Rendang Limpa, Kisah Pengorbanan Yang Setimpal

April 6, 2012

Seperti biasa, setiap Kamis sore di perhentian Gambang, sekitar 3 km dari kampus, diselenggarakan pasar malam. Jangan bayangkan pasar malam di sini seperti halnya pasar malam di Jogja. Tidak akan anda jumpai arena permainan komidi putar atau atraksi maut tong setan. Bayangkanlah pasar becek di pinggiran kota. Ya, pasar malam di sini adalah event yang memfasilitasi transaksi antara pembeli, biasanya penduduk lokal, dengan penjual yang mayoritas bumiputera, alias Melayu. Dagangannya juga khas, sayur mayur dan buah-buahan hasil pertanian lokal (rambutan, mangga, duku, durian, jagung, bayam, sawi dll), daging, ikan dan makanan serta jajanan khas setempat (laksa, murtabak, keropok lekor, nasi ayam, ayam percik, dll). Produk pertanian impor diharamkan untuk dijual di pasar malam. Selain itu, pedagang sepatu bekas, baju dan kain, mainan anak, serta sesekali ada pengemis dan peminta derma yang turut berpartisipasi.

Sore itu, di lapak pedagang daging sapi, saya melihat seonggok limpa. Sungguh hal yang langka, biasanya kami cuma kebagian daging atau tulang. Kesempatan ini tidak saya lewatkan. Tanpa berkonsultasi dengan istri sebagai pembuat keputusan tertinggi dalam hal belanja dapur, saya segera memborong seluruh limpa yang hanya seberat 576 gram itu. Dan ternyata, istri saya yang melihat dari kejauhan cukup tanggap dengan keinginan saya, dan dia dengan sigapnya memenuhi tas belanjanya dengan daun singkong, daun kunyit, dan beberapa rempah-rempah yang ditujukan khusus untuk memasak limpa tersebut. Ya, kami memang sudah meniatkan untuk membuat rendang apabila kami bisa mendapatkan limpa di pasar malam.

Malamnya, seusai shalat maghrib, kami bahu-membahu menyiapkan segala keperluan untuk memasak rendang. Sialnya, stok kelapa parut di pasar malam kebetulan habis, sehingga saya harus berjibaku untuk mengupas kelapa, mencungkilnya serta sesekali menggantikan istri untuk memarutnya. Setelah semuanya siap, sesi memasak pun dimulai. Maaf, saya tidak akan menceritakan jalannya memasak, ataupun mengulas tentang resep yang kami pakai. Kalau mau, silahkan berkelana ke blog-blog lain tentang kuliner yang memang menyajikan resep masakan. Yang perlu saya sampaikan, di balik kelezatan rendang, yang bahkan pernah dinobatkan sebagai masakan terlezat sedunia pada polling pembaca yang diadakan oleh CNN GO, ternyata diperlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Banyaknya rempah dan bumbu yang diperlukan, persiapan dan tahapan memasak menjadi salah satu pengorbanan tersendiri. Bayangkan, kami memerlukan total waktu 7 jam untuk menyiapkan dan memasaknya hingga matang dan siap saji. Maka, perjuangan yang dimulai pukul 8 malam itu baru berakhir saat jarum jam telah menunjuk angka 3 dinihari. Dan berhubung sejak jam 12 istri saya sudah terkapar bersama si Wisang, maka berarti saya harus mengambil alih proses penyelesaian akhir masakan tersebut.

Dan alhamdulillah, pagi ini saya dengan khusuknya melahap sarapan nasi plus rendang plus rebusan daun singkong, dan tak ketinggalan lalapan ketimun. Ditambah dengan teh Tong Tji yang nasgithel, jadilah awal hari Jum’at Kliwon yang sempurna. Sungguh terbayarkan pengorbanan semalaman dengan kenikmatan yang saya dapatkan pagi ini. Dan memang, rendang pantas dijadikan sebagai raja masakan, walau sebenarnya dia tidak cukup bersahabat dengan lingkungan, karena boros energi (termasuk konsumsi gas dan energi manusia untuk marut kelapa dan menumbuk bumbu), serta membutuhkan waktu lama untuk memasaknya.

About these ads

4 Responses to “Rendang Limpa, Kisah Pengorbanan Yang Setimpal”

  1. Andy MSE Says:

    komen soal boros energi:
    orang Yogya dan Solo sepertinya memang boros energi.
    contohnya; untuk urusan sepele seperti tahu di angkringan saja melalui proses panjang. dari kedele menjadi tahu tentunya sudah makan banyak energi, trus dibacem, digoreng, di angkringan masih saja dibakar… weleh…weleh…weleh…
    komen soal rendang:
    rendang memang maknyusss, tapi bagi saya tidak ada rendang seenak masakan bapak saya almarhum. sayang sekali tidak ada satu orang pun di antara anak2nya yang mewarisi kepiawaian memasaknya.


  2. wenak;e rek…. cesss… jumat kliwon jam 4 esuk,,, mangan indomie ndog… :(

  3. keliq rm Says:

    ~ning kene teng ‘klarah’ kang Nug, seko rm padang Murah Meriah sd Duta Minang,,,jaman semono, pas kuliah jdi menu wajib, tentu dg memperbanyak porsi kuah juga nasi putih daripada itu lauk,,,ganjel weteng darurat terusss,,,,gek ndang muLiho,,, :D :D

  4. Ivan Says:

    Memang buat makan makanan terlezat didunia butuh banyak perjuangan yah, apalagi rendang limpa jarang banget tuh dipasaran.
    Baca tulisannya jadi pengen rendang nih…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: