Tumbang
Mei 17, 2008
Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. Di barisan terdepan, Mbethu memanggul paculnya laksana seorang mayoret marching band. Sesekali dia mengayun-ayunkan doran paculnya, kemudian berbalik menghadap ke arah kami sambil berteriak laksana seorang komandan peleton memberikan komando kepada anak buahnya. Tak kurang dari dua puluhan beyes-beyes berbaris satu satu, sambil menabuh ember, kaleng, tumbu atau tenggok yang mereka bawa. Semua tertawa gembira, penuh sukacita menunaikan kewajiban yang dibebankan para bapak-bapak kami. Nglangsir pasir dari tepian Progo ke jalan setapak di sekitar wot glugu pasetran gandamayit.
Kuntul Baris
Mei 2, 2008
Setelah sekian lama terbengkelai akibat tragedi Kang Basiyo, rencana untuk melebarkan jalan di sekitar pasetran gandamayit kembali mengemuka. Hal ini dipicu oleh keresahan para warga pengguna jalan setapak itu yang merasa tidak nyaman dengan keharusan untuk menempuh perjalanan memutar menghindari kewingitan kawasan pasetran gandamayit. Maka para tetua kampung pun berembug, dan akhirnya mengambil keputusan secara bulat, golong gilig, pasetran gandamayit harus direhabilitasi. Harus dipulihkan kondisinya. Jangan sampai kewingitan tempat itu mengganggu roda perekonomian, ngrusuhi para remaja yang sedang sengkut ngudi kawruh. Targetnya, pasetran gandamayit tidak lagi menjadi tempat di mana sato moro sato mati, jalmo moro keplayu.