Image of Garuda
Pin Garuda yang terpampang di salah satu ruang Hubei Provincial Museum

Museum. Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata itu? Remang-remang, kusam, kuno, berdebu, atau bahkan sedikit kesan angker. Suatu tempat yang bukan merupakan pilihan utama untuk melepas penat di akhir pekan. Suatu tempat yang dikunjungi karena keterpaksaan, entah tugas dari sekolah, atau memang tiada tempat lain yang lebih layak dikunjungi. Buang-buang waktu, bongkahan batu kok ditonton, begitu kata teman saya beberapa tahun silam. Maka ketika sahabat baru saya, Liew Liu alias Leona, menyodorkan usulan untuk mengunjungi Hubei Provincial Museum, saya menanggapi dengan sekadarnya saja. Saya iyakan ajakan itu, sekedar menghormati kebaikan hati dia selama mendampingi saya di South Central University for Nationalities, Wuhan.

Sabtu pagi itu, cuaca sungguh bersahabat. Bahkan terlalu hangat untuk situasi penghujung musim gugur. Angin lembut bertiup, sementara matahari menampakkan diri dengan ramahnya. Janji kami pukul delapan berangkat dari kampus, namun terpaksa molor setengah jam gara-gara Tao alias Peter terlambat bangun. Maka rencana untuk menumpang bus umum pun gagal. Kami berempat, saya, Haizal, teman Malaysia saya, Tao dan Liu akhirnya menyetop taksi, yang 40 menit kemudian menurunkan kami beberapa puluh meter dari gerbang museum.

Di depan papan nama Hubei Provincial Museum
Di depan papan nama Hubei Provincial Museum

Hal yang sangat mengejutkan terpapar di depan mata saya begitu memasuki halaman museum. Antrian yang luar biasa panjangnya. Lebih dari dua ratus meter barisan manusia membentuk formasi ular. Penasaran, aku mencoba melihat counter yang ada di pintu masuk, saat itu sudah 617 pengunjung yang melewati gerbang masuk. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi di museum tanah airku. Berhubung antrian masih panjang, kami berbagi tugas. Tao dan Liu menunggu antrian, sementara saya dan Haizal asyik mengabadikan moment di depan museum.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sampailah giliran kami untuk mendapatkan tiket masuk. Hebatnya, semua gratis. Ini jugakah penyebab panjangnya antrian, atau memang ada banyak hal menarik di dalam? Di atas loket disebutkan, pengunjung dibatasi maksimal 5000 orang per hari. Counter pada saat saya mengambil tiket menunjukkan angka 1242, berarti tadi ada lebih dari 600 orang yang berbaris di depan kami. Memasuki gerbang museum, pemeriksaan dilakukan dengan ketat, melebihi pemeriksaan keamanan bandara di tanah air. Tak sebarang cairan pun diperkenankan dibawa. Terpaksa satu botol air mineral yang ada di tas punggung aku relakan. Tas harus melewati X-ray detector, sementara orangnya pun wajib melintasi metal detector.

Sebelum memasuki museum, Liu mengusulkan kami untuk menyewa translator, karena dia sendiri tidak cukup pede untuk menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan museum. Awalnya saya menolak, karena menurut saya, lebih nyaman jalan-jalan sendiri tanpa harus diikuti oleh sang translator, dan toh sudah ada teks tertulis yang menyertai seluruh benda-benda yang dipamerkan. Namun, betapa kelihatan kupernya saya tatkala dipertontonkan sang translator, yang dalam bayangan saya orang, ternyata sebuah alat sebesar telepon genggam yang dilengkapi dengan headphone. Cukup dengan mendekatkan alat tersebut pada nomor ID benda yang dipamerkan, atau dengan memasukkan nomor identitas secara manual, maka alat tersebut akan memutar penjelasan mengenai sejarah benda tersebut dalam bahasa Inggris. Maka, 200 yuan pun berpindah dari tangan, untuk menebus alat itu selama tiga jam. Sebenarnya ongkos sewa hanya 30 yuan (sekitar Rp. 75.000), sisanya adalah jaminan yang nanti akan dikembalikan sewaktu kita selesai menggunakan alat tersebut.

Ada tiga bangunan di kompleks museum yang terletak di tepi East Lake, danau terbesar di Wuhan. Di sisi kiri terdapat Chu Culture exhibition hall, yang memuat pernik-pernik budaya negeri Chu. Termasuk di dalamnya terdapat pedang asli milik Guo Jian, raja dari negeri Wu. Terdapat pula beberapa kereta perang dan persenjataan yang berhasil dievakusi dari situs-situs setempat, yang kemudian direkonstruksi secara cermat untuk mendapatkan wujud yang menyerupai bentuk asalnya.

Bangunan kedua, yang terletak di tengah adalah bangunan utama. Di sini terdapat beberapa ruang pameran yang dibagi-bagi berdasarkan tema: keramik, kayu, logam, sejarah keberadaan manusia, serta ribuan relik yang diangkat dari kuburan kuno Marquis Yi. Salah satu peninggalan yang dianggap terhebat di museum ini adalah satu set alat musik yang terdiri atas 65 lonceng perunggu berlapis emas. Alat musik ini mencakup 5 oktaf, dengan ukuran fisik terbesar 153.4 cm dengan berat 203.6 kg. Menurut informasi yang tertera di museum, alat musik ini adalah hadiah dari Raja Hui dan dibuat pada tahun 433 SM. Meskipun telah terkubur selama lebih dari 2000 tahun, instrumen ini masih bisa dimainkan, dan pada saat tertentu digunakan untuk konser. Dalam gedung ini juga saya menemukan beberapa replika Java Man, alias pithecanthropus erectus, yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Sangiran abad silam. Setidaknya nama Sangiran, Ngandong, Trinil, Jawa dan Indonesia turut terabadikan di museum tersebut. Di salah satu bagian, terdapat sebuah pin emas berbentuk garuda. Di bawahnya terdapat tulisan yang memuat keterangan: Image of Garuda. Garuda, a transcription of the Sanksrit garuda. The garuda is described as a huge, golden-winged bird of some sort that eats dragons. It is sometimes translated into English as griffin. It is the personal mount of Amoghasiddhi. It symbolizes the absolute reign of the ‘law-king’.

Replika tengkorak pithecanthropus erectus
Replika tengkorak pithecanthropus erectus

Bangunan terakhir adalah gedung eksibishi untuk acara-acara yang sifatnya insidental atau temporer. Kami memutuskan untuk tidak memasukinya, selain karena pada saat itu tidak ada event, juga perut kami telah menyiratkan tanda-tanda lapar yang menggila. Kami memutuskan untuk mencari makan siang, halal food tentunya, untuk kemudian. melanjutkan perjalanan menuju Huazhong University of Science and Technology. Sebelum keluar gerbang museum, Tao dengan gesitnya menyempatkan diri mengambil empat botol air mineral sitaan petugas di dekat pintu masuk sebagai bekal di perjalanan.

Bola Itu Memang Bundar

November 23, 2009

Sejak dulu aku yakin, musik dan olahraga adalah bahasa universal yang diterima seluruh penduduk di bumi ini. Di sini, aku kembali menemukan bukti pendukungnya. Radio kampus, yang dipancarkan melalui loudspeaker yang dipasang di tempat-tempat strategis, selalu mengumandangkan musik yang notabene bukan berbahasa Cina. John Denver, Frank Sinatra, sampai Natalie Imbruglia atau The Corrs, setiap hari selalu mengalun, di samping beberapa lagu lokal yang diputar bergantian.

Olahraga, sungguh efektif untuk mengangkat harkat dan kebanggaan bangsa. Mata mereka pasti langsung berbinar-binar tatkala aku sebutkan nama-nama seperti Yao Ming, Lin Dan, Dong Fangzhou atau Sun Ji Hai. Beruntung masih ada nama Taufik Hidayat, sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang mereka kenal baik di Cina, tentu dengan reputasinya yang tak pernah menang melawan Lin Dan. Sayangnya, tak ada lagi yang bisa aku banggakan selain dia. Sewaktu mereka tahu Haizal dari Malaysia, mereka menyebut Lee Chong Wei, selain itu juga menganggap timnas sepakbola mereka hebat, berani menghadapi tantangan Manchester United. Saat itu, aku merasa sangat perlu mengutuk perbuatan biadab Nordin M Top dan kawan-kawan.

Malam itu, aku berniat mencari suasana lain, pergaulan lain. Kutinggalkan lab dan segala tetek bengeknya. Aku menuju ke sporthall. Ada 12 lapangan bulutangkis di sana. Dan semuanya terpakai. Mungkin ini sedikit jawaban, mengapa mereka hebat di bulutangkis. Mereka memang mencintainya, dan memainkan dengan penuh penghayatan. Terus terang, aku jadi nggak berani nonton lama-lama. Mereka terlalu hebat dan menggetarkan nyaliku untuk nimbrung. Aku bergeser ke lapangan basket. Keberhasilan Yao Ming menembus sirkus NBA tampaknya menginspirasi para pemuda untuk mencoba mengikuti jejaknya. Basket menjadi olahraga paling populer di sini. Ada lebih dari 30 lapangan, yang tersebar dalam 3 sentra di kawasan universitas ini. Dan semuanya selalu penuh. Talenta merekapun tak bisa dianggap remeh. Sekali lagi, aku tak mampu membesarkan nyaliku untuk terjun ke lapangan.

Aha, aku masih punya senjata rahasia. Bola voli. Meski tak hebat-hebat amat, pengalamanku tarkam dulu pasti masih mampu mengimbangi mereka. Aku menuju ke lapangan bola voli. Sial. Tak di Malaysia saja, di Cina ternyata bola voli bukan olahraga favorit. Mereka hanya main kalau tim universitas berlatih. Dan hari itu bukan jadwalnya. Jadilah tiga lapangan bola vli itu kosong melompong, hanya berisi 2 pasang muda-mudi yang baru dimabuk asmara. Akhirnya kulangkahkan kaki ke tempat terakhir, yang mungkin menjanjikan, lapangan bola. Setidaknya aku bisa lari-lari keliling di track atletik di sekitar lapangan bola.

Ada dua lapangan bola. Semuanya standar. Dikelilingi lintasan atletik dari lapisan tartan. Rumputnya sangat rapi. Terlalu rapi bahkan. Dan kemudian aku maklumi, karena ternyata rumput sintetis. Hanya ada beberapa orang bermain bola di sana. Sekelompok atlit sedang berlatih lari gawang. Di ujung lapangan, sekitar 12 orang sedang asyik memperagakan gerakan-gerakan taijikuan. Ada juga seorang kakek tua bersenam seorang diri, mengingatkanku pada sekumpulan lansia yang selalu bersenam jantung sehat setiap pagi di depan Purna Budaya.

Aku pun menuju ke area warming up. Melakukan strecthing. Seminggu tak menggerakkan badan, terasa sakit semuanya saat aku menarik dan mengulur otot-ototku. Tanpa sadar, dua gadis asyik memotret gerakan-gerakanku. Kemungkinan mereka dari jurusan Komunikasi atau Jurnalistik, karena setelah itu mereka mengabadikan gambar beberapa kelompok yang sedang berlatih. Aku menuju ke lintasan tartan. Perlahan-lahan melesat mengelilingi lapangan bola. Semakin cepat, dan semakin cepat. Enam putaran cukup untuk hari ini. AKu berhenti di belakang gawang. Cooling down.

Secara kebetulan, mereka yang bermain-main bola, sudah memulai game. Dan jumlah mereka kurang satu. Dengan gagah berani dan sok PD, aku mengangkat tangan, memohon permisi bergabung. Jadilah aku bermain bersama mereka. 30 menit sudah. Pada akhirnya kusadari, bermain bola di hawa dingin bukanlah perkara mudah. nafas selalu tertingal dua langkah dari kemauan untuk mengejar bola. Maka, di saat mereka masih segar bugar, terpaksa dengan berat hati akui pamit meninggalkan lapangan dengan wajah memerah dan napas tersengal-sengal. Pantas saja, Bambang Pamungkas tak kerasan di Belanda, pikirku. Ah, setidaknya 2 assist dan satu gol sudah mampu menjawab kerinduanku, aku menghibur diriku …

Gadis Laba-laba dari Xinjiang

November 21, 2009

Xinjiang, atau Daerah Otonomi Uygur Xinjiang terletak di perbatasan barat laut China seluas 1.66 juta km persegi, dihuni oleh 21 juta jiwa, dengan 60% diantaranya adalah kelompok minoritas di China. Terdapat 47 kelompok etnik di Xinjiang, Uyggur sebagai kelompok etnis utama, selain suku Han, Kazak, Hui, Mongol, Kirgiz, Xibe, Tajik, Uzbek, Manchu, Daur, Tatar dan Rusia. Agama mayoritas penduduk Xinjiang adalah Islam, diikuti kemudian Budha, Protestan, Katolik dan Tao.  Beberapa kelompok etnis masih menjalankan praktek animisme.

Cuaca begitu cepat berubah. Dalam konteks ini, cuaca memang layak disandingkan dengan kata-kata politisi atau suasana hati perempuan. Unpredictable! Dua hari yang lalu terang benderang, kemarin angin dingin dan kuat berhembus. Hari ini entahlah. Tapi apapun yang terjadi, rain or shine, aku harus nyuci. Stok pakaian bersihku tinggal berumur dua hari lagi. Dan sialnya, aku belum orientasi, adakah laundry koin macam di Malaysia, atau laundry kiloan macam di Jogja? Maka dengan segala keterbatasan, aku mencuci di wastafel kamar mandi. Beruntung, aku membawa sabun cuci sachet dari Indonesia, yang kata labelnya memiliki kekuatan 10 tangan. Baru kali ini aku mencuci dengan 12 tangan. Luar biasa!

Selesai mencuci, masalah berikutnya adalah jemuran. Setelah tengok kanan kiri, ternyata di depan jendela kamar ada besi melintang, yang memang umum dipakai untuk nyantelin cucian. Cuma, jaraknya lumayan dari jendela. Perlu keberanian ekstra untuk menjulurkan separuh badan dan menggapaikan tangan, meletakkan baju di jemuran. Sungguh karunia Allah yang tak terhingga, tinggi badanku sangat membantuku mengatasi kesulitan tersebut. Untung yang kedua, cuaca ternyata bersahabat. Matahari bersinar, ditingkahi semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan uap-uap air yang meninggalkan baju. Harapanku, habis asar nanti, semua cucian bisa kering.

Sambil leyeh-leyeh menunggu datangnya waktu makan siang, aku menyetel televisi di kamarku. Ada 5 channel, semuanya bahasa China. Nggak mudheng aku. Cuma kadang-kadang memang ada yang berbaik hati, ngasih subtitle bahasa Inggris. Bosan dengan cang cing cong yang tak ketahuan ngalor ngidulnya, aku memilih menggauli laptopku. Hiburan terlengkap yang aku punyai. Novel, kartun, komik, film, lagu-lagu mulai dari jaman Nat King Cole sampai Letto, atau mulai dari genre heavy metal macam Judas Priest, sampai petikan gitar Jubing Kristanto, semuanya ada di sana.

Semakin siang, ternyata cuaca mulai berubah. Matahari masih tetap bersinar manis, tetapi angin mulai berubah liar. Kecepatan superfisialnya semakin meningkat. Membawa butiran-butiran air danau ke angkasa. Menjadikan hawa semakin dingin. Dari sudut mataku, seonggok bayangan hitam berkelebat ke bawah. Tapi aku tak begitu peduli, ah paling-paling jemuran tetangga di kamar atas jatuh. Kulihat jemuranku. Sial, beberapa baju posisinya bergeser ke tepi palang besi, yang artinya semakin jauh dari jangkauan tanganku. Atau mungkin bahkan tak terjangkau. Biarlah, dipikir nanti saja. Mudah-mudahan arah angin berbalik, dan baju-baju itu terdorong angin kembali ke tempat semula.

Mendadak terdengar ketukan halus di pintu kamarku. Ketukan yang tak lazim. Biasanya ketukan keras khas dari Pakcik Haizal, atau dari Peter. Kubuka pintu, sesosok tubuh berdiri di depan pintu. Maaf, aku tak biasa menilai dan mendeskripsikan makhluk perempuan dari fisiknya. Yang pasti, dia perempuan, dengan ukuran fisik normal. Itu saja.
“Maaf, baju teman saya terjatuh, dan nyangkut di plafon bawah jendela anda. Bolehkah saya ambil melalui jendela anda?” Sapanya dengan bahasa Inggris yang cukup lancar untuk kategori mahasiswa Cina.
“Silahkan, tapi tunggu dulu sebentar ya” Aku bergegas mengamankan barang-barang yang tak semestinya terlihat orang asing. Setelah itu aku persilahkan dia masuk. Pintu kamar tentu aku biarkan terbuka lebar.

Dia mendekati jendela yang memang sudah aku buka. Laptop di atas meja di depan jendela sudah aku singkirkan. Herannya, dia tidak membawa galah, kawat atau alat apapun. Di luar dugaanku, dia melompat keluar jendela, hinggap di atas plafon di bawah jendelaku, dan merambat ke ujung dinding, menggapai baju yang tersangkut di sana. Aku menahan nafas, mencoba untuk tidak membayangkan hal-hal buruk. Kamarku di lantai empat, sekitar 10 meter di atas permukaan tanah. Kalau Pak Kerto menek klopo, tibo iso dadi Janoko. Lha kalau ini, tibo opo ora dadi perkoro? Setarikan nafas kemudian, dia sudah masuk lagi melalui jendela. Sambil mengucapkan terima kasih, dia meninggalkan kamar. Meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong.

Seminggu kemudian. Selepas makan malam. Aku hendak masuk ke bangunan International Exchange, ketika sebuah suara memanggilku, “Ni hao, hallo”. Gadis laba-laba itu. Kemudian dia bertanya: “Are you Malaysian? Are you moslem” Aku paling benci kalau dituduh sebagai orang Malaysia, maka aku jelaskan dari mana aku berada. Alhamdulillah, dia tahu persis di mana Indonesia, dan tahu kalau Indonesia is the bigger country than Malaysia. “Kamu shalat kan? Rutin lima waktu?” tanyanya lagi. “Well, Insya Allah”, jawabku, sambil sedikit keheranan, darimana dia tahu kebiasaan seorang muslim? “Aku muslim juga, dari Xinjiang” katanya seolah tahu keherananku. Ooooo, kamu ketahuan …… batinku.

Selanjutnya dia memanggil beberapa temannya, yang ternyata komunitas muslim dari Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgistan, Turmenikstan dan beberapa tempat lain. Sayangnya, tak satupun di antara mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Kepada beberapa teman laki-lakinya, dia meminta untuk menjemputku hari Jum’at nanti untuk Jum’atan di tempat biasanya mereka melakukannya.

Xinjiang …. mungkin suatu saat nanti aku akan sampai ke sana ….

Danau Asmara

November 20, 2009

Angin dingin musim gugur menerpa wajahku saat aku membuka jendela kamar dormitoryku. Masih cukup pagi, 6.30. Namun masih terlalu dingin juga. Terbayang dinginnya air shower, yang kebetulan pemanasnya rusak, menjadikan aku malas untuk segera beranjak ke kamar mandi. Kuterawangkan pandangan keluar jendela. Ribuan burung, entah apa spesies dan jenis kelaminnya – sumpah, aku bukan ahli soal perburungan!, terbang mengitari pepohonan di tepi danau di depan jendela kamarku.

Ada tiga danau di dalam kampus SCUN. Satu danau yang sangat luas, tepat di depan jendela kamarku. Dari tepi danau, kita bisa menyaksikan matahari tenggelam, asalkan tidak ada kabut yang turun. Berbatasan dengan jalan, ada danau buatan yang kecil, kira-kira seluas lapangan bola. Di tepi danau itu, tumbuh rapat tanaman seperti cypress. Sebagian pangkal pohonnya terendam air danau. Satu lagi, sebuah kolam yang lebih kecil, penuh ditumbuhi dengan teratai. Sayangnya, saat ini sedang tidak berbunga. Di tepi danau, banyak rumpun bambu menaungi bangku-bangku semen yang tampaknya disediakan untuk duduk-duduk berdiskusi, atau sekedar nongkrong.

Jadwal hari ini tak seberapa padat. Setelah semalam presentasi dan berdiskusi dengan Prof. Du, hari ini hanya kunjungan ke laboratorium lingkungan dan baca-baca literature. Jam 10, Lin Chong dan Leona akan membawaku ke laboratorium. Jadi masih cukup waktu untuk menikmati dinginnya pagi dengan segelas teh Tong Tji nasgitel.

Laboratorium lingkungan, tak lebih besar dari lab Fischer Trops yang kami kunjungi kemarin. Bedanya, hampir semua pelajar yang bekerja di lab ini berjenis kelamin perempuan. Hanya Lin Chong dan aku saja pejantan di sini. Tak ada yang menarik perhatian. Hanya segerombolan glass ware, timbangan, pH meter, fume hood dan perlengkapan standar lab lainnya. Kamipun tak menghabiskan waktu terlalu lama berada di sana. Segera aku ke ruanganku di lantai 7, dan menghabiskan hari yang membosankan tanpa internet itu.

Pukul 15.30, aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari semestinya. Hawa dingin, dan kandungan oksigen yang lebih tipis dibanding Malaysia atau Indonesia, membuat nafasku terasa berat dan kepala pun agak nggliyeng. Mungkin semacam inilah kalau bermain bola di La Paz, Bolivia.

Kalau biasanya aku melalui jalan besar yang membelah danau besar dan kecil dekat penginapanku, kali ini aku memutuskan untuk mencoba jalan lain. Kususuri jalan setapak yang mengitari kolam teratai, dan juga kolam kecil di sebelahnya. Jalan setapak yang berliku, di antara rerumpunan bambu dan rimbunnya cemara. Bangku-bangku yang tersedia di sana, tidak kosong lagi, seperti yang sekilas terlihat tadi pagi. Empat orang tampak asyik memegang kartu. Entah game apa yang mereka mainkan, truf, bridge, atau sekedar sam gong. Di sebelahnya, tampak tiga gadis sedang asyik berdiskusi. Mungkin tentang mata kuliah, atau bahkan tentang gosip artis kesukaan mereka. Aku tidak tahu apakah di sini ada program heboh ala infotainment di tanah air sana.

Makin mendekat ke sisi danau. GANDRIK! Putune Ki Ageng Selo! Tiga atau empat bangku selanjutnya, berisi masing-masing sepasang anak manusia berlainan jenis. Antara malu sendiri dan rasa ingin tahu, sambil melintas kulirik mereka. Tak hanya diam. Mereka beraktivitas, bercumbu. Sesuatu hal yang  sangat jarang ditemui di dalam kampus di Indonesia atau Malaysia. Kubuang jauh-jauh pandanganku, kuhapus pikiran-pikiran kotorku, dan bergegas kuambil langkah seribu. Hari itu, mendadak aku menjadi sangat rindu, kembali ke kampung halamanku …

Wuhan

November 19, 2009

9 jam terkapar di Kuala Lumpur International Airport. Akhirnya China Southern Airlines CZ366 membawa juga badan wadagku meninggalkan tanah Melayu. Menuju negeri antah berantah yang tak pernah kubayangkan akan berada di sana. Cina, Republik Rakyat Cina. Entah takdir apa, yang akhirnya membawaku mendarat di Baiyun Airport, Guangzhou, setelah lebih dari empat jam terapung-apung di angkasa.

Baiyun Airport, Guangzhou. Melebihi dugaanku tentang sebuah negara bernama Cina. Sangat luas, modern dan mewah. Mungkin 3 kali lebih luas dari KLIA, berpuluh kali lipat dibandingkan bandara kebanggaan kota asalku, Adisutjipto. Kekhawatiran bingung dan tersesat sirna, melihat papan informasi dan penunjuk arah yang mencantumkan huruf-huruf yang sangat aku kenal, tidak hanya menampilkan gambar thokolan pencak yang sama sekali tak kumengerti. Ratusan atau bahkan ribuan manusia lalu lalang di antara terminal-terminal yang ada, namun tak membuat suasana crowded (sst… wartawan ka er nulisnya krodit) yang mengurangi kenyamanan. Suara dalam perut pun mengundang. Takut ada genjik yang nyasar masuk mulut, dan demi alasan kepraktisan, maka gerai makan siap saji mekdi pun jadi sasaran tembak. Harga? Standar. Cuma yang bikin heran, french fries ukuran besar, cukup dibanderol 1 yuan, alias 1500 perak!

4 jam menunggu, plus muter-muter sana sini urusan imigrasi, custom dan cek in untuk penerbangan lanjutan, B737-400 milik China Southern Airlines membawaku menuju Wuhan, di provinsi Hubei. Alhamdulillah, dapat pesan pendek via telepon genggamku dari Pahang, kalau nanti di Wuhan Airport ada mahasiswa dari South Central University for Nationality yang siap menjemput. Kekhawatiran menjadi tarzan masuk kota pun sirna. Dan aku baru tahu, kalau di sini DiGi lebih sakti ketimbang Maxis. Begitu menginjak airport, HP on, langsung sinyal DiGi muncul. Sementara Pakcik Haizal yang menggunakan layanan Maxis, masih harus ngutak atik setting di HPnya yang notabene jauh lebih canggih dari HPku, sebelum akhirnya menyerah tidak bisa mendapatkan international roaming. Hanya saja, satu SMS berharga 2 ringgit, jadi cukuplah kirim pesan kepada istri tertjinta kalau sang suami yang senantiasa dirindukan ini telah sampai di negerinya Zhang Ziyi, nir ing sambikala.

17.45 waktu setempat. 10 menit lebih lambat dari yang direncanakan, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Wuhan. Sebelum mendarat, sempat terlihat dari angkasa, kota Wuhan yang diapit beberapa sungai besar dan danau. Belakangan aku tahu bahwa salah satu danau itu berada di dalam kompleks SCUN, tepat di depan jendela kamar dormitory yang kuhuni. Urusan bagasi beres, tampaknya perlu dipertimbangkan lain kali untuk membawa koper yang berwarna mencolok agar mudah untuk menemukannya di tengah-tengah puluhan koper yang mayoritas berwarna hitam, di pintu keluar kami telah dicegat dua orang yang mengacungkan tulisan besar, font arial, size mungkin sekitar 200 pt, nama depan kami. Seorang lelaki, dengan badan tegap, mengenalkan diri sebagai Tao Congliang alias Peter, mahasiswa doktoral dari SCUN, dan seorang gadis, mudah-mudahan, dengan rok mini, kaki berbalut stoking dan mengenakan sepatu boot, menyalami kami sambil menyebut nama: Yuxi Lei alias Rosy. Dia adalah mahasiswa S1 tingkat akhir di SCUN.

Honda Accord keluaran tahun terakhir membawa kami melintasi jalan bebas hambatan menuju SCUN. Hari sudah gelap, kendaraan yang lalu lalang di jalan pun mulai berkurang. Agak aneh juga, melihat mobil berjalan di sebelah kanan, dengan sopir berada di sebelah kiri. Satu jam berlalu, sekitar 60 km jarak telah ditempuh. Sampailah kami di gerbang South Central University of Nationality. Rosy meminta sopir untuk tidak langsung memasuki kampus, namun menuju ke sebuah tempat. Ternyata sudah dipersiapkan welcome dinner untuk kami, di sebuah restoran yang tampaknya berkelas. Sebelumnya kami telah menyampaikan bahwa kami muslim, dan kami menolak segala makanan yang berbau genjik beserta turunannya. Mereka faham, dan di restoran dengan bijaknya memilihkan kami menu sup ayam, ikan, dan bebek panggang. Masalah berikutnya, mana sendoknyaaaa??? Terpaksa, mengetes keahlian japit menjapit dengan sumpit. Giliran menjapit bebek, nggak terlalu masalah. Cuma sewaktu bertanding dengan nasi, lhadalah, mawut kabeh. Beruntung, Rosy tahu masalah kami, dan berinisiatif memintakan sendok dan garpu. Tak menunggu hitungan menit, bablas bebeke!

Selesai makan, kami dibawa menuju ke tempat kami menginap, international transit dormitory, atau apalah namanya. Lantai empat, tanpa lift. Beruntung, Peter yang baik hati dengan suka rela memanggul koper ajaibku yang beratnya hampir mencapai 20 kilo. Melampaui harapanku, kami mendapat kamar sendiri-sendiri, bed ukuran jack (maksudnya di bawahnya king dan queen size), ber-AC, kamar mandi di dalam (tapi tidurnya juga di dalam, bukan kamar mandi dalam, tidur luar) plus water heater, TV 20 in, lantai parquet. Begitu Peter dan Rosy berlalu, aku mandi, shalat jama qashar, terus ngringkel di bawah selimut, menahan dinginnya udara akhir musim gugur di Wuhan…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.