Wastra Lungset ing Sampiran
April 7, 2008
Anda tidak bisa bahasa Jawa? Jangan khawatir. Hanya judul saja yang berbahasa Jawa, kalaupun ada di tubuh postingan, pasti ada penjelasannya.
Wastra lungset in sampiran, kain yang kusut di gantungan. Begitulah kira-kira terjemahannya. Kain, yang tak pernah dipakai, ternyata akan kusut juga. Di sampiran maupun di tumpukan lemari. Bahkan kalau kurang beruntung, bisa-bisa hancur lebur dibuat pesta pora oleh para ngengat keparat. Tak peduli seberapa bagusnya kain itu, seberapa mahalnya kain itu, tak pernah dipakai pun niscaya akan rusak. Seandainya bisa dirawatpun, tentu butuh biaya perawatan yang tak sedikit. Sehingga, daripada kusut dan rusak tak terpakai, bukankah lebih baik kita pakai, cuci, seterika sehingga senantiasa terlihat indah, rapi, harum dan wangi. Kalaupun nantinya rusak juga, toh kita sudah merasakan kenyamanan dan kenikmatan saat memakainya, dan orang-orang di sekitar kita pun telah kecipratan menikmati keindahan pakaian yang membalut tubuh seksi kita.
Otak, hati, dan tubuh kita. Laksana pakaian. Lungset, seandainya kita tak mengoptimalkannya. Tanpai pernah dipakai untuk berpikir, otak akan beku. Sama-sama mumetnya, alangkah lebih baik kalau otak itu mumet karena dipakai berpikir, daripada otak mumet karena memang tak bisa dipakai berpikir. Hati yang senantiasa diasah dengan simpati, tawadhu, khusnudhon, dan empati, niscaya akan menjadi seumpama samudera teduh yang mampu menenggelamkan siapapun ke dasar hatinya. Hati yang tak pernah disentuh, laksana hati yang mati, laksana air kopi pahit yang keruh, yang tak mengenakkan sekedar untuk disapa. Tubuh yang tak pernah dilatih, hanya diberi aktivitas rutin madhang-ngising-turu, bisa dibayangkan penampakannya seperti apa. Mungkin akan lebih menarik melihat wewe gombel atau buto terong daripada melihat momprotnya tubuh anda. Bandingkan dengan tubuh atletis orang-orang ini, yang saya yakin senantiasa terlatih secara fisik.
Maka, agar hati dan pikiran saya tak seperti wastra lungset ing sampiran, saya memutuskan untuk memulai kembali kegiatan per-ngeblogan ini, tak peduli seberapa positif atau negatifnya energi yang ditimbulkan dari ngeblog ini. Namun saya berharap, semoga kain lusuh ini, dengan seringnya dicuci dengan ide-ide segar, dan diseterika dengan komentar-komentar panas sampeyan-sampeyan, akan menjadi rapi, nyaman saya pakai, serta indah sampeyan pandang.
Catatan:
Wastra = kain, pakaian; lungset = kusut; sampiran = tali jemuran, gantungan baju; mumet = pusing, pecasndahe; tawadhu = rendah hati; khusnudhon = berbaik sangka, positive thinking; madhang = makan; ngising = berak; turu = tidur; wewe gombel = hantu betina buruk rupa; buto terong = raksasa dalam pewayangan yang nggak mbodi blas.
April 7, 2008 at 3:17 pm
setuju, pak dee
pikiran harus terus diasah supaya ga cepet lapuk
salah satunya dng ngeblog yak
cihuy!
*apdet reader*
April 7, 2008 at 9:35 pm
alhamdulillah, semoga tidak klambrangan dan gentayangan lagi, hiks
dari sekian piranti yang dimiliki manusia, agaknya otak yang menjadi penyetir jiwa dan raga. makanya, orang tua kita selalu pesan agar selalu menjaga keheningan pikiran, “hening lan wening”! *halah*
April 8, 2008 at 12:59 am
sip, walau dah gak sekolah, belajar bisa didapet darimana aja. yg penting otak harus terus mikir biar tetap encer
alhamdulillah ulun masih terus sekolah, setidaknya dari sekolah kehidupan
April 8, 2008 at 5:28 pm
Wah pak Dee sampun lenggah lan tancep kayon wonten ing mriki to …
Eh, kalau saya yakin energi yang ditimbulkan dari ngeblog ini pasti positif
sukurlah, kalau sudah ada yang mengakui ulun masuk golongan positif
April 11, 2008 at 11:00 am
Belajar bahasa Jawa dulu aha … banyak yang dah lupa
bahasa jawa nggak bisa untuk golek dhuwit lo pak!
April 15, 2008 at 11:45 am
senang banget bisa kepanggih Ki Bodronoyo
salam kenal dari Mbah Semarjan
Haywa samar dur sukering kamurkan
mrih du kamardikan
baya sira harsa mardika