Paradoks Dunia Olahraga Indonesia: Mau Sehat, Kok Paru-paru Sekarat???

Januari 17, 2007

Salah satu tujuan orang berolahraga adalah menjaga dan meningkatkan kebugaran tubuh. Dengan kebugaran tubuh yang terjaga, tentunya penyakit ogah bersarang di tubuh kita, serta kita lebih mudah menjalankan aktivitas sehari-hari seperti bekerja, beribadah, berkebun dan lain-lainnya. Tujuan yang lain: prestasi dan prestise. Dengan prestasi yang tinggi, seorang atlet mampu menjunjung harkat dan martabat diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya. Siapa yang tak bangga apabila negara ini mampu merebut Piala Dunia? Kalau terlalu muluk, ya cukup banggalah kita bisa ngeloni Piala AFF (Sudah empat kali, masih saja gagaaal). 

Lain halnya, apabila olahraga sudah mulai bersinggungan dengan bisnis yang memanfaatkan olahraga. Jujur saja, kegiatan olahraga tidak mungkin bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dana yang kuat. Coba hitung, berapa dana yang sudah dikeluarkan untuk seorang Taufik Hidayat, atau seorang Utut Adianto meretas prestasi di tingkat dunia. Atau berapa miliar rupiah yang dihamburkan oleh PSSI, mulai sejak proyek PSSI Garuda, Primavera, Baretti sampai super liga yang nggak ketahuan juntrung prestasinya. Dari mana kira-kira dana itu diperoleh? Tentu dari sponsor. Masalahnya, sponsor selalu memiliki misi di belakang ketulusannya memberikan dana. Tak ada makan siang yang gratis, demikian kata orang
sana. Sebagai institusi bisnis, tentunya tidak ada serupiahpun yang akan dikeluarkan, tanpa adanya timbal balik yang memadai. Sponsor memberikan dananya untuk kegiatan olahraga, tentu dengan harapan bisa meraup untung baik secara langsung maupun tidak langsung dari event tersebut. Baik berupa peningkatan penjualan produk, atau sekedar meningkatkan brand image perusahaan tersebut.
 

Sayangnya, salah satu industri yang paling banyak mengobral dana di dunia olahraga adalah perusahaan rokok. Tengok saja sejarah kita, hampir semua major event selalu ada stempel rokoknya: Liga Dunhill, Liga Kansas, Liga Djarum, A-Mild Kobatama, Sampoerna Hijau Pro-Liga, Marlboro GP 500, Marlboro Superbike, Gudang Garam A-1 Grand Prix, dan masih banyak lagi. Padahal jamak diketahui bahwa rokok adalah salah satu penyebab kematian yang cukup dominan menurut WHO. Inilah paradoksnya: Kita disuruh menonton, atau melibatkan diri untuk berolahraga, tapi disisi lain tanpa hentinya kita dicekoki untuk menjadi ahli hisap. Salut buat beberapa negara yang telah melarang branding rokok pada berbagai kegiatan olahraganya (dan kegiatan lain pada umumnya). Bagi kita di sini, bagaikan mimpi di siang bolong. Karena hanya industri rokoklah yang memiliki cukup dana dan bersedia untuk membiayai event-event olahraga. Selain itu pragmatisme dari penyelenggara event untuk tidak mau merugi akibat tidak ada sponsor yang mampu mendukung pendanaan. Sikap pemerintah yang mendua terhadap industri rokok juga berpengaruh pada kondisi seperti sekarang ini. Jadi, silahkan nikmati olahraganya, dan petik manfaat kesehatannya, tapi jangan ambil rokoknya.

One Response to “Paradoks Dunia Olahraga Indonesia: Mau Sehat, Kok Paru-paru Sekarat???”


  1. /???????????

    by.parta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: