35

April 30, 2007

perjalanan sudah semakin jauh

meski masih samar

namun jelas tegas

tujuan akhir semakin di depan mata

entah berapa lama lagi perjalanan ini akan berakhir

hari ini, besok, setahun lagi,

atau mungkin seabad lagi

kemarin

tiga puluh lima tahun yang terlewati

seakan belum memberikan arti

adakah sedikit waktu yang tersisa

semakin banyak memberikan rasa, warna dan makna?

Aku Terindikasi Korupsi!

April 23, 2007

Di tengah-tengah gencarnya aksi pemberantasan korupsi yang dilakukan baik oleh KPK, Kejaksaan maupun Timtas Tipikor, terhenyaklah aku pada satu kenyataan. AKU TERINDIKASI MELAKUKAN TINDAK PIDANA KORUPSI!!! Terbayang wajah-wajah Widjanarko Puspoyo, Rokhmin Dahuri, Syaukani HR, Suwarna AF, dan lain-lainnya, entah yang saat ini ditahan di LP maupun terbaring pura-pura sakit. Jelaslah betul-betul nggak enak membayangkan kalau diriku terpaksa harus seperti itu.

Kejahatan korupsi yang aku lakukan sebenarnya telah berlangsung setidaknya satu tahun terakhir ini. Aku baru sadar setelah berniat memasang banner AKU NGGAK KORUPSI, sebagai wujud kepedulian dan dukunganku terhadap gerakan anti korupsi. Namun yang terjadi adalah justru pergolakan hebat dalam batinku. Sudahkah apa yang aku nyatakan sebagai bukan koruptor ini benar-benar telah aku kerjakan? Atau sekedar basa-basi saja? Saat itulah aku mencoba melihat diriku sendiri. Dan hasilnya, sungguh mengejutkan. Aku ternyata telah terindikasi melakukan kejahatan korupsi!

Mempergunakan fasilitas perusahaan untuk keperluan pribadi.

Laptop, handphone, kamera digital, scanner, flash disk, dan lain-lainnya, secara sadar telah aku pergunakan untuk keperluan pribadiku. Dari sekedar menulis artikel untuk blog (TERMASUK POSTINGAN INI), sampai menulis buku atau sekedar catatan ringan. Atau nelepon kolega yang tak ada hubungannya dengan kerjaan. Juga motret-motret obyek aneh. Dan masih banyak lagi. Bhakan sudah hampir tak bisa dibedakan apakah itu fasilitas perusahaan atau fasilitas pribadi.

Korupsi waktu

Minimal dua jam sehari ternyata aku menggunakan waktu kerjaku untuk hal-hal yang tak berkaitan dengan pekerjaanku. Terutama browsing, blogging, atau ndobos dengan rekan kerja. Atau minggat pas jeda makan siang, tapi kembalinya menjelang jam kantor berakhir. Alasannya sih, bisa beragam, dan kadang dipaksakan nggathuk dengan kerjaan kantor. Entah cari data (padahal cuma nginjen wordpress), riset pasar (padahal survei cari sepatu voli yang baru), ketemu klien (padahal kopi darat sama teman lama), atau ngasih kuliah tamu (wow, kalau yang ini ngoyoworo, ojo digugu!).

Ngembat bandwith

Jelas-jelas perusahaan memfasilitasi koneksi internet itu untuk keperluan pekerjaan, e lha kok aku tega-teganya nyerobot untuk keperluan pribadi. Bukannya nyari bahan untuk nyusun proposal proyek, eh malah nyari resep masakan cina. Bukannya browsing data statistik, eh malah download novel. ATau bukannya ngelola e-newsletter buat klien, e malah sibuk chat-chit, blog-blig sing nggak mutu.

Potensi kerugian perusahaan

Katakanlah fasilitas perusahaan yang aku pakai adalah laptop, ponsel, kamera digital, flash disk, scanner, printer, active speaker, itu kira-kira bernilai 20an juta. Terus waktu yang aku pakai selama jam kerja = 2 X 300 (asumsi 300 hari kerja dalam 1 tahun) = 600 jam. Perjamnya bila dihitung 50.000,- maka kerugian selama satu tahun adalah 30 juta. Bandwith, misalkan setara dengan langganan broadband internet, anggaplah fixed 300 ribu perbulan, maka satu tahun bernilai 3,6 juta. Jadi total potensi kerugian perusahaan akibat ulah kriminalku adalah sekitar 53,6 juta.

Nggak seberapa memang, apalagi jika dibandingkan dengan sekian puluh milyarnya Widjanarko, Syaukani, atau 1,8 T nya ECW Neloe cs. Tapi pada dasarnya kejahatan tetaplah kejahatan. Sedikit atau banyak, yang haram tetaplah haram. Seorang khalifah Umar r.a. mematikan lampu minyaknya disaat beliau menerima tamu untuk keperluan pribadi. Terlalu jauh untuk bisa meneladani seorang Umar. Jadi apakah yang harus aku lakukan, untuk menebusnya? Mengembalikan potensi kerugian perusahaan? Atau ngaku kepada pemilik perusahaan dengan harapan bisa diampuni? Atau diam-diam saja seolah-olah tak terjadi apa-apa?

Pagi hari tadi, berangkat ke kantor, mataku sempat tertohok oleh baliho besar melintang di atas jalanan, di dekat kawasan perumahan Lembah Baliem Bayeman Permai. Sebuah iklan rokok LA (banyak yang menyangka singkatan dari Los Angeles, padahal sakjan-jane Lor Alun-alun), dengan tulisan besar-besar yang cukup provokatif: KAPAN KAWIN, KAPAN, KAPAN???!! Mak nyuut, langsung terlintas di kepala oknum-oknum macam Anto, Joe dan yang bernasib sial lainnya.

Jadi teringat pula cerita Kang Bedor yang tak kawin-kawin, padahal uban sudah mulai bertumbuhan di sela-sela rambut hitamnya. Sampai-sampai dia malas datang ke acara-acara yang memungkinkan dia bertemu kerabat-kerabatnya. Paling-paling pertanyaan basi: “Kapan nih kawinnya?”, lebih-lebih kalau acara itu resepsi pernikahan: “Kapan nyusul?”, “Tak colongke kembange manten lanang po, ben ketularan?” dan lain-lainnya.

 

Pada suatu saat Kang Bedor dapat undangan manten dari sepupunya. Saat itu pula yang terpikir di benaknya adalah menyiapkan jawaban yang cespleng buat menghentikan pertanyaan basi yang pasti ditanyakan (bahasa kerennya frequently asked question, FAQ, atau fitakonan akeh qang-nakokke). Sampai di tempat, dia belum juga kunjung menemukan jawabannya. Akhirnya dia hanya bisa mengangguk kelu saat Pakdhe Suro mendekatinya, menepuk-nepuk pundaknya dan bertanya: “Kapan nih nyusul?”

 

Tanpa menunggu acara selesai, Kang Bedor pulang. Di perjalanan, telepon seluler di kantong celananya mak srendut-srendut pertanda ada panggilan masuk. Ternyata hanya sebuah pesan pendek, yang cukup mengejutkan: “Budhemu sing Wirobrajan meninggal tadi siang jam 11.00, dimakamkan sore ini”. Meskipun dia tahu bahwa budhenya itu memang sudah lama sakit, tapi berita meninggalnya beliau tetap saja mengejutkan.

 

Maka Kang Bedor tak menunggu sampai rumah, dia langsung membelokkan motornya menunju Wirobrajan. Setalah memarkir dan mengunci roda motornya, maklum maling motor saat ini nggak kiro-kiro, meskipun orang susah, kalau ada kesempatan yang diembat saja, Kang Bedor masuk ke rumah duka. Ndilalah, ketemu Pakdhe Suro yang tadi siang bikin bete dengan pertanyaannya. Spontan, Kang Bedor mendekatinya, menepuk-nepuk pundaknya, dan bertanya: “Kapan nih, nyusul?”

Sri Sultan sudah bosan jadi gubernur? Berita ini menjadi isu yang bagi sebagian besar warga Yogyakarta sangat mengejutkan. Beragam tanggapan dan pendapat muncul dari segala lapisan masyarakat. Banyak yang menyayangkan, bahkan menentangnya, tapi tak kalah banyak yang menanggapinya dengan positif dan mendukungnya. Mayoritas warga Yogyakarta, terutama di pelosok-pelosok desa, dan komunitas tradisional yang masih memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kejayaan Kerajaan Mataram, pasti akan dengan serta merta menolaknya, dan meminta agar Sultan menarik keinginannya tersebut. Terbetik kabar, bahkan sementara orang telah melakukan ritual kebulatan tekad untuk mendukung kepemimpinan Sultan di Yogyakarta. Sementara kalangan, terutama kalangan menengah, akademisi dan elite parpol, tentunya menyambut baik dan menganggap sebagai sebuah keputusan yang bijak dari seseorang yang berjiwa negarawan sejati. Tentu, dengan berbagai macam argumen, entah demi demokrasi yang sehat, atau mendorong Sultan untuk tidak sebatas menjadi milik masyarakat lokal, tetapi menjadi milik nasional, atau sekedar kasak-kusuk menjajagi peluang untuk memperebutkan tahta yang ditinggalkan.

Seandainya memang Sultan benar-benar melepas jabatan sebagai gubernur DIY, kemudian dilaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung, maka untuk pertama kalinya, seorang gubernur bukan Sultan atau Pakualam. Salah satu hal yang dipahami masyarakat awam, termasuk saya, dari keistimewaan Yogyakarta adalah kepala daerahnya yang otomatis dijabat oleh Sultan. Lha kalau sekarang gubernurnya bukan lagi Sultan, terus istimewanya di mana? Apa bedanya Yogyakarta dengan Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur dan lain-lainnya? Masih mending Daerah Istimewa Aceh yang memiliki UU Pemerintahan Aceh, atau juga Papua yang memiliki otonomi khusus. Lha Jogja? Rak mung kegedhen jeneng thok.

Ada yang berkilah, Jogja itu istimewa karena kulturnya, karena budayanya. Lha budaya opo to? Wong budaya asli Jogja sudah semakin terkikis glombalisme. Kehadiran pusat-pusat perbelanjaan, mal, plasa, trading center dan sebangsanya secara masif (kabarnya ada tujuh mal lagi yang siap dibuka), telah mengubah perilaku warga Jogja. Terlebih kehadiran kafe, diskotik, pub semacam Hugo, Embassy, Republic, Caesar, TJ, Boshe, Liquid, Papillon dan sebangsanya, semakin menegaskan, bahwa budaya Jogja tak ada bedanya lagi dengan budaya kota metropolitan lainnya.

Sebagi pusat pendidikan? Walah, itu sih nggak istimewa babar blas. Selama belum mampu menyediakan pendidikan murah apalagi gratis tapi berkualitas, jangan harap bisa disebut sebagai hal yang istimewa.

Jadi perlu didefinisikan, kenapa sih Jogja masih perlu disebut sebagai Daerah Istimewa? Kuatkan juga dengan legalitasnya berupa UU yang setara dengan UU PA atau UU Otsus Papua. Atau kalau perlu, biar daerah lain nggak iri hati, turuti saran Kang Kombor untuk menjadikan Indonesia sebagai negara federal. Kalau nggak, ya sudah, nggak usah pakai embel-embel istimewa saja. Nggak istimewa juga nggak patheken!

Diluar semua itu, bagiku, Jogja tetaplah istimewa, dan memiliki tempat tersendiri di relung hatiku…