Kaliku Wis Ilang Kedhunge

Februari 9, 2007

Ribut-ribut soal banjir, aku jadi teringat rumah orangtuaku di tepian kali Progo. Kampung halaman di mana hampir lebih 30 tahun aku menghabiskan waktu di sana. Perlu diketahui, kali Progo memang menjadi pembatas geografis kampungku, sekaligus perbatasan akhir Mbantul dengan Kilen Pragi. Di tepi barat kampungku, Progo memiliki lebar bervariasi sekitar 200 – 400 m (sorry, aku nggak pernah ngukur pastinya berapa), dengan kedalaman yang juga bervariasi.

Waktu kecilku, hampir sebagian hari-hariku dihabiskan di Progo. Mulai dari bermain bola di pasir, memancing, gogoh ikan, em-ce-ka atau sekedar lelangen dan bermain-main dengan teman sebaya. Masih kuingat, dua puluhan tahun yang lalu, Progo adalah sungai yang menakjuban, dengan lubuk-lubuknya yang tenang di musim kemarau, serta riak gelombangnya di musim penghujan. Di musim kemarau, debit air yang berkurang mengakibatkan munculnya hamparan-hamparan pulau pasir di tepi dan tengah sungai. Tempat yang paling mengasyikkan untuk bermain bola, bermain istana pasir atau sekedar leyeh-leyeh tiduran di atas pasir. Salah satu permainan yang paling kami suka adalah membuat jebakan pasir, di mana kami membuat lubang sedalam betis, kemudian ditutup dengan ranting kecil dan dedaunan, dan diatasnya ditutupi dengan pasir, sehingga tak ada yang mengira bahwa di bawahnya ada lubang. Beruntung, saat itu nggak ada yang patah kaki akibat kejeblos, paling-paling cuma dipisuh-pisuhi sang korban. Kalau sudah gitu, kami berlarian sembunyi di balik pepohonan di tepi kali.

Musim kemarau adalah rahmat bagi kami. Saatnya pesta ikan. Berbagai cara dan metode kami lakukan untuk menangkap ikan. Dari yang paling primitif, cukup ambyur di dalam kali, dengan tangan kosong memijat-mijat pasir, eh tahu-tahu dapet ikan yang lagi sembunyi di pasir. Atau apabila aliran sungai terbelah jadi dua akibat munculnya pulau pasir di tengah, kami membendung salah satu aliran tersebut. Untuk membendungnya, kami menggunakan batang-batang pisang, kemudia ditumpuki dengan pasir. Kadangkala, beberapa anak kecil kami “korbankan” menjadi tanggul hidup untuk menahan aliran air sebelum tanggul pasir berhasil kami buat. Setelah terbendung dan air surut, maka mulailah menggelepar ikan-ikan yang kekeringan. Tinggalah kami memungutinya satu persatu dan merentengnya dengan lidi (waktu itu plastik masih jadi barang mewah). Untuk mbendung kali, biasanya mengerahkan 20an anak. Cara lain dengan nawu genangan air yang terbentuk akibat terisolirnya air tersebut dengan aliran utama oleh pulau pasir. Selain itu cara-cara yang menggunakan alat seperti mancing, njala atau njaring sesekali juga kami lakukan.

Ada satu cara yang cukup unik yang sampai saat ini cukup mengesankan di benakku. Kami menyebutnya sebagai nyuluh. Dengan 4 atau 5 anak, beralatan lampu petromaks kami menyusur kali dari hilir. Masing-masing anak membawa senjata berupa clurit. Ikan-ikan yang tertarik dengan cahaya akan mendekat, dan saat itulah, ayunan clurit akan menebas tubuh ikan. Kadang tak cuma ikan, kodok ijo pun ikut kebabat. Kami turun ke kali selepas Isya, dan biasanya naik setelah kurang lebih 3 jam di kali. Kalau beruntung kami dapat seember penuh ikan, yang selanjutnya digoreng atau dibakar beramai-ramai di salah satu rumah kami. Kalau pas musim telo, biasanya dipakai sebagai lawuh telo godhog atau telo bakar. Kalau pas musim mangga, kadang kami iseng nyambit mangga yang tumbuh di pinggir kali juga.

Intinya, saat itu kali menjadi sahabat yang sangat baik dan memanjakan kami. Bahkan pada saat banjir besarpun, kali masih menjadi sahabat kami. Beberapa teman, dengan gagah beraninya justru memanfaatkan momen banjir besar itu untuk suatu petualangan yang mereka sebut sebagai “nunggang alun”, alias naik ombak. Tak ada rasa takut dan cemas di wajah mereka, karena mereka tahu persis cara-cara mengendalikan diri di atas ombak itu.

Lalu, bagaimana kaliku sekarang?

Sejak pasir ditambang habis-habisan atas nama pembangunan, perlahan-lahan permukaan air kaliku turun. Dan repotnya, turut mengajak juga permukaan air sumur turun. Saat ini mungkin sudah lebih dari tiga meter penurunan muka air kali. Pasir-pasir yang terhampar sudah tidak ada lagi. Jangankan untuk bermain bola, berjalan di kali saja sudah sulit karena tinggal dipenuhi bongkahan-bongkahan batu. Ikan yang dulu sangat mudah ditangkap, saat ini bersembunyi entah ke mana. Dulu, sekali menebar jala, satu kilo ikan terangkat. Sekarang, sekali menebar jala, seminggu harus nyulami akibat sobek sana sini terkait batu. Tidak ada kedhung lagi, air hujan yang tertampung langsung bablas amblas ke laut. Musim kemarau, tinggalah aliran kecil sungai yang dipenuhi lumut-lumut dan kotoran. Kaliku bukan lagi sahabat yang menyenangkan. Kaliku telah ilang kedhunge…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: