Beras Rp. 10.000/kg pun Masih Terlalu Murah!

Februari 23, 2007

Baru seminggu Pak Dee buka warung sego kucing, eeh, tahu-tahu sudah menghadapi masalah yang mau tak mau berpengaruh besar pada perkembangan kerajaan bisnisnya. Harga bahan baku sego kucing naik edan-edanan!! Yang kemarin dulu masih di bawah lima ribu, tahu-tahu tadi pagi Bu Dee nempur di Mbok Tugi sudah ganti harga, jadi enam ribuan. Gandrik, putune Ki Ageng Selo. Lha terus Pak Dee harus jual berapa sego kucinge? Mau dinaikkan, mosok baru seminggu kok sudah membuat kebijakan yang tidak populer? Bisa kepaten obor pasarku. Kalau ndak dinaikkan? Opo gelem kolormu nggo tombok Pak Dee? Jian, diamput tenan… Akhirnya Pak Dee bikin keputusan sulit, harga sego kucing disesuaikan, dari karo tengah ewu, jadi dua ribu, bonus sego sakkepel, sama oseng teri sak jumput. Tak lupa Pak Dee bikin pengumuman besar-besar ditempel di sisi kiri kanan warung Pak Dee, bunyinya: 

BERHUBUNG ADANYA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKU YANG DILUAR JANGKAUAN DAN KEKUASAAN SAYA, MAKA DENGAN INI HARGA-HARGA MAKANAN DI WARUNG PAK DEE TERPAKSA MENGALAMI PENYESUAIAN. HARGA AKAN DITINJAU KEMBALI APABILA SITUASI SUDAH NORMAL KEMBALI. HARAP PARA PEMBELI MAKLUM ADANYA. 

Dalam kondisi seperti ini, Pak Dee ndak banyak berharap dapat meningkatkan omset jualannya. Bisa bertahan seperti hari-hari kemarin saja sudah sangat alhamdulillah. Sebenarnya, selama seminggu ndhasar, sudah ada beberap pengunjung setia yang hampir tiap malam thethek di warung Pak Dee, terlepas apakah mereka sekedar methongkrong, ngobrol ngalor ngidul, atau sekedar ngopi, atau memang benar-benar keluwen dan memerlukan pertolongan pertama pada kelaparan. 

Sebut saja Mas Klowor. Sejak soft opening, dia setia menemani Pak Dee jogo warung. Bahkan kadang-kadang Pak Dee titipin untuk sekedar njaga sewaktu ditinggal Pak Dee isya di mesjid dekat rumah. Mas Klowor ini sudah tidak terhitung muda, usianya sekitar 35an, tapi masih bujangan. Sehari-hari pekerjaannya makelaran, calo, broker, perantara, atau apalah istilah yang sejenisnya. Mulai dari tanah kapling, tanah sawah hingga kuburan, semua diembatnya. Juga mobil sedan, pick up, bis, truk, sampai bajajpun dia untal. Tivi, vicidi, hingga hape pun dia ndak nolak. Filosofinya, asal membawa keuntungan, kenapa tidak? Ternyata dia masuk dalam karakter GAMAWATI, alias Gaya Makelaran Waton Bathi. Dia kalau sudah cerita, kata-katanya bagaikan hujan disuntak dari langit. Entah nggedebus atau nyoto, semua bisa menjadi cerita yang sangat menarik di mulut dia. Mungkin memang gawan bayi, cocok dengan kemakelaran dia. 

Ada lagi Mas Lanang. Pak Dee sering cukup memanggilnya dengan Nang. Dia saat ini masih jadi mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas swasta di Jogjakarta. Kalau sudah bicara soal idealisme, orangnya luar biasa semangatnya. Seolah-olah semua koruptor mau ditelan habis dalam waktu semalam. Memangnya kamu keturunan Bandung Bondowoso ya Nang? Tapi… sudah hampir tiga tahun ini dia menyandang predikat mahasiswa tingkat akhir, alias tidak segera berakhir status kemahasiswaannya. Entah karena idealismenya, atau memang otaknya ndak terlalu encer (Pak Dee sering berpikir, jangan-jangan idealisme yang dia gembor-gemborkan itu hanya untuk menutupi ketidakmampuannya menyelesaikan kuliah. Ah, jangan negative thinking lah!), atau memang dia ndak cocok lagi dengan jurusannya. Lha wong teknik elektro kok yang dibicarakan sehari-hari justru urusan negara, opo dulu ndak salah jurusan? 

Salah satu pengunjung setia lainnya adalah Bedor. Nama aslinya Abdurrahman, namun oleh teman-temannya lebih sering dipanggirl Bedor. Seorang santri mogol. Sempat beberapa tahun mondok di pinggiran Magelang. Ndak tahu entah bagaimana sejarahnya, dia desersi dari pondoknya, dan pulang kampung. Untunglah, dalam kemogolannya, clekopannya seringkali memunculkan inspirasi dan pencerahan bagi orang-orang, walaupun terkadang kedengaran aneh dan ngoyoworo. 

Sesekali datang juga Pak Bawono. Beliau menyempatkan singgah barang setengah jam, biasanya kalau sudah menjelang tengah malam. Sekedar mengusir kepenatannya nglembur tugas-tugas sekolahnya. Sebagai seorang guru, kadang Pak Dee melihat beliau ini kelihatan terlalu sibuk. Apalagi belakangan ini, Pak Bawono sedang ketiban jejibahan menyelesaikan Masternya di salah satu Universitas Negeri. 

Malam ini, Pak Dee kedatangan tamu istimewa. Jam menunjukkan pukul 22.55 menit. Acaranya Thukul keplok munyuk di salah satu tivi suwasta yang dipasang di warung Pak Dee sudah usai. Sementara masih asyik ngobrol sambil jegang Mas Klowor, Lanang dan Bedor. Pak Dee ndak begitu memperhatikan obrolan mereka, karena lagi sibuk nepasi anglo untuk memanaskan wedang jahe. Mendadak terdengar suara agak parau menyapa: 

“Pak Dee, nyuwun didamelke jahe panas setunggal nggih?” 

Pak Dee mendongakkan kepala, memandang sang tamu 

We lhadalah, kok njanur gunung temen Kang Daman, saking tindak pundi meniko?” 

Ternyata yang datang adalah Kang Daman. Kang Daman bukanlah warga perumahan tempat Pak Dee tinggal, namun seorang warga kampung di sebelah perumahan Pak Dee. Seorang petani tekun, mungkin mewarisi ketekunan moyangnya, Mbah Kasan Uwuh, atau juga bapaknya, Pakdhe Karto Dhubruk, yang menekuni tetanen mulai dari jaman kolobendhu sampai saat ini. Pak Dee cukup mengenal keluarga ini, karena sebelum pindah ke perumahan, masa kecil Pak Dee dihabiskan di kampung itu. Dan salah satu teman sepermainnya adalah Kang Daman. 

“ Ah, mboten teng pundi-pundi kok, cuma mau ngelep sawah” 

“ Lho, apa sudah waktunya tandur to Kang? Rak hujannya belum begitu banyak to?”

 Meskipun Jakarta sudah megap-megap klelep, tapi di sini ternyata masih larang udan. Dulu sempat beberapa kali hujan, terus habis itu seperti kapok, lama ndak turun hujan. 

“ Lha gimana lagi Pak Dee. Kalau ndak ngurit sekarang, nanti malah ndak bisa nanam padi, rak ciloko

Kang Daman membetulkan posisi duduknya. Sementara pengunjung yang lain mulai beralih perhatiannya kepada Kang Daman. 

“Kemarin, waktu habis grebeg besar, saya sudah ngurit Pak Dee. Eh, jebule hujan cuma sehari, habis itu panas terus. Ya sudah, uritan saya jadi brondong beras. Dua minggu kemudian, saya ngurit lagi, terdorong oleh cuaca yang kelihatannya mulai murah hujan. Eh, uritan baru tumbuh sak kilan, kering lagi”

Kang Daman nyruput jahenya. 

“Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ketiga kalinya. Apapun yang terjadi, saya harus berhasil menanam padi. Ya sudah, seminggu yang lalu saya ngurit lagi benih sepuluh kilo, ngutang di kiosnya A Yong. Cuma kali ini, saya ndak ingin gagal. Saya ndak njagakke hujan dari langit. Kalu butuh air, yang terpaksa ngelep sawah. Untungnya yang punya sawah di kampung saya juga punya pikiran yang sama. Jadilah kami berombongan sekampung nurut banyu ke hulu bendungan” 

“Sik kang” Mas Klowor nyelo, “Lha terus yen sampeyan nyari air itu modele gimana to kok harus mengerahkan orang sekampung? Apa ndak model giliran diatur airnya, hari ini untuk petak lor kampung, besoknya untuk wetan kampung, besoknya lagi untuk kidul kampung? Kan enak kalau diatur gitu” 

“Lha maunya memang gitu mas. Tapi ya kepripun maneh? Lha wong yang butuh air lebih banyak dari airnya kok. Dulu, paling-paling cuma kita yang nanam padi yang butuh air. Lha sekarang, ada yang make buat ngingu urang, ada juga yang diambil untuk bikin air minum terus dijual. Pokoke rebutan wis.”  Kang Daman kembali nyeruput jahenya yang tinggal seperempat gelas.  “Makanya, biar komanan air, kami sekampung mengamankan jatah kami. Mulai dari saluran utama di selokan mataram, ditempatkan masing-masing dua orang di setiap gejlik, untuk menjaga agar ndak dibunteti orang lain. Bisa dihitung, kalau setiap 200 meter ada satu gejlik, sementara jarak selokan mataram dengan sawah lor ndeso kira-kira 15 km. Opo ora kudu sak kampung kerig kabeh?”  “Pernah ndak Kang, pas njaga gejlig ada yang nekat mbunteti dan mengalihkan alirannya” Lanang urun rembug. 

“Walah, bukan cuma pernah lagi Mas Lanang. Hampir tiap kali nurut banyu, selalu saja ada pertengkaran dengan kelompok lain. Pernah juga kami nyaris pacul-paculan dan plathok-plathokan ndhas, gara-gara seorang petambak mbunteti gejlig dan membelokkan air ke kolamnya. Pokoke serem, wani nurut banyu, yo kudu wane getakane, yen perlu wani matine.Sak dumuk bathuk sak nyari bumi.”  Tanpa diminta, Pak Dee ngejog wedang jahe Kang Daman yang sudah tandas di mejanya. 

“Ya begitulah nasib kami mas. Sudah pranotomongso ndak bisa digugu lagi. Giliran nanam, pupuk ndak ada, direwangi adol sapi. Eh, nggolek banyu ndadak toh nyawa. Ngono yo ora ono jaminan, panene berhasil. Kalau pas lagi apes, belum sempat panen sudah digrumuti tikus. Atau ambruk ditelan wereng. Pas giliran panene ndadi, e lha kok gabahe didol yo ora mbejaji. Lha njuk golek pepulihe kapan? Sungguh mas, kalau ndak kepekso, rasane kok yo abot, kalau harus bergantung dari tetanen kayak gini. Tapi ya kepripun maneh? Lha wong bisanya cuma bercocok tanam” 

Malam semakin senyap. Kang Daman beranjak dari tempat duduknya. Sambil manggul pacul dan membawa sentolop dia melanjutkan perjalanannya ke sawah. Bergabung dengan saudara-saudara senasibnya untuk sekedar memperebutkan air. Mempertahankan kehidupan. Sebenarnya, bukanlah kehidupan mereka saja. Tapi kehidupan kita juga, yang sehari-hari bergantung kepada tetesan peluh mereka. 

Mendadak, Pak Dee merasa, betapa enam ribu atau bahkan sepuluh ribu adalah terlalu murah untuk menghargai tetes keringat mereka. Untuk menghargai tekad mereka menyabung nyawa. Pak Dee merasa, betapa banyak butir-butir nasi yang tersia-sia. Betapa, sebutir nasi yang terbuang hari ini, ibarat setetes darah yang mengalir dari urat nadi Kang Daman dan kawan-kawannya. 

Mendadak, betapa tersentuhnya rasa keadilan Pak Dee. Betapa marahnya Pak Dee, bahwa kenyataannya, bahkan bila Pak Dee harus membayar sepuluh atau dua puluh ribu untuk sekilo beras, mereka tidak akan pernah menjadi kaya. Mereka tak akan pernah bisa menikmatinya. Pihak lainlah, tengkulak-tengkulak berwajah setan, dan birokrat bermental iblislah yang menikmatinya. 

Pak Dee rela, sepuluh atau duapuluh ribu untuk sekilo beras. Asalkan untuk Kang Daman dan kawan-kawannya. Tapi sungguh, Pak Dee ndak akan pernah ikhlas, lima atau enam ribu untuk sekilo beras, hanya untuk mengenyangkan nafsu bejat tengkulak-tengkulak busuk, dan tikus-tikus birokrat keparat  Tanpa sadar, Mas Klowor, Lanang dan Bedor telah hilang dari depan mata. Tinggalah jalanan depan rumah yang sunyi senyap. Pak Dee dengan gundah ngukuti dagangannya, seiring dengan turunnya gerimis mengiringi suara burung malam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: