Ketika Lelaki Masuk Ke Dapur

Maret 14, 2007

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Pak Dee masuk dapur. Bukan melulu masuk dapur nyari nasi atau lauk, tapi betul-betul memasak. Maklum, Pak Dee besar di lingkungan Jawa yang sangat konservatif, dimana kaum lelaki diharamkan masuk dapur. Setiap kali anguk-anguk dapur, sudah dibentak oleh simbah “Wong lanang ora mlebu pawon, ndhak kethuk” Padahal sampai sekarang Pak Dee nggak tahu juga, apa definisi kethuk. Kali semacam kena kutuk gitu ya? Kalau nggak, sewaktu masih kecil, dilarang keras dekat-dekat dandang atau memegang munthu. Sungguh sial nasib seorang anak yang ngrubuhke dandang atau mematahkan munthu, harus rela dipangan Bethoro Kolo. Kalau nggak mau diuntal Jusuf eh Bethoro Kolo, ya si anak harus diruwat, ditanggapke wayang dengan dalang khusus ruwatan, bersama-sama dengan sukerto yang lain seperti ontang-anting, kedhono-kedhini, uger-uger lawang, pendhawa, sendang kapit pancuran, pancuran kecemplung sendang, dan lain-lainnya.

Sedikit beruntung, Pak Dee memiliki ibu yang cukup memiliki wawasan ke masa depan. Begitu tidak lagi serumah dengan simbah, aturan yang melarang lelaki masuk dapur dicabut. Bahkan bukan cuma diperbolehkan masuk, tetapi juga dibolehkan untuk beraktivitas di sana, sepanjang tidak ngrusuhi kerjaan ibu. TApi walaupun sudah dibolehkan, tetep saja Pak Dee males setengah mati masuk dapur, kecuali kalau kadung lapar dan masakan belum sempat disajikan di meja makan, terpaksalah Pak Dee nglurug tanpo bolo ke dapur untuk menjemput sang sumber energi dari sana. Jadi sampai usia berkepala tiga, Pak Dee belum berkesempatan atau belum berminat untuk masuk dapur, masak ini masak itu. Memang enak, ngertingerti langsung ngemplok, kalau kurang manis, kurang asin, kurang sedep tinggal komplain.

Maka, sewaktu keterpaksaan itu datang, mau tak mau Pak Dee harus masuk dapur. Ceritanya Pak Dee dan Bu Dee selaku pasangan muda, berniat untuk mengibarkan bendera sendiri. Nekat-nekatan jadi kontraktor, misah dari orang tua, meski dengan modal pas-pasan. Lha kebetulan, kami pindah rumah pada saat si kecil masih dalam buaian, kira-kira berumur dua mingguan. Bisa dibayangkan, belum ada pengalaman untuk momong, maklum anak pertama, kecuali hanya dari hasil baca-baca dan melihat pengalaman orang lain. Harus mengurus keluarga sendiri dalam kondisi finansial yang pas-pasan. Tanpa pembantu, tanpa pengasuh bayi, semuanya dikerjakan sendiri. Maka horor itupun berlanjut.

Si kecil tak selamanya bisa dijagakke ritme biologisnya. Dan ia membutuhkan kehadiran mamanya hampir di setiap saat. Apalagi dengan keputusan kami untuk memberikan ASI eksklusif buatnya, sehingga mama harus selalu siap setiap saat. Tak peduli apakah lagi masak atau mandi, si kecil mbeker, mama dalam hitungan detik harus berada di sampingnya. Untuk mengurangi kerepotan, maka kami tak pernah memasak sendiri, cukup beli ke warung Bu Yen, yang cukup bisa diandalkan untuk mengganjal perut saat sarapan. Untuk makan siang dan makan malam, masih banyak pilihan yang bisa ditemui di sekitar kantor Pak Dee, atau di sepanjang perjalanan pulang.

Suatu ketika, Bu Yen pulang kampung ke Palembang. Ndak tanggung-tanggung, 2 bulan. Mampuslah aku. Maka mulailah kami memasak sendiri. Semula, Bu Dee yang memasak, namun suatu ketika, si kecil betul-betul ndak bisa ditinggal, sementara harus ada yang meneruskan memasak di dapur. Maka dengan rodo-rodo kepekso, Pak Dee beranjak ke dapur. Lhadalah, gandrik, sak umur-umur ndak pernah masak. Jangankan meracik bumbu, lha wong membedakan mana tumbar mana mrico saja nggak bisa. Masih mujur bisa tahu beda bawang dan brambang, minimal dari warnanya. Lha ini kok njuk kudu masak. Akhirnya terpaksa sambil bengak bengok tanya sana tanya sini, lari sana sini, menunjukkan hasilnya, ngicipke. dengan susah payah mateng juga itu sop sama tempe goreng. Padahal mung sop sama tempe goreng lho!

Tak cuma sekali dua kali hal itu terjadi. Berulangkali terjadi. Kadang baru setengah matang, tugas memanggil Bu Dee. Bahkan kadang belum sempat ngiris brambang, si kecil sudah mberek-mberek. Alah bisa karena biasa, kata orang melayu. Practice make perfect, kata londo. Setelah beberapa lama, makin mahirlah Pak Dee. Tak cuma bisa membedakan mana tumbar mana mrico, tapi sudah mulai bisa meracik bumbu sendiri. Sudah berani sedikit-sedikit bereksperimen dan mengambil keputusan sepihak dalam menentukan selera dan cita rasa. Lama kelamaan, lha kok ternyata asyik juga ya bermain-main di dapur. Nggak jauh beda dengan utak-atik di lab.

Jadilah Pak Dee ketagihan, sampai sekarang pun, Pak Dee masih asyik-asyik saja berkutat di dapur. Ndak cuma goreng tempe atau sop lagi, sudah banyak jenis masakan yang Pak Dee coba. Ada yang berhasil, banyak pula yang gagal. Rasanya nggak karuan, ramene pol. Manis asem asin, sajake ketetesan kringet Pak Dee. Namun sehebat-hebatnya Pak Dee masak, ternyata belum mampu mengalahkan kehebatan kangmas Pak Dee yang di Lembah Tidar. Masakan Pak Dee masih terbatas untuk kalangan sendiri.

Pesan Pak Dee buat kaum lelaki: jangan pernah menganggap bahwa urusan dapur adalah dunia perempuan. Banyak hal menarik yang bisa diperoleh di sana. Cobalah, dan percayalah, memasak tidaklah semudah yang kita bayangkan, sekedar goreng sreng sreng sreng, plang-plung plang-plung, mateng, mlebu weteng. Perlu seni dan sense tersendiri. Anda akan bisa lebih mengerti dan memahami istri dan keluarga anda.

Pesan Pak Dee buat kaum perempuan: berikanlah hak dan kesempatan seluas-luasnya para lelaki untuk mengakses dapur anda. Sukur-sukur, kalau mereka tertarik dan sesekali mengambil alih tugas anda, maka anda akan mempunyai waktu luang lebih untuk sekedar merawat kuku-kuku anda. Jangan khawatir akan terbongkarnya rahasia mark up belanja anda, atau jangan khawatir kalau ternyata pada suatu saat nanti, ternyata suami anda lebih piawai dalam meracik bumbu dan meramu menu. Bisa anda manfaatkan untuk buka restoran sendiri. Anda manajernya, suami anda kokinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: