Sambel 350 Juta

Mei 28, 2007

Lebih dari sebulan sudah Pak Dee ndak ngambah warung. Sungguh mengenaskan kondisinya. Bledug dan sawang pating tlolor di sana sini. Sebagian tenda compang-camping disembur Eyang Maruto yang datang disertai derasnya air hujan, dan sesekali diiringi thathit wal bledheg yang bisa membutakan mata dan membudhegkan telinga. Di pojokan warung tergolek tak berdaya anglo bersama seonggok arang kayu dan taburan abu yang belum sempat dijamah sapu. Tergantung dan bergoyang pelan ublik lima watt merek Sigaplek yang sekarang sudah tak diproduksi lagi, karena pabriknya di nDenggung telah diuntal perusahaan multinasional raksasa Jeleding warisannya mbah Thomas Alva Edison. Giliran ngrogoh bawah meja, e kok ya nemu radio kuno milik Mbah Goprak yang ketinggalan di warung. Merknya Telesonic. Awas, jangan suka iseng dibaca dari belakang macam kera ngalam, bisa dianggap rasisme dan menebarkan kebencian pada etnis tertentu! Jian, pokoke warung Pak Dee jadi kelihatan singup bin angker wal medeni.

Sebenarnya, Pak Dee sendiri sudah aras-arasen mbukak warung lagi. Lha wong dagangane yo cuma itu-itu saja, yang datang juga cuma itu-itu saja. Paling-paling Mas Klowor, Kang Bedor, Lanang, Kombor, Tobil, Salimin, DeKing, Mbokdhe, dan sebangsanya. Tur dagangan ndak seberapa, kok ya tega-teganya ngutang, nggabro, ndoglas, kadang ngenthit. O walah jagat dewo bethoro, paringono sabar….

Ndilalah, kersaning Allah, lha kok pas lagi klintong-klintong di deket kampusnya Joe, Pak Dee ketemu konco lawas. Lupa-lupa ingat namanya, apa Doyok atau Boyok, tapi jelas bukan Bonyok. Dulunya sih waktu kuliah di pakultasnya Pakde tukang ndongeng, nasibnya agak sama. Sama-sama keser-keser, keloloden fourier, bessel, runge kutta, newton-raphson, redlich-kwong, dan tembung-tembung antah berantah lainnya. i-pe-ka cuma sedikit lebih besar dari volume silinder kijang innova, alias 2.0 saja. Setelah beramah tamah ala kadarnya, piye kabare dab, dan sebagainya, akhirnya ingatanku tentangnya pulih kembali. Biasa dipanggil dengan nama Yoyok, asli dari Boyolali (atau The Crocodile Forget, versi Tukul).

Pertemuan hari itu, ternyata berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Dia mengundang Pak Dee ke warungnya, yang didirikannya kira-kira lima tahun yang lalu, di barat gedung mantenannya UGM. Menjelang magrib, HP multifungsi Pak Dee berbunyi. Tentang HP Pak Dee, betul-betul multifungsi. Sekuritasnya sangat tinggi. Digeletakkan di meja pun ndak bakalan bisa hilang. Lha maling yang ngelihat langsung turun selera nyolongnya, lihat penampilan kunonya. Ukurannya yang besar, juga sangat membantu Pak Dee yang takut setengah mati sama kirik, baik yang masih berupa kirik maupun yang sudah berevolusi menjadi ngangsu. Diacungi hape Pak Dee, dijamin kirk mlayu kabeh, Kalau ngeyel, dibalang hape pasti klenger. Sesekali, sewaktu naik bis kota, kadang hape Pak Dee dipinjam kondekturnya, untuk ngganjel ban bisnya yang berhenti di bangjo serangan, agar ndak ngunduri mobil di belakangnya. Kembali Pak Dee lihat ke layar hape. Samar-samar terbaca sms: “mas, nanti ktmnya di wrg yg jl godean saja ya, sblh brt hero” Walah, memang warungnya dia ada berapa sih?

Selepas shalat maghrib, Pak Dee berangkat ke jalan godean. Sebelumnya sempat ngajak tetangga dekat, sesama pecinta mati setan merah untuk ikut nimbrung. Ternyata pertemuan antara teman lama adalah hal yang mengasyikkan. Berbagai cerita, nostalgia, kenangan dan romantisme masa lalu meluncur begitu saja diselingi gelak tawa. Sampai akhirnya dia bercerita tentang warungnya. Cuma warung kecil yang berjualan sambel. Selama lima tahun dia tekuni, dan sungguh mengejutkan saat dia bilang, “Ya, alhamdulillah, dari jualan sambel ini, sebulan bisa dapet omset sekitar 350an juta, kadang juga bisa lebih”. Gandrik, putune ki ageng selo! Lha mung dodolan sambel aja kok bisa segitu? Misalnya untung bersih 10 persen saja, lha gubernur saja kalah tuh penghasilannya. Sajak Pak Dee nggak percaya sama pendengaran Pak Dee, sampai kami berpisah. Pak Dee nyengklak Supra yang bulan lalu baru saja lunas kreditannya, sementara dia mak wusss, berlalu dengan opel blazernya, yang dari kenalpotnya tercium harum bau sambel bawang yang tadi Pak Dee nikmati bersama lezatnya wader goreng dan nasi panas.

Pak Dee masih penasaran, dan mencoba untuk bersilaturahmi kembali, dan menggali pengalamannya lebih lanjut, siapa tahu bisa memotivasi Pak Dee untuk membuka warung kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: