Gudang Penyakit di Tubuhku!

Juni 7, 2007

Sudah sebulan ini tubuhku terasa les-lesan, aras-arasen, ayub-ayuben. Perubahan cuaca yang begitu drastis, hujan-panas-angin-dingin, cukup memberikan andil bagi ngelumbruknya raga, yang memang sudah setengah renta ini. Ibarat suatu mesin, sudah saatnya untuk melakukan overhaul. Ibaratnya pabrik, saatnya untuk shut down dan turn around.

 

Pak Bawono, yang tak sambat sebuti, cukup berkomentar pendek: “Lha sampeyan itu, ndak pernah ngikuti panduan ngerawat tubuh dari Gusti Allah kok njaluk waras wiris terus”

 

“Lho, memangnya ada panduannya to?”

 

“Sampeyan niku gimana to? Lha wong pabrik montor saja menciptakan tunggangan selalu disertai buku manualnya kok, mosok Gusti Allah menciptakan manusia nggak disertai sama buku manualnya. Sebagaimana motor, asal dia digunakan dan dirawat sesuai dengan petunjuk dari pabriknya, ya awet. Sampeyan juga sama, kalau badan sampeyan digunakan dan dipelihara sebagaimana petunjuk dari penciptanya, ya sampai tuwek yo tetep waras wiris mringis”

 

Tak pikir-pikir, kok bener juga ya? Allah menurunkan begitu lengkap dan detail tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh tubuh ini. Mana yang boleh dimakan, dan mana yang tak boleh dimakan. Termasuk risalah tentang puasa, shalat dan ritual-ritual lain yang katanya menurut penelitian ternyata berpengaruh juga terhadap kebugaran dan kesehatan tubuh, walaupun sebenarnya kita lakukan tanpa bermaksud untuk memperoleh kesehatan, melainkan untuk memperoleh ridhaNya. Berarti, ada yang salah selama ini dalam mengelola tubuh, sikap dan perilakuku.

 

Terbukti, dari ujung rambut sampai ujung kaki, ditilik dari gejala fisiknya saja, tampak betapa keroposnya bodiku. Sungguh sial istriku, yang hanya memperoleh barang rongsokan sepertiku.

 

Lihat saja, kepala yang penuh ketombe. Mulai dari selenium sulfida sampai zinc pyrocthione, yang katanya bisa ngilangi 99,99% ketombe dalam sekejap. Ternyata cuma ndobos-ndobosan bakul jamu. Sampai akhirnya gunting tukang cukur jualah yang mengakhiri riwayat ketombeku, dengan pengorbanan yang cukup mahal, menyetengahgunduli rambutku.

 

Turun ke mata, alhamdulillah, meski sering cepet capek, dan agak blabur, tapi masih bisa membedakan dengan sangat mudah mana duit seceng, cemban atau nomban. Lha giliran kuping. Enam bulan sekali harus sowan dokter THT untuk nguras deposit serumen di dalamnya. Rongga kupingku yang bentuknya mlungker-mlungker, tak memungkinkanku untuk membersihkan sendiri kotoran kupingku. Mudah-mudahan saja suatu waktu, terdapat segumpal emas dalam deposit itu.

 

Giliran wajah, kukul dan komedo tumbuh silih berganti, memberikan keasyikan tersendiri untuk pencet sana pencet sini. Terkadang, wudun pun bisa pindah ke hidung atau pipi. Masuk ke rongga mulut, sejak umur 8 tahun, aku tak lagi memiliki amandel, gara-gara dicongkel oleh dokter RS Njebugan. Rongga hidung sendiri sering bermasalah dengan melimpahnya produksi umbel dan upil, yang kadang menyebalkan, namun kadang memberikan sensasi tersendiri dalam melakukan ritual uthek-uthek upiel.

 

Boyok, sebagaimana layaknya pria paruh baya, selalu menjadi sasaran pegel linu setiap kali menjelang tidur. Ditambah dengan otot bahu yang pernah cedera gara-gara main voli tanpa pemanasan cukup, juga tulang jari yang sempat retak akibat diinjak striker lawan saat berjibaku sebagai kiper dalam turnamen tarkam. Maka minyak lawang, balsem serta koin seribuan menjadi andalan untuk sekedar mengurangi sambat sebut si boyok dan kawan-kawan.

 

Sistem pencernaan yang rentan terhadap serangan bakteri, diare pun sering datang. Minta obat, sama iklan tivi malah diprovokasi: “Diare… ya diampet”. Walah, jan… lha wong mak sar sur gini kok disuruh diampet, jan diamput temenan ki. Asam lambung juga sering tak mau kompromi. Pernah didakwa menderita maag kronis. Beruntung nggak didakwa juga menderita maag syaghwat. Bisa gawat! Puncaknya, tahun 1996, si umbai cacing yang menjuntai di usus besarku terambil dengan sempurna oleh tim dokter PKU Muhammadiyah.

 

Geser ke belakang. Lha kok daerah rektum ikut-ikutan. Wong jowo bilang ndobol, alias wazirun bin ambeien. Lha ini yang bikin duduk tidak nyaman, selalu resah dan gelisah. Daerah kaki juga tak lepas dari masalah. Sendi-sendi yang sudah kocak, mungkin akibat benturan-benturan keras waktu masih hobi balbalan sama bola voli. Lutut yang kadang nyeri kalau untuk jongkok atau duduk.

 

Terparah adalah tungkai dan jari kaki. Kutu air dan eksim, menjadi teman akrab di waktu musim penghujan. Lha kok malah kuku jempol kakinya mingslep. Sudah dua kali diangkat, masih saja kumat. Kata cakmoki sih kena paronychia. Yo wis, pasrah saja, kalau antibiotik yang dikasih dokter nggak bisa ngatasi, ya terpaksa rossen plasty lagi.

 

Iseng-iseng mampir ke tempat Evy, lha kok malah sama Dokter Dani disasarkan kesini dan kesini. Jadilah, menurut diagnosa, kemungkinan aku mengidap ADD/ADHD. Wis jan komplet tenan, aku jadi gudang penyakit. Fisik, akal, dan kemungkinan juga hati. Siapa yang berani jamin, kalau aku terbebas dari penyakit-penyakit macam riya, hasad, takabur, wahn, atau penyakit-penyakit hati lainnya? Mungkin saatnya untuk lebih mematuhi prosedur dan aturan telah disampaikan oleh yang menciptakan diriku, sebelum tubuh setengah renta ini terpaksa harus meronta di hadapan Munkar dan Nakir.

One Response to “Gudang Penyakit di Tubuhku!”

  1. kw Says:

    waduh mas, riwayat kesehatan sampean kok mengerikan sekali… harus olahraga rutin, sangat selektip makan dan kadang2 puasa. pasti semua penyakit ilan🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: