Adol Lengo Kari Busik
September 5, 2008
Nggak. Nggak ada hubungannya dengan harga minyak dunia yang naik turun gak karu-karuan. Apalagi sama gasnya mas Tangguh. Adol lengo kari busik, dalam bahasa Jawa adalah sebuah ungkapan yang kira-kira memiliki arti mendistribusikan sesuatu, tapi sang pembagi tersebut malah tidak kebagian.
Ramadhan hari pertama. Dan untuk pertama kalinya aku sekeluarga menunaikan ibadah puasa di kerajaan seberang. Tentu, tak ada kolak, tak ada mendoan, juga tak ada kipo untuk sekedar membatalkan puasa. Maka, siang harinya sang bidadaripun berinisiatif untuk membuat sesuatu yang istimewa untuk buka puasa pertama. Browsing sana sini, akhirnya ketemu satu jenis makanan pembuka yang sudah lama tak pernah kami cicipi. Jenang candil! Semacam bubur tepung beras yang dicampur dengan bola-bola ketan dan diberi kuah santan. Mmmmmh, baru dari bayangannya saja, sudah terasa lezatnya untuk mengawali buka puasa.
Iseng, sambil nguleni adonan tepung, bidadariku mengusulkan bagaimana kalau ditawarkan ke para tetangga. Alasannya, kalau cuma buat sedikit, rugi tenaganya, tapi kalau buat banyak, mana cukup perut-perut kecil ini menampungnya. That’s great idea honey! Setidaknya kita bisa berbagi kerinduan pada tanah air, sekaligus dapat sedikit shilling untuk ngganti bahan baku dan gas. Maka sang jemari sang bidadaripun menari lentik di atas keypad SonyEricsson kesayangannya. Menawarkan jenang candil pada para tetangga. Tak perlu menunggu dalam hitungan menit, beberapa repaly masuk. “Bu, saya pesen 2″ atau “bu, 4 porsi ya, saya ambil sebelum maghrib”. Lumayan juga nih.
Menjelang maghrib. Total 10 porsi dipesan oleh para tetangga. Bidadariku mulai menuang jenang ke dalam kotak styrofoam. Sebagai suami yang baik, aku membantu membungkus kuah santan dengan plastik. 10 pax sudah siap untuk diantar ke tetangga. Bidadari kecilku merengek minta diambilkan satu mangkok. Bidadari gerangku baru ke tetangga mengantar pesanan. Aku beranjak, mengambil jenang di dalam panci. Gandrik, putune Ki Ageng Selo! Lha kok tinggal satu centhong? Lha diembat sama bidadari kecilku rak tamat riwayat bubur candilnya. Lha terus yang buat buka mana?
Saat bidadari pulang ngider jenang, dia berkata, maaf ya pa, jenangnya habis, dipesan tetangga semua, jadinya cuma tinggal sisa semangkok buat Jasmine …
Hari pertama puasa, cukuplah segelas teh nasgitel menemani kami berbuka. Dibumbui keceriaan, berbagi kebahagiaan dengan tetangga…
September 6, 2008 at 1:54 pm
tetep, yang paling penting si bidadari kecil ya pakde…
September 7, 2008 at 2:42 pm
lha yo gpp to, sedekah iku kudu total, de =))
September 8, 2008 at 8:49 am
ra mangan pulute ning entuk nangkane, lak begitu tho pakdhe?
September 9, 2008 at 3:43 pm
hahahaha.
September 9, 2008 at 4:50 pm
Ayo mudik mas …
Pasti kangen banget to, lebaran di rumah
Hi hi, sampai ndak kebagian jenangnya
September 9, 2008 at 4:57 pm
siyalan. saya juga nggak kebagian. lain kali saya minta tiga porsi, ya. dua untuk saya dan satu untuk bidadari saya. kenapa saya dua? karena jatahnya Anya buat saya. okay?
September 19, 2008 at 6:36 pm
Wahh berarti bisa usaha sampingan….masakannya disukai teman-teman, itu yang penting.
Dan masih ada nasgitel……