Tumbang

Mei 17, 2008

Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. Di barisan terdepan, Mbethu memanggul paculnya laksana seorang mayoret marching band. Sesekali dia mengayun-ayunkan doran paculnya, kemudian berbalik menghadap ke arah kami sambil berteriak laksana seorang komandan peleton memberikan komando kepada anak buahnya. Tak kurang dari dua puluhan beyes-beyes berbaris satu satu, sambil menabuh ember, kaleng, tumbu atau tenggok yang mereka bawa. Semua tertawa gembira, penuh sukacita menunaikan kewajiban yang dibebankan para bapak-bapak kami. Nglangsir pasir dari tepian Progo ke jalan setapak di sekitar wot glugu pasetran gandamayit.

Di bawah sana, Kang Mbolo dan Mas Perung, sudah ngunthuk pasir yang siap untuk kami angkut ke atas. Maka mengantrilah kami, menunggu giliran tenggok kami diisi. Berjajar urut kacang sambil menenteng tenggok, seperti ngantri sembako atau minyak tanah. Kang Mbolo mengisi tenggok beyes-beyes itu sesuai dengan kemampuan angkat masing-masing beyes. Gandung yang badannya pothok, dapat jatah lima sekop di tenggoknya, sementara Thole yang otot kawat balung thok, cukup diberi kuota dua sekop. Aku? Namanya saja Lompong. Jangan berharap ada kekuatan luar biasa yang mampu mengangkat lima atau enam sekop. Putaran pertama, aku masih mampu nyunggi tiga sekop. Putaran berikutnya, haqqul yakin, dua sekop saja sudah mlendek.

Matahari sudah semakin meninggi. Sudah tiga kali kami bolak balik naik turun tebing nyunggi tenggok. Beberapa teman sudah mulai kelelahan. Thole sudah mulai ndheprok di hamparan pasir. Dabul malah sudah ndhodhok di gemericik aliran air sungai. Nggak jelas apakah tadi pagi dia memang belum sempat buang hajat, atau gara-gara terlalu berat beban nyungginya sehingga isi perutnya keplenet dan memberontak minta dikeluarkan. Melihat situasi yang sudah tidak kondusif lagi, Kang Mbolo menghentikan aktivitasnya mengisi tenggok para beyes. Dibiarkannya tenggok-tenggok itu mlumah centang perenang di sekitar bukit pasir hasil karya Mas Perung. Maka para beyes pun pada pating besasik ngglesot di hamparan pasir. Aku ngglethak di sebelah tenggokku, menatap langit, sambil menyeka butir-butir peluh yang membasahi leherku. Sementara di sampingku, Mbethu dan Anthuk malah pada asyik main lungsuran, menebak posisi kerikil yang disembunyikan di gundukan pasir. Ndrewel, agak jauh di kananku, malah membuat gundukan pasir kecil, kemudian di puncaknya dibuat lubang.

“Iki lho saya mbuat gunung merapi, sebentar lagi kawahnya akan kebanjiran lahar panas”

Dan dengan wajah tak berdosa, dia plorotkan celananya, mengarahkan ujung tomahawknya ke kawah gunung merapi, mengucurkan campuran air dan garam amoniak ke lubang kawah gunung merapinya. Trembelane, ndilalah angin bertiup sepoi, menebarkan percik-percik amoniak ke wajahku yang sedang tengadah menatap langit. Sontoloyo! Jangkrik! Gedhang goreng! Gombal Amoh! Semua koleksi pisuhanku keluar, sambil berlari menuju ke air sungai mensucikan najis mutawasithah yang mencemari wajah tampang bayiku. Ndrewel cuma cengegesan saja, melihat tingkahku yang seperti cacing kepanasan.

Yu Tini dan Mbokdhe Sarminah menggendong tenggok dan nyangking ceret mendekati gundukan pasir Mas Perung. Semua tanggap ing sasmito. Waktunya istirahat. Telo break, gendruk break, atau mbili break. Kang Mbolo memukul paculnya dengan gagang arit, laksana memberikan komando kepada para pasukannya. Maka kami, para beyes, salang tunjang rebut dhucung berlari mendekati bukit pasir Mas Perung. Untuk hal yang satu ini, tak boleh kami ketinggalan. Sesuatu yang harus disegerakan. Bahkan Dabul pun berlari-lari sambil susah payah menaikkan celana kolornya yang belum terpasang sempurna. Embuh, apakah dia sempat cawik, atau cukup dipasrahkan pada aliran air sungai untuk membersihkan serpih-serpih keemasaan di kawasan brutunya.

Kami pun duduk melingkar mengelilingi tenggok yang segera dibuka oleh Yu Tini. Asap sedikit mengepul dari balik selendang yang menutup tenggok itu. Dari aromanya kami tahu pasti, singkong dan mbili rebus! Tangan Anthuk langsung kemlawe hendak nyaut mbili di tenggok.

“Hush, nanti dulu. Satu-satu, semua kebagian kok!” Yu Tini dengan sedikit galak menggak sambil menepis tangan Anthuk.

Kang Mbolo dan Mas Petruk dengan cekatan membagikan potongan singkong dan mbili rebus kepada para bolo dhupakannya, yang seperti kere kelaparan nyadhong sesuap makanan. Tak sampai hitungan detik, amblas satu tenggok telo rebus dilahap para beyes itu. Maka, ceret menjadi sasaran berikutnya. Entah disengaja, atau karena memang tak ada, Mbokdhe Sarminah hanya membawa ceret tanpa membawa serta gelasnya. Isinya teh anget, dengan sedikit tambahan gula pasir. Tak manis, sekedar klenyit-klenyit. Mungkin cuma tiga sendok untuk satu ceret. Jelas konsentrasinya tak cukup menebarkan rasa manis dalam air teh itu. Tapi tak jadi mengapa. Satu persatu mulut beyes itu menganga, dan cucuk ceret pun mampir ke mulut mereka, mengucurkan tetes demi tetes air, menghantarkan kesegaran surgawi.

Telo, mbili dan teh klenyit sudah tandas. Mas Perung dan Kang Mbolo sudah mengangkat senjatanya lagi.

“Ayo bocah-bocah, dua angkatan lagi!”

Maka kami pun kembali berbaris. Kang Mbolo sengkut mengisikan pasir ke tenggok kami. Kali ini sudah tidak sempat lagi memperhitungkan kuota dan daya angkut kami. Pukul rata. Semua dapat jatah tiga sekop. Tak ada yang protes. Meskipun Thole jalannya sampai kobol-kobol, dan kelihatan lehernya semakin mblesek. Sudah satu putaran. Tinggal satu ambalan lagi. Dan selesailah tugas kami pagi ini.

Matahari belum sampai ke titik kulminasinya. Masih kira-kira satu setengah jam lagi menjelang dhuhur. Bapak-bapak dan kakak-kakak kami masih sibuk di atas sana. Sebagian dari mereka masih meratakan tanah di sekitar jalan setapak. Mas Nardi, tukang andalan kampung kami, sedang sibung memasang pondasi untuk sesek bambu, dibantu oleh Kang Parjo dan Pakdhe Dulkromo. Sebagian lagi mengerubuti pohon jangkang raksasa itu. Lik Giyono sedang beraksi memangkas dahan-dahan di atas sana utnuk memudahkan penebangan pohon. Bersenjatakan pethel dan arit, Kang Giyono dengan tangkasnya berjalan dari satu dahan ke dahan yang lain, mengurangi kelebatan daun, dan memotong dahan-dahan yang dapat mengganggu proses perobohan pohon. Sementara di bawah, beberapa orang bergantian mengayunkan wadung dan pethel ke batang jangkang. Perlahan, sedikit demi sedikit, pokok batang jangkang mulai terluka, semakin lama semakin melebar. Hingga akhirnya Pak Dukuh, selaku komandan penebangan memerintahkan Lik Giyono untuk menghentikan memangkas dahan dan turun, karena pohon mulai bergoyang-goyang. Lik Giyono tanpa banyak membantah turun dengan cekatan.

Episode berikutnya, para pengayun wadung menghentikan kegiatannya. Memberi kesempatan kepada Kang Warijo untuk naik ke pohon. Dengan membawa kelat, batang bambu yang dibelah tipis-tipis sebagai tali penarik, Lik Warijo berusaha mencapai dahan tertinggi, dan mengikatkan kelat tersebut. Tak banyak membuang waktu, Lik Warijo sukse menunaikan misinya. Setelah turun, Pak Dukuh menginstruksikan semua orang untuk menghentikan aktivitasnya, dan naik ke tebing untuk bersama-sama menarik tali kelat. Merubuhkan pohon jangkang. Kami, para beyes, tak ingin tertinggal momen menarik ini. Kami beramai-ramai naik ke tebing.

“He, bocah-bocah. Awas jangan dekat-dekat. Bahaya!” Pakdhe Dulkromo menghardik kami

Kami pun menjaga jarak. Mengkirig juga membayangkan kalau tiba-tiba ambruknya pohon berganti arah dan menimpa kami, apa nggak ajur sewalang-walang?

Tinggal 2 orang lagi yang mengayunkan wadung dan pethelnya ke pangkal batang pohon jangkang. Sementara yang lainnya berjejer pasang kuda-kuda sambil memegang kelat bambu, menunggu aba-aba dari Pak Dukuh untuk menarik kelat ke arah tumbangnya pohon. Mas Nardi dan Kang Parjo sementara menghentikan pekerjaan mereka, dan ikut bergabung dengan para lelaki lainnya. Ibu-ibu pun keluar dari dapur Pakde Karyo. Mereka tak mau ketinggalan menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Pohon jangkang mulai sedikit bergoyang. Kami menahan nafas dalam-dalam. Keheningan dan ketegangan semakin mencekam. Hanya terdengar suara mata kampak menghantam pokok jangkang. Banyaknya kisah keangkeran pohon jangkang, serta mitos-mitos tak masuk akal yang sering diceritakan, tak ayal sempat membuat kami miris juga. Takut kesiku. Kualat. Tapi tekat masyarakat kampung kami sudah bulat. Tak bisa lagi dipupus. Kami terus berdoa dalam hati. Pohon kembali bergoyang kali ini agak keras. Dengusan napas tegang semakin nyaring terdengar. Hingga terdengar gelegar suara mengejutkan

“Tariiiik!!!”

Sekuat tenaga Pak Dukuh berteriak memberikan komando. Bersamaan dengan itu, Lik Paimun dan Kang Kobet, kedua pengayun wadung, berlari menjauh dari pangkal pohon jangkang. Mak regudug, barisan para lelaki perkasa menarik kelat sekuat tenaga, sambil berteriak-teriak menyamakan langkah.

Siji, loro, telu…. siji, loro, telu…

Pohon jangkang bergerak semakin kencang. Amplitudonya semakin melebar. Akhirnya sampai sudah batas kelenturan batang jangkang. Perlahan tapi pasti, dengan diiringi suara gemuruh gesekan antara ranting-ranting dan daunnya, pohon jangkang semakin condong dan mulai rubuh ke arah para lelaki penariknya.

“Lariiii….!”

Tanpa perlu diulangi lagi, komando Pak Dukuh segera diikuti dengan kocar-kacirnya para penarik kelat, menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa rubuhnya pohon jangkang. Sejurus kemudian suara berdebam yang maha dahsyat mengiringi tumbangnya pohon jangkang. Kami merasakan seolah bumi bergetar. Debu mengepul di sekitar tempat tumbangnya pohon jangkang. Sejenak kami semua terdiam dalam keheningan.

“Allahu Akbaar!!!”

Kali ini Mbethu yang bikin ulah. Teriakannya mengagetkan kami semua, sekaligus menyadarkan kami. Dan sesaat kemudian, pekik heroik dan sorak sorai warga pun menuntaskan prosesi terhebat pagi ini. Menumbangkan simbol irasionalitas kampung kami. Membungkam tahyul, menyingkirkan gugon tuhon.

Beduk berbunyi. Adzan Dhuhur menggema. Beringsut kami ke sungai, mencuci muka, tangan dan kaki. Menu makan siang telah tersedia. Nasi putih yang panas mengepul, tempe garet, jangan gori, dan kerupuk legendar. Sungguh membangkitkan selera kami. Sebagian langsung mengerubuti tempat makan, sementara sebagian lagi memilih untuk lebih dulu menunaikan shalat Dhuhur di langgar sebelah rumah Pakde Karyo.

Selepas dhuhur, para lelaki dewasa kembali meneruskan karyanya. Sementara kami, para beyes, bertugas untuk ngangon wedhus, atau sekedar leyeh-leyeh di pinggir sawah.

15 Responses to “Tumbang”

  1. venus Says:

    oh, ini pohon yang di cerita yg dulu itu ya, mas?

    iya mbok

  2. aprikot Says:

    sowan mas…wiken2 tp ojo dijak ngangon wedhus ya? wes wangi soale😀

  3. Hedi Says:

    walah leyeh2 iku paling enak, opo maneh sekitar tegalan

  4. aAng Says:

    ah, takhayul
    takhayal
    khayal
    khayalan
    khayalan yg diciptakan oleh jin dengan memanipulasi sistem saraf manusia


  5. iki kang yasir karo kang jimin kok ora melu ngalngsir pasir ning endi, ki?

  6. itikkecil Says:

    kirain bedhes pakde
    *minggat*

  7. paman tyo Says:

    brutu atawa tunggir itu apanya bukan tulang ekor ya? atau memang kloaka?

    saya seneng, di blog ini menemukan kosa kata yang jarang terdengar. tadi saya serasa menemukan kata yang telah lama lenyap ketika menanya orang barusan dari mana, jawabannya, “ngarit, mas!” ngarit? memang masih ada ara-ara samun?🙂

  8. Yari NK Says:

    tahayul sekarang juga masih banyak…. bahkan di dunia barat yang katanya maju…satu dua kali mereka melakukan juga “ritual” tahayul secara sadar atau tidak sadar…..

  9. iway Says:

    bagian gunung merapi berlahar itu kok bikin saya kemekelen ya, saya sama konco2 dulu sering banget bikin, setelah diguyur lahar merapi akan terbentuk semacam mangkok basah, nah mangkok basah ini yang biasanya jadi bahan lempar-lemparan😀
    nggilani memang, tapi bebas formalin dan alkohol😀

  10. Nayantaka Says:

    @gita -> wedhusku yo wangi kok Git

    @hedi -> angine siliir, marahi ngantuk🙂

    @aAng -> makanya pohonnya dimbrukke, biar jinnya pada mubal semua

    @sawali -> lagi melu bedah buku, wakakakak

    @itikkecil -> ya mirip-mirip lah, kalo gak percaya, ngaca🙂

    @paman tyo -> brutu pancen enak paman. lha sekarang, kata ngarit bolehlah dipakai untuk istilah berangkat kerja alias glidhig, sama-sama artinya nyari makan🙂

    @yari -> takhyul itu budaya universal pak, cuma kemasannya saja yang berbeda

    @iway -> halah, kok punya hobby yang sama yo? ayo sekarang lempar-lemparan😀

  11. Ndoro Seten Says:

    e..e..e.. endahe
    para tani yen nyawang tandurane
    guyup rukun kang dadi semboyane…

    salam kenal kang!

  12. kw Says:

    di kampung ku ada pohon kamboja sepasang. gede banget. orang2 menyebutnya danyangan haha.

  13. tomy Says:

    sebenernya sih bukan masalah takhayul saja
    namun kebijakan lokal yang penuh dengan nilai2 luhur
    mangayu hayuning bawana
    manusia ketitipan & wajib ngreksa sakabehing titah
    juga termasuk pohon2 besar yang menjaga kehidupan dengan mata airnya
    takhayul pada mulanya hanya penyampaian pesan tersebut
    jangan sampai manusia dengan angkaraya mbabat alas saenake
    dengan pengertian yang benar takhayul adalah penjaga alam dari kerakusan tangan manusia
    *baru ikut rapat Bappedal ttg pengelolaan mata air & DAS*

  14. edratna Says:

    Saya mengingat-ingat kok lupa…gendruk itu makanan dari apa? terus Mbili itu sama nggak dengan ganyong?

    Saya seneng bacanya sambil mengerinyit, untuk mengingat ari kosa kata nya.

  15. mbah Darmo Says:

    Uluk salam

    Bingah banget saget kepanggih kempalan ingkang tasih nguri2 boso jawi.

    Hal sederhana ternyata bisa jadi kisah luar biasa ya. Jadi inget masa kecil di kampung. kumpul-kumpul di seputar api pluruhan sambil mbakar biji mindik (trembesi) dan telo kaspo
    sebelum magrib.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: