Pak Dee Buka Warung Sego Kucing

Februari 21, 2007

Setelah sekian lama menimbang-nimbang, akhirnya Pak Dee dan Bu Dee sepakat untuk membuat warung tenda di depan rumah. Hanya sebuah tenda plastik biru kecil, dan meja beroda yang kalau pas nggak dipakai jualan bisa didorong ke dalam. Sementara tempat duduknya Pak Dee gelarkan tikar plastik lesehan di teras rumah. Dagangannya pun nggak banyak. Hanya sekedar sego kucing, dengan lauk kadang-kadang oseng-oseng teri atau tumis godhong kates, plus secuil lauk telor dadar atau tempe bacem. Ditambah menu wajib gorengan, sate usus, sundukan ndhog gemak, jadah, bakmi goreng dan beberapa jenis makanan ndeso lainnya. Biar afdol, Pak Dee juga menyajikan wedang jahe dan teh bagi mereka yang ingin sekedar mampir ngombe. 

Keputusan untuk ndhasar ini tak datang ujug-ujug. Perlu rembugan dan diskursus yang cukup lama antara Pak Dee dan Bu Dee. Terkadang juga melibatkan urun rembug tetangga sebelah, atau konco ngobrol di pos ronda atau di arisan erte. 

+ “Lha pak, opo yo nggak ngisin-isine, ing ngatase sampeyan itu sudah dianggap cukup mapan, kok ndadak kakehan pertingsing bikin warung koboi segala to?”  Itu yang pertama kali terlontar dari mulut Bu Dee saat Pak Dee mengungkapkan idenya. 

– “Ngisin-isini piye to Bu, lha wong yo dagangan barang halal kok. Idhep-idhep bikin kesibukan buatmu, daripada di rumah nglangut mung nableki laler sambil ngilani latar 

+ “Opo ndak ada bisnis lain yang lebih bergengsi to?” 

– “ Aku realistis kok Bu, wong urip rak butuh makan? Wis to, selama kita jualan makanan, pasti semua orang butuh. Asal rasanya nggak ngoyoworo, dan harganya masuk akal, pasti payune. Wis to, percoyo wae sama feelingku”  +”Lha nanti kepiye sawangane tonggo Pak?” 

– “ Halah, rasah digagas. Biar saja mereka ngondho sana sini. Ntar kalau sudah meniren rak yo diam sendiri. Yang penting kita usaha halal dan tidak merugikan orang lain. Rak iyo to Bu?” 

 + “ Iya juga yo Pak. Waton awake dhewe ndak nyolong jupuk atau korupsi, kenapa harus malu? Lha wong yang korupsi sekian trek aja malah bangga kok. Yang sudah kadung nggembol duwit negara saja owel kalau disuruh ngembalikan kok”

 – “ Lha gene bojoku wis pinter tenan  + “ Ah, Bapak iki lho, ono-ono wae”, Sambil tidak lupa tangan Bu Dee bergerak lincah nyiwel lengannya Pak Dee. 

– “ Sik to, kok njuk pake njiwit-njiwit segala”Tak kalah lincahnya Pak Dee berkelit menghindar dari serangan maut Bu Dee, yang memang terkenal tajam kukunya. Sekali diciwel, bisa dipastikan seminggu masih berbekas merah bak terkena cakaran Nyai Sima Lodra. 

Maka jadilah, berbekal tabungan seadanya, Pak Dee mulai membangun kerajaan bisnisnya. Warung sego kucing Pak Dee dibuka mulai jam 17.00, dan tutupnya ndak tentu. Kadang kalau sudah habis, jam sepuluh sudah kukut. Kadang sampai jam dua malam, masih banyak yang belum terjual. Atau jam sembilan malam sudah harus kukut gara-gara huan angin campur lesus. Pokoknya ndak tentu deh. Disinilah, Pak Dee dan Bu Dee betul-betul disadarkan akan artinya berusaha, berdoa, dan berserah diri kepadaNya. Kalau memang pas rejekinya, ya lancar. Tapi kalau pas seret, ya gimana lagi? Beruntung, dari glidhig Pak Dee, setidaknya asap dapur Bu Dee masih terus mengepul, terlepas dari seret lancarnya rejeki warung sego kucing Pak Dee, dan Bu Dee tak perlu khawatir kendhile bakal ngguling. Setidaknya dalam waktu dekat ini lho, entah lama-lama nanti. Kita tunggu saja, apakah warung sego kucing Pak Dee tetep terus buka, atau kukut lebih cepat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: