Beras Orgasmik

Maret 12, 2007

Obrolan di warung sego kucing Pak Dee malam itu masih juga berkisar seputar beras. Yang harganya tak mau juga turun meskipun sudah digelontor operasi pasar. Turun sih, tapi masih terlalu tinggi untuk kantong paspasan pengunjung setia warung Pak Dee. Kalu sedikit beruntung, dapat juga bonus kutu atau tengu. Lumayan buat tambahan protein hewani. Idhep-idhep ngirit lawuh.

“Lha itu baru beras pasaran Pak Dee, kalau beras organik, harganya malah semakin melangit” celetuk Pak Bawono, yang malam ini tampaknya lagi kelegan, sehingga jam delapan malam sudah methekut ngemploki jadah goreng. Atau Bu Bawono lagi males masak?

“Halah, Pak, kalau harga beras organik, ndak usah dibahas. Itu urusannya orang-orang yang keceh dhuwit” sahut Mas Klowor agak sengit

“Maksudku bukannya kita mau membeli itu, lha wong beras cap tengu wae kadang masih harus diganjel telo atau nasi aking kok. Berhubung harganya mahal, apa nggak sebaiknya petani diarahkan untuk menanam beras organik tersebut, biar penghasilannya meningkat”

“Itu ide tipe pejabat Pak, gedhang awoh pakel, mudah diomongkan, pelaksanaan di lapangannya setengah modar”

“La piye to Kang?”

“Lha wong petani sudah lama dicekoki dengan benih, pupuk kimia, pestisida, tata niaga yang mbelgedhes, yang semuanya diatur pemerintah, lha kok mak jegagik disuruh nanam gaya organik. Opo ora setengah mati ngrubah pola pikir dan budaya mereka? Lha mengko belum berhasil ngerubah pola bertani mereka, selak kaliren Pak. Boro-boro penghasilane meningkat, eh malah ambegane sekarat”

“Hayo mboko sithik tho, pemerintah kan isine wong-wong pinter, mosok kalah sama elesem yang sudah berhasil mengubah pola bertani binaannya”

Mak bedhungus, Lanang muncul dari belakang, terus nimbrung

“Walah-walah, kok sajak rame. Ngobroli apa to?”

“Iku lo nang, soal beras organik” Jawab Pak Dee sambil nepasi jadah bakar pesenan Mas Klowor

“Kalau aku nggak begitu tertarik beras organik je. Aku malah punya anganangan bikin beras orgasmik”

“Lhadalah, opo maneh iki. Pantesan wae ra lulus-lulus. Lha wong pikirannya kotor gitu. Dasar utek buntel cawet” Mas Klowor sajak anyel

“Sampeyan itu yang ngereng Mas. Karepku, beras orgasmik itu adalah agar semua pihak yang berurusan dengan beras ini bisa memperoleh kepuasan yang luar biasa. Ya petani, ya pedagang beras, penyalur sarana produksi, pemerintah, konsumen beras. Semuanya puas, semuanya orgasme”

“Oooo… Tak pikir yen sampeyan makan beras itu terus syahwat sampeyan mumbul-mumbul sundul langit. Jebule kata kiasan to?” Pak Bawono sambil sajak mlenggong

“Terus selama ini memang nggak memuaskan to Mas Lanang?” Kali ini Pak Dee yang penasaran

“Memuaskan, tapi cuma bagi orang-orang tertentu Pak Dee. Spekulan beras dan pupuk, tikus-tikus birokrat. Sementara petani dan konsumen beras menjerit. Ibaratnya, mereka diperkosa. Orang diperkosa mana bisa orgasme?”

“Lha terus langkah nyatanya gimana Mas? Jangan cuma berwacana sambil tebar pesona saja…”

“lha yo kuwi, aku sing ndak ngerti carane. Sajake memang harus lulus kuliah dulu ya..” Mas Lanang cuma bisa garuk-garuk kepala

Semua cep klakep, aras-arasen meneruskan diskusi ini. Atau sudah pada kadung orgasme menikmati sego kucing Pak Dee ya, sehingga nggak semangat lagi ngobrol sana sini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: