Wisanggeni Gugat 4: Pembelotan Batara Bromo

November 8, 2008

Lanjutan dari sini….

Senja menjelang. Di beranda Gresilageni, Dewi Dresanala sedang berwawan kata dengan sang putera, Wisanggeni, ketika dikejutkan kedatangan seseorang yang gagah pidekso. Dari angkasa, sang ksatria yang tak lain adalah satria Pringgondani, Gatotkaca, meluncur deras sepanjang runway yang membentang di depan pendopo kahyangan Gresilageni. Dengan mulus, sang Gatotkaca mendarat dan sejurus kemudian sudah berada di hadapan Dewi Dresanala.

“Kok njanur gunung, putraku Gatotkaca, bagaimana kabarmu, orang tuamu dan seluruh pepundenmu di Amarta?” Dewi Dresanala membuka pembicaraan.

“Pangestunipun ibu Dresanala, segala lindungan dan rahmat Sang Podo Wenang senantiasa tercurah kepada keluarga besar Pandhawa”

“Kakang, sehat-sehat saja kan? Ada perlu apa kok kelihatan tergopoh-gopoh, langsung saja disampaikan, tak perlu membuang-buang waktu!” Wisanggeni tak sabar mendengarkan pawarta yang dibawa kakak sepupunya.

“Hari ini dimas dipanggil menghadap ke kraton Amarta. Ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan, berkaitan dengan persiapan menjelang perang Baratayuda. Sri Kresna pun akan hadir, untuk ikut menentukan para putera pandawa yang akan dinobatkan jadi senopati perang.”

“Ooo… kalau begitu saya manut saja. Sayangnya, aku saat ini baru suntuk pikiranku. Aku baru tak bisa berpikir jernih. Aku harus menyelesaikan dulu urusan yang sangat penting. Nanti aku akan menysul ke Amarta kalau urusan penting ini sudah selesai!” Wisanggeni setengah tak sabar memberikan jawaban.

“Ada apa to, putraku, kok sepertinya ada hal yang rumit?” Dewi Dresanala menyela

“Begini ibu, kangmas Gatotkaca menjemputku untuk datang dalam musyawarah yang akan digelar di kraton Amarta, namun pikiranku merasa tidak enak, dan aku harus menyelesaikan satu urusan terlebih dahulu”

“Urusan apa to le, kok sepertinya sangat penting”

“Ibu saya beri tahu, tapi jangan kaget ya. Keluarga kita baru dapat cobaan yang berat. Suralaya menghendaki kematian empat titah ngarcopodo. Tak lain adalah aku, kakang Antasena, wak Werkudoro, dan suamimu”

“Suamiku?”

“Iya, suamimu bu, Arjuna”

“Lha rak bapakmu to?”

“La iya, bapakku”

“Terus, alasannya apa?”

“Aku, kakang ANtasena dan wak Werkudoro dianggap tak punya tatakrama, sementara bapak dianggap sering melecehkan kewibawaan dewa, dengan hobinya yang memperistri para bidadari. Dan nanti, eyang Bromo akan pulang, mencariku, dan akan membunuhku, sebagaimana ditugaskan oleh Eyang Bathara Guru”

Ketajaman mata hati Wisanggeni sangat teruji. Tak heran, karena sejak lahir dia sudah digodog di kawah Candradimuka, sehingga anginpun mampu membawa kabar baginya. Semua bisik-bisik di Suralaya telah menjelma menjadi gaung yang sangat nyata dan terdengar di telinga Wisanggeni. Dewi Dresanala sangat terkejut dengan kenyatan itu. Tak kalah terkejutnya Raden Gatotkaca, mengethaui bahwa ayahnya dan saudara tirinya menjadi target operasi Sang Batara Guru.

“Bapak dan kakang Antasena juga mau dilenyapkan, dimas?”

“Iya kang. Batara Guru sudah mengutus Dewasrani untuk memenggal kepala wak Werkudoro, kakang Antasena dan juga bapak Arjuna”

Dewi Dresanala tak kuasa menahan derai tangis

“Duh Gusti ingkang murbeng dumadi. Lelakuon kok koyo mangkene. Harus bagaimana lagi kita menghadapinya anakku?”

“Sudahlah, ibu tak perlu khawatir. Sekarang ibu masuk ke kamar, beristirahatlah. Serahkan kepada anakmu ini. Aku akan menyongsong eyang Bromo, dan menyelesaikan semua persoalan ini. Kalau perlu, aku obrak-abrik Suralaya, demi mendapatkan keadilan.”

“Biarkan aku ikut mendampingimu, thole. Aku ingin berjumpa dengan Rama Bathara Bromo”

“Tak perlu ibu, nanti hanya akan jadi hujan tangis dan airmata. Kesedihan dan airmata tak akan menyelesaikan masalah. Ibu percayakan saja kepadaku. Jangan khawatir, ini ada satu sukarelawan yang bisa dimanfaatkan untuk ikut ngobrak-abrik Suralaya” Wisanggeni menenangkan sang ibu sambil melirik kepada Gatotkaca

“Bers Dimas, aku pasti akan membantumu” Sahut Gatotkaca

“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan nenepi dulu, memanjatkan doa untuk keselamatanmu, keselamatan eyangmu, bapakmu, dan seluruh pandawa” Dewi Dresanala beranjak ke dalam

“Sebentar bu…”

“Ada apa anakku”

“Ini, kinang dan mbako susurnya ketinggalan”

**********

Sesaat setelah Dewi Dresanala, datanglah Batara Bromo dengan berurai airmata…

“Aduh Ngger Wisanggeni cucuku, aku tak tahu harus bicara bagaimana”

“Kaki Bromo, kamu kok datang-datang becucuran airmata. Dewa itu nggak boleh nangis, tahu?!”

“Nggak ada undang-undang yang melarang dewa nangis kok. Dewa juga punya emosi, kalau memang susah ya boleh-boleh saja nangis”

“Terserah, nggak usah nangis. Sekarang kaki ngomong saja yang jelas.  Dewo kok gembeng!”

“Duh, Wisanggeni cucuku. Aku benar-benar nggak mampu mengatakannya. Aku tak sanggup…”

“Wis to kaki. Kamu tadi disuruh apa sama Guru? Sekarang, terserah kamu, saguh atau nggak? Kalau sanggup, cepet-cepet saja bunuh aku. Penggal leherku!”

“Duh ngger putuku, kamu kok sudah tahu segalanya? Siapa yang bilang kepadamu?”

“Lho kaki nggak tahu ya, kalau aku punya penyadap yang maha hebat. Nah sekarang, tinggal gimana kemauan kaki. Mau nggugu karepe Guru, aku patenono. Atau kalau mau berpihak padaku, siap-siap saja nyemplung bareng ke kawah Candradimuka!”

“Sebenarnya aku tak mampu membiarkanmu mati, namun aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Kakang Guru”

“Kalau kaki memang ngeman nyawaku, sekarang kaki masuk saja ke dalam. Biar aku dan kakang Gatotkaca yang menyelesaikannya”

“Duh ngger putuku, kepurusan yang amat berat. Kamu harus menghadapi para dewa-dewa di Suralaya, yang kesaktiannya luar biasa.”

“Jangankan hanya dewa, Guru pun aku tak takut. Kalau perlu, aku bisa nglengserkan dia dari singgasananya. kalau perlu, nanti aku angkat kaki jadi Guru”

“Emoh, aku nggak sanggup jadi Guru, nggak punya ijazah!”

“Wis, sekarang kaki ke dalam sana. Temani ibu Dresanala. Pokoknya kaki sama ibu tahunya beres! Sana Ki, jangan buang waktu, keburu para dewa datang ke sini!”

Batara Brama bergegas masuk. Wajahnya masih tergurat kesedihan dan kebimbangan. Air mata pun masih menetes dari sudut bola matanya.

Dari kejauhan, Narada dan kawan-kawan menyaksikan pembelotan Bromo. Maka tanpa pikir panjang, Narada memberikan instruksi kepada para dewa untuk turun, dan menyambangi Wisanggeni dan Gatotkaca.

“Wisanggeni, mana eyangmu?” tanpa basa-basi Narada menanyai Wisanggeni

“Ada perlu apa, wo Narada?”

“Eyangmu sudah mengabaikan perintah Batara Guru”

“Memangnya kenapa, kalau kaki Bromo nggak mau membunuhku?”

Narada menoleh ke Panyarikan

“Panyarikan, tangkap dan seret Bromo. Langsung cemplungkan ke kawah Candradimuka!”

“Halah, ngapain susah-susah nangkap Bromo? Mending nangkap aku dulu yang sudah ada di sini. Baru setelah bisa meringkusku, silahkan kalau kalian mau menyeret kaki Bromo ke kawah Candradimuka.”

“Welha, dasar bocah ora urus. Njaluk mati tenan iki. Berani-beraninya kamu menantang para dewa. Nggak takut kuwalat, hah!”

“Apa yang kutakutkan? Dewa itu kalau salah ya tetep salah. Nggak ada kata kuwalat bagi yang membela kebenaran!” tegas Wisanggeni

“Panyarikan, jangan buang waktu, segera bereskan anak ingusan itu!” teriak Narada kepada Panyarikan

“Lha, terus kaki Narada ngapain?”

“Ulun tak nonton, mbotohi saja. Biar yang muda-muda yang maju” Narada beringsut dan duduk di bawah pohon preh. Tak lupa menyulut rokok klobotnya, sambil mengawasi para juniornya bersiap-siap melabrak Wisanggeni.

Panyarikan melompat ke hadapan Wisanggeni. Wisanggeni pun telah memasang kuda-kudanya.

“Ayo kaki Panyarikan, jangan ragu-ragu, hantam saja dadaku!” tantang Wisanggeni

Sejurus kemudian Panyarikan menarik kuda-kudanya, dan siap melompat menerjang dada Wisanggeni. Sepersekian detik, angin deras menerpa tubuh Panyarikan. Beruntung, kesigapan dan ketangguhan seorang dewa mampu mempertahankan posisi tubuhnya tetap tegak berdiri. Tanpa diduga, ternyata Gatotkaca sudah berdiri di hadapan Wisanggeni, membentengi adiknya dari serangan Panyarikan.

“Hadapi aku dulu. Langkahi mayatku, sebelum kalian dapat meringkus adimas Wisanggeni”

“Lho Gatotkaca, kamu kok melu-melu Wisanggeni? Nggak takut kualat, sama dewa kok ngoko!”

“Nggak perlu susah-susah kromo inggil. Boso atau nggak yo tetep akan jotosan kok. Sini, hadapi dulu Gatotkaca, satria Pringgondani!”

Senja sudah berganti malam. Bulan sabit tanggal 2 telah pula memasuki bilik peraduan. Blencong di pendapa kraton Gresilageni tak mampu menerangi seluruh halaman pendopo. Hanya kelebat-kelebat sinar yang tak mampu diikuti oleh mata, saling sahut menyaut di kegelapan malam. Serta suara-suara benturan yang timbul dari pertempuran tanding maha dahsyat antara seorang titah ngarcapada melawan seorang dewa.

Bersambung lagi…

20 Responses to “Wisanggeni Gugat 4: Pembelotan Batara Bromo”

  1. Hedi Says:

    siap menunggu lanjutannya…

  2. Ndoro Seten Says:

    welha dalah jagad dewo batoro!
    wisanggeni….wisanggeni!

  3. nothing Says:

    saya juga nunggu…lanjutane :)


  4. Aku kok pingin liat gambar Dewi Dresanala saat sedang nginang. Ada nggak, Pak Dee?

  5. Gelandangan Says:

    iya mas nggak ada gambarnya yah mas :D


  6. saya di heran nih, ki. di mana2 persekongkolan dan konspirasi jahat kok selalu ada. tapi saya yakin, putra2 pendawa bisa mengatasi masalahnya. suradira jayangingrat lebur dening pangastuti. nuwun, ki.

  7. adipati kademangan Says:

    ngenteni terusane *karo nginang lan nyusur*


  8. wah bisa dibikin jadi sebuah buku nih :D
    Sugeng warsa enggal Kangmas

  9. sinder tanjungsari Says:

    maturnuwun sampun menyediakan sarana buat belajar crito wayang..mugi diterusaken sak lajengipun..

  10. Ndoro Seten Says:

    tancep terus kang!

    pripun kabar sampeyan? sekarang dimana to?


  11. wow, bagusnya citermu :) Jom singgah blog Malaysia

  12. Lik Run Says:

    muantabbb boss….

  13. polar Says:

    kapan [osting baru lagi?????

  14. ridho Says:

    iya nih sudah nunggu sekian lama g ada lanjut ane hiks hiks hiks

  15. agus Says:

    mbah kapan ni lanjutannya di muat
    dah gak sabar nunggu

  16. Ginnabilla Says:

    “Hoo…allahhh, pikulun mbenjang nopo cariosipun kalajengaken..!!ingkang wayah selak keblet (kromone opo yo.. keblet???”

  17. songgojiwo Says:

    monggo kang di lanjutaken… kulo nyimak sambil udut karo kopine

  18. Raden haryo sukro werkudoro Says:

    Mas nek saget critonipun mbeto boso jowo,trus karakterenipun geh dibedaaken.Supoyo sekeco di waos.Hehehe

  19. wistara Says:

    makin seru aja nich critane

  20. Ir soegito Says:

    Siap tunggu lanjutanya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: