Bola Itu Memang Bundar

November 23, 2009

Sejak dulu aku yakin, musik dan olahraga adalah bahasa universal yang diterima seluruh penduduk di bumi ini. Di sini, aku kembali menemukan bukti pendukungnya. Radio kampus, yang dipancarkan melalui loudspeaker yang dipasang di tempat-tempat strategis, selalu mengumandangkan musik yang notabene bukan berbahasa Cina. John Denver, Frank Sinatra, sampai Natalie Imbruglia atau The Corrs, setiap hari selalu mengalun, di samping beberapa lagu lokal yang diputar bergantian.

Olahraga, sungguh efektif untuk mengangkat harkat dan kebanggaan bangsa. Mata mereka pasti langsung berbinar-binar tatkala aku sebutkan nama-nama seperti Yao Ming, Lin Dan, Dong Fangzhou atau Sun Ji Hai. Beruntung masih ada nama Taufik Hidayat, sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang mereka kenal baik di Cina, tentu dengan reputasinya yang tak pernah menang melawan Lin Dan. Sayangnya, tak ada lagi yang bisa aku banggakan selain dia. Sewaktu mereka tahu Haizal dari Malaysia, mereka menyebut Lee Chong Wei, selain itu juga menganggap timnas sepakbola mereka hebat, berani menghadapi tantangan Manchester United. Saat itu, aku merasa sangat perlu mengutuk perbuatan biadab Nordin M Top dan kawan-kawan.

Malam itu, aku berniat mencari suasana lain, pergaulan lain. Kutinggalkan lab dan segala tetek bengeknya. Aku menuju ke sporthall. Ada 12 lapangan bulutangkis di sana. Dan semuanya terpakai. Mungkin ini sedikit jawaban, mengapa mereka hebat di bulutangkis. Mereka memang mencintainya, dan memainkan dengan penuh penghayatan. Terus terang, aku jadi nggak berani nonton lama-lama. Mereka terlalu hebat dan menggetarkan nyaliku untuk nimbrung. Aku bergeser ke lapangan basket. Keberhasilan Yao Ming menembus sirkus NBA tampaknya menginspirasi para pemuda untuk mencoba mengikuti jejaknya. Basket menjadi olahraga paling populer di sini. Ada lebih dari 30 lapangan, yang tersebar dalam 3 sentra di kawasan universitas ini. Dan semuanya selalu penuh. Talenta merekapun tak bisa dianggap remeh. Sekali lagi, aku tak mampu membesarkan nyaliku untuk terjun ke lapangan.

Aha, aku masih punya senjata rahasia. Bola voli. Meski tak hebat-hebat amat, pengalamanku tarkam dulu pasti masih mampu mengimbangi mereka. Aku menuju ke lapangan bola voli. Sial. Tak di Malaysia saja, di Cina ternyata bola voli bukan olahraga favorit. Mereka hanya main kalau tim universitas berlatih. Dan hari itu bukan jadwalnya. Jadilah tiga lapangan bola vli itu kosong melompong, hanya berisi 2 pasang muda-mudi yang baru dimabuk asmara. Akhirnya kulangkahkan kaki ke tempat terakhir, yang mungkin menjanjikan, lapangan bola. Setidaknya aku bisa lari-lari keliling di track atletik di sekitar lapangan bola.

Ada dua lapangan bola. Semuanya standar. Dikelilingi lintasan atletik dari lapisan tartan. Rumputnya sangat rapi. Terlalu rapi bahkan. Dan kemudian aku maklumi, karena ternyata rumput sintetis. Hanya ada beberapa orang bermain bola di sana. Sekelompok atlit sedang berlatih lari gawang. Di ujung lapangan, sekitar 12 orang sedang asyik memperagakan gerakan-gerakan taijikuan. Ada juga seorang kakek tua bersenam seorang diri, mengingatkanku pada sekumpulan lansia yang selalu bersenam jantung sehat setiap pagi di depan Purna Budaya.

Aku pun menuju ke area warming up. Melakukan strecthing. Seminggu tak menggerakkan badan, terasa sakit semuanya saat aku menarik dan mengulur otot-ototku. Tanpa sadar, dua gadis asyik memotret gerakan-gerakanku. Kemungkinan mereka dari jurusan Komunikasi atau Jurnalistik, karena setelah itu mereka mengabadikan gambar beberapa kelompok yang sedang berlatih. Aku menuju ke lintasan tartan. Perlahan-lahan melesat mengelilingi lapangan bola. Semakin cepat, dan semakin cepat. Enam putaran cukup untuk hari ini. AKu berhenti di belakang gawang. Cooling down.

Secara kebetulan, mereka yang bermain-main bola, sudah memulai game. Dan jumlah mereka kurang satu. Dengan gagah berani dan sok PD, aku mengangkat tangan, memohon permisi bergabung. Jadilah aku bermain bersama mereka. 30 menit sudah. Pada akhirnya kusadari, bermain bola di hawa dingin bukanlah perkara mudah. nafas selalu tertingal dua langkah dari kemauan untuk mengejar bola. Maka, di saat mereka masih segar bugar, terpaksa dengan berat hati akui pamit meninggalkan lapangan dengan wajah memerah dan napas tersengal-sengal. Pantas saja, Bambang Pamungkas tak kerasan di Belanda, pikirku. Ah, setidaknya 2 assist dan satu gol sudah mampu menjawab kerinduanku, aku menghibur diriku …

3 Responses to “Bola Itu Memang Bundar”

  1. jensen99 Says:

    Loh, baru bergabung langsung kebagian jadi pemain depan, pakde? Hebat euy! Trus yang gantiin pakde setelah keluar siapa dong?😛

  2. itikkecil Says:

    kayaknya itu karena faktor U pakde…😆

  3. hedi Says:

    walah de, berarti awakmu lebih hebat dari Bepe…iso 2 assist & 1 gol😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: