Sekatan

April 4, 2012

Jam 10:00 waktu setempat. Saya bergegas menuju parkir lab. Ada janji untuk mengambil sampel decanter cake di pabrik pengolahan sawit Lepar Hilir. Perlahan saya jalankan Kancil berkapasitas silinder 650 cc menyusuri jalan menuju kilang yang terletak kira-kira 20 menit dari kampus saya. Betul-betul perlahan, karena memang tidak memungkinkan untuk memacu kotak sabun ini melebihi 70 km/jam. Jalannya sendiri cukup menyenangkan. Teduh dinaungi pepohonan besar di kiri kanan jalan. Menembus kebun karet dan kelapa sawit, ditemani pemandangan beranekan burung berterbangan. Sesekali terlihat monyet berekor panjang bergelantungan di dahan atau di kabel listrik.

Hampir separuh jalan, ketika perjalananku sedikit tersendat karena beberapa truk trailer yang berhenti di pinggir jalan. Semakin ke depan, semakin banyak truk yang berhenti. Hal yang tak biasa, dan mungkin dikarenakan oleh salah satu dari tiga sebab: kecelakaan, perbaikan jalan, atau roadblock. Melihat mayoritas yang berhenti adalah truk-truk besar, maka saya menyimpulkan bahwa penyebab ketigalah yang paling masuk akal. Dan memang benar. beberapa puluh meter ke depan, nampak di tengah-tengah jalan berderet kerucut berwarna merah bertuliskan JPJ. JPJ atau Jabatan Pengangkutan Jalan Malaysia adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan transportasi di negeri ini. Mungkin serupa dengan DLLAJR, namun lingkupnya lebih luas termasuk dalam penerbitan surat-surat kendaraan, pajak jalan raya, dan surat ijin mengemudi. Dan kononnya, instansi ini kebal disogok. Berapapun, mereka tetap teguh berpegang pada aturan. Tidak ada istilah damai-damaian.

Semakin dekat dengan giliran diperiksa, hati sedikit berdebar-debar juga. Karena selama ini saya tidak pernah mengkonversi SIM Indonesia saya dengan SIM Malaysia, alias Lesen Memandu. Memang ada kesepakatan antara negara-negara ASEAN, bahwa SIM negara asal bisa dipakai untuk mengemudi di sesama negara anggota ASEAN. Namun kalau tidak salah, dalam Akta Pengangkutan Jalan Malaysia, ada kewajiban bagi warga asing yang sudah tinggal dalam kurun waktu tertentu untuk mengkonversi SIM asal ke SIM Malaysia. Tidak susah sih, cukup berbekal surat keterangan dari Kedutaan Besar (yang ini harus membayar 60 ringgit, kalau peraturan belum berubah), kemudian dibawa ke JPJ untuk dikonversi. Biayanya sekitar 30 ringgit. Namun, malas adalah malas, tak peduli berapa banyak atau sedikit biayanya🙂

Dan tibalah giliranku! Seperti biasa, pertama kali Pak JPJ akan memeriksa stiker road tax. Yang ini aman, karena baru akan kedaluwarsa bulan Juni 2012. Berikutnya, kalau dirasa perlu, dia akan menanyakan Lesen Memandu. Dan kelihatannya Pak JPJ merasa perlu menanyakannya pada saya. Dengan gaya meyakinkan, saya ambil SIM A dari dompet saya.

“Oh, Indonesia ya? Sudah berapa lama di sini? Belum convert?”

“Di sini sudah lama, tapi itu lesen baru lagi. Tak sempat nak convert” Saya ngeles dengan bahasa Melayu sak-kecekel-nya. Memang betul, itu SIM baru, oleh-oleh dari Ambarukmo Plaza waktu saya pulang kampung Desember tahun lalu. Pak JPJ pun manggut-manggut dan mempersilahkan saya berlalu. Saya segera meluncur perlahan menuju ke kilang.

Setengah jam kemudian, segala urusan beres, dan saya kembali mengambil jalan yang sama. Masih seperti tadi, rombongan truk berderet di tepi jalan. Pak JPJ kembali menghentikan saya, namun setelah saya kasih kode dengan bahasa tubuh bahwa saya tadi telah melintas dari arah berlawanan, diapun memberikan jalan bagi saya untuk lewat.

Satu hal yang menarik, Pak JPJ ini tidak serajin Polisi Indonesia kalau melakukan mukmen, alias cegatan. Selama 4 tahun di sini, mungkin baru 3 atau 4 kali saya mengalaminya. Dan meskipun ada puluhan truk yang mendadak berhenti dan menepi menunggu mukmen selesai, mereka tidak menjemput bola untuk mendatangi dan memeriksa truk-truk itu, yang tentunya terindikasi melakukan pelanggaran, karena mereka memilih berhenti daripada harus melewati pemeriksaan. Dan setelah ini, akankah saya mengkonversi SIM saya menjadi Lesen Memandu? Entahlah, kita tunggu saja kisah selanjutnya.

4 Responses to “Sekatan”


  1. No pict = hoax! hihihihii


  2. saya baru tau kalau SIM negara asal bisa dipakai di negara-negara ASEAN..
    maturnuwun infonya pak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: