Wisanggeni Gugat 3: Mata-mata para Dewa
Oktober 4, 2008
Pukulun Bathara Guru memerintahkan Bathara Bromo untuk membunuh cucunya Wisanggeni, dalam rangka membersihkan anasir-anasir di ngarcapada yang dianggap merongrong kewibawaan dan melecehkan kehormatan para dewa yang bertahta di kahyangan Suralaya. Pada saat yang sama, Bathara Guru juga mengutus Bethari Durga untuk memerintahkan putranya Dewasrani membinasakan Janaka, Werkudara dan Antasena, dengan tujuan yang sama, serta diiming-imingi imbalan akan dinobatkan sebagai lelananging jagad menggantikan Arjuna.
Sebelum meninggalkan pisowanan, Bathara Guru sempat memanggil Bathara Narada untuk mengawasi langkah Bathara Bromo dan memastikan bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan tugasnya membinasakan Wisanggeni. Dengan berat hati, Narada menyanggupi, demi kesetiaan terhadap pimpinannya. Dengan ditemani dua puteranya, Masno dan Panyarikan, Narada pun bergegas keluar dari sitinggil dan menghampiri para dewa yang masih berkumpul di luar pintu gerbang sitinggil.
“Wo Narada, ada dhawuh dan berita apa dari pukulun Bathara Guru? Kok sepertinya keadaannya gawat?” tanya Yomodipati mewakili rasa ingin tahu para koleganya.
“Iya, wo. Kami siap nyadhong dhawuh nungsung pawarto. Kalau ada apa-apa, kami siap membantu”, sergah Bathara Sambu dari belakang.
“Masno, Panyarikan, ini para teman-temanmu pada ingin tahu dhawuh dari Sanghyang Guru. Bagaimana ini?” Narada meminta pertimbangan kepada dua puteranya.
“Lha monggo pukulun. Lebih baik disampaikan saja apa yang menjadi dhawuh pukulun Bathara Guru, biar semuanya jelas, dan seluruh warga kahyangan Suralaya mengerti duduk perkaranya”. Masno memberikan pertimbangannya.
Maka Bathara Narada pun menceritakan semuanya.
“Indra, Tatra, Sambu, Yomodipati dan semuanya. Janganlah kalian terkejut dengan apa yang disabdakan Bathara Guru. Bathara Guru hendak menjaga kewibawaan kahyangan. Titah ngarcapada yang dianggap merendahkan martabat kahyangan harus dimusnahkan. Menurut Pramesthi Bathara Guru, ada 4 titah yang harus dilenyapkan”
“Siapa Wo?” potong Indra
“Tiga, Wisanggeni, Werkudara dan Antasena. Mereka dianggap tidak punya tatakrama. Tidak bisa bertutur kata dengan halus dan lemah lembut. Bahkan dengan dewa saja mereka tidak bisa kromo inggil. Kemudian satu lagi Arjuna. Kekurangajarannya adalah pada hobinya memperistri bidadari. Padahal menurut pukulun Bathara Guru, jangan sampai para bidadari itu jatuh ke tangan manusia biasa. Sudah ditakdirkan bahwa bidadari hanya untuk para dewa. Bayangkan, tiap-tiap ada bidadari yang cantik, diambil istri oleh Janaka. Lama-lama stok bidadari akan habis. Kasihan para dewa, terutama yang bertampang buruk, besok-besok nggak bakalan kebagian jodoh bidadari. Apa disuruh kawin sama celeng?! Maka jalan satu-satunya untuk menghentikan penghinaan itu adalah dengan membinasakannya.”
“Nuwun sewu Wo, saya boleh mengemukakan pendapat?” Yomodipati menyela.
“Boleh-boleh saja Yom”
“Menurut pendapat saya, menghilangkan salah satu atau lebih anggota Pandhawa, itu sama saja dengan mempersiapkan kehancuran bagi kahyangan Suralaya. Ingat sabda Sanghyang Wenang, jangan sampai mengganggu gugat keberadaan Pandhawa. Bahkan para dewa sendiri tidak diperbolehkan untuk ngucap ngrasani matine Pandawa. Lha nanti kalau benar terjadi pembunuhan Pandawa, terus bagaimana selanjutnya nasib kita Wo Narada?”
“Lha kalau berani sana, protes sama Bathara Guru, jangan sama ulun. Lha wong ulun cuma sekedar disuruh kok. Wong ulun tadi sudah bilang seperti itu sama pukulun, bukannya didengar, malah ulun hendak dipensiun jadi dewa! Makanya kalau sudah siap pensiun jadi dewa, silahkan kalian menghadap Adi Guru, dan matur rame-rame”, ketus Narada.
“Saya kira, kalaupun harus dipecat dari kahyangan, asal beramai-ramai, bagi saya tak ada masalah kok Wo” tantang Yomodipati, “nggak jadi dewa juga nggak patheken. Yang saya cari itu adalah ketenteraman hidup. Coba buktikan besok, kalau Janaka mati, bisa dipastikan kahyangan Suralaya geger!”
“Sebabnya?” sergah Narada
“Kahyangan akan diserbu para jandanya Janaka. Mereka pasti akan berunjuk rasa dan minta pertanggungjawaban kita. Belum lagi, kalau orangorang itu pada tahu banyak stok janda di sini, mereka pasti akan nglurug ke Suralaya, memburu para janda bidadari itu”
“Maksudumu, para titah ngarcapada?”
“Iya, Wo”
“Yen ngono, kalau ada titah yang berani datang kesini, bunuh saja sekalian”
“Lha, nanti kalau bidadari terus mengamuk, gara-gara tak dapat jodoh”
“Bunuh sekalian!”
“Padahal bidadari itu anaknya para dewa. Kalau mereka tidak rela kehilangan anak, dan ikut-ikutan ngamuk?”
“Bunuh juga sekalian, gitu aja kok repot”
“Dewa itu padahal ada yang juga anaknya Wo Narada, lha nanti kalau Wo Narada nggak terima terus juga mengamuk?”
“Yo binasakan sekali…. weee… dengkulmu mlocot kuwi. Lha kok terus ulun didaftarkan mati sekalian, dasar bocah ra urus” Narada menyerapahi Yomodipati.” Sudah, sekarang nggak usah dipikirkan dalam-dalam lagi. Sekarang semuanya juga bernagkat ke kahyangan Gresilageni”
“Tujuannya apa Wo?”
“Mengawasi gerak-gerik Bathara Bromo. Kalau dia bisa membunuh Wisanggeni, maka berikanlah bantuan secukupnya. Namun bila dia tidak mampu membunuh cucunya, maka tangkaplah keduanya, dan ceburkan ke kawah Candradimuka.”
“Kalau begitu caranya, berarti saya batak besanan dengan Bathara Bromo” protes Indra
“La kenapa?”
“Sudah rembug tuwa, kalau anak saya Prabasini akan inikahkan dengan Wisanggeni dalam waktu dekat ini”
“Batalkan! Kalau sudah terlanjur pesan tempat, batalkan. Undangan yang sudah tersebar, segera ditarik. Daripada jadi masalah nantinya!”
“Sudah, sekarang semuanya berangkat, dibawah komando ulun. Kalau Bromo mbalelo, tangkap dan cemplungkan Candradimuka!”
Dengan setengah hati, para dewa pun berangkat ke Gresilageni. Demi sebuah kesetiaan terhadap pimpinan mereka …
Bersambung
“
Oktober 4, 2008 at 2:31 am
wah, kisah ini akan lebih menarik kalau difokuskan pada unjuk rasa yang dilakukan oleh para janda janaka. pasti seru, ki, hehehe
lanjutan kisahnya fokuskan yang itu ya, Ki.
Oktober 4, 2008 at 5:53 pm
wah kowe kudune dadi dalang, ga usah nang malaysia hahaha, apik tenan De
Oktober 6, 2008 at 11:44 am
Wisanggeni Wisanggeni …
Coro Wisanggeni karo Ontoseno Melok Perang Bharatayudha, Piye Yo Hasile ???
Oktober 10, 2008 at 2:29 pm
sing menang yo Pandhawa
Oktober 12, 2008 at 9:42 pm
Wahh kok bersambung lagi…padahal menunggu demo janda Janaka.
Oktober 17, 2008 at 10:36 am
waaaa…. ceritanya ini ngarang sendiri atau???
Oktober 17, 2008 at 11:15 am
tak tunggu randhane kang!
November 5, 2008 at 1:44 am
Bersambung meneh… Walah, koyo moco cerbung — cerita sambung sinambung — nang majalah Djaka Lodhang.
November 5, 2008 at 11:22 am
saya mbaca langsung ke episode 3….. wkwkwk
gak mudeng jadinya. …….
November 5, 2008 at 6:26 pm
kok kayak cerita ketoprak humor aja
November 8, 2008 at 2:14 am
[...] Setelah dua kali kematian « Wisanggeni Gugat 3: Mata-mata para Dewa [...]
November 11, 2008 at 5:09 pm
yo nek sok ngrunggokke alm hadi sugito y wis apal critone,,hehe