Istighfar

September 11, 2008

Selepas matahari naik sepenggalah, di tegalan sawah di pinggiran padukuhan Klampis Ireng, Gareng dan Petruk baru asyik bercengkerama, sambil melepas lelah, selepas matun di sawah milik Semar, tak lain adalah sang ayah asuh mereka.

Pet: “Reng, opo bedane gajah lanang dengan wong lanang?”

Gar: “Halah, sipil Truk. Cangkriman kedaluwarsa saja kok ditanyakan. Jangankan anak SD, wakil rakyat pun bisa jawabnya. Toh-tohane opo?”

Pet: “Dasar bocah ra tau mangan slenthem! Lha wong dicangkrimi kok malah nyemoni para garong yang terhormat. Malah ngajak toh-tohan sisan. Ini puasa Reng! Lha kok masih ada setan berujud manusia seperti kamu yang ngejak mengundi nasib”

Gar: “Lha maksude ora toh-tohan duwit kok kang. Hanya untuk selingan saja. Sekedar permainan. Rak yo ora popo to? Misalnya, toh-tohan pijetan atau apa. Toh kalau Kang Petruk kalah pun, mbakyu nggak bisa membuktikan adanya kerugian negara to?”

Pet: “Wo dasar mbakat jadi polbus”

Gar: “Polbus opo kang?”

Pet: “Politisi busuk, makane sering nonton koran, dengerin tivi, atau mbaca radio. Minimal ndelok media basbang to, biar nggak ketinggalan berita”

Gar: “Ooo, maksude politisi yang dia kalau bicara atau kentut sama saja baunya ya Kang?”

Pet: “Wis, saiki toh-tohane opo! Lek ndang dijawab!”

Gar: “Nganu aja Kang… Kalau aku bisa njawab, Kang Petruk mijeti aku, tapi kalau jawabanku salah, gantian aku yang dipijeti Kang Petruk. Gimana, deal?”

Pet: “Lha yen ngono, yo jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon. Nggak ferplei. Gemang! Rasah sido cangkriman!”

Perdebatan kecil mendadak terhenti, seiring dengan munculnya seorang lekai-laki cebol, dengan muka yang buruk rupa. Mulut yang ndower, perut buncit, wudel bodong dan bokong njenthit. Tak lain adalah Ki Lurah Bagong, bungsu kesayangan Ki Lurah Semar Bodronoyo. Kedatangan Bagong tampak terlihat tergopoh-gopoh, dan dari mimik wajahnya tampak gurat-gurat kegalauan.

Pet: “Ada apa Gong, kok sajak tampangmu sepet seperti dua hari nggak bisa ngising?”

Bag: “Hwaduh Kang, Jagat Dewo Bathoro. Duh Gusti, paringono wiski… eh paringono kuwalat… eh kuwat …

Gar: “Sing sareh to Gong, ojo kemrungsung. Sini duduk dulu. Atur napas, baru ngomong. Yang tatas titis gitu lho”

Bagong pun menuruti saran Gareng. Duduk di atas galengan, beralaskan getepe. Sesaat kemudian, saat irama nafas mulai teratur, dan degup jantung mereda, maka membukalah mulut ndower itu.

Bag: “Kang, aku kok dino iki betul-betul ketulo-tulo. Ujian kok datang bertubi-tubi. Apa saya baru menerima bebenduning jawata yo kang? Rasane kok koyo ora kuwat. Luwih becik tak mati wae yo kang.”

Pet: “Lha itu di belakang ada tali pengikat wedhus, kalau mau dipakai. Ning ojo lali utangku disauri ndhisik yo. Wingi bojomu juga habis ngambil jarik 1, panci 1 sama kotang 2″

Gar: “Hush, dasar sembrono. Lha wong ada orang sambat sebut kok malah difasilitasi suruh nglalu. Wong kok koyo ngono!”

Pet: “Aku kan cuma bergurau kang, biar Bagong nggak terasa tegang macam keloloden torpedo”

Gar: “Jan-jane, masalahnya itu apa Gong?”

Bag: “Nek tak rasak-rasakke, kok yo le abot tenan Kang. Kemarin siang, si Mbarep pulang sekolah sambil menangis ngguguk. Katanya, besok nggak boleh masuk kalau belum mbayar tunggakan sekolahnya”

Pet: “Nunggak pirang sasi to Gong”

Bag: “Sebenarnya nggak banyak, cuma 9 bulan”

Gar: “Lha, ditunggu wae sepuluh hari lagi Gong, rak wis lahir”

Pet: “Padhakke wong meteng wae Kang!”

Bag: “Sorene, bojoku nangis-nangis, jarene anakku sing wedok, yang nomor dua itu, seharian panas nggak turun-turun. Mau dibawa ke dokter, jangankan buat mbayar dokter, lha wong untuk nempur beras saja nggak ada uang. Belum lagi kemarin kan Kemis Wage, itu gilirannya Durmogati datang ke rumah, nagih cicilan wajan. Lha terus mau alasan apa? Lha kok surup-surup, sing ragil njempling-njempling di bawah papringan. Jarene nguyuh manuke kejepit ritsleting. Duh Gusti, lelakon kok ono-ono wae

Pet: “Durmogati saiki mindring to Gong. Koyone dhek mbiyen jadi tukang cathet meteran listrik”

Gar: “Lho kan sudah dipecat, gara-gara mlayokke dhuwit setoran”

Pet: “Lha Gong, kalau saya lihat, sebenarnya kamu itu tak perlu hidup kesrakat seperti itu lho. Gajimu jadi abdi dalem di Ngamarto kan harusnya cukup untuk hidup to? Keporo malah bisa nyelengi. Lha wong bekel kok nganti kekurangan. Ngisin-isini bendaramu wae”

Bag: “Ra kelingan po Kang, yen dhuwitku amblas nggo nyaur utang gara-gara kalah nyalon jadi lurah tahun lalu? Sekarang saja masih harus ngembalikan gerobaknya Dulmingsri yang rusak diobong massa. Untung aku nggak sampai kenthir. Terus kalao begini, aku harus bagaimana kang???? Endi taline wedhus mau kang, tak nglalu wae!!!”

Pet: “Sik to Gong. Sing sareh, sabar. Aku pernah mendengar petuah dari wong ngalim, kalau kita dirundung malang, dapat musibah, dapat cobaan, atau dihimpit persoalan,  dekatkan diri kepada Allah kang murbeng dumadi, laku prihatin, perbanyak istighfar. Dengan memperbanyak istighfar, Insya Allah, kalau kamu punya dosa, ampunanNya akan kamu dapatkan. Semua jalan yang terasa buntu dan gelap, akan lapang dan padhang njingglang.”

Bag: “Kang, kalau orang yang sudah menimbun dosa macam adhimu ini, apa masih ada pengampunan dariNya?”

Gar: “Allah iku jembar segoro pangapurane, ngluwihi jembaring segoro Pasifik matikel ping sewu ewu. Allah itu besar kasih sayangnya melebihi jutaan pegunungan Himalaya. Jangan khawatir, ampunan Allah itu sangat dekat, dan kasih sayangNya senantiasa ada dalam jangkauan tangan kita”

Pet: “Ning semua itu ada prasyaratnya Gong. Ora mung sekedar umak-umik astaghfirullah karo gela-gelo ndhase

Bag: “Terus syarate opo kang, biar tobatku bisa diterimaNya?”

Pet: “Pertama, kamu harus menyesali perbuatanmu yang sudah-sudah”

Pet: “Kedua, Menyesali perbuatan dosa yang telah kamu lakukan”

Pet: “Ketiga, kembalikan hak-hak orang lain yang terampas akibat perbuatanmu itu. Kalau kamu pernah nggabro mendoane Yu Siyem, kembalikan. Atau kamu menerima traveller’s cheque, serahkan ke yang berhak”

Pet: “Keempat, Penuhi kewajiban-kewajiban yang kamu lalaikan selama ini. Shalat jangan ditinggalkan. Sebagai punokawan, kamu harus ngemong bendaramu dengan benar. Jangan membisikkan sesuatu yang menyesatkan bendaramu. Kalau padi hanya bisa menghasilkan 5 ton perhektar, ya jangan dibilang bisa 12 ton perhektar”

Bag: “Terus opo maneh Kang?”

Pet: “Opo maneh Kang Gareng, aku kok agak cupet ingatanku”

Gar: “Sik, aku yo lali, coba nanti tak tanyakan sama Kyaine Semar kalau sudah pulang dari nenepi.”

Pet: “Intinya, kalau kamu menghadapi masalah, atau berada dalam kesulitan, rajin-rajinlah beristighfar, niscaya Allah akan memberikan kemudahan dan jalan keluar”

Bagong menghela nafas lega. Dia terpekur sejenak. Diam. Mengatur nafas seirama dengan belaian angin sawah. Menata detak jatuk senada dengan gemericik air di parit tepian sawah. Adzan dhuhur pun terdengar. Ketiga punokawan beranjak, mencuci tangan dan kaki, membasuh muka, mengambil air wudhu. Menunaikan kewajiban, yang mungkin di masa lalu sering tak sempat tertunaikan…

*****

Sepuluh hari pertama Ramadhan telah berlalu. RahmatMu yang melimpah, telah engkau tebarkan di muka bumiMu. Ya Allah, tinggalah aku, mengharapkan samudera pengampunanMu, dan pembebasanMu dari jilatan api neraka. Sungguh, Engkau selalu menepati janjiMu.

8 Responses to “Istighfar”


  1. bagong sajake lagi ketaman pacoba, ki, mula kulawargane kaya kena bebendu, haks… gek2 keluargane baging kudu diruwat kanggo ngilangi sengkala, hehehehe😆 sapa ngerti ana lakon “bagong dadi ratu” bubar diruwat.

  2. iway Says:

    weh jan mantaps mantaps pakdhe, matur nuwun pencerahanipun

  3. itikkecil Says:

    saya gak pernah nerima traveller cheque pakde…

  4. aprikot Says:

    klo menurutku gaji yg ditrima itu sesuai dngn kemampuan mereka mengelola dengan bijak uang tersebut. jd misalnya njenegan paklik, klo gusti allah mrasa njenengan blum mampu bwt mengelola duit 50juta sebulan secara bijaksana, yah njenengan blum dikasih kesempatan bwt bergajih 50juta sebulan. nek mnurut ku si bgitu paklik

  5. tutinonka Says:

    Woahahaha ….. iki kok ono blog model wayang kulit. Lutju tenan …. marakke kelingan jaman mbingen, dek simbah isih kerep ndongeng sinambi uro-uro neng lincak, karo ndeleng mbulan sing padange koyo rino ….

  6. Nayantaka Says:

    @sawali: ngruwat biar nggak diuntal bethoro kolo atau bethara kalla pak?
    @iway: sama-sama, hanya saling mengingatkan, tawashou bil haq
    @it-cil: ini komentar pasti bingung saking banyaknya kosa kata jowo. sorry ya, aku gak sempat buat glossary-nya.
    @aprikot: betul Git, Gusti Allah tahu apa yang terbaik buat kita. Dia tahu kalau saat ini aku baru mampu diberi amanah harta tak lebih dari 1200 ringgit per bulan, baru mampu nggulowentah seorang anak, dan hanya mampu ngopeni seorang istri. Narimo ing pandum lah
    @tutinonka: kata istriku, kadang memang aku bagaikan seorang pangeran yang hidup dari masa silam, hehehe…

  7. grubik Says:

    Njih pakde pangeran dari masa silam, resikone wong urip ki kudu siap diberi cobaan karo sing gawe urip, lha nek wis nganti cuthel yo dibalekke wae karo sing gawe urip. nek jare Viktor Frankl (pesikolog) salah satu ciri dari kepribadian yang sehat sejahtera adalah: mampu menerima keadaan yang oleh orang lain dianggap sebagai bencana, yaitu bisa tersenyum memahami ketika matanya berkaca-kaca (wihh..gaya yo?)

  8. Pardi Says:

    saya masih penasaran dengan nama KLAMPIS IRENG, di Ponorogo masih santer terdengar dengan daerah itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: