Mayat Bayi Dalam Ransel Hitam

Februari 5, 2008

Sudah lama aku tidak melihatnya. Mungkin sekitar tujuh tahun silam, semenjak dia menikah dengan putri mbarepnya mbokdhe Soma Bajang, dan kemudian mengadu nasib ke kota. Dan tak pernah pulang lagi ke kampung halaman. Bahkan saat nyadran atau lebaran. Betul-betul lenyap seperti ditelan bumi. Maka sungguh hal yang cukup mengejutkan seisi kampung, ketika pagi itu, mbok Soma gero-gero menyambut sang menantu yang datang tak terduga. Wajah Kang Narjo tampak kebingungan dan kegalauan. Tampaknya ada sesuatu yang mengganjal di balik kedatangannya. Segera ia berlari menghambur dan sungkem di kaki mertuanya, sambil ngguguk, menangis tiada henti-henti. Warga satu persatu berdatangan, mengerubung di depan pintu rumah, namun tak satupun yang kuasa berkata-kata.

Akhirnya, Pakde Kamso, tetua kampung, angkat bicara:

-”Ibu-ibu, bapak-bapak, sampun, sekarang kondur ke rumah masing-masing dulu. Biar Mas Narjo dapat beristirahat dan menenangkan pikiran. Nanti setelah lerem, barulah kita berkumpul lagi dan rembugan untuk ikut memikirkan permasalahan yang dihadapi Mas Narjo.”

Kata-kata tegas Pakde Kamso cukup membuat warga beringsut meninggalkan pelataran rumah Mbokde Soma. Mbokde Soma membimbing Mas Narjo memasuki rumah, sementara Pakde Kamso menggamit lenganku.

“Mas, panjenengan rak ndak ada keperluan lain to, temani saya ngurusi Mas Narjo dan Mbok Soma ya?”

Aku mengangguk kecil, dan kakiku pun bergerak mengiringi langkah-langkah Pakde Kamso menuju ke dalam rumah Mbok Soma.

Kami duduk berempat di atas lantai tanah di dalam rumah Mbokde Soma, beralaskan tikar pandan yang sudah mulai berlubang dimakan ngengat. Di tengah-tengah, masih mengepul empat cangkir teh panas, serta sepiring mbili rebus yang baru saja dibawakan oleh Mbokde Kamso. Mas Narjo masih terdiam. Kami semua terdiam. Sampai akhirnya Mas Narjo memulai kisahnya ….

***

Kamis petang. Mas Narjo bergegas meninggalkan lokasi proyek perumahan tempatnya bekerja. Satu jam lebih lambat dari hari biasanya. Pekerjaan mengecor plafon kali ini cukup menyita waktu dan tenaga. Mas Kliwon, mandornya, menginginkan agar bisa diselesaikan hari ini. Dengan satu dua butir peluh yang masih menetes, setengah berlari Mas Narjo menyusuri kali kecil di pinggir jalan, menuju bedeng kontrakannya, dimana Yu Narni, istrinya yang sedang busung tua menunggunya.

Mendekati bedeng kontrakannya, jantung Mas Narjo berdegup semakin kencang. Ia melihat pemandangan yang tidak biasa. Tampak para tetangganya berkerumun di depan pintu bedeng kontrakannya.

+”Nah, itu lakinya datang”, salah seorang berseru ketika melihat Mas Narjo.

Mas Narjo semakin mempercepat langkahnya. Tangannya menyibak kerumunan orang-orang, dan mendapati istrinya tengah tersengal-sengal, terbaring lemah di kasur tipis yang terhampar di lantai.

+”Mas, istri sampeyan kayaknya mau melahirkan, dari tadi mengerang-erang” Bang Mamat menjelaskan. “Tadi mau dibawa ke rumah sakit, tapi istrimu menolak, katanya menunggu sampeyan pulang dulu. Lha itu, mobil Eyang Probo masih di depan gang, siap-siap buat ngangkut ke rumah sakit”

Mas Narjo masih bengong. Pikirannya meloncat-loncat tak karuan. Menurut perhitungannya, kandungan istrinya baru mau memasuki bulan kedelapan. Belum lagi soal biaya. Di sisi lain, dia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anak di dalam kandungannya.

-”Wis mas, sampeyan sekarang siap-siap aja, kita langsung berangkat, soal yang lain-lain kita pikir belakangan. Selak mesakno istrimu” Mas Tono menyela dari kerumunan.

Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Mas Narjo meletakkan tas berisi alat tukangnya, kemudian dibantu Bang Mamat memapah sang istri menuju ke mobil Eyang Probo yang telah siap di mulut gang. Mas Tono yang dipasrahi nyopir, segera melarikan mobil ke RSUD.

Dua hari telah berlalu. Malang tak dapat ditolak. Takdir telah jatuh. Bayi dalam kandungan Yu Narni tak mampu bertahan. 30 jam di rumah sakit, bayi pun terlahir dalam kondisi tak bernyawa. Setelah berembug dengan para warga, akhirnya Mas Narjo memutuskan untuk membawa pulang jasad bayinya, untuk dikuburkan di kampung halaman, berhubung biaya untuk menguburkan di kota sangatlah mahal. Masalah selanjutnya, bagaimana membawa mayat bayi ke kampung? Menyewa mobil jenazah, jelas tidaklah memungkinkan. Ide muncul dari Mas Tono, untuk memasukkan mayat bayi ke dalam tas ransel, kemudian dibawa oleh Mas Narjo naik bis, seolah-olah membawa barang biasa. Semua orang mengangguk-angguk, dan menganggap itulah solusi yang mungkin masuk akal untuk dijalankan.

Mas Narjo pun pulang kampung. Diantar Mas Tono dan Bang Mamat hingga terminal antar kota. Mas Narjo naik ke atas bis, sambil mendekap ransel hitamnya. Dia memilih tempat duduk paling belakang, sebelah kanan dekat jendela. Sepanjang perjalanan, Mas Narjo tak pernah beringsut dari tempat duduknya, dan tak pernah lepas mendekap erat tas ranselnya.

03.00 dinihari. Bis berhenti di tengah persawahan. Mas Narjo turun dari bis. Tepat di mulut jalan desa yang menuju ke kampungnya. Masih kira-kira 5 kilometer lagi, dan akan ditempuh dengan berjalan kaki oleh Mas Narjo. Setelah bis berlalu, Mas Narjo memindahkan ransel ke punggungnya. Sudah mulai tercium bau yang kurang sedap, Mas Narjo pun merapatkan kembali ritsleting ranselnya, sehingga bau tersebut tidak lagi keluar. Pelan-pelan Mas Narjo berjalan dalam kegelapan. Pikirannya sudah mulai tenang, tidak lagi dihantui rasa was-was seperti yang dirasakannya sepanjang perjalanan tadi.

Sepuluh menit sudah, Mas Narjo menembus kegelapan malam. Kiri kanan jalan masih merupakan areal persawahan. Kampung terdekat baru akan ada kira-kira dua kilometer lagi di hadapan. Mendadak Mas Narjo melihat seberkas sinar muncul dari belakang, diiringi deru motor. Sekilas. Ada benda berat menimpa tengkuknya. Dan Mas Narjo tak ingat lagi apa yang kemudian terjadi.

Suara ayam jantan mulai terdengar jauh dari arah kampung. Mas Narjo membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, dan sangat berat. Dia memusatkan pikiran, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.

+”Anakku!!” serunya ketika dia mampu mengingat semuanya. Matanya jalang menatap sekeliling. Tak ada tanda-tanda keberadaan tas ranselnya. Hanya samar-samar di kegelapan malam, ada tapak-tapak roda motor di sekitar tempatnya ambruk. Mas NArjo tak kuasa menahan emosinya, dan untuk kedua kalinya dia ambruk. Dan tak terbangun. Sampai subuh tiba. Sampai matahari terbit. Dan sampai akhirnya Paklik Juwari yang hendak ke pasar menemukannya dan membawanya pulang…

***

Seminggu berlalu. Mas Narjo sudah kembali ke kota tiga hari yang lalu. Sebuah berita mengejutkan datang dari desa tetangga. Sesosok mayat bayi ditemukan membusuk di semaksemak dekat kali. Dan sebuah tas ransel hitam tergeletak di dekatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: