Singkat Kata Singkat Cerita, Cerita Tentang Kata-Kata Yang Disingkat

Maret 12, 2007

Sampeyan pernah masuk ke lingkungan militer? Atau setidaknya pernah berinteraksi dengan militer? Atau setidaknya pernah lewat di depan kompleks militer? Atau pernah baca berita atau artikel yang berkaitan dengannya? Sumpah mati, sampeyan pasti sudah pernah dengar istilah Secapa, Secaba, Ajenrem, Makorem, Seskoad, Sespim, Koarmatim, Kolinlamil dan lain-lain. Hampir semuanya singkatan. Pak Dee nggak tahu, siapa yang pertama kali memulainya. Tapi sungguh, tak ada jabatan, instansi, unit kerja atau apapun yang tak ada singkatannya di ketentaraan di republik ini. Kebetulan, mertua Pak Dee kerja di lingkungan Akademi Militer, kangmas Pak Dee juga ada di institusi pendidikan milik yayasan yang sangat erat kaitannya dengan Mabes TNI. Jadi Pak Dee cukup akrab dengan singkatan-singkatan semacam itu.

Pak Dee tidak ingin menyorot lembaga yang hobi menyingkat itu, salah-salah nanti Pak Dee ikut-ikutan disingkat. Pak Dee cuma sering geli saja melihat banyak yang ketularan membuat singkatan. Coba saja, hampir semua departemen dan kementrian memiliki unit kerja atau direktorat yang sangat nyaman untuk disebutkan dengan singkatannya. Depdiknas memiliki Dikdasmen, Dikti, Diklusepora, Dikmenum, Dikmenjur. Hampir tak ada lembaga pemerintahan yang tak bisa disingkat. Pak Dee tak tahu, apakah kebiasaan ini memang lazim di seluruh belahan dunia, atau khas milik bangsa ini?

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah. Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersnyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang. Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang). Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo. Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang, Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta, Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) saja.

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat. Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza, atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di de Paster alias Depan Pasar Terban. Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong? Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak. Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter. Soal singkatan yang ngeres-ngeres, silahkan tanya sama Wongso Subali (Wonge Ora Sepiro S***ne Sak Bal Voli), atau Minakjinggo (Miring Kepenak, Njengking Nggih Monggo). Naik bis kota oke-oke saja, lha wong Sumuk Ra Kringeten je.. (S***ne didumuk yen ora keri jan kebangeten)

Pak Dee cuma pesen, silahkan sesukanya nyingkat kata toh beberapa memang jadi enak untuk diucapkan. Tapi mboknya jangan sampai menyingkat UMR to, atau menyingkat dana rekonstruksi, dana bencana, biaya operasional sekolah, apalagi sampai menyingkat umur rakyat. Naudzubillahi min dzalik…

Tambahan seko Kang Kombor:

Yang mulai siapa kalau bukan nenek-moyang dulu? Coba saja macam theyong kemiling (senthe dhotong dhekemi maling), burnas kopen (bubur panas kokopen) sampai sing njijiki macam icip turi (tai lancip metu keri), ipak tusik (tai gepak metu dhisik).

3 Responses to “Singkat Kata Singkat Cerita, Cerita Tentang Kata-Kata Yang Disingkat”


  1. […] dari iseng di warung sego kucing saya yang sudah kukut, dan ulun ulangi di sini. Ternyata kata-kata itu bagaikan anak panah, sekali dilepaskan, dia tak akan pernah kembali. Dan […]

  2. kangbas Says:

    Simbah dulu nyebut anak kecil yang lagi nangis dengan Littel Bondi. Kirain nama keren, ternyata singkatan “S*lite gatel klebon wedhi”..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: