Kuntul Baris
Mei 2, 2008
Setelah sekian lama terbengkelai akibat tragedi Kang Basiyo, rencana untuk melebarkan jalan di sekitar pasetran gandamayit kembali mengemuka. Hal ini dipicu oleh keresahan para warga pengguna jalan setapak itu yang merasa tidak nyaman dengan keharusan untuk menempuh perjalanan memutar menghindari kewingitan kawasan pasetran gandamayit. Maka para tetua kampung pun berembug, dan akhirnya mengambil keputusan secara bulat, golong gilig, pasetran gandamayit harus direhabilitasi. Harus dipulihkan kondisinya. Jangan sampai kewingitan tempat itu mengganggu roda perekonomian, ngrusuhi para remaja yang sedang sengkut ngudi kawruh. Targetnya, pasetran gandamayit tidak lagi menjadi tempat di mana sato moro sato mati, jalmo moro keplayu.
Beberapa langkah yang akan dilakukan oleh para warga adalah menebang pohon jangkang yang mungkin usianya lebih tua dari umur mbah canggahku, melebarkan jalan setapak sehingga bisa dilewati dengan leluasa oleh kafilah bakul sengek, dan para blantik wedhus dapat berpapasan dengan leluasa dengan bu tani yang nuntun sepeda memboncengkan krombong berisi panenan yang hendak dijual ke pasar Sentolo. Penggantian wot glugu dengan sesek bambu selebar satu setengah meter juga menjadi program prioritas dalam rencana strategis revitalisasi pasetran gandamayit. Pelaksanaan program akan dilakukan Nga’at Kliwon mendatang, dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada di kampung. Seluruh warga laki-laki yang sudah tetak, sebagai tanda kedewasaan, wajib hadir, dengan membawa peralatan yang dimiliki. Parang, arit, pacul, sekop, linggis, tenggok dan sebagainya. Anak-anak yang ingin berperan serta, diberi jatah untuk nyunggi pasir dari pinggir kali ke sekitar lokasi, dengan syarat tak boleh ngisruh dan ngribeti. Ibu-ibu, mbokdhe-mbokdhe, para perawan kencur maupun jahe, wajib berkumpul di dapur umum darurat di halaman belakang rumah Pakdhe Karyo Dubruk, untuk mendukung logistik bagi para lelaki.
Soal dana, beruntung Ki Lurah Donowilopo yang beberapa waktu baru saja terpilih sebagai lurah desa, sanggup menyumbang seratus ribu untuk pembelian semen dan bahan-bahan yang diperlukan. Untuk batu putih, Kang Bandros merelakan tanah tegalannya digali untuk diambil batu putihnya. Sebenarnya dia juga berkepentingan, dengan terambilnya lapisan watu putih, dia bisa lebih leluasa menggarap tegalannya, tidak melulu ditanami telo puhung sepanjang tahun. Pasir, kerikil dan batu hitam, Progo telah menyediakannya dalam jumlah tak terbatas. Bambu untuk sesek, dan untuk keperluan lain, cukup ditebang di perbatasan kuburan di atas pasetran gondomayit. Maka siaplah semuanya untuk dilaksanakan.
Seminggu sebelum pelaksanaan gugur gunung, terlebih dahulu para tetua, dipimpin oleh kaum rois
Mbah Duladi memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, meminta perlindungan dan keselamatan dalam mengerjakan tugas berat ini. Sementara itu, di lokasi, para penganut aliran kebatinan, yang dipandegani oleh Mbah Atmopawiro melakukan ritual khusus bersih-bersih di sekitar pasetran gandamayit. Asap kemenyan, ingkung pitik cemani, kembang pitung warna, degan ijo dan kembar mayang tampak dipajang di sela-sela akar pohon jangkang yang menjulur. Walapun, menurutku, bukannya menambah padhang, justru semakin mebuat pasetran gandamayit singup. Tapi itulah kepercayaan mereka, dan kami di kampung terbiasa bersanding dengan damai, tanpa saling mengganggu dan mempengaruhi.
Nga’at Kliwon, selepas subuh. Sinar matahari mulai terbit. Kang Sukro berjalan menuju pos ronda di ujung jalan kampung. Masih tercecer beberapa lembar kartu ceki, sisa semalam para pemuda kampung lek-lekan menjaga keamanan desa. Dengan sekuat tenaga, Kang Sukro memukul kentongan yang terbuat dari akar pohon bambu dengan nada doro muluk. Menandakan bahwa para warga sudah dinantikan kedatangannya untuk cancut tali wondo, ngayah-ayahi kewajiban yang telah mereka sepakati. Gugur gunung mengubah wajah pasetran gandamayit. Segera saja suara kentongan Kang Sukro dibalas oleh bunyi serupa dari cakruk lainnya. Tak lupa Mbah Jayadi ikut-ikutan latah membunyikan beduk masjid di tengah desa. Jadilah pagi itu kampung kami sangat sibuk. Seperti hendak berangkat ke padang kurusetra. Pacul, gobang, bendho, arit, linggis telah ditenteng di tangan. Semuanya mengarah kepada satu titik. Pasetran gandamayit. Anak-anak nggendong dan nyunggi tenggok sarangan, ada juga yang nyangking cemong bekas cat, untuk nglangsir pasir dari tepi Progo ke setapak di sekitar pasetran. Ibu-ibu, mbok rondho, dan para perawan kunir asem, ngemban wakul, ngindhit klenthing, menuju rumah Pakdhe Karyo. tak ada satu warga pun yang ketinggalan. Semua satu arah, satu tujuan. Rakyat bersatu, dhemitpun dikalahkan.
Meneguhkan niat, menguatkan raga, serta membarakan semangat, para pemuda-pemudi rengeng-rengeng tembangan:
Ayo konco ngayahi karyaning projo
kene, kene, gugur gunung tandang gawe
sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane
lilo lan legowo kanggo mulyaning negoro
Siji, loro, telu, papat, mlaku papat-papat
diulang ulungake mesti enggal rampunge
holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris, holopis kuntul baris ….
Catatan:
wingit = angker; golong gilit = mufakat; ngrusuhi = mengganggu; sengkut = tekun; ngudi kawruh = menuntut ilmu; sato moro sato mati jalmo moro keplayu = hewan datang pun mati manusai datang pasti tunggang langgang
canggah = di atas buyut; bakul = penjual; sengek = makanan tradisional dari tembe benguk; blantik wedhus = pedagang kambing; krombong = keranjang besar yang diletakkan di boncengan sepeda; wot glugu = titian dari pohon kelapa; sesek = jembatan; Nga’at = Ahad, Minggu; arit = sabit; pacul = cangkul; tenggok = keranjang bambu; nyunggi = memanggul diatas kepala; ngisruh = membuat keributan; ngribeti = mengganggu
telo puhung = ubi kayu; gugur gunung = gotong royong; kaum rois = pemimpin agama Islam; dipandegani = dipimpin; ingkung = ayam dimasak utuh; pitik cemani = ayam hitam; pitung warna = tujuh macam; padhang = terang; singup = angker
kartu ceki = kartu cina; lek-lekan = begadang; doro muluk = salah satu nada pukulan kentongan,menandakan aman; cancut tali wondo = menyingsingkan lengan baju; ngayah-ayahi = menjalankan kewajiban; cemong = kaleng; ngalngsir = memindahkan sdikit demi sedikit; ngemban wakul = menggendong bakul; ngindhit klenthing = menggendong tempayan ai
Mei 2, 2008 at 3:15 pm
perawan jahe niku kados nopo nggih? anget-anget pedes ?
===========
lha itu, sampeyan kayaknya malah sudah ngicipi
Mei 2, 2008 at 3:33 pm
pertanyaan saya juga sama, pak dee
seperti apa perawan jahe itu?
enaknya di desa ya begitu, mo cari bahan apa ya bisa langsung ambil… eh tapi ijin dulu sama yg punya yak
===============
wis dijawab iway kang! soal ngambil bahan, etikanya sama dengan kopas Ed, ijin sama empunya, minimal sebutkan sumbernya
Mei 2, 2008 at 4:30 pm
kalo denger kata kuntul baris itu inget film perang kemerdekaan…
===============
kuntule sopo sing perang Ir?
Mei 2, 2008 at 6:27 pm
ki nayantaka selalu saja mengingatkan romantisme suasana pedesaan yang begitu guyup dan rukun dalam membagun fasilitas umum. gending kuntul baris itu sudah demikian akrab di telinga saya dan selalu saja memunculkan rasa kangen utk tinggal di desa. gending itu menggambarkan bagaimana seharusnya warga masyarakat bergotong royong dalam hal apa pun. wah, wit jangkang sing arep ditegor kanggo ngambakke dalan kuwi wis dipawiti nganggo slametan lengkap uba rampe jajan pasar apa ora. mengko gek2 sing mbahureksa ora trima. *halah*
===========
ditulis barengan karo rengeng-rengeng krungu gendhingane petruk bagong Ki. iyo, jajan pasare lali, waduh, klakon banaspatine ngamuk Ki
Mei 3, 2008 at 12:06 am
cancut taliwondo…iku sing paling penting
=========
ojo kleru mrucut taliclono yo kang
Mei 3, 2008 at 1:47 pm
Jadi ingat jaman dulu, sering ada gotong royong membenahi jalan, sambil nembang..”holobis kuntul baris”
Sekarang udah ga ada….semua diborongkan…paling-paling warga iuran.
Mei 3, 2008 at 9:35 pm
dimana lagi saya bisa lihat burung kuntul?
Mei 4, 2008 at 10:33 am
Kalau Sudah gini Pasti RAWE RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG.
Salam Kenal
Mei 4, 2008 at 10:40 am
Wah kalau baca Postingan ini Aku jadi teringat di kampung dulu Sekali.
Trus ada Bapak Tua ( aku gak inget namanya) Nembang Begini :
Nuladha laku utama
Tumraping wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senapati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siyang ratri
Amamangun karyenak tyasing sasama
Salam Kenal
Mei 4, 2008 at 10:46 am
Wah wah….Kalau udah gini Pasti disusul
Sadhumuk Bathuk Sanyari Bumi ( Eh Kliru enggak Mas)
Mei 5, 2008 at 9:10 am
ayo bebarengan saiyeg saekapraya mbangun nusa lan bangsa
aywa samar baya sira arsa mardika
Mei 5, 2008 at 6:27 pm
koncoku
kulo salut ama postingan ini
tak prnah memudarkan citra daerah
meski au bukan wong jowo
tapi kita tetap saudara
semangat terus tuk berkarya!
Mei 7, 2008 at 6:40 am
mas sampean dari daerah mana to? saya kenal dan tahu tempe benguk. tapi baru dengar “sengek”
makanan sengek sangat dikenal di daerah Kulon Progo, sekitar Sentolo, Nanggulan dan sekelilingnya.
Mei 8, 2008 at 9:54 pm
kuntul baris tu apaan yak ??
ora mudeng saya
================
kuntul = sejenis burung bangau di sawah
kuntul baris = menggambarkan suasana kebersamaan dalam bekerjasama menyelesaikan pekerjaan, terutama pada saat bergotong royong
Mei 9, 2008 at 2:00 am
Aku sudah menunggu-nunggu apakah pasetran gandhamayit akan dibenahi setelah tragedi nglalu itu. Eh, ternyata kuatnya kehendak warga desa mampu juga untuk membulatkan tekad melawan lelembut di pasetran gandhamayit.
Lama-lama di sini aku kok merasa aku makin miskin pengetahuan tentang Boso Jowo dan sastronya. Gendhing atau tembang tidak ada yang aku kuasai. Lah wong bapak pocung saja nggak apal! Jan blaik tenan.
Mei 13, 2008 at 10:41 am
naturalisme dan kepolosan adalah dambaan semua orang. sukses selalu.
http://www.ekapratiwi.wordpress.com
salam kenal, dari blogger pemula tidak punya tulisan
Mei 14, 2008 at 9:07 am
mas kok belum update? *nagih hahaha lucu2 postingane. sampean punya masa bocah di jogja rupanya.
Mei 15, 2008 at 8:03 pm
mas mbak iklan bentar ya, he ..ada paket wisata yang gak gratis..he, coba di http://www.kibchome.multiply.com wisata melihat BURUNG GARUDA DI ALAM..
Mei 17, 2008 at 1:34 am
[...] Mei 17, 2008 at 1:34 am | In 1 | Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. [...]
Agustus 11, 2008 at 2:24 pm
Kangen..
*lagi*