Gendhel

Juni 19, 2008

Dua minggu lagi aku terima raport. Kenaikan kelas. Aku menghadapinya dengan santai-santai saja. Buat apa ditakutkan, lha wong pasti naiknya. Bukannya sombong, kalau saja aku nggak naik kelas, berarti semua murid di kelas lima ini juga nggak bakalan naik ke kelas enam. Sejak kelas dua, aku memang tak pernah absen jadi jawara di kelasku. Kelas satu? Hmm, aku tak pernah mengenal kelas satu secara resmi. Saat itu aku cuma nunut dolan saja. Bapakku kebetulan guru SD di situ. Daripada minta tolong embah untuk momong, bapak lebih suka mengajak aku ke sekolahnya, kemudian ditinggal duduk manis di bangku terdepan kelas satu. Aku pun berlagak seperti murid beneran. Disuruh membaca, ya membaca. Disuruh berhitung, aku ikut berhitung. Sampai saat tes hasil belajar, aku pun ikut serta. Ndilalah, entah karena aku memiliki bakat jenius, atau saking bodonya teman-teman sekelasku, ternyata nilai tesku adalah yang tertinggi. Maka dengan berat hati, sekolah memutuskan untuk mendaftar aku langsung di kelas dua. Makanya, kalau melihat raport SDku, tak akan terlihat daftar nilai kelas satu, langsung ke kelas 2. Meski di pelosok, ternyata SDku lebih dulu menerapkan kelas akselerasi, meskipun hanya berlaku untuk aku seorang.

Ada yang lebih aku takutkan, menghadapi liburan setelah kenaikan kelas. Sesuatu yang sebenarnya juga aku harapkan, namun tetap menyisakan rasa takut yang menghantui pikiranku. Sesuatu yang besar dan penting akan terjadi dalam sejarah kehidupanku sebagai seorang anak lelaki. Peristiwa yang akan merubah statusku. Peristiwa yang akan menjadi titik awal perjalanan panjang seorang anak lelaki dalam cita-citanya menjadi lelananging jagad. Ya, dua minggu yang lalu bapakku membisikkan kepadaku:

“Le, kowe wis wani durung, yen sesuk prei sekolahan iki ditetakke?”

Gandrik, putune Ki Ageng Selo! Anakku lanang, kamu sudah siap belum, kalau liburan besok ini disunatkan? Secepat itukah? Siapkah aku? Sunat, khitan, supit atau tetak adalah suatu peristiwa maha dahsyat dalam dunia kanak-kanak lelaki di kampungku. Sunat adalah suatu gerbang menuju pengakuan. Menjadi lelaki dewasa. Boleh udud nglepus, boleh ikutan begadang di cakruk, boleh mbajul dan nyingsoti kembang desa. Pokoknya boleh melakukan semua yang hanya dilakukan oleh pria dewasa. Boleh memakai cawet. Ya, budaya di kampungku, anak lelaki belumlah pantas mengenakan celana dalam kalau belum dikhitan. maka tak mengherankan kalau banyak terjadi kecelakaan si thole terjepit ritsleting sehabis muntah kuwaya. Ah, sungguh menyenangkan, aku akan menjadi lelaki dewasa.

Namun, perasaan senang itu berubah menjadi ketakutan yang senantiasa menghantui. Terbayang wajah bengis bong supit yang seolah seperti Westerling hendak menjagal musuhnya. Dingin, tanpa senyum. Memegang pisau tajam di tangan kanannya, dan capit besi di tangan kirinya. Belum lagi cerita-cerita menakutkan yang dihembuskan oleh para lelaki baru yang tampaknya kurang begitu suka dengan munculnya saingan baru dalam memperebutkan tampuk lelananging jagad.

Pong, betul lho, sakit sekali rasanya. Panas dan perih. Belum lagi kalau sudah habis biusnya. Apalagi kalau bong supitnya Mbah Payar. Dia kan pelit, biusnya cuma sedikit”

“Pong, kalau thithitmu nggak bisa dicelekke, nanti sama bong ujung thithitmu akan diprapat lho!”

“Kalau nggak sakit, pasti pada nggak kapok. Buktinya, nggak ada yang mau supit dua kali”

Namun hasrat untuk segera menjadi lelaki sejati telah mampu mengalahkan ketakutanku akan rasa sakit dan penderitaan selama si thole dikerjai oleh bong. Dengan anggukan mantap, keesokan harinya aku jawab bahwa aku siap untuk dikhitan. Bapak tampak sangat senang dan puas. Kemudian beliau memutuskan untuk melaksanakan prosesi supitan seminggu setelah pembagian raport. Maka jadilah hari-hari ini sebuah penantian panjang, penuh pengharapan, dihantui kecemasan.

Sakdawa-dawane lurung, isih luwih dowo gurung. Ya, terlebih di kampung. Seberapa panjang jalanan, masih jauh lebih panjang mulut orang. Hanya dalam tempo sehari saja, berita tentang rencana perkhitanan itu telah menyebar ke seluruh penghuni kampung. Maka tak ayal lagi, setiap kami berkumpul, selalu saja hal-hal itu yang dibahas. Para senior banyak memberikan masukan, entah itu benar atau waton suloyo, sementara para sesepuh banyak memberikan wejangan, tutur, sembur dan wur-wurnya. Para beyes-beyes, sekedar memberikan support. beruntung, dalam musim liburan ini setidaknya ada lima anak yang akan mengalami nasib serupa dengan diriku. Bethu, yang jauh-jauh hari sudah pingin jadi anak gedhe, Lompek anaknya Lik Tris Paimin, Dabul, Ngali dan Sukro yang semalam merengek-rengek minta dipagas juga. Jadilah dua minggu kedepan festival supitan di kampung saya.

Sudah banyak nasehat dan mitos yang kukantongi, mulai dari ritual kungkum di Progo sepanjang hari sebelumnya, katanya agar si thole menjadi lunak dan mudah dipotong, sampai dengan anjuran untuk hanya makan tempe bakar dan ngremus jahe setelah dipagas. Termasuk larangan untuk masuk dapur dan nglangkahi sembarang alat-alat masak. Dan yang lebih gawat, jangan sampai nglumpati kulit bawang merah, karena nanti akan tumbuh gendhel di bekas luka potongan thole. Yang terakhir ini yang paling ditakutkan oleh para anak yang habis dipagas. Gendhel semacam benjolan berisi cairan yang muncul di sekitar luka bekas sunat. Setelah beberapa hari dai akan mengempes dengan sendirinya. Sebenarnya tidak apa-apa sih, cuma sedikit mengganggu pemandangan. tak akan berpengaruh pada hasil akhir nantinya. Toh tak ada yang gagal supit gara-gara gendhelen dan harus diulangi lagi. Tapi bagi kami, gendhel adalah aib. Semakin besar gendhel, semakin minder hati kami. Entah mengapa, seolah gendhel mencerminkan keburukan pikiran kami, atau buruknya kelakuan kami.

Tanpa terasa, besok adalah hari bersejarahku itu. Hari ini aku niat ingsung kungkum di kali Progo. Aku memilih di dekat pasetran gandamayit yang relatif sepi dan alirannya tenang. Kedalaman air sebatas paha sewaktu berdiri, dan tepat sebatas bahu dalam posisi duduk. Segera aku menemukan posisi yang nyaman dan njerum. Hingga menjelang maghrib, aku beranjak dari dalam kubangan air. Dinginnya badan diterpa angin senja tak kurasakan. Nyethithis. Kulirik adik kecilku, yang semakin kecil, berkerut-kerut menahan hawa dingin. Segera aku ambil baju, tanpa handuk, aku memakai sekenanya dan pulang. Lega, satu pekerjaan besar telah tuntas. Semoga apa yang diceritakan Kang Mbolo benar adanya. Si thole menjadi lebih lunak dan bong pun tak perlu susah payah mengeluarkan ajian pamungkasnya mengelupas tudung thole.

Hitung mundur dari hari ke hari menjadi jam ke jam. Semakin mendekati pukul 20.00, saat yang disepakati oleh bapakku dan bong untuk memangkas ujung burung kecilku. Semakin terasa berdebar-debar jantungku. Aku berkaca, tampak wajah nervous, dan semakin memucat. Cahyane abang dluwang, bahkan masih lebih merah warna kertas. Selepas Isya, para tetangga sudah berkumpul di rumahku. Duduk bersila di ruang depan. Merekalah yang diundang untuk menyaksikan dan memberikan doa restu atas peristiwa bersejarahku.

Singkat cerita, sambil menikmati pasugatan, tentunya setelah membaca-baca shalawat, tahlil dan doa-doa keselamatan, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Honda bebek C70 warna merah berhenti di halaman rumah. Pak Abu Handoyo, bong ternama di kecamatan kami, turun diiringi oleh seorang asistennya. Memakai baju putih, sarung kotak-kotak biru hijau, serta peci putih. Asistennya mengenakan baju dan celana putih, sambil menjinjing koper kecil yang mungkin berisi peralatan media sang bong. Bapak menyambut di depan pintu, kemudian mempersilahkan bong masuk ke ruang depan yang telah dipenuhi oleh para tetangga. Hitung mundur telah berubah lagi menjadi detik ke detik.

Sampai akhirnya, diiringi dengan lantunan shalawat, bong menuntunku ke dalam peraduan yang telah disiapkan oleh ibu dan kakak perempuanku. Terang benderang petromaks membuat kamar yang biasanya gelap menjadi tampak sumringah. Seprei yang kelihatannya masih tampak baru, aku jarang melihatnya dipakai, digelar menutupi kasur kapuk yang sudah agak mulai mengeras. Bong menyuruhku naik ke atas dipan, dan berbaring terlentang.

“Sekarang tutup matamu, dan mari aku tuntun membaca Al Fatikhah”, tegas dan singkat, bong menyuruhku. “Jangan sekali-kali menengok ke bawah, kalau tidak punya nyali”

Selanjutnya, aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Terasa bagian bawah perutku sangat dingin, seakanakan membeku. Laksana frostbite. Sekejap ada sedikit rasa panas. Terlihat bayangan dua orang yang silih berganti berada di sekitar ujung kakiku. Tak sampai hitungan 30 detik, bong mendekatiku dan berkata

“Sekarang bukalah matamu, kau telah jadi lelaki sejati”

Aku buka perlahan-lahan mataku. Kulihat ke bawah, ke ujung kakiku. Hanya tampak kain sarung yang mencungul di bawah pinggangku. Bong menyingkapkan sarung, dan menunjukkan si emprit kecil yang terbungkus rapi oleh perban putih di ujungnya.

“Alhamdulillah, lancar. Sekarang tinggal kamu menjaganya. Jangan terlalu banyak gerak dulu. Dua hari lagi, kami akan datang untuk melepas perbanmu”

Malam itu, aku pun memejamkan mata, mencoba tidur. Menjelang tengah malam, rasa perih mulai muncul di sekujur pangeran kecilku. Namun kelegaan hati dan kebahagiaan telah mengubur rasa sakitku. Dan akupun tertidur pulas. Entahlah, apa yang akan aku hadapi esok pagi, tak pernah kupikirkan saat itu.

Bersambung …..

42 Responses to “Gendhel”


  1. wew… kisah yang menarik. kelingan nalika tetak zaman mbiyen, aku wis ngancik lunnguh ning SPG klas 1. kuwi wae isin merga diisin-isin kanca sak kosan merga cucuk manuk emorite isih lincip, hiks…. nganu kok, ki, zaman cilikanku surung ana dokter, hehehehe … sing ana yang pak bong kuwi. sunate lagi isa mari yen wis ngancik sewulan luwih, haks ….

  2. kw Says:

    cukup mendebarkan memang. tapi waktu itu cuek aja. termasuk pada omongan para tetangga yang aku sudah tahu bohong semua. waktuitu dibelikan sarung batik namun tidak terpakai karena langsung pakai celana๐Ÿ™‚

    ribetnya… padahal sekarang dengan “laser” hasilnya lebih bagus dan tidak sakit haha

  3. zam Says:

    laa… saya disunat pas masih bayi.. tradisi di keluarga saya begitu, pakde..

    makanya, dulu sya sering heran pas pipis bareng konco-konco, kok punyaku bedo dewe? hehehehe..

    manteb ini.. saya juga sampe berdebar mbaca postingan ini, pakde..

  4. itikkecil Says:

    jadi sunat itu salah satu syarat jadi lelanangin jagad ya pakde?๐Ÿ˜†

  5. Hedi Says:

    sik…sik…awakmu ki arep sunat maneh to? walah tobat, De๐Ÿ˜›

  6. restlessangel Says:

    wek !!! saya baru tau skrg, artinya gendhelen itu apa….
    dulu kl sodara2 saya yg cowo semua itu supit alias sunatan, mesthi di ece2 ‘gendhelen yeee gendhelen” dan saya sbg satu2nya cewe sampe detik ini ga diberitau apa artinya gendhelen itu….

    owalah jebulane mung ngono ae loooooo….

    *dl pas ditetes kok biasa aja ya…*

  7. nonadita Says:

    Woohh….
    menarik banget inih ceritanya!

    *ngga sabar baca lanjutannya*
    *dikira masochis oleh pembaca*
    *sibuk menjelaskan bahwa saya bukan masochis*

    terus terus… abis sunatan biasanya dapet uang banyak tho? xixixixi….

  8. denbaguse Says:

    wah enak jga kalu disunati ya tapi saya ggk mau 2 kali karena saya sudah kapok

  9. ubadbmarko Says:

    clangak clinguk.., nyari kamus basa jawa.

  10. Yari NK Says:

    Huahahahaha…… wong saya yang udah dewasa gini terkadang kalo hari panas terik masih males cawetan kok!๐Ÿ˜†

  11. iway Says:

    moco tulisan iki koyo wong kenthir ngguya-ngguyu dewe neng ngarep monitor

    bagian dititipke ke sd itu sama sama aku, cuma bedanya kalo situ naik kelas kalo aku tetep aja di kelas 1๐Ÿ˜€

  12. rinon Says:

    cedhak mbogem ana wong adol sate kulit…. maknyuss

  13. Laporan Says:

    Thithit dicelekke, koyok ning suriname wae boso monco, wayang kethoprak, ingih puniko, mbahas sunatan tho.

  14. kangtutur Says:

    Aku itu kapok disunat!
    gak mau lagi pokoknya… gak mau… gak mauuuuuuuuu…!
    cukup 1x

  15. edratna Says:

    Huahuahua…
    Terbayang mungkin perasaan anakku sulung seperti itu…
    Suatu hari, begitu terima rapor kuartal 1 kelas V, dia mendekatiku…”Bu, aku mau sunat, harus liburan ini, aku tak mau mundur lagi…” Saya melongo…wahh gimana nihh, saya sendiri sebetulnya belum siap…Akhirnya pilihan sunat di Bandung, biar aku bisa menjaga anakku, tanpa perlu direcoki tamu yang datang. Ternyata, yang terlihat pengin banget tadi, begitu di RS…dokter (teman suami) dan perawatnya disepaki….akhirnya anakku di bius total. Setelah sembuh aku tanya…”Mas katanya pengin sunat, kok takut, sampai dokter dan mbak perawatnya pake ditendang segala?”

    Jawab dia..”Saya takut bu, tapi kata temanku, kalau tak segera sunat, nanti keras…dan perlu pisau yang gedeee banget…” Hahaha, itu toh makanya buru-buru pengin sunat, walau sebenarnya takut…

  16. lainsiji Says:

    ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    baru ngerti gendhelen itu apa

    *benar2 pengalaman yang menyeramkan*
    :mrgreen:


  17. menarik mas…
    saya juga pernah kok di sunat…..

  18. Ndoro Seten Says:

    lha kenapa bar dipagas kok thithite dibungkus perban pakdhe?
    ……soale nek dibungkus godhong dikiro lemper, njur diuntal pitik!
    tanggaku ngalami tenan lho!

  19. ika Says:

    hah,,kalo ada yang mau sunat lebih dari sekali ya entek to ya ‘barange’..heheheheh

  20. warmorning Says:

    gak pake disuntik kan ? sama karo auk๐Ÿ™‚

  21. dwiprayogo Says:

    well, i think thats was a great story. I like it.๐Ÿ™‚

  22. ekowanz Says:

    kl dl inget prnh ditakut2in…nanti pake kapak loh motongnya :)) dan bodohnya aq nakut2in ponakanku seperti itu juga :))

  23. erander Says:

    Saya juga disunat ketika kenaikan kelas dari kelas 5 SD ke kelas 6 SD. Sambil liburan sekolah, prosesi itu dilaksanakan .. btw, ini blog benaran punya anak SD ??


  24. sunatan? uh, pengen lagi…

    (^_^)v

  25. sitijenang Says:

    muahaha… Honda C70… asli kenangan jadul๐Ÿ˜€


  26. Aku supit naik kelas 6 SD. Pagasnya di RSUD Sleman, bukan di bong supit. Di ruang operasi, ranjang sebelah cewek… Dia operasi kutil. Ampuuunnn….

  27. tikabanget Says:

    bwaakakkakk…
    selamat..!!
    sudah masuk jajaran calon lelananging jagad..

  28. Epat Says:

    weladalah, mbiyen aku disunat pas unggah-ungahan kelas 2 smp kekeke

  29. doelsoehono Says:

    selamat bagi yang udah di sunnat ………berarti udah menghilangkan kotoran yang menyumbat………semoga kagak sunnat dua kali

    matur nuwun , Nepangken Lare…….BOYOLALI

  30. sigid Says:

    Hi hi, saya dulu dipaksa bapak hanya boleh makan tempe bakar
    Ndak enak …:mrgreen:

    Wah, gendhel-nya di cerita selanjutnya yah

  31. indra1082 Says:

    walah, panjang tenan ceritanya, tapi bagus loh..sampe sulit koment…nyampah aja dulu lah, hehehehe

  32. Sastra Says:

    Dalam sejarah mungkin akulah satu satunya yang sunat 2 kali. Makane galak tenan tur mandi.

  33. diditjogja Says:

    bagus sangat tulisannya…
    *jadi inget Bong Supit Bogem dan tradisi sunat habis lulus SD*

  34. tomy Says:

    aku nalika sunat kae ngepasi dina minggu, klinik umum oumah sakit ora buka, sing buka mung UGD *maklum wektu iku durung ana klinik 24 jam tur bong supit ya kadohan*
    ya wis aku tetakan ning UGD, nanging ya kudu ngenteni suwe antri karo wong2 sing kecelakaan, malah ana nom2-an sing kesetrum dadi lan matine
    wah tambah ngeri..

  35. mbah Darmo Says:

    Simbahe mbah Darmo biyen yo calak (bong supit).
    Jaman cilik-ku kerep diajak netak ning deso sing adoh2 mbonceng sempedah onthel utowo sepedah udhug Honda C 70 warnane biru karo simbah. Uga melu rebutan sajen yen ono sing nyunatke ning omahe simbah.
    Nanging bareng wayahe tetak dhewe malah ora ditetak karo simbah, mergo simbah wis sedo. Tetake ning mantri anak muride simbah.E ndilalah kok malah gendhelen walah..


  36. […] Juli 19, 2008 in Dari Sudut KampungTags: bong supit, budaya, burung, gendhel, Jawa, kali, kampung, kukilo, Progo, sunat, takhyul, tradisi, Yogyakarta Catatan: Cerita ini kelanjutan dari sini. […]

  37. bahtiar Says:

    kok ra ono potrek’e …๐Ÿ˜ฆ

  38. joeyman Says:

    khitan cewe yg bener itu bagus kok. yg bener hanya membuang kulit penutup klitoris saja ,jadi berguna buat kebersihan dan menambah kenikmatan seks bagi cewe. khitan yg memotong bibir vagina itu salah apalagi menjahitnya. bahkan di dunia barat juga di terapkan buat wanita yg ingin memperindah klitorisnya dan kenikmatan dalam seks

  39. Jati Says:

    Mas,,, koq aku kenal jeneng2 iku yo… kali progo, pak abu handoyo. Sampeyan manggone ngendi??? aku neng Klangon,Argosari. Nek jamanku wis dudu pak abu maneh, pak pur (putrane opo anake mantu pak abu) sing netaki.

  40. Gudel Says:

    Walah pada tetak karo bong supit aku tetak karo mantri CBZ, dijahit pas jarum ditarik larane pol (obat bius kurang) gendhelen ora ono wong dibabat/digunting muter entek.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: