Gendhel Wurung

Juli 19, 2008

Catatan: Cerita ini kelanjutan dari sini.

Malam semakin larut. Embun mulai turun menyetubuhi bumi. Para tonggo sekapat yang tadi berkerumun di sekeliling rumah sudah mulai beranjak pulang. Tinggal menyisakan beberapa mbok-mbok yang masih ngobrol di dapur, dan sekitar tiga atau empat orang di patehan. Para baju barat yang tadi petang mendampingi aku menghadapi sang bong, sudah mulai terkapar dan terlelap di atas tikar pandan yang digelar di pendopo rumah. Perut mereka yang kenyang oleh gule menthok dan lemper semakin membuat tidur mereka kepati, seperti doso buto mati, peminum arak yang nglempus sehabis menenggak sepuluh sloki. Aku masih klisikan di kamar. Rasa panas dan perih mulai terasa seiring dengan semakin menurunnya pengaruh dry ice pada adik mungilku. Namun, rasa lega dan capai mengalahkan rasa sakit, dan menuntunku menuju alam mimpi. Dan malampun berlalu tanpa ada suatu kejadian yang berarti.

Ayam jantan telah berkokok bersahut-sahutan. Subuh telah tiba. Bedug masjid telah bertalu dihajar tanpa ampun sekuat-kuatnya oleh Lik Daman. Menyeru seluruh warga untuk bangkit dari peraduannya. Terdengar ribut-ribut dari pendopo. Ternyata Kotong yang misuh-misuh tak karuan. Sekali lagi, polah usil Trimin membawa korban. Dia memasukkan pisang raja yang sudah mulai dalu ke dalam celana Kotong sehingga waktu bangun, dubur dan celana Kotong penuh dengan pasta kuning laksana tinja. Trimin cs tertawa cekakakan sambil berlarian menuju ke kali.

Bukan karena suara mereka, atau suara simbok-simbok yang mulai gaduh di dapur, sehingga aku bangun. Seakan-akan ada sesuatu yang membangunkan aku dari dalam tubuhku. Baru aku sadar, di bawah perutku ada sesuatu yang tak nyaman. Ternyata semalam aku menahan pipis, dan kali ini pundi-pundiku telah penuh dan minta dikeluarkan. Aku berjalan edang-edong sambil mengangkat sarungku menuju ke pakiwan di dekat dapur. memasuki pintu dapur, Mbok paijem berteriak:

“Eeeee… le, ojo liwat kene! Nanti nglangkahi brambang cilaka kowe!”

Mak jegagik! Gandrik putune Ki Ageng Selo! Aku baru teringat petuah Pakde Nardi yang melarangku masuk dapur kalau tidak ingin gendhelen. Hiii, siapa yang mau diujung empritnya ada kewar-kewer berair!!! Aku langsung balik kanan, setengah berlari menuju ke pintu samping. Tak mungkin nutut kalau harus memutar ke jedhing. Akhirnya rumpun pisang kepok di samping rumah jadi sasaran melampiaskan hasrat. Srooooot…. Gandrik!!! Sesuatu yang belum pernah kualami terjadi. Air seniku memancar jauh, melewati rumpun pisang, kira-kira dua depa di depanku. Mungkin ini efek pertama setelah topi sang kecil dikelupas. Aku belum berani menceboki kukilaku, sedikit usapan batu hitam aku kira cukup untuk mensucikan si kukila. Dengan edang-edong, aku menuju padasan, ambil wudhu, kemudian kembali ke kamar. Selepas shalat subuh, aku kembali bersembunyi di balik ssarungku sampai akhirnya ibuku membangunkanku.

“Le, itu lho sarapanmu sudah siap”

Dengan aras-arasen aku membuka mata, menggeliat dan beranjak dari tempat tidur. Aku menatap ke atas meja. Trembelane! Jangankan sisa gule menthok semalam, telur dadar pun tak ada. Hanya nasi putih dan dua potong tempe bakar. Serta segelas air teh bening yang masih mengepulkan uap. Aku memandang ibu dengan tatapan protes.

“Ya kalau habis tetak, ya cuma boleh makan itu, biar lukanya cepet kering, dan tak gendhelen”

Ya Allah, gendhel lagi! Gendhel bagaikan hantu yang gentayangan memenuhi kepalaku. Gendhel keparat. Begitu banyak larangan hanya karena gendhel, makhluk gelambir berair yang methongkrong di ujung kukila. Namun ancaman gendhel itu masih sangat manjur bagi seorang anak kecil sepertiku. Maka dengan bersungut-sungut, terpaksa aku lahap sepiring nasi putih, dengan tempe bakar yang ternyata tak diberi bumbu apa-apa.

Hari berganti hari. Sudah dua kali bong datang ke rumah mengganti perban. Hampir setiap pagi aku memiliki rutinitas baru. Bersama para “korban” lainnya, Dabul, Ngali dan Lopek, kami jongkok berbaris di sepanjang tepian sungai Progo. Begitu sinar matahari muncul, maka ritual menjemur kukilo pun kami lakukan. Kata orang-orang tua sih akan mempercepat luka kering dan mempercepat proses penyembuhan. Sekaligus mencegah gendhel! Kami manut-manut saja. Biasanya kami mencari watu item yang licin dan mengkilap, kemudian menjemurnya. Setelah itu dipakai untuk alas berjemur sang kukilo. Anget atas bawah!

Seminggu berlalu. Luka telah kering. Alhamdulillah, hal yang paling kutakutkan tak pernah terjadi. Kehinaan itu terelakkan. Tak ada indikasi gendhel keparat hinggap di paruh kukiloku. Aku tak tahu apakah ini buah kepatuhanku untuk tidak sembarangan bludhas-bludhus ke dapur, untuk pasrah dipakani tempe bakar tiap hari, atau memang kebetulan saja. Karena tiga temanku, hampir semua dihinggapi oleh gendhel laknat itu. Bahkan Ngali, sampai liburan sekolah hampir habis, masih juga ada sisa-sisa gendhel diujung kelaminnya. Tapi yang pasti, semua lulus. Tak satupun yang terpaksa mengulang prosesi pagas dari awal. Dan saat kembali masuk sekolah, kami berangkat dengan semangat baru. Semangat seorang laki-laki sejati. Lelananging jagad.

Kosa kata:

baju barat = wadyabala, dalam pewayangan biasa dipakai untuk gerombolan anak buah bethari durga
menthok = unggas sebangsa bebek berbulu putih
kepati, nglempus = lelap
doso buto mati = metafora dalam terminologi jawa bagi seorang peminum yang habis sepuluh sloki, dia akan terkapar laksana raksasa mati
dalu = buah yang sudah lewat mateng, menjelang busuk
edang-edong = megal-megol
pakiwan = kamar kecil
ojo liwat kene = jangan lewat sini
brambang = bawang merah
jedhing = kamar mandi
kukila = burung
aras-arasen = malas-malasan
watu item = batu hitam

11 Responses to “Gendhel Wurung”

  1. Hedi Says:

    weleh de…kulit bekas tetak mbok dadekno opo ;))

  2. itikkecil Says:

    trembelane….. untunglah gak terjadi apa-apa ya pakde… jadi sekarang sudah jadi lelananging jagad ya pakde😀

  3. iway Says:

    dah siap untuk “witing tresna jalaran saka kukila” dong😀

  4. Ndoro Seten Says:

    welha dalah….
    dolanane jaman cilike sampeyan prono ehh porno kang!


  5. Aku kok nggak ngalami kungkum di kali. Takut kena infeksi. Apalagi njemur manuk. Nggak pernah deh. Lah wong kulup tidak dipotong kok. Hanya dibelah ujungnya lalu disampirkan ke samping kanan kiri terus dijahit.

    Lucunya, sampai sekarang kalau mau ndhas bulusnya ditutupi kulup juga masih bisa. Tinggal jaketnya ditarik ke depan saja. Wkwkwkwkwk…

  6. tomy Says:

    sluman slumun slamet ora sida gendhelen


  7. aku ora iso baso jowo…
    *lagi membayangkan*

  8. nothing Says:

    hehehe…
    apik tenan, lucu tenan..


  9. pakiwan = kamar kecil
    *baru tw..

  10. kw Says:

    untung kang, aku dulu sudah ga ada peraturan begituan. biasa aja. bahkan tak pernah sempat pakai sarung. langsung celana saja🙂

  11. jarwadi Says:

    hahaha, apik tenan kangmas anggitanmu😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: