Provincial Museum, saya menanggapi dengan sekadarnya saja. Saya iyakan ajakan itu, sekedar menghormati kebaikan hati dia selama mendampingi saya di South Central University for Nationalities, Wuhan.

Sabtu pagi itu, cuaca sungguh bersahabat. Bahkan terlalu hangat untuk situasi penghujung musim gugur. Angin lembut bertiup, sementara matahari menampakkan diri dengan ramahnya. Janji kami pukul delapan berangkat dari kampus, namun terpaksa molor setengah jam gara-gara Tao alias Peter terlambat bangun. Maka rencana untuk menumpang bus umum pun gagal. Kami berempat, saya, Haizal, teman Malaysia saya, Tao dan Liu akhirnya menyetop taksi, yang 40 menit kemudian menurunkan kami beberapa puluh meter dari gerbang museum.

Di depan papan nama Hubei Provincial Museum
Di depan papan nama Hubei Provincial Museum

Hal yang sangat mengejutkan terpapar di depan mata saya begitu memasuki halaman museum. Antrian yang luar biasa panjangnya. Lebih dari dua ratus meter barisan manusia membentuk formasi ular. Penasaran, aku mencoba melihat counter yang ada di pintu masuk, saat itu sudah 617 pengunjung yang melewati gerbang masuk. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi di museum tanah airku. Berhubung antrian masih panjang, kami berbagi tugas. Tao dan Liu menunggu antrian, sementara saya dan Haizal asyik mengabadikan moment di depan museum.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sampailah giliran kami untuk mendapatkan tiket masuk. Hebatnya, semua gratis. Ini jugakah penyebab panjangnya antrian, atau memang ada banyak hal menarik di dalam? Di atas loket disebutkan, pengunjung dibatasi maksimal 5000 orang per hari. Counter pada saat saya mengambil tiket menunjukkan angka 1242, berarti tadi ada lebih dari 600 orang yang berbaris di depan kami. Memasuki gerbang museum, pemeriksaan dilakukan dengan ketat, melebihi pemeriksaan keamanan bandara di tanah air. Tak sebarang cairan pun diperkenankan dibawa. Terpaksa satu botol air mineral yang ada di tas punggung aku relakan. Tas harus melewati X-ray detector, sementara orangnya pun wajib melintasi metal detector.

Sebelum memasuki museum, Liu mengusulkan kami untuk menyewa translator, karena dia sendiri tidak cukup pede untuk menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan museum. Awalnya saya menolak, karena menurut saya, lebih nyaman jalan-jalan sendiri tanpa harus diikuti oleh sang translator, dan toh sudah ada teks tertulis yang menyertai seluruh benda-benda yang dipamerkan. Namun, betapa kelihatan kupernya saya tatkala dipertontonkan sang translator, yang dalam bayangan saya orang, ternyata sebuah alat sebesar telepon genggam yang dilengkapi dengan headphone. Cukup dengan mendekatkan alat tersebut pada nomor ID benda yang dipamerkan, atau dengan memasukkan nomor identitas secara manual, maka alat tersebut akan memutar penjelasan mengenai sejarah benda tersebut dalam bahasa Inggris. Maka, 200 yuan pun berpindah dari tangan, untuk menebus alat itu selama tiga jam. Sebenarnya ongkos sewa hanya 30 yuan (sekitar Rp. 75.000), sisanya adalah jaminan yang nanti akan dikembalikan sewaktu kita selesai menggunakan alat tersebut.

Ada tiga bangunan di kompleks museum yang terletak di tepi East Lake, danau terbesar di Wuhan. Di sisi kiri terdapat Chu Culture exhibition hall, yang memuat pernik-pernik budaya negeri Chu. Termasuk di dalamnya terdapat pedang asli milik Guo Jian, raja dari negeri Wu. Terdapat pula beberapa kereta perang dan persenjataan yang berhasil dievakusi dari situs-situs setempat, yang kemudian direkonstruksi secara cermat untuk mendapatkan wujud yang menyerupai bentuk asalnya.

Bangunan kedua, yang terletak di tengah adalah bangunan utama. Di sini terdapat beberapa ruang pameran yang dibagi-bagi berdasarkan tema: keramik, kayu, logam, sejarah keberadaan manusia, serta ribuan relik yang diangkat dari kuburan kuno Marquis Yi. Salah satu peninggalan yang dianggap terhebat di museum ini adalah satu set alat musik yang terdiri atas 65 lonceng perunggu berlapis emas. Alat musik ini mencakup 5 oktaf, dengan ukuran fisik terbesar 153.4 cm dengan berat 203.6 kg. Menurut informasi yang tertera di museum, alat musik ini adalah hadiah dari Raja Hui dan dibuat pada tahun 433 SM. Meskipun telah terkubur selama lebih dari 2000 tahun, instrumen ini masih bisa dimainkan, dan pada saat tertentu digunakan untuk konser. Dalam gedung ini juga saya menemukan beberapa replika Java Man, alias pithecanthropus erectus, yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Sangiran abad silam. Setidaknya nama Sangiran, Ngandong, Trinil, Jawa dan Indonesia turut terabadikan di museum tersebut. Di salah satu bagian, terdapat sebuah pin emas berbentuk garuda. Di bawahnya terdapat tulisan yang memuat keterangan: Image of Garuda. Garuda, a transcription of the Sanksrit garuda. The garuda is described as a huge, golden-winged bird of some sort that eats dragons. It is sometimes translated into English as griffin. It is the personal mount of Amoghasiddhi. It symbolizes the absolute reign of the ‘law-king’.

Replika tengkorak pithecanthropus erectus
Replika tengkorak pithecanthropus erectus

Bangunan terakhir adalah gedung eksibishi untuk acara-acara yang sifatnya insidental atau temporer. Kami memutuskan untuk tidak memasukinya, selain karena pada saat itu tidak ada event, juga perut kami telah menyiratkan tanda-tanda lapar yang menggila. Kami memutuskan untuk mencari makan siang, halal food tentunya, untuk kemudian. melanjutkan perjalanan menuju Huazhong University of Science and Technology. Sebelum keluar gerbang museum, Tao dengan gesitnya menyempatkan diri mengambil empat botol air mineral sitaan petugas di dekat pintu masuk sebagai bekal di perjalanan.

Bola Itu Memang Bundar

November 23, 2009

Sejak dulu aku yakin, musik dan olahraga adalah bahasa universal yang diterima seluruh penduduk di bumi ini. Di sini, aku kembali menemukan bukti pendukungnya. Radio kampus, yang dipancarkan melalui loudspeaker yang dipasang di tempat-tempat strategis, selalu mengumandangkan musik yang notabene bukan berbahasa Cina. John Denver, Frank Sinatra, sampai Natalie Imbruglia atau The Corrs, setiap hari selalu mengalun, di samping beberapa lagu lokal yang diputar bergantian.

Olahraga, sungguh efektif untuk mengangkat harkat dan kebanggaan bangsa. Mata mereka pasti langsung berbinar-binar tatkala aku sebutkan nama-nama seperti Yao Ming, Lin Dan, Dong Fangzhou atau Sun Ji Hai. Beruntung masih ada nama Taufik Hidayat, sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang mereka kenal baik di Cina, tentu dengan reputasinya yang tak pernah menang melawan Lin Dan. Sayangnya, tak ada lagi yang bisa aku banggakan selain dia. Sewaktu mereka tahu Haizal dari Malaysia, mereka menyebut Lee Chong Wei, selain itu juga menganggap timnas sepakbola mereka hebat, berani menghadapi tantangan Manchester United. Saat itu, aku merasa sangat perlu mengutuk perbuatan biadab Nordin M Top dan kawan-kawan.

Malam itu, aku berniat mencari suasana lain, pergaulan lain. Kutinggalkan lab dan segala tetek bengeknya. Aku menuju ke sporthall. Ada 12 lapangan bulutangkis di sana. Dan semuanya terpakai. Mungkin ini sedikit jawaban, mengapa mereka hebat di bulutangkis. Mereka memang mencintainya, dan memainkan dengan penuh penghayatan. Terus terang, aku jadi nggak berani nonton lama-lama. Mereka terlalu hebat dan menggetarkan nyaliku untuk nimbrung. Aku bergeser ke lapangan basket. Keberhasilan Yao Ming menembus sirkus NBA tampaknya menginspirasi para pemuda untuk mencoba mengikuti jejaknya. Basket menjadi olahraga paling populer di sini. Ada lebih dari 30 lapangan, yang tersebar dalam 3 sentra di kawasan universitas ini. Dan semuanya selalu penuh. Talenta merekapun tak bisa dianggap remeh. Sekali lagi, aku tak mampu membesarkan nyaliku untuk terjun ke lapangan.

Aha, aku masih punya senjata rahasia. Bola voli. Meski tak hebat-hebat amat, pengalamanku tarkam dulu pasti masih mampu mengimbangi mereka. Aku menuju ke lapangan bola voli. Sial. Tak di Malaysia saja, di Cina ternyata bola voli bukan olahraga favorit. Mereka hanya main kalau tim universitas berlatih. Dan hari itu bukan jadwalnya. Jadilah tiga lapangan bola vli itu kosong melompong, hanya berisi 2 pasang muda-mudi yang baru dimabuk asmara. Akhirnya kulangkahkan kaki ke tempat terakhir, yang mungkin menjanjikan, lapangan bola. Setidaknya aku bisa lari-lari keliling di track atletik di sekitar lapangan bola.

Ada dua lapangan bola. Semuanya standar. Dikelilingi lintasan atletik dari lapisan tartan. Rumputnya sangat rapi. Terlalu rapi bahkan. Dan kemudian aku maklumi, karena ternyata rumput sintetis. Hanya ada beberapa orang bermain bola di sana. Sekelompok atlit sedang berlatih lari gawang. Di ujung lapangan, sekitar 12 orang sedang asyik memperagakan gerakan-gerakan taijikuan. Ada juga seorang kakek tua bersenam seorang diri, mengingatkanku pada sekumpulan lansia yang selalu bersenam jantung sehat setiap pagi di depan Purna Budaya.

Aku pun menuju ke area warming up. Melakukan strecthing. Seminggu tak menggerakkan badan, terasa sakit semuanya saat aku menarik dan mengulur otot-ototku. Tanpa sadar, dua gadis asyik memotret gerakan-gerakanku. Kemungkinan mereka dari jurusan Komunikasi atau Jurnalistik, karena setelah itu mereka mengabadikan gambar beberapa kelompok yang sedang berlatih. Aku menuju ke lintasan tartan. Perlahan-lahan melesat mengelilingi lapangan bola. Semakin cepat, dan semakin cepat. Enam putaran cukup untuk hari ini. AKu berhenti di belakang gawang. Cooling down.

Secara kebetulan, mereka yang bermain-main bola, sudah memulai game. Dan jumlah mereka kurang satu. Dengan gagah berani dan sok PD, aku mengangkat tangan, memohon permisi bergabung. Jadilah aku bermain bersama mereka. 30 menit sudah. Pada akhirnya kusadari, bermain bola di hawa dingin bukanlah perkara mudah. nafas selalu tertingal dua langkah dari kemauan untuk mengejar bola. Maka, di saat mereka masih segar bugar, terpaksa dengan berat hati akui pamit meninggalkan lapangan dengan wajah memerah dan napas tersengal-sengal. Pantas saja, Bambang Pamungkas tak kerasan di Belanda, pikirku. Ah, setidaknya 2 assist dan satu gol sudah mampu menjawab kerinduanku, aku menghibur diriku …

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.