Engkau menangis, dunia pun menangis …

Desember 22, 2006

Ibuku sudah hampir memasuki usia 67 tahun. Di usia yang sudah tidak bisa dianggap muda itu, atau bahkan sudah dibilang tinggal menunggu panggilan-Nya, ibuku masih terlihat segar, lincah dan sehat. Walaupun gurat-gurat ketuaan mustahil bisa disembunyikan dari wajahnya.Ingatanku melayang ke masa lalu. Waktu aku kecil, tak pernah sekalipun aku terpisah darinya. Kemanapun ibu pergi, aku senantiasa “nginthil” dibelakangnya, sambil memegangi erat ujung selendangnya. Aku masih ingat, betapa sengsaranya waktu ibu harus mengikuti penataran seminggu di Kaliurang, dan meninggalkanku di rumah bersama kakak-kakakku. Ibuku pula yang senantiasa membela dan melindungiku dari kenakalan kaka-kakakku. Waktu kecilku, aku memang sangat mudah menangis, sehingga menjadi obyek kenakalan kakak-kakakku. Aku hanya bisa menangis dan sesenggukan di pelukan ibu, tatkala ketiga kakakku menakaliku.

Sewaktu aku sakit, ibu selalu disampingku. Aku ingat, dua kali harus opname di rumah sakit, beliau sama sekali tidak pernah sedikitpun beringsut dari sisiku. Bahkan saat aku telah kuliah, dan harus rawat inap, ibuku pun tak pernah meninggalkanku. Ditinggalkannya pekerjaan kantornya demi bisa menunggui aku.

Sampai sekarang, kalau aku hitung, mungkin tak cukup seluruh batu kerikil di depan rumahku untuk menghitung kebaikan ibuku padaku. Sungguh, entah apa yang bisa kulakukan untuk membalas ketulusannya. Pernah aku mencoba menolak uang pemberiannya, dengan harapan agar uang itu bisa dimanfaatkan untuk beliau membeli sesuatu, dan toh aku juga sudah punya penghasilan sendiri, dengan berlinang airmata ibu seolah menjawab: ”Ya sudah, kalau memang keikhlasan ibu tidak lagi kamu butuhkan…”. Saat itupun aku peluk ibuku, dan aku sadar bahwa aku tidak akan pernah lagi menolak pemberian ibuku, sekecil apapun. Karena aku tahu, itulah yang diinginkan oleh ibu, sebagai wujud kasih sayangnya, ketulusannya…

Ibu, sungguh aku belum mampu membalasmu, dan tak akan pernah mampu. Seorang pemuda yang tiap hari memanggul ibunya yang lumpuh sampai pecah-pecah kakinyapun, dikatakan Rasulullah belum sepadan dengan yang telah diperbuat oleh ibu, apalagi aku, yang tak pernah melakukan sesuatu yang berarti bagi ibuku, bahkan sekedar untuk menyenangkan hatinya, melihatnya tersenyum…

Ibu, maafkan anakmu. Tersenyumlah, jangan menangis, karena dunia pun akan menangis, seiring jatuhnya air matamu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: