Merokok Itu Tidak Islami

Maret 14, 2007

Malam itu tidak gerimis. Tidak ada hamparan bintang-bintang di langit, semua tersaput oleh awan mendung yang menggantung sejak sore tadi. Namun tak satu tetes air hujan pun yang turun ke bumi. Sesekali angin bertiup agak kencang menerpa tenda Pak Dee, dan sesekali memunculkan suara terpal bergerak turun naik terkena angin. Tampaknya ekor badai George di negaranya John Howard ikut ngithik-ithik dewa angin di Ngajogjakarta Hadiningrat untuk sekedar show of force “Ini lho aku, yang bikin porak poranda Tegal Lempuyangan tempo hari”. Beruntung, Pak Dee pakai bohlam 15 watt, bukannya teplok, blencong atau senthir, sehingga kedatangan Eyang Maruto tidaklah mengganggu aktivitasnya.

Jam dinding dari rumah Kang Ihin di seberang jalan berdentang sepuluh kali. Tanpa terasa sudah sepertiga malam pertama terlewati. Warung Pak Dee masih sepi-sepi saja. Dari sehabis Maghrib tadi, baru sekitar lima belas bungkus nasi dan beberapa potong gorengan yang terjual. Dan hingga jam segini, bolo kurowo yang biasanya meramaikan warung Pak Dee belum juga muncul. Tak ada tanda-tanda batang ingus Lanang, Mas Klowor, Bedor dan kawan-kawannya. Pak Bawono tampaknya lagi sibuk nyusun kurikulum, dari kemarin tak keluar-keluar rumah, kecuali berangkat ke sekolahan. Lik Daman, lagi sibuk matun padinya yang mulai mrekatak. Mengisi kesunyian, Pak Dee nyetel tivi. Ada pilem londo, judulnya The Insider. Isinya kira-kira tentang seorang mantan pegawai pabrik rokok yang membeberkan rahasia tentang rokok. Kira-kira lho, soalnya Pak Dee nontonnya juga nggak khusyuk. Sesekali harus nyambi ngaduk jahe, ngipasi anglo, atau sekedar ngungak Bu Dee di belakang.

Terdengar suara riuh dan gelak tawa dari kejauhan yang makin mendekat ke warung Pak Dee. Haqqul yakin, dari suaranya Pak Dee tahu kalau bolo kurowo akhirnya muncul. Kali ini tak cuma bertiga, kira-kira sepuluhan orang ikut dalam rombongan. Wah bakalan sibuk nih Pak Dee nyiapain kopi jahenya. Mudah-mudahan saja mereka baru saja melakukan aktivitas yang lumayan berat, sehingga dagangan Pak Dee sekejap tandas untuk mengisi ulang energi mereka. Dan mudaha-mudahan juga, kantong mereka ada isinya, jadi ndak nambahnambahi daftar kas bon mereka. Bisa ciloko, kalau terjerat kredit macet!

“Kok sajak meriah, dari mana saja nih Mas Klowor” sapa Pak Dee begitu mereka sampai di Warung Pak Dee. Berhubung tempatnya ndak cukup, sebagian trimo nglesot di teras rumah Pak Dee yang tidak digelari tikar. Tikar yang biasanya digelar di situ tadi siang diompoli anak Pak Dee.

“Ada pengajian di kampung sebelah Pak Dee” Mas Klowor yang menjawab

“Kok tumben rame-rame, biasanya kalau ada pengajian itu yang semrinthil ibu-ibu. Lha ini kok yang muda-muda ikutan semangat. Kayak habis nonton sorot saja”

“Kebetulan ustadnya nyeleneh Pak Dee, namanya Wahid El Worpresi. Lah materinya juga aneh, Bagaimana Merokok yang Islami.” Wahid El Worpresi memang aneh orangnya. Pak Dee saja bingung, apa layak disebut ustad, lha wong ngomonge kadang sakpenake wudele mbokdhene. Tapi itulah, sekarang kalau ndak nganeh-anehi ya ndak digagas orang.

“Lha memang ada tuntunan merokok dalam Islam? Setahu Pak Dee, Islam ndak kenal itu rokok. Makanya ada yang bilang boleh, ada yang makruh, ada juga yang ngotot haram”

“Ya embuhlah, lha wong dianya juga nyitir beberapa potong ayat Al-Qur’an kok”, timpal Lanang “Ya diothak-athik gathuk gitu.”

“Kalau yang saya tangkap sih, si ustad wahdegleng tadi sebenarnya mau bilang bahwa merokok itu dengan segala alasannya tidak dapat diterima akal sehat. Cuma tahu sendiri kan, kalau sebagian besar perokok itu adalah muslim, bahkan banyak juga ulama yang merokok” Mas Klowor sok bijak memberikan pendapatnya, “kalau dibilang memberikan tuntunan merokok yang Islami, itu bisa-bisanya bahasa dia saja, karena sebenarnya hal tersebut tidak pernah dituntunkan”

“Tapi kan ndak perlu repot-repot nafsir ayat Kang. Salah-salah malah keblondrok, atau digebuki yang nggak sejalan dengan pikirannya. Malah jadi kontra produktif. Nanti akan ada tafsir untuk hal-hal lain yang nggak ada tuntunannya, atau bahkan menghalalkan sesuatu yang haram. Sekarang, ada merokok islami, natinya bukan tak mungkin ada berzina islami, mencuri islami, korupsi islami, mabuk islami. Rak malah bubrah to?” Lanang kali ini protes

“Waduh embuhlah, kalau sampai di situ, ilmuku ndak nyandak. Lha wong mung blantik wae kok. Coba tanya Kang Bedor yang mambu-mambu pesantren itu”

“Walah, lha wong santri mogol kok disuruh ngomong soal agama dan dalil-dalilnya. Lha wong baca Qur’an saja plegak-pleguk kok. Menurutku sih, tidak ada itu merokok yang islami. Yang ada merokok itu sama sekali tidak islami karena menandakan kita jauh dari rasa bersyukur. Sudah dikasih paru-paru, jantung dan organ tubuh yang sempurna, kok dengan sadar dirusaknya. Tanya Cak Moki atau Mas Dani kalau nggak percaya. Atau sudah punya senyum kinclong berkilauan, yang bisa bikin deg-degan sang pujaan hati, lha kok malah dengan sukarela dikuningisasi dengan tar dan nikotin. Tuh, Jeng Evy yang tahu persis jawabannya. Lha sekarang, kalau sampeyan memberikan baju yang bagus kepada teman sampeyan, terus di depan sampeyan baju itu dia sobek-sobek, kayak si Tukul nyobek-nyobek mulutmu, apa sampeyan nggak nggregesi?” Saking semangatnya, Kang Bedor nggak sadar kalau sarungnya agak melorot.

“Kalau sampeyan ngomprong mulut sampeyan di depan saya, terus nyebul abab ke udara di sekitar saya, apakah itu suatu perilaku yang menghormati tetangga sampeyan? Menebarkan penyakit dan polusi ke orang-orang sekitar sampeyan? Katanya juga ada lebih dari 4000 bahan kimia dalam rokok. Dan kalau dihitung-hitung, mudharat merokok jauh lebih besar dari manfaatnya. Sekarang kita pikir, apakah orang yang tidak bersyukur atas nikmatNya bisa disebut islami, apakah orang yang menganiaya sekitarnya bisa disebut islami, apakah orang yang berbuat kesia-siaan bisa disebut islami? Tanpa harus berdalil pun, dengan berbagai alasan merokok itu tidak islami” Kang Bedor nerocos sambil sesekali membetulkan sarung melorotnya.

“Lha terus apa perlunya ustad wahid el mengeluarkan dalil merokok yang islami, kalau sebenarnya dia juga anti rokok?”

“Lha embuh kalau yang itu, urusan dia lah. Donya akhirat tanggungan dia, aku nggak melu-melu.”

Alhamdulillah, Pak Dee nggak pernah tergoda untuk menjual rokok di warung Pak Dee…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: