Lompong

April 23, 2008

Kebiasaan ini sudah berlangsung sedemikian lama di kampungku. Sudah mendarah daging. Mungkin sudah bisa disebut sebagai budaya lokal. Sesuatu hal yang mungkin kelihatan konyol, ngoyoworo, tapi entah mengapa hal ini begitu membekas dalam diri kami. Hanya sebuah paraban. Nama panggilan. Bagi kami, bukanlah sekedar nama panggilan. Paraban adalah cerminan eksistensi di komunitas kami. Paraban adalah tetenger, pertanda. Suatu prasasti. Bahkan semacam pengakuan. Belumlah diakui oleh komunitas, selama kami belum memperoleh paraban yang unik.

Seburuk apapun, sekonyol apapun, paraban yang kami terima dari komunitas kami, adalah sebuah penghargaan, bukanlah pelecehan atau penghinaan. Justru terkadang kami merasa bangga. Karena nama itu memuat prestasi dan kebolehan kami. Bahkan sebuah gelar kepakaran. Celeng, bagi Mulgendruk bukanlah suatu nama yang mengandung penghinaan, namun suatu pengakuan atas kecepatan dan kegesitannya dalam berlari, terbukti medali emas pekan olahraga antar sekolah tingkat kabupaten yang dia rebut untuk adu lari cepat 100 meter. Sayangnya, dia tidak pandai bermanuver. Tak bisa menggok. Persis perilaku celeng, yang memiliki kecepatan laksana kilat, namun tak memiliki kemampuan untuk berbelok. Pernah Mulgendruk alias Celeng mencoba mengikuti lomba lari 400 meter, namun kalah, karena pada saat seharusnya berbelok mengitari sisi luar stadion, dia mengalami kesulitan untuk mengalihkan arah berlarinya. Celeng, baginya adalah predikat kebanggaan atas kemampuan berlarinya.

Paraban adalah tetenger. Milestone. Kejadian yang tak terlupakan. Umur tujuh tahun, Parjo kejeblos ke dalam kakus di belakang rumah Mbah Marto saat mbedhag bajing dengan teman-temannya. Evakuasi berhasil dilakukan setelah satu setengah jam dia terperangkap di lubang neraka dunia itu. Sebagai tetenger, julukan Kopet pun disematkan di dadanya. Hingga saat ini, berkat julukan itu, tak seorangpun di kampung kami yang melupakan kejadian mengenaskan itu, dan efeknya, berangsur-angsur mengubah budaya kakus menjadi jamban bergulu-banyak, agar kejadian itu tak terulang lagi.

Paraban adalah sifat, karakter, pembawaan, lageyan. Paling cocok adalah menempelkan karakter wayang dalam diri seseorang. Bagong, dengan omongan yang waton suloyo, memang pas dengan karakter Wagino, yang kebetulan juga memiliki anatomi mulut yang semi ndower. Atau liciknya Yono dalam berbagai permainan, membuatnya menyandang nama Cuni, alias Sengkuni. Teringat aku bagaimana dia tak pernah terkalahkan dalam permainan umbul gambar, karena ternyata dia melekatkan dua gambar bolak-balik, sehingga dalam posisi apapun, akan terlihat sebagai sisi muka dari gambar yang diadu lempar ke udara itu. Atau kepandaian dia mendekatkan atau menjauhkan jarak antar dua kelereng saat bermain gundu. Yang paling mengesankan adalah pada saat kami nyolong pelem Mbah Wito. Karena licinnya pohon, Mbethu jatuh dan menimbulkan suara gaduh. Mabh Wito keluar. Seperti biasa sambil menenteng bendho dia teriak-teriak hendak merajang kami, ajur sewalang-walang. Kami semua, terkecuali Cuni, kocar-kacir, lari sipat kuping, menyelamatkan diri kami masing-masing. Cuni dengan santainya mengadu kepada Mbah Wito: “Lha itu lo Mbah, dasar anak-anak nggak tahu aturan, tadi saya pergoki hendak nyolong pelem panjenengan. Saya bentak pada lari semua. Dasar pengecut. Padahal kan kalau minta baik-baik, pasti Simbah nggak keberatan kan?” Bukan hanya selamat, Cuni malah dapat bonus mangga satu tenggok sarangan!

Paraban juga mewakili penampilan fisik. Sedikit kejam memang. Tapi entah kenapa, tak ada yang protes kalau akhirnya mendapatkan julukan Pengkor, Cekot, Perung atau Tuan Sinyo. Tak ada juga yang menyalahkan orangtuanya yang suka sewenang-wenang memaksakan gaya rambut tertentu, sehingga mendapatkan paraban Kuncung, Kucir, Gundhul atau Brindhil.

Tak terkecuali aku. Sebuah paraban akhirnya disematkan buatku. Bukan karena kecemplung kakus, atau disruduk sapi birahi. Fisik masa kecilku memang lemah. Kurus kering. Candrane seperti Gatutkoco, otot kawat balung thok. Mengangkat seember airpun ngrekoso. Suatu hari, aku pulang angon dua ekor cempeku. Entah mengapa sebabnya, si bandot memberontak, dan berbalik lagi menuju ke sawah. Aku mencoba menahan tali pengikat bandot, dan menyeretnya pulang ke kandang. Bandot semakin menjadi-jadi. Tubuh lemahku tak kuasa bertahan. Terjerembab, terseret oleh bandot yang berlari kencang menuju ke tengah sawah. Beruntung, beberapa orang melihat kejadian ini dan mereka menyelamatkanku. Kang Tris aku lihat nyaut tali yang melilit leher bandot, dan menguasainya, sementara Kang Paimo mengangkat tubuhku yang babak bundhas terseret-seret bandot keparat.

“Owalah, le… awak kok lemes koyo lompong!” Celetuk Kang Giyo yang ikut menolongku.

Lompong. Itulah parabanku.

22 Responses to “Lompong”

  1. edratna Says:

    Satu hal yang saya senangi kalau kesini, saya jadi belajar dan ingat lagi bahasa Jawa, beserta istilah lainnya yang ngangeni.

    Lompong? Biar lemes, tapi lompong, jika pinter masaknya, bisa menjadi sayur buntil yang ueenaak rasanya.
    =========
    kapan-kapan kalau pas mampir ke budhe enny boleh dong dimasakin buntil lompong?😆


  2. wakakakakaka😆 parabane mas nudee, lompong? kok ya pas banget gitu loh, kekekekeke🙂 ttg paraban memang bisa mengakrabkan pergaulan dalam lingkup komunitas tertentu. tapi ada juga yang ndak sreg sama parabannya itu. kalau di tempat saya dulu namanya: “wadanan atau wadinan”, karena di situ kerahasiaan yang menjadi ciri khas seseoang dipublikasikan. kepiye isa nyaman, mas, masak wong kok wadanane cempe, thiwul, kotik (karena matanya juling), kluwus, dll.
    ==========
    kadang juga mesakake kalau ada yang dapat paraban kok kesannya merendahkan. tapi nyatanya yang bersangkutan senang-senang saja tuh. mungkin karena landasannya adalah ketulusan dan ketiadaan maksud untuk merendahkan …

  3. itikkecil Says:

    ahahahaha…. jadi balik lagi belajar bahasa jawa nih?
    kalo saya jadinya apa ya pakde?
    meri atau pitik?😆
    ===========
    menthog???

  4. edy Says:

    otot kawat balung thok

    ga beda jauh kaaan😆
    =========
    nggolek bolo to ceritanya?


  5. mangga kula aturi pinarak dhateng panonopan kula
    midhangetaken geguritan ati kula kang lagi nandhang sungkawa nggih Ki Lompong
    ===========
    trenyuh, semedhot, lomponge tambah kepleh mas tomy🙂

  6. Kandar Ag. Says:

    Wah wah waaaah… Mas Bodro Lompong😀
    ndherek bingah asuka-suka! Pokoke jan mathis temenanan kagunganipun blog.
    Matur nuwnun sampun wongsal-wangsul mampir ing BornJavanese, sanadyan taksih kangelan ngundhuh.
    Pokoke beres! Samangke kula aturi ingkang langkung gampil dipun undhuh!

    Sukses!
    =========
    maturnuwun kang kandar, ujung sengara sampun kulo unduh kanthi lancar. ditenggo lakon sanesipun🙂

  7. adams Says:

    wah lompong bow😛
    ==========
    cukuskumir, pecasndahe, jembulmbrodhot, itu juga paraban?

  8. iway Says:

    hehehheheh lucu tenan **salam kenal**

  9. kombor Says:

    Oalah… Lompong. Hahaha…

    Kalau aku ya kombor itu.
    ===========
    kegedean kathok yo kang?

  10. ekapratiwi Says:

    Paraban… lompong,bodong,cuni,gundul,uler serit,……dan lain lain memang tidak bisa kita buat sendiri, kadang menempelnya paraban atas dasar predikat kita yang diberikan oleh orang lain. namun satu dari predikat itu, yaitu LOMPONG khususnya, walaupun lemas tidak bertenaga namun pasti ada kelebihannya, beranjak dari sisi kelemahan dan kelebihan itu saya merasakan kekuatan yang amat dari sebuah paraban lompong.SEMAKIN BERKURANG TENAGA LUAR MAKAN SEMAKIN BESAR TENAGA DALAMNYA. DAN PARABAN MASING MASING MENJADI LENGKAPNYA ISI DUNIA INI.
    menawi kulo di paringi paraban bade kulo ngge engkang sae, sesae saenipun…. nyuwun paraban kagem kulo mbah………….
    ==============
    wis tau ngrasakake doyo linuwih tenaga dalam ndhuk? lha kok diundang mbah lho? ulum masih belum setua pak sawali lho🙂

  11. regsa Says:

    selain sebagai tetenger kadang paraban ini sebagai panggilan yang bisa lebih mengakrabkan diri .

    Namanya saya bukan agus tapi diparabi kenthus..:lol:
    ==========
    jadi kenthus itu artinya agus ya? tak pikir ngadopsi dari tata bahasa Inggris, menjamakkan dengan menambah huruf s, books = banyak buku, kenthus = banyak ….???

  12. paman tyo Says:

    saya punya teman dijuluki “glempong”😀
    ===========
    artine opo paman?


  13. Halah…halah….
    KiBodronoyo, ibarat Semut ireng cangkruk neng watu Ireng…dadi Samar. Samaring sawiji-wiji

    Salam kenal Ki

    Nggelesod…koyone saya krasan dengan Atmosfir Jawa di Blig ini

    Nuwun….
    =======================
    sugeng angrahabi sinambi nggelesod kisanak

  14. Yari NK Says:

    Inget temen kantor otot kawat balung thok orangnya kurus juga, mendingan deh kalo otot kawat balung thok, ini ngetut thok ora ono ototé bar pisan!

  15. FraterTelo Says:

    mas Lompong, tulisan Anda ini mengingatkan saya pada komunitas saya dulu waktu masih SMA. Kita dulu di SMA berasrama dan hampir semua anak mendapatkan paraban. Beberapa nama paraban saya dengan yang mas Lompong sebut di atas. Ada Celeng, Bendot, Bebek, Gondes, Cepot, Wedhus, Pakdhe, Simbah, Unto, dll. Paraban itu menjadi salah satu cara kami untuk bersosialisasi. Dan adanya paraban itu menunjukkan kedekatan kami satu sama lain.
    Saya mengira komunitas mas Lompong demikian juga, begitu dekat satu sama lain.

  16. kw Says:

    dulu teman2 punya semua, bahkan lebih dari satu. sampai2 isteri salah satu teman yang dari kota sebelah bingung. kok manggilnya beda-beda haha
    parabanku… entah kok ora ono sing marabi ya….
    ===============
    temanku, punya lebih dari 3 paraban. mas karmin ndak mbeling kali, jadi ndak punya paraban🙂

  17. kw Says:

    #nambah, ada beberapa paraban temanku yang lucu: sengkuni, karena dia suka ngapusi. ada yang di panggil tapir (anoa), komodo. satu anak yang suka nomong mesum. namanya triyanto, orang memanggilnya itri, kelompok kami memanggilnya ITrIL.🙂
    ==============
    itril bagus juga mas, asal jangan sampai lepas kontrol


  18. […] sementara Thole yang otot kawat balung thok, cukup diberi kuota dua sekop. Aku? Namanya saja Lompong. Jangan berharap ada kekuatan luar biasa yang mampu mengangkat lima atau enam sekop. Putaran […]

  19. Mardies Says:

    Njawani sekali. Saya suka dengan penuturan Anda. Dua jempol🙂

    maturnuwun kerso rawuh kang Mardi


  20. […] begitu suka dengan munculnya saingan baru dalam memperebutkan tampuk lelananging jagad. “Pong, betul lho, sakit sekali rasanya. Panas dan perih. Belum lagi kalau sudah habis biusnya. Apalagi […]


  21. biasanya orang yang dikasih paraban itu nggak rela lho namanya diganti. kadang menyakitkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: