<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tancep Kayon</title>
	<atom:link href="http://tancepkayon.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tancepkayon.wordpress.com</link>
	<description>Sinambi Kalaning Nganggur - Ciken Apdet Blog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jan 2012 08:05:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tancepkayon.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tancep Kayon</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tancepkayon.wordpress.com/osd.xml" title="Tancep Kayon" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tancepkayon.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Wisanggeni Gugat 5: Rantai Emas Prabasini</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2010/06/11/wisanggeni-gugat-5-rantai-emas-prabasini/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2010/06/11/wisanggeni-gugat-5-rantai-emas-prabasini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 18:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/2010/06/11/wisanggeni-gugat-5-rantai-emas-prabasini/</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari keinginan Bathara Guru untuk membersihkan ngarcapada dari unsur-unsur yang bisa merongrong kewibawaan Jonggringsalaka, beliau memerintahkan segenap jajaran dewa untuk membinasakan Werkudara, Arjuna, Antasena dan Wisanggeni. Bathara Bromo diperintahkan untuk menyerahkan cucunya, Wisanggeni, hidup atau mati, sementara Dewasrani, putra Bathari Durga ditugaskan untuk membinasakan Werkudara, Arjuna dan Antasena, dengan iming-iming menggantikan predikat Arjuna selaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=127&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bermula dari keinginan Bathara Guru untuk membersihkan ngarcapada dari unsur-unsur yang bisa merongrong kewibawaan Jonggringsalaka, beliau memerintahkan segenap jajaran dewa untuk membinasakan Werkudara, Arjuna, Antasena dan Wisanggeni. Bathara Bromo diperintahkan untuk menyerahkan cucunya, Wisanggeni, hidup atau mati, sementara Dewasrani, putra Bathari Durga ditugaskan untuk membinasakan Werkudara, Arjuna dan Antasena, dengan iming-iming menggantikan predikat Arjuna selaku lelananging jagad. Bathara Narada, yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan itu, diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya operasi. Bersama Masna dan Panyarikan, kedua anaknya, Bathara Narada medhak ngarcapada untuk memastikan bahwa Bathara Brama patuh menjalankan perintah Bathara Guru…<br />
</em></p>
<p>Setelah bertarung beberapa saat, tampak Gatotkaca mulai kepayahan, dan akhirnya memilih mundur.
</p>
<p>&#8220;Dimas Wisanggeni, sejuta maaf, aku nggak bisa memenuhi janjiku melindungimu. Aku kewalahan menghadapi Panyarikan. Serangannya luar biasa, sementara aku tak mampu membalasnya&#8221;
</p>
<p>&#8220;Kenapa Kang?&#8221;
</p>
<p>&#8220;Lha setiap aku mau megang kepalanya, tubuhku malah terbanting. Tampaknya kodratku sebagai titah memang tidak mampu menyentuh kepala Bathara Panyarikan&#8221;
</p>
<p>&#8220;Wo, dasar kurang pengalaman. Menghadapi dewa itu ada trik-triknya. Nggak sembarangan bisa nggrayang tubuhnya, apalagi kepalanya.&#8221;
</p>
<p>&#8220;Lha terus gimana, Dhi?&#8221;
</p>
<p>&#8220;Aku kasih tahu rahasianya. Titah itu tidak bisa menyentuh bagian atas tubuh para dewa. Bisanya ya cuma nyerang bagian perut ke bawah.&#8221;
</p>
<p>&#8220;Jadi aku nggak bisa nguntir kepala Panyarikan kang?&#8221;
</p>
<p>&#8220;Libur nguntirnya dulu Dhi. Kalau mau ngantem kepalanya, sembah dulu tiga kali, baru ngantem sekali. Kalau mau ngantem lagi, ya nyembah tiga kali lagi.&#8221;
</p>
<p>&#8220;Oo, jadi nyerang bawah dulu ya Kang. Baik, aku coba lagi ya. Tapi Kangmas mau nanggung kan, kalau triknya gagal&#8221;
</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, kalau gagal, kepalaku taruhannya&#8221;
</p>
<p>Dengan semangat baru, Gatotkaca pun kembali maju ke medan laga, menyongsong Bathara Panyarikan yang sudah bersiap-siap menghadapinya. Tanpa banyak kata, Gatotkaca langsung menyerang kepala Panyarikan. Namun sebelum tangannya menyentuh sasaran, dengan tiba-tiba dia membelokkan arah kepalan tangannya ke perut Panyarikan yang terbuka. Panyarikan terhempas ke belakang. Tanpa menunggu lagi, Gatotkaca segera menyembah tiga kali dan disusul dengan hantaman telapak tangannya ke kepala Panyarikan. Tak ayal lagi, tubuh panyarikan terlontar sejauh dua puluh depa dan terjatuh tepat di depan kaki kakanya, Bathara Masno. Bathara Masno tak tinggal diam. Dimintanya Panyarikan untuk mundur, dan diapun menggantikan posisi Panyarikan menghadapi Gatotkaca. Pertempuran kali ini benar-benar imbang. Kedua pihak tampaknya sudah sangat tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun lama-lama Masno pun terdesak, setelah Gatotkaca terus menerus menyerang perutnya. Menyadari hal yang semakin gawat, Bathara Narada pun lari meminta bantuan Bathara Yamadipati.
</p>
<p>Yamadipati baru klepas-klepus menghabiskan ududnya yang kesekian, tatkala Bathara Narada tergopoh-gopoh menjumpainya.
</p>
<p>&#8220;Dasar Yamadipati ra urus. Kayangan geger, malah klempas-klempus di bawah pohon&#8221;
</p>
<p>&#8220;Ada apa to Kangmas Narada?&#8221;
</p>
<p>&#8220;Lha kita mau nangkap Wisanggeni, malah tahu-tahu sudah diporak-porandakan oleh Gatotkaca. Semua dewa yang nglurug ke sana sudah terkapar. Sakit perut semuanya, dihajar oleh si Gatot. Semua gara-gara Wisanggeni yang membocorkan kelemahan dewa. Sekarang tinggal tugasmu, kuperintahkan untuk nyabut nyawa Gatotkaca, biar nggak ngerecoki kerjaan kita&#8221;
</p>
<p>&#8220;Waduh kang, kalau nyabut nyawa Gatotkaca, aku nyerah deh. Sejak dicemplungkan ke kawah Candradimuka, nyawanya telah diikat erat ke tulang iganya. Tak akan bisa dicabut sebelum waktunya tiba&#8221;
</p>
<p>&#8220;Ini perintah Bathara Guru, harus dilaksanakan! Dan ingat, barangsiapa yang bisa menyerahkan Wisanggeni ke Jonggringsalaka, hidup atau mati, maka dia berhak mengawini Dewi Mampuni. Aku tahu, kamu sudah sejak lama naksir dia. Kalau nggak sekarang, kapan lagi kamu punya kesempatan yang langka ini?&#8221;
</p>
<p>&#8220;Hah, jadi hadiahnya Dewi Mampuni kang? Wah kalau begitu, di mana sekarang Gatotkaca dan Wisanggeni. Sampai kapanpun akan aku layani mereka! Bawa aku ke medan pertempuran sekarang juga kang! Demi Mampuni, rasakan kepalan tanganku Gatotkaca!&#8221;
</p>
<p>Yamadipati segera melesat menuju Gresilageni. Naluri dan ego kelelakiannya mengalahkan rasionalitasnya bahwa sangat sulit untuk mencabut nyawa seorang Gatotkaca dan Wisanggeni, yang semasa kecilnya telah digodog di kawah Candradimuka. Namun bayangan akan Dewi Mampuni di dalam pelukannya, membuatnya lupa segalanya.
</p>
<p>&#8220;Gatotkaca, kalau boleh aku sarankan, mundurlah sekarang juga, sebelum aku bertindak&#8221;
</p>
<p>&#8220;Aku takkan mundur, sampai putus leherku&#8221;
</p>
<p>&#8220;Dasar tak tahu diuntung, aku cabut nyawamu!&#8221;
</p>
<p>Yamadipati segera menyerang Gatotkaca, yang dengan trengginas mencoba mengimbangi setiap serangan Yamadipati. Namun ternyata tak berbeda jauh dengan dewa-dewa lainnya, kelamahan Yamadipati dengan segera dapat terbaca oleh Gatotkaca. Tanpa berlangsung lama, Yamadipati terdesak dan memilih meninggalkan gelanggang. Narada menghampiri Yamadipati.
</p>
<p>&#8220;Gimana ini, kok kalah juga? Gak jadi dapat Mampuni? Padahal dia sudah berharap dapat bersanding denganmu lho&#8221;
</p>
<p>&#8220;Ampun wo Narada, soal bidadari, lebih baik aku cari yang lainnya, daripada harus menghadapi Gatotkaca&#8221;, jawab Yamadipati sambil beringsut pergi menahan sakit dan malu.
</p>
<p>Tak ada pilihan lain. Narada pun kemudian mengutus Bathara Indra untuk mencari Dewi Prabasini cucunya yang juga kekasih Wisanggeni, untuk dijadikan &#8220;rantai emas&#8221;, menangkap Wisanggeni. Segera Indra memanggil Prabasini, dan menyuruhnya menemui Wisanggeni sekaligus mengajaknya menghadap Bathara Guru. Prabasini tak punya pilihan lain. Posisinya yang sangat lemah memaksanya untuk mengikuti perintah eyangnya.
</p>
<p>(Bersambung)</p>
<br />Filed under: <a href='http://tancepkayon.wordpress.com/category/jagad-gumelar/'>Jagad Gumelar</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=127&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2010/06/11/wisanggeni-gugat-5-rantai-emas-prabasini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Garuda di Museum Provinsi Hubei</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/24/ada-garuda-di-museum-provinsi-hubei/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/24/ada-garuda-di-museum-provinsi-hubei/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 03:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Pin Garuda yang terpampang di salah satu ruang Hubei Provincial Museum Museum. Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata itu? Remang-remang, kusam, kuno, berdebu, atau bahkan sedikit kesan angker. Suatu tempat yang bukan merupakan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan. Suatu tempat yang dikunjungi karena keterpaksaan, entah tugas dari sekolah, atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=118&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_28708"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/imagegaruda2.jpg"><img src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/imagegaruda2-300x292.jpg" alt="Image of Garuda" width="300" height="292" /></a></div>
<div>Pin Garuda yang terpampang di salah satu ruang Hubei Provincial Museum</div>
<p>Museum. Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata itu? Remang-remang, kusam, kuno, berdebu, atau bahkan sedikit kesan angker. Suatu tempat yang bukan merupakan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan. Suatu tempat yang dikunjungi karena keterpaksaan, entah tugas dari sekolah, atau memang tiada tempat lain yang lebih layak dikunjungi. Buang-buang waktu, bongkahan batu kok ditonton, begitu kata teman saya beberapa tahun silam. Maka ketika sahabat baru saya, Liew Liu alias Leona, menyodorkan usulan untuk mengunjungi Hubei Provincial Museum, saya menanggapi dengan sekadarnya saja. Saya iyakan ajakan itu, sekedar menghormati kebaikan hati dia selama mendampingi saya di South Central University for Nationalities, Wuhan.</p>
<p>Sabtu pagi itu, cuaca sungguh bersahabat. Bahkan terlalu hangat untuk situasi penghujung musim gugur. Angin lembut bertiup, sementara matahari menampakkan diri dengan ramahnya. Janji kami pukul delapan berangkat dari kampus, namun terpaksa molor setengah jam gara-gara Tao alias Peter terlambat bangun. Maka rencana untuk menumpang bus umum pun gagal. Kami berempat, saya, Haizal, teman Malaysia saya, Tao dan Liu akhirnya menyetop taksi, yang 40 menit kemudian menurunkan kami beberapa puluh meter dari gerbang museum.</p>
<div id="attachment_28709"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/front.jpg"><img src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/front-300x250.jpg" alt="Di depan papan nama Hubei Provincial Museum" width="300" height="250" /></a></div>
<div>Di depan papan nama Hubei Provincial Museum</div>
<p>Hal yang sangat mengejutkan terpapar di depan mata saya begitu memasuki halaman museum. Antrian yang luar biasa panjangnya. Lebih dari dua ratus meter barisan manusia membentuk formasi ular. Penasaran, aku mencoba melihat counter yang ada di pintu masuk, saat itu sudah 617 pengunjung yang melewati gerbang masuk. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi di museum tanah airku. Berhubung antrian masih panjang, kami berbagi tugas. Tao dan Liu menunggu antrian, sementara saya dan Haizal asyik mengabadikan moment di depan museum.</p>
<p>Sekitar dua puluh menit kemudian, sampailah giliran kami untuk mendapatkan tiket masuk. Hebatnya, semua gratis. Ini jugakah penyebab panjangnya antrian, atau memang ada banyak hal menarik di dalam? Di atas loket disebutkan, pengunjung dibatasi maksimal 5000 orang per hari. Counter pada saat saya mengambil tiket menunjukkan angka 1242, berarti tadi ada lebih dari 600 orang yang berbaris di depan kami. Memasuki gerbang museum, pemeriksaan dilakukan dengan ketat, melebihi pemeriksaan keamanan bandara di tanah air. Tak sebarang cairan pun diperkenankan dibawa. Terpaksa satu botol air mineral yang ada di tas punggung aku relakan. Tas harus melewati X-ray detector, sementara orangnya pun wajib melintasi metal detector.</p>
<p>Sebelum memasuki museum, Liu mengusulkan kami untuk menyewa translator, karena dia sendiri tidak cukup pede untuk menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan museum. Awalnya saya menolak, karena menurut saya, lebih nyaman jalan-jalan sendiri tanpa harus diikuti oleh sang translator, dan toh sudah ada teks tertulis yang menyertai seluruh benda-benda yang dipamerkan. Namun, betapa kelihatan kupernya saya tatkala dipertontonkan sang translator, yang dalam bayangan saya orang, ternyata sebuah alat sebesar telepon genggam yang dilengkapi dengan headphone. Cukup dengan mendekatkan alat tersebut pada nomor ID benda yang dipamerkan, atau dengan memasukkan nomor identitas secara manual, maka alat tersebut akan memutar penjelasan mengenai sejarah benda tersebut dalam bahasa Inggris. Maka, 200 yuan pun berpindah dari tangan, untuk menebus alat itu selama tiga jam. Sebenarnya ongkos sewa hanya 30 yuan (sekitar Rp. 75.000), sisanya adalah jaminan yang nanti akan dikembalikan sewaktu kita selesai menggunakan alat tersebut.</p>
<p>Ada tiga bangunan di kompleks museum yang terletak di tepi East Lake, danau terbesar di Wuhan. Di sisi kiri terdapat Chu Culture exhibition hall, yang memuat pernik-pernik budaya negeri Chu. Termasuk di dalamnya terdapat pedang asli milik Guo Jian, raja dari negeri Wu. Terdapat pula beberapa kereta perang dan persenjataan yang berhasil dievakusi dari situs-situs setempat, yang kemudian direkonstruksi secara cermat untuk mendapatkan wujud yang menyerupai bentuk asalnya.</p>
<p>Bangunan kedua, yang terletak di tengah adalah bangunan utama. Di sini terdapat beberapa ruang pameran yang dibagi-bagi berdasarkan tema: keramik, kayu, logam, sejarah keberadaan manusia, serta ribuan relik yang diangkat dari kuburan kuno Marquis Yi. Salah satu peninggalan yang dianggap terhebat di museum ini adalah satu set alat musik yang terdiri atas 65 lonceng perunggu berlapis emas. Alat musik ini mencakup 5 oktaf, dengan ukuran fisik terbesar 153.4 cm dengan berat 203.6 kg. Menurut informasi yang tertera di museum, alat musik ini adalah hadiah dari Raja Hui dan dibuat pada tahun 433 SM. Meskipun telah terkubur selama lebih dari 2000 tahun, instrumen ini masih bisa dimainkan, dan pada saat tertentu digunakan untuk konser. Dalam gedung ini juga saya menemukan beberapa replika Java Man, alias pithecanthropus erectus, yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Sangiran abad silam. Setidaknya nama Sangiran, Ngandong, Trinil, Jawa dan Indonesia turut terabadikan di museum tersebut. Di salah satu bagian, terdapat sebuah pin emas berbentuk garuda. Di bawahnya terdapat tulisan yang memuat keterangan: <em>Image of Garuda. Garuda, a transcription of the Sanksrit garuda. The garuda is described as a huge, golden-winged bird of some sort that eats dragons. It is sometimes translated into English as griffin. It is the personal mount of Amoghasiddhi. It symbolizes the absolute reign of the ‘law-king’</em>.</p>
<div id="attachment_28710"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/trinil.jpg"><img src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/trinil-300x263.jpg" alt="Replika tengkorak pithecanthropus erectus" width="300" height="263" /></a></div>
<div>Replika tengkorak pithecanthropus erectus</div>
<p>Bangunan terakhir adalah gedung eksibishi untuk acara-acara yang sifatnya insidental atau temporer. Kami memutuskan untuk tidak memasukinya, selain karena pada saat itu tidak ada event, juga perut kami telah menyiratkan tanda-tanda lapar yang menggila. Kami memutuskan untuk mencari makan siang, halal food tentunya, untuk kemudian. melanjutkan perjalanan menuju Huazhong University of Science and Technology. Sebelum keluar gerbang museum, Tao dengan gesitnya menyempatkan diri mengambil empat botol air mineral sitaan petugas di dekat pintu masuk sebagai bekal di perjalanan.</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=118&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/24/ada-garuda-di-museum-provinsi-hubei/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/imagegaruda2-300x292.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image of Garuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/front-300x250.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Di depan papan nama Hubei Provincial Museum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2009/11/trinil-300x263.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Replika tengkorak pithecanthropus erectus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bola Itu Memang Bundar</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/23/bola-itu-memang-bundar/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/23/bola-itu-memang-bundar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:39:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/23/bola-itu-memang-bundar/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dulu aku yakin, musik dan olahraga adalah bahasa universal yang diterima seluruh penduduk di bumi ini. Di sini, aku kembali menemukan bukti pendukungnya. Radio kampus, yang dipancarkan melalui loudspeaker yang dipasang di tempat-tempat strategis, selalu mengumandangkan musik yang notabene bukan berbahasa Cina. John Denver, Frank Sinatra, sampai Natalie Imbruglia atau The Corrs, setiap hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=116&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dulu aku yakin, musik dan olahraga adalah bahasa universal yang diterima seluruh penduduk di bumi ini. Di sini, aku kembali menemukan bukti pendukungnya. Radio kampus, yang dipancarkan melalui loudspeaker yang dipasang di tempat-tempat strategis, selalu mengumandangkan musik yang notabene bukan berbahasa Cina. John Denver, Frank Sinatra, sampai Natalie Imbruglia atau The Corrs, setiap hari selalu mengalun, di samping beberapa lagu lokal yang diputar bergantian.</p>
<p>Olahraga, sungguh efektif untuk mengangkat harkat dan kebanggaan bangsa. Mata mereka pasti langsung berbinar-binar tatkala aku sebutkan nama-nama seperti Yao Ming, Lin Dan, Dong Fangzhou atau Sun Ji Hai. Beruntung masih ada nama Taufik Hidayat, sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang mereka kenal baik di Cina, tentu dengan reputasinya yang tak pernah menang melawan Lin Dan. Sayangnya, tak ada lagi yang bisa aku banggakan selain dia. Sewaktu mereka tahu Haizal dari Malaysia, mereka menyebut Lee Chong Wei, selain itu juga menganggap timnas sepakbola mereka hebat, berani menghadapi tantangan Manchester United. Saat itu, aku merasa sangat perlu mengutuk perbuatan biadab Nordin M Top dan kawan-kawan.</p>
<p>Malam itu, aku berniat mencari suasana lain, pergaulan lain. Kutinggalkan lab dan segala tetek bengeknya. Aku menuju ke sporthall. Ada 12 lapangan bulutangkis di sana. Dan semuanya terpakai. Mungkin ini sedikit jawaban, mengapa mereka hebat di bulutangkis. Mereka memang mencintainya, dan memainkan dengan penuh penghayatan. Terus terang, aku jadi nggak berani nonton lama-lama. Mereka terlalu hebat dan menggetarkan nyaliku untuk nimbrung. Aku bergeser ke lapangan basket. Keberhasilan Yao Ming menembus sirkus NBA tampaknya menginspirasi para pemuda untuk mencoba mengikuti jejaknya. Basket menjadi olahraga paling populer di sini. Ada lebih dari 30 lapangan, yang tersebar dalam 3 sentra di kawasan universitas ini. Dan semuanya selalu penuh. Talenta merekapun tak bisa dianggap remeh. Sekali lagi, aku tak mampu membesarkan nyaliku untuk terjun ke lapangan.</p>
<p>Aha, aku masih punya senjata rahasia. Bola voli. Meski tak hebat-hebat amat, pengalamanku tarkam dulu pasti masih mampu mengimbangi mereka. Aku menuju ke lapangan bola voli. Sial. Tak di Malaysia saja, di Cina ternyata bola voli bukan olahraga favorit. Mereka hanya main kalau tim universitas berlatih. Dan hari itu bukan jadwalnya. Jadilah tiga lapangan bola vli itu kosong melompong, hanya berisi 2 pasang muda-mudi yang baru dimabuk asmara. Akhirnya kulangkahkan kaki ke tempat terakhir, yang mungkin menjanjikan, lapangan bola. Setidaknya aku bisa lari-lari keliling di track atletik di sekitar lapangan bola.</p>
<p>Ada dua lapangan bola. Semuanya standar. Dikelilingi lintasan atletik dari lapisan tartan. Rumputnya sangat rapi. Terlalu rapi bahkan. Dan kemudian aku maklumi, karena ternyata rumput sintetis. Hanya ada beberapa orang bermain bola di sana. Sekelompok atlit sedang berlatih lari gawang. Di ujung lapangan, sekitar 12 orang sedang asyik memperagakan gerakan-gerakan taijikuan. Ada juga seorang kakek tua bersenam seorang diri, mengingatkanku pada sekumpulan lansia yang selalu bersenam jantung sehat setiap pagi di depan Purna Budaya. </p>
<p>Aku pun menuju ke area warming up. Melakukan strecthing. Seminggu tak menggerakkan badan, terasa sakit semuanya saat aku menarik dan mengulur otot-ototku. Tanpa sadar, dua gadis asyik memotret gerakan-gerakanku. Kemungkinan mereka dari jurusan Komunikasi atau Jurnalistik, karena setelah itu mereka mengabadikan gambar beberapa kelompok yang sedang berlatih. Aku menuju ke lintasan tartan. Perlahan-lahan melesat mengelilingi lapangan bola. Semakin cepat, dan semakin cepat. Enam putaran cukup untuk hari ini. AKu berhenti di belakang gawang. Cooling down.</p>
<p>Secara kebetulan, mereka yang bermain-main bola, sudah memulai game. Dan jumlah mereka kurang satu. Dengan gagah berani dan sok PD, aku mengangkat tangan, memohon permisi bergabung. Jadilah aku bermain bersama mereka. 30 menit sudah. Pada akhirnya kusadari, bermain bola di hawa dingin bukanlah perkara mudah. nafas selalu tertingal dua langkah dari kemauan untuk mengejar bola. Maka, di saat mereka masih segar bugar, terpaksa dengan berat hati akui pamit meninggalkan lapangan dengan wajah memerah dan napas tersengal-sengal. Pantas saja, Bambang Pamungkas tak kerasan di Belanda, pikirku. Ah, setidaknya 2 assist dan satu gol sudah mampu menjawab kerinduanku, aku menghibur diriku &#8230;</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=116&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/23/bola-itu-memang-bundar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis Laba-laba dari Xinjiang</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/21/gadis-laba-laba-dari-xinjiang/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/21/gadis-laba-laba-dari-xinjiang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 08:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Xinjiang, atau Daerah Otonomi Uygur Xinjiang terletak di perbatasan barat laut China seluas 1.66 juta km persegi, dihuni oleh 21 juta jiwa, dengan 60% diantaranya adalah kelompok minoritas di China. Terdapat 47 kelompok etnik di Xinjiang, Uyggur sebagai kelompok etnis utama, selain suku Han, Kazak, Hui, Mongol, Kirgiz, Xibe, Tajik, Uzbek, Manchu, Daur, Tatar dan Rusia. Agama mayoritas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=114&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Xinjiang, atau Daerah Otonomi Uygur Xinjiang terletak di perbatasan barat laut China seluas 1.66 juta km persegi, dihuni oleh 21 juta jiwa, dengan 60% diantaranya adalah kelompok minoritas di China. Terdapat 47 kelompok etnik di Xinjiang, Uyggur sebagai kelompok etnis utama, selain suku Han, Kazak, Hui, Mongol, Kirgiz, Xibe, Tajik, Uzbek, Manchu, Daur, Tatar dan Rusia. Agama mayoritas penduduk Xinjiang adalah Islam, diikuti kemudian Budha, Protestan, Katolik dan Tao.  Beberapa kelompok etnis masih menjalankan praktek animisme.</p>
<p>Cuaca begitu cepat berubah. Dalam konteks ini, cuaca memang layak disandingkan dengan kata-kata politisi atau suasana hati perempuan. Unpredictable! Dua hari yang lalu terang benderang, kemarin angin dingin dan kuat berhembus. Hari ini entahlah. Tapi apapun yang terjadi, rain or shine, aku harus nyuci. Stok pakaian bersihku tinggal berumur dua hari lagi. Dan sialnya, aku belum orientasi, adakah laundry koin macam di Malaysia, atau laundry kiloan macam di Jogja? Maka dengan segala keterbatasan, aku mencuci di wastafel kamar mandi. Beruntung, aku membawa sabun cuci sachet dari Indonesia, yang kata labelnya memiliki kekuatan 10 tangan. Baru kali ini aku mencuci dengan 12 tangan. Luar biasa!</p>
<p>Selesai mencuci, masalah berikutnya adalah jemuran. Setelah tengok kanan kiri, ternyata di depan jendela kamar ada besi melintang, yang memang umum dipakai untuk nyantelin cucian. Cuma, jaraknya lumayan dari jendela. Perlu keberanian ekstra untuk menjulurkan separuh badan dan menggapaikan tangan, meletakkan baju di jemuran. Sungguh karunia Allah yang tak terhingga, tinggi badanku sangat membantuku mengatasi kesulitan tersebut. Untung yang kedua, cuaca ternyata bersahabat. Matahari bersinar, ditingkahi semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan uap-uap air yang meninggalkan baju. Harapanku, habis asar nanti, semua cucian bisa kering.</p>
<p>Sambil leyeh-leyeh menunggu datangnya waktu makan siang, aku menyetel televisi di kamarku. Ada 5 channel, semuanya bahasa China. Nggak mudheng aku. Cuma kadang-kadang memang ada yang berbaik hati, ngasih subtitle bahasa Inggris. Bosan dengan cang cing cong yang tak ketahuan ngalor ngidulnya, aku memilih menggauli laptopku. Hiburan terlengkap yang aku punyai. Novel, kartun, komik, film, lagu-lagu mulai dari jaman Nat King Cole sampai Letto, atau mulai dari genre heavy metal macam Judas Priest, sampai petikan gitar Jubing Kristanto, semuanya ada di sana.</p>
<p>Semakin siang, ternyata cuaca mulai berubah. Matahari masih tetap bersinar manis, tetapi angin mulai berubah liar. Kecepatan superfisialnya semakin meningkat. Membawa butiran-butiran air danau ke angkasa. Menjadikan hawa semakin dingin. Dari sudut mataku, seonggok bayangan hitam berkelebat ke bawah. Tapi aku tak begitu peduli, ah paling-paling jemuran tetangga di kamar atas jatuh. Kulihat jemuranku. Sial, beberapa baju posisinya bergeser ke tepi palang besi, yang artinya semakin jauh dari jangkauan tanganku. Atau mungkin bahkan tak terjangkau. Biarlah, dipikir nanti saja. Mudah-mudahan arah angin berbalik, dan baju-baju itu terdorong angin kembali ke tempat semula.</p>
<p>Mendadak terdengar ketukan halus di pintu kamarku. Ketukan yang tak lazim. Biasanya ketukan keras khas dari Pakcik Haizal, atau dari Peter. Kubuka pintu, sesosok tubuh berdiri di depan pintu. Maaf, aku tak biasa menilai dan mendeskripsikan makhluk perempuan dari fisiknya. Yang pasti, dia perempuan, dengan ukuran fisik normal. Itu saja.<br />
&#8220;Maaf, baju teman saya terjatuh, dan nyangkut di plafon bawah jendela anda. Bolehkah saya ambil melalui jendela anda?&#8221; Sapanya dengan bahasa Inggris yang cukup lancar untuk kategori mahasiswa Cina.<br />
&#8220;Silahkan, tapi tunggu dulu sebentar ya&#8221; Aku bergegas mengamankan barang-barang yang tak semestinya terlihat orang asing. Setelah itu aku persilahkan dia masuk. Pintu kamar tentu aku biarkan terbuka lebar.</p>
<p>Dia mendekati jendela yang memang sudah aku buka. Laptop di atas meja di depan jendela sudah aku singkirkan. Herannya, dia tidak membawa galah, kawat atau alat apapun. Di luar dugaanku, dia melompat keluar jendela, hinggap di atas plafon di bawah jendelaku, dan merambat ke ujung dinding, menggapai baju yang tersangkut di sana. Aku menahan nafas, mencoba untuk tidak membayangkan hal-hal buruk. Kamarku di lantai empat, sekitar 10 meter di atas permukaan tanah. Kalau Pak Kerto menek klopo, tibo iso dadi Janoko. Lha kalau ini, tibo opo ora dadi perkoro? Setarikan nafas kemudian, dia sudah masuk lagi melalui jendela. Sambil mengucapkan terima kasih, dia meninggalkan kamar. Meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong.</p>
<p>Seminggu kemudian. Selepas makan malam. Aku hendak masuk ke bangunan International Exchange, ketika sebuah suara memanggilku, &#8220;Ni hao, hallo&#8221;. Gadis laba-laba itu. Kemudian dia bertanya: &#8220;Are you Malaysian? Are you moslem&#8221; Aku paling benci kalau dituduh sebagai orang Malaysia, maka aku jelaskan dari mana aku berada. Alhamdulillah, dia tahu persis di mana Indonesia, dan tahu kalau Indonesia is the bigger country than Malaysia. &#8220;Kamu shalat kan? Rutin lima waktu?&#8221; tanyanya lagi. &#8220;Well, Insya Allah&#8221;, jawabku, sambil sedikit keheranan, darimana dia tahu kebiasaan seorang muslim? &#8220;Aku muslim juga, dari Xinjiang&#8221; katanya seolah tahu keherananku. Ooooo, kamu ketahuan &#8230;&#8230; batinku.</p>
<p>Selanjutnya dia memanggil beberapa temannya, yang ternyata komunitas muslim dari Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgistan, Turmenikstan dan beberapa tempat lain. Sayangnya, tak satupun di antara mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Kepada beberapa teman laki-lakinya, dia meminta untuk menjemputku hari Jum&#8217;at nanti untuk Jum&#8217;atan di tempat biasanya mereka melakukannya.</p>
<p>Xinjiang &#8230;. mungkin suatu saat nanti aku akan sampai ke sana &#8230;.</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=114&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/21/gadis-laba-laba-dari-xinjiang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Danau Asmara</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/20/danau-asmara/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/20/danau-asmara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Angin dingin musim gugur menerpa wajahku saat aku membuka jendela kamar dormitoryku. Masih cukup pagi, 6.30. Namun masih terlalu dingin juga. Terbayang dinginnya air shower, yang kebetulan pemanasnya rusak, menjadikan aku malas untuk segera beranjak ke kamar mandi. Kuterawangkan pandangan keluar jendela. Ribuan burung, entah apa spesies dan jenis kelaminnya &#8211; sumpah, aku bukan ahli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=110&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angin dingin musim gugur menerpa wajahku saat aku membuka jendela kamar dormitoryku. Masih cukup pagi, 6.30. Namun masih terlalu dingin juga. Terbayang dinginnya air shower, yang kebetulan pemanasnya rusak, menjadikan aku malas untuk segera beranjak ke kamar mandi. Kuterawangkan pandangan keluar jendela. Ribuan burung, entah apa spesies dan jenis kelaminnya &#8211; sumpah, aku bukan ahli soal perburungan!, terbang mengitari pepohonan di tepi danau di depan jendela kamarku.</p>
<p>Ada tiga danau di dalam kampus SCUN. Satu danau yang sangat luas, tepat di depan jendela kamarku. Dari tepi danau, kita bisa menyaksikan matahari tenggelam, asalkan tidak ada kabut yang turun. Berbatasan dengan jalan, ada danau buatan yang kecil, kira-kira seluas lapangan bola. Di tepi danau itu, tumbuh rapat tanaman seperti cypress. Sebagian pangkal pohonnya terendam air danau. Satu lagi, sebuah kolam yang lebih kecil, penuh ditumbuhi dengan teratai. Sayangnya, saat ini sedang tidak berbunga. Di tepi danau, banyak rumpun bambu menaungi bangku-bangku semen yang tampaknya disediakan untuk duduk-duduk berdiskusi, atau sekedar nongkrong.</p>
<p>Jadwal hari ini tak seberapa padat. Setelah semalam presentasi dan berdiskusi dengan Prof. Du, hari ini hanya kunjungan ke laboratorium lingkungan dan baca-baca literature. Jam 10, Lin Chong dan Leona akan membawaku ke laboratorium. Jadi masih cukup waktu untuk menikmati dinginnya pagi dengan segelas teh Tong Tji nasgitel.</p>
<p>Laboratorium lingkungan, tak lebih besar dari lab Fischer Trops yang kami kunjungi kemarin. Bedanya, hampir semua pelajar yang bekerja di lab ini berjenis kelamin perempuan. Hanya Lin Chong dan aku saja pejantan di sini. Tak ada yang menarik perhatian. Hanya segerombolan glass ware, timbangan, pH meter, fume hood dan perlengkapan standar lab lainnya. Kamipun tak menghabiskan waktu terlalu lama berada di sana. Segera aku ke ruanganku di lantai 7, dan menghabiskan hari yang membosankan tanpa internet itu.</p>
<p>Pukul 15.30, aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari semestinya. Hawa dingin, dan kandungan oksigen yang lebih tipis dibanding Malaysia atau Indonesia, membuat nafasku terasa berat dan kepala pun agak nggliyeng. Mungkin semacam inilah kalau bermain bola di La Paz, Bolivia.</p>
<p>Kalau biasanya aku melalui jalan besar yang membelah danau besar dan kecil dekat penginapanku, kali ini aku memutuskan untuk mencoba jalan lain. Kususuri jalan setapak yang mengitari kolam teratai, dan juga kolam kecil di sebelahnya. Jalan setapak yang berliku, di antara rerumpunan bambu dan rimbunnya cemara. Bangku-bangku yang tersedia di sana, tidak kosong lagi, seperti yang sekilas terlihat tadi pagi. Empat orang tampak asyik memegang kartu. Entah game apa yang mereka mainkan, truf, bridge, atau sekedar sam gong. Di sebelahnya, tampak tiga gadis sedang asyik berdiskusi. Mungkin tentang mata kuliah, atau bahkan tentang gosip artis kesukaan mereka. Aku tidak tahu apakah di sini ada program heboh ala infotainment di tanah air sana.</p>
<p>Makin mendekat ke sisi danau. GANDRIK! Putune Ki Ageng Selo! Tiga atau empat bangku selanjutnya, berisi masing-masing sepasang anak manusia berlainan jenis. Antara malu sendiri dan rasa ingin tahu, sambil melintas kulirik mereka. Tak hanya diam. Mereka beraktivitas, bercumbu. Sesuatu hal yang  sangat jarang ditemui di dalam kampus di Indonesia atau Malaysia. Kubuang jauh-jauh pandanganku, kuhapus pikiran-pikiran kotorku, dan bergegas kuambil langkah seribu. Hari itu, mendadak aku menjadi sangat rindu, kembali ke kampung halamanku &#8230;</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=110&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/20/danau-asmara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wuhan</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/19/wuhan/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/19/wuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 08:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[9 jam terkapar di Kuala Lumpur International Airport. Akhirnya China Southern Airlines CZ366 membawa juga badan wadagku meninggalkan tanah Melayu. Menuju negeri antah berantah yang tak pernah kubayangkan akan berada di sana. Cina, Republik Rakyat Cina. Entah takdir apa, yang akhirnya membawaku mendarat di Baiyun Airport, Guangzhou, setelah lebih dari empat jam terapung-apung di angkasa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=108&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>9 jam terkapar di Kuala Lumpur International Airport. Akhirnya China Southern Airlines CZ366 membawa juga badan wadagku meninggalkan tanah Melayu. Menuju negeri antah berantah yang tak pernah kubayangkan akan berada di sana. Cina, Republik Rakyat Cina. Entah takdir apa, yang akhirnya membawaku mendarat di Baiyun Airport, Guangzhou, setelah lebih dari empat jam terapung-apung di angkasa.</p>
<p>Baiyun Airport, Guangzhou. Melebihi dugaanku tentang sebuah negara bernama Cina. Sangat luas, modern dan mewah. Mungkin 3 kali lebih luas dari KLIA, berpuluh kali lipat dibandingkan bandara kebanggaan kota asalku, Adisutjipto. Kekhawatiran bingung dan tersesat sirna, melihat papan informasi dan penunjuk arah yang mencantumkan huruf-huruf yang sangat aku kenal, tidak hanya menampilkan gambar thokolan pencak yang sama sekali tak kumengerti. Ratusan atau bahkan ribuan manusia lalu lalang di antara terminal-terminal yang ada, namun tak membuat suasana crowded (sst&#8230; wartawan ka er nulisnya krodit) yang mengurangi kenyamanan. Suara dalam perut pun mengundang. Takut ada genjik yang nyasar masuk mulut, dan demi alasan kepraktisan, maka gerai makan siap saji mekdi pun jadi sasaran tembak. Harga? Standar. Cuma yang bikin heran, french fries ukuran besar, cukup dibanderol 1 yuan, alias 1500 perak!</p>
<p>4 jam menunggu, plus muter-muter sana sini urusan imigrasi, custom dan cek in untuk penerbangan lanjutan, B737-400 milik China Southern Airlines membawaku menuju Wuhan, di provinsi Hubei. Alhamdulillah, dapat pesan pendek via telepon genggamku dari Pahang, kalau nanti di Wuhan Airport ada mahasiswa dari South Central University for Nationality yang siap menjemput. Kekhawatiran menjadi tarzan masuk kota pun sirna. Dan aku baru tahu, kalau di sini DiGi lebih sakti ketimbang Maxis. Begitu menginjak airport, HP on, langsung sinyal DiGi muncul. Sementara Pakcik Haizal yang menggunakan layanan Maxis, masih harus ngutak atik setting di HPnya yang notabene jauh lebih canggih dari HPku, sebelum akhirnya menyerah tidak bisa mendapatkan international roaming. Hanya saja, satu SMS berharga 2 ringgit, jadi cukuplah kirim pesan kepada istri tertjinta kalau sang suami yang senantiasa dirindukan ini telah sampai di negerinya Zhang Ziyi, nir ing sambikala.</p>
<p>17.45 waktu setempat. 10 menit lebih lambat dari yang direncanakan, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Wuhan. Sebelum mendarat, sempat terlihat dari angkasa, kota Wuhan yang diapit beberapa sungai besar dan danau. Belakangan aku tahu bahwa salah satu danau itu berada di dalam kompleks SCUN, tepat di depan jendela kamar dormitory yang kuhuni. Urusan bagasi beres, tampaknya perlu dipertimbangkan lain kali untuk membawa koper yang berwarna mencolok agar mudah untuk menemukannya di tengah-tengah puluhan koper yang mayoritas berwarna hitam, di pintu keluar kami telah dicegat dua orang yang mengacungkan tulisan besar, font arial, size mungkin sekitar 200 pt, nama depan kami. Seorang lelaki, dengan badan tegap, mengenalkan diri sebagai Tao Congliang alias Peter, mahasiswa doktoral dari SCUN, dan seorang gadis, mudah-mudahan, dengan rok mini, kaki berbalut stoking dan mengenakan sepatu boot, menyalami kami sambil menyebut nama: Yuxi Lei alias Rosy. Dia adalah mahasiswa S1 tingkat akhir di SCUN.</p>
<p>Honda Accord keluaran tahun terakhir membawa kami melintasi jalan bebas hambatan menuju SCUN. Hari sudah gelap, kendaraan yang lalu lalang di jalan pun mulai berkurang. Agak aneh juga, melihat mobil berjalan di sebelah kanan, dengan sopir berada di sebelah kiri. Satu jam berlalu, sekitar 60 km jarak telah ditempuh. Sampailah kami di gerbang South Central University of Nationality. Rosy meminta sopir untuk tidak langsung memasuki kampus, namun menuju ke sebuah tempat. Ternyata sudah dipersiapkan welcome dinner untuk kami, di sebuah restoran yang tampaknya berkelas. Sebelumnya kami telah menyampaikan bahwa kami muslim, dan kami menolak segala makanan yang berbau genjik beserta turunannya. Mereka faham, dan di restoran dengan bijaknya memilihkan kami menu sup ayam, ikan, dan bebek panggang. Masalah berikutnya, mana sendoknyaaaa??? Terpaksa, mengetes keahlian japit menjapit dengan sumpit. Giliran menjapit bebek, nggak terlalu masalah. Cuma sewaktu bertanding dengan nasi, lhadalah, mawut kabeh. Beruntung, Rosy tahu masalah kami, dan berinisiatif memintakan sendok dan garpu. Tak menunggu hitungan menit, bablas bebeke!</p>
<p>Selesai makan, kami dibawa menuju ke tempat kami menginap, international transit dormitory, atau apalah namanya. Lantai empat, tanpa lift. Beruntung, Peter yang baik hati dengan suka rela memanggul koper ajaibku yang beratnya hampir mencapai 20 kilo. Melampaui harapanku, kami mendapat kamar sendiri-sendiri, bed ukuran jack (maksudnya di bawahnya king dan queen size), ber-AC, kamar mandi di dalam (tapi tidurnya juga di dalam, bukan kamar mandi dalam, tidur luar) plus water heater, TV 20 in, lantai parquet. Begitu Peter dan Rosy berlalu, aku mandi, shalat jama qashar, terus ngringkel di bawah selimut, menahan dinginnya udara akhir musim gugur di Wuhan&#8230;</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=108&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/11/19/wuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lahire Wisang: Lelakoning Urip (bag. 1)</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/06/29/lahire-wisang-lelakoning-urip-bag-1/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/06/29/lahire-wisang-lelakoning-urip-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 21:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[LAHIRNYA WISANG: SEBUAH PERJALANAN HIDUP Sabtu, 13 Juni 2009 Sudah sejak pukul delapan pagi, Dewi mengeluhkan perut yang mulai tersa nyeri. Kontraksi terasa semakin sering dan berkelanjutan. Bukan braxton hicks, ini kontraksi beneran, katanya. Kami menunggu sampai Jasmine bangun, sarapan dan siap untuk berangkat ke klinik. Pekerjaan pertama sebelum berangkat adalah membujuk Jasmine untuk membatalkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=105&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAHIRNYA WISANG: SEBUAH PERJALANAN HIDUP</p>
<p>Sabtu, 13 Juni 2009</p>
<p>Sudah sejak pukul delapan pagi, Dewi mengeluhkan perut yang mulai tersa nyeri. Kontraksi terasa semakin sering dan berkelanjutan. <em>Bukan braxton hicks, ini kontraksi beneran,</em> katanya. Kami menunggu sampai Jasmine bangun, sarapan dan siap untuk berangkat ke klinik. Pekerjaan pertama sebelum berangkat adalah membujuk Jasmine untuk membatalkan acara belanja di Giant, dengan upeti akan dibelikan Play Doh, adonan mainan, pada kesempatan belanja berikutnya. Alhamdulillah, Jasmine mau mengerti, bahkan exciting mendengar bahwa adik sudah mau lahir.</p>
<p>Pukul sebelas, kami telah sampai di klinik yang hanya memakan waktu kurang dari 8 menit dari kediaman kami. Sabtu adalah hari libur. Beruntung selalu ada staf paramedis yang on call. Dewi menghubungi nomor ponsel yang tertera pada papan yang tertempel di pintu masuk unit gawat darurat. <em>Sekejap ya, </em>dia meminta kami menunggu sebentar. Dan lima menit kemudian seorang paramedis datang. Membukakan pintu unit ibu dan anak, kemudian mempersilahkan Dewi masuk. Aku memarkir mobil, kebetulan Auditya baru pulang ke Indonesia dan dia mempersilahkan aku memakai mobilnya sewaktu waktu, kemudian bersama Jasmine menyusul masuk ke ruang tunggu unit ibu dan anak.</p>
<p>Tak lama kemudian, datang lagi 2 paramedis. Yang satu berseragam, tampaknya baru saja pulang dari kunjungan ke rumah pasien. Satu lagi, berpakain preman, he..he.., bersama suaminya. Tampaknya perawat yang pertama mengkontak mereka untuk ikut menangani Dewi. Mereka segera menyusul masuk ke ruang periksa. Sementara aku mulai menurunkan tas berisi pakaian new born, dan juga perlengkapan Dewi, yang sudah ia persiapkan sejak sebulan silam.</p>
<p>Setengah jam berlalu. Jasmine mulai bosan berada di ruang tunggu, dan aku biarkan ia bermain-main di teras klinik. Akhirnya, Dewi keluar juga dari ruang periksa. <em>Baru bukaan dua, pulang dulu aja,</em> katanya, <em>nanti pukul 4 disuruh ke klinik lagi untuk dilihat perkembangannya</em>. Seluruh &#8220;peralatan perang&#8221;kembali aku masukkan ke bagasi. Jasmine nggak mau diajak pulang, dia kepingin ke Giant, dan menagih Play Doh-nya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Giant, sekalian belanja untuk jaga-jaga kalau seandainya adiknya Jasmine benar-benar mau keluar hari ini juga. Berhubung situasi mewajibkan aku siaga satu, maka aku menghubungi teman-teman, bahwa aku tak dapat menghandle pengajian di kebun sayur Gambang, yang sedianya jadwal hari itu diamanatkan padaku karena Pak Ustad Cikgu Anwar dan Kang Yudi yang biasanya bertanggungjawab atas event ini sedang menjumpai Ustad Cahyadi di KL. Akhirnya Pak Yoyo dan Cak Joe yang sedang sibuk di Pekan ketiban sampur untuk melaksanakan tugas tersebut.</p>
<p>Mampir sejenak di rumah untuk ganti baju, kan gak lucu shopping Dewi masih pakai lilitan sarung di pinggangnya, makan siang dan shalat dhuhur, kami melaju ke arah bandar Kuantan. Alhamdulillah, dengan mudah kami mendapatkan spasi parkir, sesuatu yang sangat susah didapat di Giant, terutama pada saat penghujung minggu. Sasaran pertama jelas berburu Play Doh, yang sudah membuat Jasmine termimpi-mimpi selama beberapa hari terakhir. Berikutnya adalah belanja mingguan. Kami memutuskan untuk tidak membeli bahan-bahan basah seperti daging, ayam dan ikan, dengan pertimbangan tidak akan sempat mengurusnya, karena kami berencana untuk langsung ke klinik selepas berbelanja.</p>
<p>Tanpa terasa sudah puku16.15. Perawat klinik baru saja mengkontak ponsel Dewi. Kami pun segera menyelesaikan urusan berbelanja dan langsung meluncur ke klinik. Selama berbelanja, perut Dewi masih terus nyeri dan berkontraksi. Seperti paginya, sesampai di klinik Dewi langsung masuk ke ruang periksa. Setengah jam lagi. Dan belum ada perkembangan lebih lanjut. Pulang lagi ke rumah. Menunggu lagi.</p>
<p>(bersambung)</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=105&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2009/06/29/lahire-wisang-lelakoning-urip-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisanggeni Gugat 4: Pembelotan Batara Bromo</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/11/08/wisanggeni-gugat-4-pembelotan-batara-bromo/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/11/08/wisanggeni-gugat-4-pembelotan-batara-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 18:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan dari sini&#8230;. Senja menjelang. Di beranda Gresilageni, Dewi Dresanala sedang berwawan kata dengan sang putera, Wisanggeni, ketika dikejutkan kedatangan seseorang yang gagah pidekso. Dari angkasa, sang ksatria yang tak lain adalah satria Pringgondani, Gatotkaca, meluncur deras sepanjang runway yang membentang di depan pendopo kahyangan Gresilageni. Dengan mulus, sang Gatotkaca mendarat dan sejurus kemudian sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=97&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan dari <a href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/04/wisanggeni-gugat-3-mata-mata-para-dewa/" target="_blank">sini&#8230;.</a></p>
<p>Senja menjelang. Di beranda Gresilageni, Dewi Dresanala sedang berwawan kata dengan sang putera, Wisanggeni, ketika dikejutkan kedatangan seseorang yang gagah pidekso. Dari angkasa, sang ksatria yang tak lain adalah satria Pringgondani, Gatotkaca, meluncur deras sepanjang runway yang membentang di depan pendopo kahyangan Gresilageni. Dengan mulus, sang Gatotkaca mendarat dan sejurus kemudian sudah berada di hadapan Dewi Dresanala.</p>
<p>&#8220;Kok njanur gunung, putraku Gatotkaca, bagaimana kabarmu, orang tuamu dan seluruh pepundenmu di Amarta?&#8221; Dewi Dresanala membuka pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Pangestunipun ibu Dresanala, segala lindungan dan rahmat Sang Podo Wenang senantiasa tercurah kepada keluarga besar Pandhawa&#8221;</p>
<p>&#8220;Kakang, sehat-sehat saja kan? Ada perlu apa kok kelihatan tergopoh-gopoh, langsung saja disampaikan, tak perlu membuang-buang waktu!&#8221; Wisanggeni tak sabar mendengarkan pawarta yang dibawa kakak sepupunya.</p>
<p>&#8220;Hari ini dimas dipanggil menghadap ke kraton Amarta. Ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan, berkaitan dengan persiapan menjelang perang Baratayuda. Sri Kresna pun akan hadir, untuk ikut menentukan para putera pandawa yang akan dinobatkan jadi senopati perang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooo&#8230; kalau begitu saya manut saja. Sayangnya, aku saat ini baru suntuk pikiranku. Aku baru tak bisa berpikir jernih. Aku harus menyelesaikan dulu urusan yang sangat penting. Nanti aku akan menysul ke Amarta kalau urusan penting ini sudah selesai!&#8221; Wisanggeni setengah tak sabar memberikan jawaban.</p>
<p>&#8220;Ada apa to, putraku, kok sepertinya ada hal yang rumit?&#8221; Dewi Dresanala menyela</p>
<p>&#8220;Begini ibu, kangmas Gatotkaca menjemputku untuk datang dalam musyawarah yang akan digelar di kraton Amarta, namun pikiranku merasa tidak enak, dan aku harus menyelesaikan satu urusan terlebih dahulu&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan apa to le, kok sepertinya sangat penting&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu saya beri tahu, tapi jangan kaget ya. Keluarga kita baru dapat cobaan yang berat. Suralaya menghendaki kematian empat titah ngarcopodo. Tak lain adalah aku, kakang Antasena, wak Werkudoro, dan suamimu&#8221;</p>
<p>&#8220;Suamiku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, suamimu bu, Arjuna&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha rak bapakmu to?&#8221;</p>
<p>&#8220;La iya, bapakku&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus, alasannya apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku, kakang ANtasena dan wak Werkudoro dianggap tak punya tatakrama, sementara bapak dianggap sering melecehkan kewibawaan dewa, dengan hobinya yang memperistri para bidadari. Dan nanti, eyang Bromo akan pulang, mencariku, dan akan membunuhku, sebagaimana ditugaskan oleh Eyang Bathara Guru&#8221;</p>
<p>Ketajaman mata hati Wisanggeni sangat teruji. Tak heran, karena sejak lahir dia sudah digodog di kawah Candradimuka, sehingga anginpun mampu membawa kabar baginya. Semua bisik-bisik di Suralaya telah menjelma menjadi gaung yang sangat nyata dan terdengar di telinga Wisanggeni. Dewi Dresanala sangat terkejut dengan kenyatan itu. Tak kalah terkejutnya Raden Gatotkaca, mengethaui bahwa ayahnya dan saudara tirinya menjadi target operasi Sang Batara Guru.</p>
<p>&#8220;Bapak dan kakang Antasena juga mau dilenyapkan, dimas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kang. Batara Guru sudah mengutus Dewasrani untuk memenggal kepala wak Werkudoro, kakang Antasena dan juga bapak Arjuna&#8221;</p>
<p>Dewi Dresanala tak kuasa menahan derai tangis</p>
<p>&#8220;Duh Gusti ingkang murbeng dumadi. Lelakuon kok koyo mangkene. Harus bagaimana lagi kita menghadapinya anakku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, ibu tak perlu khawatir. Sekarang ibu masuk ke kamar, beristirahatlah. Serahkan kepada anakmu ini. Aku akan menyongsong eyang Bromo, dan menyelesaikan semua persoalan ini. Kalau perlu, aku obrak-abrik Suralaya, demi mendapatkan keadilan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarkan aku ikut mendampingimu, thole. Aku ingin berjumpa dengan Rama Bathara Bromo&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak perlu ibu, nanti hanya akan jadi hujan tangis dan airmata. Kesedihan dan airmata tak akan menyelesaikan masalah. Ibu percayakan saja kepadaku. Jangan khawatir, ini ada satu sukarelawan yang bisa dimanfaatkan untuk ikut ngobrak-abrik Suralaya&#8221; Wisanggeni menenangkan sang ibu sambil melirik kepada Gatotkaca</p>
<p>&#8220;Bers Dimas, aku pasti akan membantumu&#8221; Sahut Gatotkaca</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau itu maumu. Aku akan nenepi dulu, memanjatkan doa untuk keselamatanmu, keselamatan eyangmu, bapakmu, dan seluruh pandawa&#8221; Dewi Dresanala beranjak ke dalam</p>
<p>&#8220;Sebentar bu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa anakku&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini, kinang dan mbako susurnya ketinggalan&#8221;</p>
<p>**********</p>
<p>Sesaat setelah Dewi Dresanala, datanglah Batara Bromo dengan berurai airmata&#8230;</p>
<p>&#8220;Aduh Ngger Wisanggeni cucuku, aku tak tahu harus bicara bagaimana&#8221;</p>
<p>&#8220;Kaki Bromo, kamu kok datang-datang becucuran airmata. Dewa itu nggak boleh nangis, tahu?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak ada undang-undang yang melarang dewa nangis kok. Dewa juga punya emosi, kalau memang susah ya boleh-boleh saja nangis&#8221;</p>
<p>&#8220;Terserah, nggak usah nangis. Sekarang kaki ngomong saja yang jelas.  Dewo kok gembeng!&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh, Wisanggeni cucuku. Aku benar-benar nggak mampu mengatakannya. Aku tak sanggup&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Wis to kaki. Kamu tadi disuruh apa sama Guru? Sekarang, terserah kamu, saguh atau nggak? Kalau sanggup, cepet-cepet saja bunuh aku. Penggal leherku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh ngger putuku, kamu kok sudah tahu segalanya? Siapa yang bilang kepadamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho kaki nggak tahu ya, kalau aku punya penyadap yang maha hebat. Nah sekarang, tinggal gimana kemauan kaki. Mau nggugu karepe Guru, aku patenono. Atau kalau mau berpihak padaku, siap-siap saja nyemplung bareng ke kawah Candradimuka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku tak mampu membiarkanmu mati, namun aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Kakang Guru&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kaki memang ngeman nyawaku, sekarang kaki masuk saja ke dalam. Biar aku dan kakang Gatotkaca yang menyelesaikannya&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh ngger putuku, kepurusan yang amat berat. Kamu harus menghadapi para dewa-dewa di Suralaya, yang kesaktiannya luar biasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangankan hanya dewa, Guru pun aku tak takut. Kalau perlu, aku bisa nglengserkan dia dari singgasananya. kalau perlu, nanti aku angkat kaki jadi Guru&#8221;</p>
<p>&#8220;Emoh, aku nggak sanggup jadi Guru, nggak punya ijazah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wis, sekarang kaki ke dalam sana. Temani ibu Dresanala. Pokoknya kaki sama ibu tahunya beres! Sana Ki, jangan buang waktu, keburu para dewa datang ke sini!&#8221;</p>
<p>Batara Brama bergegas masuk. Wajahnya masih tergurat kesedihan dan kebimbangan. Air mata pun masih menetes dari sudut bola matanya.</p>
<p>Dari kejauhan, Narada dan kawan-kawan menyaksikan pembelotan Bromo. Maka tanpa pikir panjang, Narada memberikan instruksi kepada para dewa untuk turun, dan menyambangi Wisanggeni dan Gatotkaca.</p>
<p>&#8220;Wisanggeni, mana eyangmu?&#8221; tanpa basa-basi Narada menanyai Wisanggeni</p>
<p>&#8220;Ada perlu apa, wo Narada?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eyangmu sudah mengabaikan perintah Batara Guru&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa, kalau kaki Bromo nggak mau membunuhku?&#8221;</p>
<p>Narada menoleh ke Panyarikan</p>
<p>&#8220;Panyarikan, tangkap dan seret Bromo. Langsung cemplungkan ke kawah Candradimuka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, ngapain susah-susah nangkap Bromo? Mending nangkap aku dulu yang sudah ada di sini. Baru setelah bisa meringkusku, silahkan kalau kalian mau menyeret kaki Bromo ke kawah Candradimuka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Welha, dasar bocah ora urus. Njaluk mati tenan iki. Berani-beraninya kamu menantang para dewa. Nggak takut kuwalat, hah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kutakutkan? Dewa itu kalau salah ya tetep salah. Nggak ada kata kuwalat bagi yang membela kebenaran!&#8221; tegas Wisanggeni</p>
<p>&#8220;Panyarikan, jangan buang waktu, segera bereskan anak ingusan itu!&#8221; teriak Narada kepada Panyarikan</p>
<p>&#8220;Lha, terus kaki Narada ngapain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ulun tak nonton, mbotohi saja. Biar yang muda-muda yang maju&#8221; Narada beringsut dan duduk di bawah pohon preh. Tak lupa menyulut rokok klobotnya, sambil mengawasi para juniornya bersiap-siap melabrak Wisanggeni.</p>
<p>Panyarikan melompat ke hadapan Wisanggeni. Wisanggeni pun telah memasang kuda-kudanya.</p>
<p>&#8220;Ayo kaki Panyarikan, jangan ragu-ragu, hantam saja dadaku!&#8221; tantang Wisanggeni</p>
<p>Sejurus kemudian Panyarikan menarik kuda-kudanya, dan siap melompat menerjang dada Wisanggeni. Sepersekian detik, angin deras menerpa tubuh Panyarikan. Beruntung, kesigapan dan ketangguhan seorang dewa mampu mempertahankan posisi tubuhnya tetap tegak berdiri. Tanpa diduga, ternyata Gatotkaca sudah berdiri di hadapan Wisanggeni, membentengi adiknya dari serangan Panyarikan.</p>
<p>&#8220;Hadapi aku dulu. Langkahi mayatku, sebelum kalian dapat meringkus adimas Wisanggeni&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho Gatotkaca, kamu kok melu-melu Wisanggeni? Nggak takut kualat, sama dewa kok ngoko!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak perlu susah-susah kromo inggil. Boso atau nggak yo tetep akan jotosan kok. Sini, hadapi dulu Gatotkaca, satria Pringgondani!&#8221;</p>
<p>Senja sudah berganti malam. Bulan sabit tanggal 2 telah pula memasuki bilik peraduan. Blencong di pendapa kraton Gresilageni tak mampu menerangi seluruh halaman pendopo. Hanya kelebat-kelebat sinar yang tak mampu diikuti oleh mata, saling sahut menyaut di kegelapan malam. Serta suara-suara benturan yang timbul dari pertempuran tanding maha dahsyat antara seorang titah ngarcapada melawan seorang dewa.</p>
<p>Bersambung lagi&#8230;</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=97&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/11/08/wisanggeni-gugat-4-pembelotan-batara-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisanggeni Gugat 3: Mata-mata para Dewa</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/04/wisanggeni-gugat-3-mata-mata-para-dewa/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/04/wisanggeni-gugat-3-mata-mata-para-dewa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 16:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Ringkasan cerita sebelumnya: Pukulun Bathara Guru memerintahkan Bathara Bromo untuk membunuh cucunya Wisanggeni, dalam rangka membersihkan anasir-anasir di ngarcapada yang dianggap merongrong kewibawaan dan melecehkan kehormatan para dewa yang bertahta di kahyangan Suralaya. Pada saat yang sama, Bathara Guru juga mengutus Bethari Durga untuk memerintahkan putranya Dewasrani membinasakan Janaka, Werkudara dan Antasena, dengan tujuan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=94&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a title="Wisanggeni Gugat 2" href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/09/14/83/" target="_blank">Ringkasan cerita sebelumnya:</a></em></p>
<p><em>Pukulun Bathara Guru memerintahkan Bathara Bromo untuk membunuh cucunya Wisanggeni, dalam rangka membersihkan anasir-anasir di ngarcapada yang dianggap merongrong kewibawaan dan melecehkan kehormatan para dewa yang bertahta di kahyangan Suralaya. Pada saat yang sama, Bathara Guru juga mengutus Bethari Durga untuk memerintahkan putranya Dewasrani membinasakan Janaka, Werkudara dan Antasena, dengan tujuan yang sama, serta diiming-imingi imbalan akan dinobatkan sebagai lelananging jagad menggantikan Arjuna.</em></p>
<p>Sebelum meninggalkan pisowanan, Bathara Guru sempat memanggil Bathara Narada untuk mengawasi langkah Bathara Bromo dan memastikan bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan tugasnya membinasakan Wisanggeni. Dengan berat hati, Narada menyanggupi, demi kesetiaan terhadap pimpinannya. Dengan ditemani dua puteranya, Masno dan Panyarikan, Narada pun bergegas keluar dari sitinggil dan menghampiri para dewa yang masih berkumpul di luar pintu gerbang sitinggil.</p>
<p>&#8220;Wo Narada, ada dhawuh dan berita apa dari pukulun Bathara Guru? Kok sepertinya keadaannya gawat?&#8221; tanya Yomodipati mewakili rasa ingin tahu para koleganya.</p>
<p>&#8220;Iya, wo. Kami siap nyadhong dhawuh nungsung pawarto. Kalau ada apa-apa, kami siap membantu&#8221;, sergah Bathara Sambu dari belakang.</p>
<p>&#8220;Masno, Panyarikan, ini para teman-temanmu pada ingin tahu dhawuh dari Sanghyang Guru. Bagaimana ini?&#8221; Narada meminta pertimbangan kepada dua puteranya.</p>
<p>&#8220;Lha monggo pukulun. Lebih baik disampaikan saja apa yang menjadi dhawuh pukulun Bathara Guru, biar semuanya jelas, dan seluruh warga kahyangan Suralaya mengerti duduk perkaranya&#8221;. Masno memberikan pertimbangannya.</p>
<p>Maka Bathara Narada pun menceritakan semuanya.</p>
<p>&#8220;Indra, Tatra, Sambu, Yomodipati dan semuanya. Janganlah kalian terkejut dengan apa yang disabdakan Bathara Guru. Bathara Guru hendak menjaga kewibawaan kahyangan. Titah ngarcapada yang dianggap merendahkan martabat kahyangan harus dimusnahkan. Menurut Pramesthi Bathara Guru, ada 4 titah yang harus dilenyapkan&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa Wo?&#8221; potong Indra</p>
<p>&#8220;Tiga, Wisanggeni, Werkudara dan Antasena. Mereka dianggap tidak punya tatakrama. Tidak bisa bertutur kata dengan halus dan lemah lembut. Bahkan dengan dewa saja mereka tidak bisa kromo inggil. Kemudian satu lagi Arjuna. Kekurangajarannya adalah pada hobinya memperistri bidadari. Padahal menurut pukulun Bathara Guru, jangan sampai para bidadari itu jatuh ke tangan manusia biasa. Sudah ditakdirkan bahwa bidadari hanya untuk para dewa.  Bayangkan, tiap-tiap ada bidadari yang cantik, diambil istri oleh Janaka. Lama-lama stok bidadari akan habis. Kasihan para dewa, terutama yang bertampang buruk, besok-besok nggak bakalan kebagian jodoh bidadari. Apa disuruh kawin sama celeng?! Maka jalan satu-satunya untuk menghentikan penghinaan itu adalah dengan membinasakannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nuwun sewu Wo, saya boleh mengemukakan pendapat?&#8221; Yomodipati menyela.</p>
<p>&#8220;Boleh-boleh saja Yom&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurut pendapat saya, menghilangkan salah satu atau lebih anggota Pandhawa, itu sama saja dengan mempersiapkan kehancuran bagi kahyangan Suralaya. Ingat sabda Sanghyang Wenang, jangan sampai mengganggu gugat keberadaan Pandhawa. Bahkan para dewa sendiri tidak diperbolehkan untuk ngucap ngrasani matine Pandawa. Lha nanti kalau benar terjadi pembunuhan Pandawa, terus bagaimana selanjutnya nasib kita Wo Narada?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha kalau berani sana, protes sama Bathara Guru, jangan sama ulun. Lha wong ulun cuma sekedar disuruh kok. Wong ulun tadi sudah bilang seperti itu sama pukulun, bukannya didengar, malah ulun hendak dipensiun jadi dewa! Makanya kalau sudah siap pensiun jadi dewa, silahkan kalian menghadap Adi Guru, dan matur rame-rame&#8221;, ketus Narada.</p>
<p>&#8220;Saya kira, kalaupun harus dipecat dari kahyangan, asal beramai-ramai, bagi saya tak ada masalah kok Wo&#8221; tantang Yomodipati, &#8220;nggak jadi dewa juga nggak patheken. Yang saya cari itu adalah ketenteraman hidup. Coba buktikan besok, kalau Janaka mati, bisa dipastikan kahyangan Suralaya geger!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebabnya?&#8221; sergah Narada</p>
<p>&#8220;Kahyangan akan diserbu para jandanya Janaka. Mereka pasti akan berunjuk rasa dan minta pertanggungjawaban kita. Belum lagi, kalau orangorang itu pada tahu banyak stok janda di sini, mereka pasti akan nglurug ke Suralaya, memburu para janda bidadari itu&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudumu, para titah ngarcapada?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Wo&#8221;</p>
<p>&#8220;Yen ngono, kalau ada titah yang berani datang kesini, bunuh saja sekalian&#8221;</p>
<p>&#8220;Lha, nanti kalau bidadari terus mengamuk, gara-gara tak dapat jodoh&#8221;</p>
<p>&#8220;Bunuh sekalian!&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal bidadari itu anaknya para dewa. Kalau mereka tidak rela kehilangan anak, dan ikut-ikutan ngamuk?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bunuh juga sekalian, gitu aja kok repot&#8221;</p>
<p>&#8220;Dewa itu padahal ada yang juga anaknya Wo Narada, lha nanti kalau Wo Narada nggak terima terus juga mengamuk?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yo binasakan sekali&#8230;. weee&#8230; dengkulmu mlocot kuwi. Lha kok terus ulun didaftarkan mati sekalian, dasar bocah ra urus&#8221; Narada menyerapahi Yomodipati.&#8221; Sudah, sekarang nggak usah dipikirkan dalam-dalam lagi. Sekarang semuanya juga bernagkat ke kahyangan Gresilageni&#8221;</p>
<p>&#8220;Tujuannya apa Wo?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengawasi gerak-gerik Bathara Bromo. Kalau dia bisa membunuh Wisanggeni, maka berikanlah bantuan secukupnya. Namun bila dia tidak mampu membunuh cucunya, maka tangkaplah keduanya, dan ceburkan ke kawah Candradimuka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu caranya, berarti saya batak besanan dengan Bathara Bromo&#8221; protes Indra</p>
<p>&#8220;La kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah rembug tuwa, kalau anak saya Prabasini akan inikahkan dengan Wisanggeni dalam waktu dekat ini&#8221;</p>
<p>&#8220;Batalkan! Kalau sudah terlanjur pesan tempat, batalkan. Undangan yang sudah tersebar, segera ditarik. Daripada jadi masalah nantinya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, sekarang semuanya berangkat, dibawah komando ulun. Kalau Bromo mbalelo, tangkap dan cemplungkan Candradimuka!&#8221;</p>
<p>Dengan setengah hati, para dewa pun berangkat ke Gresilageni. Demi sebuah kesetiaan terhadap pimpinan mereka &#8230;</p>
<p><strong>Bersambung</strong></p>
<p>&#8220;</p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=94&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/04/wisanggeni-gugat-3-mata-mata-para-dewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di sana</title>
		<link>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/01/di-sana/</link>
		<comments>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/01/di-sana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 19:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jagad Gumelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tancepkayon.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Ya, mungkin saya akan banyak ngomyang di sana. Malam terakhir Pertama kali Posted in Jagad Gumelar<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=91&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, mungkin saya akan banyak ngomyang di <a title="kleyang kabur kanginan" href="http://nudee.dagdigdug.com" target="_blank">sana</a>.</p>
<p><a href="http://nudee.dagdigdug.com/2008/10/01/malam-terakhir/" target="_blank">Malam terakhir</a></p>
<p><a href="http://nudee.dagdigdug.com/2008/10/01/pertama-kali/" target="_blank">Pertama kali</a></p>
<br />Posted in Jagad Gumelar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tancepkayon.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tancepkayon.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tancepkayon.wordpress.com&amp;blog=2906601&amp;post=91&amp;subd=tancepkayon&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tancepkayon.wordpress.com/2008/10/01/di-sana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1199d9a778cc8748f58707b805914f78?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">Nayantaka</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
