Pengantar:

Akhirnya saya mencoba menepati janji untuk mengisi kategori ringgit purwo. Saya ambil lakon Wisanggeni Gugat, yang berdasar pada sanggit Ki Hadisugito, yang rekamannya saya dapatkan dari Kangmas Kandar. Bagi yang hendak mendengarkan versi rekamannya, silahkan ngunduh di sana. Dalam bahasa Jawa tentunya …. Selamat menikmati

Kahyangan Suralaya….

Suralaya, kahyangan tempat bersemayam para dewa, adalah tempat yang wingit, gawat keliwat-liwat, dan penuh wibawa. Dari sanalah sumber kekuatan yang menguasai jagad. Sebagi tempat persemayaman para dewa, sungguh sangat diluar jangkauan akal, seorang titah ngarcapada mampu mencapainya, kecuali bahwa ia memiliki nyali dan kemampuan yang luar biasa. Sesuai namanya, sura berarti berani, dan laya yang berarti kematian, maka seorang titah yang kementhus menjejakkan kakinya di Suralaya wajib menyadari bahwa dirinya saat itu tengah berjudi dengan taruhan nyawa. Demikain wingitnya, sampai-sampai diibaratkan sato moro sato mati, jalmo moro keplayu. Dari singgasana yang penuh cahaya, kahyangan Suralaya memberikan nuansa yang penuh wibawa, tak terbatas kekuasaannya atas jagad yang gumelar, sak lumahing bumi, sak kurebing langit. Kewingitan Jonggringsalaka, sebutan lain untuk Suralaya, semakin terasa dengan keberadaan kawah Candradimuka, tempat para dewa nakal yang perlu diluruskan akhlak dan perilakunya.

Read the rest of this entry »

Tumbang

Mei 17, 2008

Dendang lagu gugur gunung masih mengiringi langkah-langkah kecil kami menuruni jalan setapak sepanjang tebing di sisi sungai. Di barisan terdepan, Mbethu memanggul paculnya laksana seorang mayoret marching band. Sesekali dia mengayun-ayunkan doran paculnya, kemudian berbalik menghadap ke arah kami sambil berteriak laksana seorang komandan peleton memberikan komando kepada anak buahnya. Tak kurang dari dua puluhan beyes-beyes berbaris satu satu, sambil menabuh ember, kaleng, tumbu atau tenggok yang mereka bawa. Semua tertawa gembira, penuh sukacita menunaikan kewajiban yang dibebankan para bapak-bapak kami. Nglangsir pasir dari tepian Progo ke jalan setapak di sekitar wot glugu pasetran gandamayit.

Read the rest of this entry »

Kuntul Baris

Mei 2, 2008

Setelah sekian lama terbengkelai akibat tragedi Kang Basiyo, rencana untuk melebarkan jalan di sekitar pasetran gandamayit kembali mengemuka. Hal ini dipicu oleh keresahan para warga pengguna jalan setapak itu yang merasa tidak nyaman dengan keharusan untuk menempuh perjalanan memutar menghindari kewingitan kawasan pasetran gandamayit. Maka para tetua kampung pun berembug, dan akhirnya mengambil keputusan secara bulat, golong gilig, pasetran gandamayit harus direhabilitasi. Harus dipulihkan kondisinya. Jangan sampai kewingitan tempat itu mengganggu roda perekonomian, ngrusuhi para remaja yang sedang sengkut ngudi kawruh. Targetnya, pasetran gandamayit tidak lagi menjadi tempat di mana sato moro sato mati, jalmo moro keplayu.

Read the rest of this entry »