Gendhel Wurung
Juli 19, 2008
Catatan: Cerita ini kelanjutan dari sini.
Malam semakin larut. Embun mulai turun menyetubuhi bumi. Para tonggo sekapat yang tadi berkerumun di sekeliling rumah sudah mulai beranjak pulang. Tinggal menyisakan beberapa mbok-mbok yang masih ngobrol di dapur, dan sekitar tiga atau empat orang di patehan. Para baju barat yang tadi petang mendampingi aku menghadapi sang bong, sudah mulai terkapar dan terlelap di atas tikar pandan yang digelar di pendopo rumah. Perut mereka yang kenyang oleh gule menthok dan lemper semakin membuat tidur mereka kepati, seperti doso buto mati, peminum arak yang nglempus sehabis menenggak sepuluh sloki. Aku masih klisikan di kamar. Rasa panas dan perih mulai terasa seiring dengan semakin menurunnya pengaruh dry ice pada adik mungilku. Namun, rasa lega dan capai mengalahkan rasa sakit, dan menuntunku menuju alam mimpi. Dan malampun berlalu tanpa ada suatu kejadian yang berarti.