Bermula dari keinginan Bathara Guru untuk membersihkan ngarcapada dari unsur-unsur yang bisa merongrong kewibawaan Jonggringsalaka, beliau memerintahkan segenap jajaran dewa untuk membinasakan Werkudara, Arjuna, Antasena dan Wisanggeni. Bathara Bromo diperintahkan untuk menyerahkan cucunya, Wisanggeni, hidup atau mati, sementara Dewasrani, putra Bathari Durga ditugaskan untuk membinasakan Werkudara, Arjuna dan Antasena, dengan iming-iming menggantikan predikat Arjuna selaku lelananging jagad. Bathara Narada, yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan itu, diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya operasi. Bersama Masna dan Panyarikan, kedua anaknya, Bathara Narada medhak ngarcapada untuk memastikan bahwa Bathara Brama patuh menjalankan perintah Bathara Guru…

Setelah bertarung beberapa saat, tampak Gatotkaca mulai kepayahan, dan akhirnya memilih mundur.

“Dimas Wisanggeni, sejuta maaf, aku nggak bisa memenuhi janjiku melindungimu. Aku kewalahan menghadapi Panyarikan. Serangannya luar biasa, sementara aku tak mampu membalasnya”

“Kenapa Kang?”

“Lha setiap aku mau megang kepalanya, tubuhku malah terbanting. Tampaknya kodratku sebagai titah memang tidak mampu menyentuh kepala Bathara Panyarikan”

“Wo, dasar kurang pengalaman. Menghadapi dewa itu ada trik-triknya. Nggak sembarangan bisa nggrayang tubuhnya, apalagi kepalanya.”

“Lha terus gimana, Dhi?”

“Aku kasih tahu rahasianya. Titah itu tidak bisa menyentuh bagian atas tubuh para dewa. Bisanya ya cuma nyerang bagian perut ke bawah.”

“Jadi aku nggak bisa nguntir kepala Panyarikan kang?”

“Libur nguntirnya dulu Dhi. Kalau mau ngantem kepalanya, sembah dulu tiga kali, baru ngantem sekali. Kalau mau ngantem lagi, ya nyembah tiga kali lagi.”

“Oo, jadi nyerang bawah dulu ya Kang. Baik, aku coba lagi ya. Tapi Kangmas mau nanggung kan, kalau triknya gagal”

“Jangan khawatir, kalau gagal, kepalaku taruhannya”

Dengan semangat baru, Gatotkaca pun kembali maju ke medan laga, menyongsong Bathara Panyarikan yang sudah bersiap-siap menghadapinya. Tanpa banyak kata, Gatotkaca langsung menyerang kepala Panyarikan. Namun sebelum tangannya menyentuh sasaran, dengan tiba-tiba dia membelokkan arah kepalan tangannya ke perut Panyarikan yang terbuka. Panyarikan terhempas ke belakang. Tanpa menunggu lagi, Gatotkaca segera menyembah tiga kali dan disusul dengan hantaman telapak tangannya ke kepala Panyarikan. Tak ayal lagi, tubuh panyarikan terlontar sejauh dua puluh depa dan terjatuh tepat di depan kaki kakanya, Bathara Masno. Bathara Masno tak tinggal diam. Dimintanya Panyarikan untuk mundur, dan diapun menggantikan posisi Panyarikan menghadapi Gatotkaca. Pertempuran kali ini benar-benar imbang. Kedua pihak tampaknya sudah sangat tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun lama-lama Masno pun terdesak, setelah Gatotkaca terus menerus menyerang perutnya. Menyadari hal yang semakin gawat, Bathara Narada pun lari meminta bantuan Bathara Yamadipati.

Yamadipati baru klepas-klepus menghabiskan ududnya yang kesekian, tatkala Bathara Narada tergopoh-gopoh menjumpainya.

“Dasar Yamadipati ra urus. Kayangan geger, malah klempas-klempus di bawah pohon”

“Ada apa to Kangmas Narada?”

“Lha kita mau nangkap Wisanggeni, malah tahu-tahu sudah diporak-porandakan oleh Gatotkaca. Semua dewa yang nglurug ke sana sudah terkapar. Sakit perut semuanya, dihajar oleh si Gatot. Semua gara-gara Wisanggeni yang membocorkan kelemahan dewa. Sekarang tinggal tugasmu, kuperintahkan untuk nyabut nyawa Gatotkaca, biar nggak ngerecoki kerjaan kita”

“Waduh kang, kalau nyabut nyawa Gatotkaca, aku nyerah deh. Sejak dicemplungkan ke kawah Candradimuka, nyawanya telah diikat erat ke tulang iganya. Tak akan bisa dicabut sebelum waktunya tiba”

“Ini perintah Bathara Guru, harus dilaksanakan! Dan ingat, barangsiapa yang bisa menyerahkan Wisanggeni ke Jonggringsalaka, hidup atau mati, maka dia berhak mengawini Dewi Mampuni. Aku tahu, kamu sudah sejak lama naksir dia. Kalau nggak sekarang, kapan lagi kamu punya kesempatan yang langka ini?”

“Hah, jadi hadiahnya Dewi Mampuni kang? Wah kalau begitu, di mana sekarang Gatotkaca dan Wisanggeni. Sampai kapanpun akan aku layani mereka! Bawa aku ke medan pertempuran sekarang juga kang! Demi Mampuni, rasakan kepalan tanganku Gatotkaca!”

Yamadipati segera melesat menuju Gresilageni. Naluri dan ego kelelakiannya mengalahkan rasionalitasnya bahwa sangat sulit untuk mencabut nyawa seorang Gatotkaca dan Wisanggeni, yang semasa kecilnya telah digodog di kawah Candradimuka. Namun bayangan akan Dewi Mampuni di dalam pelukannya, membuatnya lupa segalanya.

“Gatotkaca, kalau boleh aku sarankan, mundurlah sekarang juga, sebelum aku bertindak”

“Aku takkan mundur, sampai putus leherku”

“Dasar tak tahu diuntung, aku cabut nyawamu!”

Yamadipati segera menyerang Gatotkaca, yang dengan trengginas mencoba mengimbangi setiap serangan Yamadipati. Namun ternyata tak berbeda jauh dengan dewa-dewa lainnya, kelamahan Yamadipati dengan segera dapat terbaca oleh Gatotkaca. Tanpa berlangsung lama, Yamadipati terdesak dan memilih meninggalkan gelanggang. Narada menghampiri Yamadipati.

“Gimana ini, kok kalah juga? Gak jadi dapat Mampuni? Padahal dia sudah berharap dapat bersanding denganmu lho”

“Ampun wo Narada, soal bidadari, lebih baik aku cari yang lainnya, daripada harus menghadapi Gatotkaca”, jawab Yamadipati sambil beringsut pergi menahan sakit dan malu.

Tak ada pilihan lain. Narada pun kemudian mengutus Bathara Indra untuk mencari Dewi Prabasini cucunya yang juga kekasih Wisanggeni, untuk dijadikan “rantai emas”, menangkap Wisanggeni. Segera Indra memanggil Prabasini, dan menyuruhnya menemui Wisanggeni sekaligus mengajaknya menghadap Bathara Guru. Prabasini tak punya pilihan lain. Posisinya yang sangat lemah memaksanya untuk mengikuti perintah eyangnya.

(Bersambung)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.