Merokok Itu Tidak Islami

Maret 14, 2007

Malam itu tidak gerimis. Tidak ada hamparan bintang-bintang di langit, semua tersaput oleh awan mendung yang menggantung sejak sore tadi. Namun tak satu tetes air hujan pun yang turun ke bumi. Sesekali angin bertiup agak kencang menerpa tenda Pak Dee, dan sesekali memunculkan suara terpal bergerak turun naik terkena angin. Tampaknya ekor badai George di negaranya John Howard ikut ngithik-ithik dewa angin di Ngajogjakarta Hadiningrat untuk sekedar show of force “Ini lho aku, yang bikin porak poranda Tegal Lempuyangan tempo hari”. Beruntung, Pak Dee pakai bohlam 15 watt, bukannya teplok, blencong atau senthir, sehingga kedatangan Eyang Maruto tidaklah mengganggu aktivitasnya.

Jam dinding dari rumah Kang Ihin di seberang jalan berdentang sepuluh kali. Tanpa terasa sudah sepertiga malam pertama terlewati. Warung Pak Dee masih sepi-sepi saja. Dari sehabis Maghrib tadi, baru sekitar lima belas bungkus nasi dan beberapa potong gorengan yang terjual. Dan hingga jam segini, bolo kurowo yang biasanya meramaikan warung Pak Dee belum juga muncul. Tak ada tanda-tanda batang ingus Lanang, Mas Klowor, Bedor dan kawan-kawannya. Pak Bawono tampaknya lagi sibuk nyusun kurikulum, dari kemarin tak keluar-keluar rumah, kecuali berangkat ke sekolahan. Lik Daman, lagi sibuk matun padinya yang mulai mrekatak. Mengisi kesunyian, Pak Dee nyetel tivi. Ada pilem londo, judulnya The Insider. Isinya kira-kira tentang seorang mantan pegawai pabrik rokok yang membeberkan rahasia tentang rokok. Kira-kira lho, soalnya Pak Dee nontonnya juga nggak khusyuk. Sesekali harus nyambi ngaduk jahe, ngipasi anglo, atau sekedar ngungak Bu Dee di belakang.

Terdengar suara riuh dan gelak tawa dari kejauhan yang makin mendekat ke warung Pak Dee. Haqqul yakin, dari suaranya Pak Dee tahu kalau bolo kurowo akhirnya muncul. Kali ini tak cuma bertiga, kira-kira sepuluhan orang ikut dalam rombongan. Wah bakalan sibuk nih Pak Dee nyiapain kopi jahenya. Mudah-mudahan saja mereka baru saja melakukan aktivitas yang lumayan berat, sehingga dagangan Pak Dee sekejap tandas untuk mengisi ulang energi mereka. Dan mudaha-mudahan juga, kantong mereka ada isinya, jadi ndak nambahnambahi daftar kas bon mereka. Bisa ciloko, kalau terjerat kredit macet!

“Kok sajak meriah, dari mana saja nih Mas Klowor” sapa Pak Dee begitu mereka sampai di Warung Pak Dee. Berhubung tempatnya ndak cukup, sebagian trimo nglesot di teras rumah Pak Dee yang tidak digelari tikar. Tikar yang biasanya digelar di situ tadi siang diompoli anak Pak Dee.

“Ada pengajian di kampung sebelah Pak Dee” Mas Klowor yang menjawab

“Kok tumben rame-rame, biasanya kalau ada pengajian itu yang semrinthil ibu-ibu. Lha ini kok yang muda-muda ikutan semangat. Kayak habis nonton sorot saja”

“Kebetulan ustadnya nyeleneh Pak Dee, namanya Wahid El Worpresi. Lah materinya juga aneh, Bagaimana Merokok yang Islami.” Wahid El Worpresi memang aneh orangnya. Pak Dee saja bingung, apa layak disebut ustad, lha wong ngomonge kadang sakpenake wudele mbokdhene. Tapi itulah, sekarang kalau ndak nganeh-anehi ya ndak digagas orang.

“Lha memang ada tuntunan merokok dalam Islam? Setahu Pak Dee, Islam ndak kenal itu rokok. Makanya ada yang bilang boleh, ada yang makruh, ada juga yang ngotot haram”

“Ya embuhlah, lha wong dianya juga nyitir beberapa potong ayat Al-Qur’an kok”, timpal Lanang “Ya diothak-athik gathuk gitu.”

“Kalau yang saya tangkap sih, si ustad wahdegleng tadi sebenarnya mau bilang bahwa merokok itu dengan segala alasannya tidak dapat diterima akal sehat. Cuma tahu sendiri kan, kalau sebagian besar perokok itu adalah muslim, bahkan banyak juga ulama yang merokok” Mas Klowor sok bijak memberikan pendapatnya, “kalau dibilang memberikan tuntunan merokok yang Islami, itu bisa-bisanya bahasa dia saja, karena sebenarnya hal tersebut tidak pernah dituntunkan”

“Tapi kan ndak perlu repot-repot nafsir ayat Kang. Salah-salah malah keblondrok, atau digebuki yang nggak sejalan dengan pikirannya. Malah jadi kontra produktif. Nanti akan ada tafsir untuk hal-hal lain yang nggak ada tuntunannya, atau bahkan menghalalkan sesuatu yang haram. Sekarang, ada merokok islami, natinya bukan tak mungkin ada berzina islami, mencuri islami, korupsi islami, mabuk islami. Rak malah bubrah to?” Lanang kali ini protes

“Waduh embuhlah, kalau sampai di situ, ilmuku ndak nyandak. Lha wong mung blantik wae kok. Coba tanya Kang Bedor yang mambu-mambu pesantren itu”

“Walah, lha wong santri mogol kok disuruh ngomong soal agama dan dalil-dalilnya. Lha wong baca Qur’an saja plegak-pleguk kok. Menurutku sih, tidak ada itu merokok yang islami. Yang ada merokok itu sama sekali tidak islami karena menandakan kita jauh dari rasa bersyukur. Sudah dikasih paru-paru, jantung dan organ tubuh yang sempurna, kok dengan sadar dirusaknya. Tanya Cak Moki atau Mas Dani kalau nggak percaya. Atau sudah punya senyum kinclong berkilauan, yang bisa bikin deg-degan sang pujaan hati, lha kok malah dengan sukarela dikuningisasi dengan tar dan nikotin. Tuh, Jeng Evy yang tahu persis jawabannya. Lha sekarang, kalau sampeyan memberikan baju yang bagus kepada teman sampeyan, terus di depan sampeyan baju itu dia sobek-sobek, kayak si Tukul nyobek-nyobek mulutmu, apa sampeyan nggak nggregesi?” Saking semangatnya, Kang Bedor nggak sadar kalau sarungnya agak melorot.

“Kalau sampeyan ngomprong mulut sampeyan di depan saya, terus nyebul abab ke udara di sekitar saya, apakah itu suatu perilaku yang menghormati tetangga sampeyan? Menebarkan penyakit dan polusi ke orang-orang sekitar sampeyan? Katanya juga ada lebih dari 4000 bahan kimia dalam rokok. Dan kalau dihitung-hitung, mudharat merokok jauh lebih besar dari manfaatnya. Sekarang kita pikir, apakah orang yang tidak bersyukur atas nikmatNya bisa disebut islami, apakah orang yang menganiaya sekitarnya bisa disebut islami, apakah orang yang berbuat kesia-siaan bisa disebut islami? Tanpa harus berdalil pun, dengan berbagai alasan merokok itu tidak islami” Kang Bedor nerocos sambil sesekali membetulkan sarung melorotnya.

“Lha terus apa perlunya ustad wahid el mengeluarkan dalil merokok yang islami, kalau sebenarnya dia juga anti rokok?”

“Lha embuh kalau yang itu, urusan dia lah. Donya akhirat tanggungan dia, aku nggak melu-melu.”

Alhamdulillah, Pak Dee nggak pernah tergoda untuk menjual rokok di warung Pak Dee…..

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Pak Dee masuk dapur. Bukan melulu masuk dapur nyari nasi atau lauk, tapi betul-betul memasak. Maklum, Pak Dee besar di lingkungan Jawa yang sangat konservatif, dimana kaum lelaki diharamkan masuk dapur. Setiap kali anguk-anguk dapur, sudah dibentak oleh simbah “Wong lanang ora mlebu pawon, ndhak kethuk” Padahal sampai sekarang Pak Dee nggak tahu juga, apa definisi kethuk. Kali semacam kena kutuk gitu ya? Kalau nggak, sewaktu masih kecil, dilarang keras dekat-dekat dandang atau memegang munthu. Sungguh sial nasib seorang anak yang ngrubuhke dandang atau mematahkan munthu, harus rela dipangan Bethoro Kolo. Kalau nggak mau diuntal Jusuf eh Bethoro Kolo, ya si anak harus diruwat, ditanggapke wayang dengan dalang khusus ruwatan, bersama-sama dengan sukerto yang lain seperti ontang-anting, kedhono-kedhini, uger-uger lawang, pendhawa, sendang kapit pancuran, pancuran kecemplung sendang, dan lain-lainnya.

Sedikit beruntung, Pak Dee memiliki ibu yang cukup memiliki wawasan ke masa depan. Begitu tidak lagi serumah dengan simbah, aturan yang melarang lelaki masuk dapur dicabut. Bahkan bukan cuma diperbolehkan masuk, tetapi juga dibolehkan untuk beraktivitas di sana, sepanjang tidak ngrusuhi kerjaan ibu. TApi walaupun sudah dibolehkan, tetep saja Pak Dee males setengah mati masuk dapur, kecuali kalau kadung lapar dan masakan belum sempat disajikan di meja makan, terpaksalah Pak Dee nglurug tanpo bolo ke dapur untuk menjemput sang sumber energi dari sana. Jadi sampai usia berkepala tiga, Pak Dee belum berkesempatan atau belum berminat untuk masuk dapur, masak ini masak itu. Memang enak, ngertingerti langsung ngemplok, kalau kurang manis, kurang asin, kurang sedep tinggal komplain.

Maka, sewaktu keterpaksaan itu datang, mau tak mau Pak Dee harus masuk dapur. Ceritanya Pak Dee dan Bu Dee selaku pasangan muda, berniat untuk mengibarkan bendera sendiri. Nekat-nekatan jadi kontraktor, misah dari orang tua, meski dengan modal pas-pasan. Lha kebetulan, kami pindah rumah pada saat si kecil masih dalam buaian, kira-kira berumur dua mingguan. Bisa dibayangkan, belum ada pengalaman untuk momong, maklum anak pertama, kecuali hanya dari hasil baca-baca dan melihat pengalaman orang lain. Harus mengurus keluarga sendiri dalam kondisi finansial yang pas-pasan. Tanpa pembantu, tanpa pengasuh bayi, semuanya dikerjakan sendiri. Maka horor itupun berlanjut.

Si kecil tak selamanya bisa dijagakke ritme biologisnya. Dan ia membutuhkan kehadiran mamanya hampir di setiap saat. Apalagi dengan keputusan kami untuk memberikan ASI eksklusif buatnya, sehingga mama harus selalu siap setiap saat. Tak peduli apakah lagi masak atau mandi, si kecil mbeker, mama dalam hitungan detik harus berada di sampingnya. Untuk mengurangi kerepotan, maka kami tak pernah memasak sendiri, cukup beli ke warung Bu Yen, yang cukup bisa diandalkan untuk mengganjal perut saat sarapan. Untuk makan siang dan makan malam, masih banyak pilihan yang bisa ditemui di sekitar kantor Pak Dee, atau di sepanjang perjalanan pulang.

Suatu ketika, Bu Yen pulang kampung ke Palembang. Ndak tanggung-tanggung, 2 bulan. Mampuslah aku. Maka mulailah kami memasak sendiri. Semula, Bu Dee yang memasak, namun suatu ketika, si kecil betul-betul ndak bisa ditinggal, sementara harus ada yang meneruskan memasak di dapur. Maka dengan rodo-rodo kepekso, Pak Dee beranjak ke dapur. Lhadalah, gandrik, sak umur-umur ndak pernah masak. Jangankan meracik bumbu, lha wong membedakan mana tumbar mana mrico saja nggak bisa. Masih mujur bisa tahu beda bawang dan brambang, minimal dari warnanya. Lha ini kok njuk kudu masak. Akhirnya terpaksa sambil bengak bengok tanya sana tanya sini, lari sana sini, menunjukkan hasilnya, ngicipke. dengan susah payah mateng juga itu sop sama tempe goreng. Padahal mung sop sama tempe goreng lho!

Tak cuma sekali dua kali hal itu terjadi. Berulangkali terjadi. Kadang baru setengah matang, tugas memanggil Bu Dee. Bahkan kadang belum sempat ngiris brambang, si kecil sudah mberek-mberek. Alah bisa karena biasa, kata orang melayu. Practice make perfect, kata londo. Setelah beberapa lama, makin mahirlah Pak Dee. Tak cuma bisa membedakan mana tumbar mana mrico, tapi sudah mulai bisa meracik bumbu sendiri. Sudah berani sedikit-sedikit bereksperimen dan mengambil keputusan sepihak dalam menentukan selera dan cita rasa. Lama kelamaan, lha kok ternyata asyik juga ya bermain-main di dapur. Nggak jauh beda dengan utak-atik di lab.

Jadilah Pak Dee ketagihan, sampai sekarang pun, Pak Dee masih asyik-asyik saja berkutat di dapur. Ndak cuma goreng tempe atau sop lagi, sudah banyak jenis masakan yang Pak Dee coba. Ada yang berhasil, banyak pula yang gagal. Rasanya nggak karuan, ramene pol. Manis asem asin, sajake ketetesan kringet Pak Dee. Namun sehebat-hebatnya Pak Dee masak, ternyata belum mampu mengalahkan kehebatan kangmas Pak Dee yang di Lembah Tidar. Masakan Pak Dee masih terbatas untuk kalangan sendiri.

Pesan Pak Dee buat kaum lelaki: jangan pernah menganggap bahwa urusan dapur adalah dunia perempuan. Banyak hal menarik yang bisa diperoleh di sana. Cobalah, dan percayalah, memasak tidaklah semudah yang kita bayangkan, sekedar goreng sreng sreng sreng, plang-plung plang-plung, mateng, mlebu weteng. Perlu seni dan sense tersendiri. Anda akan bisa lebih mengerti dan memahami istri dan keluarga anda.

Pesan Pak Dee buat kaum perempuan: berikanlah hak dan kesempatan seluas-luasnya para lelaki untuk mengakses dapur anda. Sukur-sukur, kalau mereka tertarik dan sesekali mengambil alih tugas anda, maka anda akan mempunyai waktu luang lebih untuk sekedar merawat kuku-kuku anda. Jangan khawatir akan terbongkarnya rahasia mark up belanja anda, atau jangan khawatir kalau ternyata pada suatu saat nanti, ternyata suami anda lebih piawai dalam meracik bumbu dan meramu menu. Bisa anda manfaatkan untuk buka restoran sendiri. Anda manajernya, suami anda kokinya.

Beras Orgasmik

Maret 12, 2007

Obrolan di warung sego kucing Pak Dee malam itu masih juga berkisar seputar beras. Yang harganya tak mau juga turun meskipun sudah digelontor operasi pasar. Turun sih, tapi masih terlalu tinggi untuk kantong paspasan pengunjung setia warung Pak Dee. Kalu sedikit beruntung, dapat juga bonus kutu atau tengu. Lumayan buat tambahan protein hewani. Idhep-idhep ngirit lawuh.

“Lha itu baru beras pasaran Pak Dee, kalau beras organik, harganya malah semakin melangit” celetuk Pak Bawono, yang malam ini tampaknya lagi kelegan, sehingga jam delapan malam sudah methekut ngemploki jadah goreng. Atau Bu Bawono lagi males masak?

“Halah, Pak, kalau harga beras organik, ndak usah dibahas. Itu urusannya orang-orang yang keceh dhuwit” sahut Mas Klowor agak sengit

“Maksudku bukannya kita mau membeli itu, lha wong beras cap tengu wae kadang masih harus diganjel telo atau nasi aking kok. Berhubung harganya mahal, apa nggak sebaiknya petani diarahkan untuk menanam beras organik tersebut, biar penghasilannya meningkat”

“Itu ide tipe pejabat Pak, gedhang awoh pakel, mudah diomongkan, pelaksanaan di lapangannya setengah modar”

“La piye to Kang?”

“Lha wong petani sudah lama dicekoki dengan benih, pupuk kimia, pestisida, tata niaga yang mbelgedhes, yang semuanya diatur pemerintah, lha kok mak jegagik disuruh nanam gaya organik. Opo ora setengah mati ngrubah pola pikir dan budaya mereka? Lha mengko belum berhasil ngerubah pola bertani mereka, selak kaliren Pak. Boro-boro penghasilane meningkat, eh malah ambegane sekarat”

“Hayo mboko sithik tho, pemerintah kan isine wong-wong pinter, mosok kalah sama elesem yang sudah berhasil mengubah pola bertani binaannya”

Mak bedhungus, Lanang muncul dari belakang, terus nimbrung

“Walah-walah, kok sajak rame. Ngobroli apa to?”

“Iku lo nang, soal beras organik” Jawab Pak Dee sambil nepasi jadah bakar pesenan Mas Klowor

“Kalau aku nggak begitu tertarik beras organik je. Aku malah punya anganangan bikin beras orgasmik”

“Lhadalah, opo maneh iki. Pantesan wae ra lulus-lulus. Lha wong pikirannya kotor gitu. Dasar utek buntel cawet” Mas Klowor sajak anyel

“Sampeyan itu yang ngereng Mas. Karepku, beras orgasmik itu adalah agar semua pihak yang berurusan dengan beras ini bisa memperoleh kepuasan yang luar biasa. Ya petani, ya pedagang beras, penyalur sarana produksi, pemerintah, konsumen beras. Semuanya puas, semuanya orgasme”

“Oooo… Tak pikir yen sampeyan makan beras itu terus syahwat sampeyan mumbul-mumbul sundul langit. Jebule kata kiasan to?” Pak Bawono sambil sajak mlenggong

“Terus selama ini memang nggak memuaskan to Mas Lanang?” Kali ini Pak Dee yang penasaran

“Memuaskan, tapi cuma bagi orang-orang tertentu Pak Dee. Spekulan beras dan pupuk, tikus-tikus birokrat. Sementara petani dan konsumen beras menjerit. Ibaratnya, mereka diperkosa. Orang diperkosa mana bisa orgasme?”

“Lha terus langkah nyatanya gimana Mas? Jangan cuma berwacana sambil tebar pesona saja…”

“lha yo kuwi, aku sing ndak ngerti carane. Sajake memang harus lulus kuliah dulu ya..” Mas Lanang cuma bisa garuk-garuk kepala

Semua cep klakep, aras-arasen meneruskan diskusi ini. Atau sudah pada kadung orgasme menikmati sego kucing Pak Dee ya, sehingga nggak semangat lagi ngobrol sana sini?

Sekitar tiga puluh menit bakda Isya, Pak Dee baru saja selesai memasukkan gepukan jahe ke dalam air di ceret yang mulai mendidih, ketika Pak Bawono datang dan langsung ndeprok di dingklik panjang di depan meja angkringan.“Waduh, panjenengan kok njanur gunung, masih sore kok sudah ndithing di sini”

“Lha ya kebenaran pas nggak ada acara, malem minggu pisan. Mau nonton bola di rumah, kalah suara sama istri anak nonton sinetron. Yo wis di sini saja, sambil numpang nonton em-yu”

“Sik pak Bawono, anak bojo sampeyan masih seneng sama siletron to?” Mak tlonyor, Mas Klowor yang sedari tadi sudah duluan jegang di kursi nyelo. Memang orang satu ini agak kurang unggah-ungguhnya. Waton nylekop, tur bahasanya sasar-susur.

“Sampeyan niku pripun to Mas, ketoke yo berpendidikan, ndadak nyebut sinetron wae kok kleru jadi siletron”

“Lho bukannya keliru Pak Dee, pancen sengaja tak sebut siletron. Soale kalau nonton acara seperti itu, otak kita sudah nggak lagi ditaruh di kepala, tapi sudah pindah ke pantat, alias tetanggane s***t”

“Lha piye to?” Pak Dee mbodhoni

“Lha sampeyan opo pernah kudu mikir yen nonton kayak gituan? Wong jalan ceritanya saja nggak mokal, aktingnya asal-asalan, waton modal dapur yang agak mbejaji. Jiann, nyebeli pol”

“Yo wis, sampeyan iku rasah ngamuk disini to, sana kirim saja protes ke Punjabi, lha onone ngono, yo ditrimak-trimakno wae. Kan sudah dibekali remote control. Ndak seneng yo tinggal dipindah jalur wae to. Gitu aja ko repot.” Pak Dee berlagak seperti Gus Pur sambil merem-merem. Wong dasare mripat Pak Dee kecripatan latu sewaktu ngipasi anglonya.

“Pak Dee, bal-balane sudah mulai lho, ndang disetel tivine” Pak Bawono nyelo

Pak Dee meraih remote control dan menghidupkan tivi. Tampak di layar, kedua tim sudah mulai engkel-engkelan rebutan bola. Si merah yang nggak pernah berani jalan sendirian, diadu sama si setan merah yang malam itu berbaju putih.

“Saya itu pernah kecelik je Pak Dee, tak rewangi melek sampai jam sepuluh, pingin nonton film, tak pikir film londo, eh jebul mung judulnya saja. Critane, sak pemerane orang kita semua” Pak Bawono sambil nyruput teh jahenya.

“Walah, sampeyan iku ketinggalan Pak. Lha memang sekarang film-film kita yang pakai judul londo banyak kok. Coba saja kalau sampeyan lewat bioskop Metaram, lihat posternya”

” Lha sing didelok apanya Mas Klowor, lha wong cagake poster terbang diuntal lesus ngono kok”

“Tapi kan tilase masih ada. Coba saja, ada Eiffel I’m in Love, The Soul, d’Girlz, Mirror, Heart, Me And High Heels, opo maneh yo?”

“Mungkin pengin go international Mas”

“Haiyah, judulnya saja yang londo. Padune ben payu. Soalnya kan orang kita memang menganggap yang berbau-bau londo itu lebih ngetop. Coba saja kalau panjenengan lihat iklan atau ke pameran real estate. Hampir seluruhnya pakai boso londo. Takutnya kalau pake boso mlayu dikira nantinya menjual RSSSSSSS yang super kumuh” Tumben dia pakai kata panjenengan, bukan sampeyan, yang di elinga orang Jawa kelihatan agak kasar.

” Lho lho lho… kok SSSSS nya banyak Mas, bukannya cuma RSS, Rumah Sangat Sederhana?” Pak Bawono nggumun.

“RSSSSSSS itu maksudnya Rumah Sangat Sederhana Sempit Sekali Sehingga Sulit Senggama, sampeyan iku jan blas nggak gaul” Wah jan kurang ajar tenan blantik satu ini. Pak Guru Bawono di sampeyan-sampeyankan, dibilang ndak gaul lagi. Memang ada to, guru gaul?

“Lha sekarang, ada perumahan di pinggir kali. Kalau dinamakan Perumahan Girli Permai, yo pasti nggak gengsi. Tapi coba sampeyan beri nama The Riverside Residence, pasti gengsinya meningkat berlipat-lipat. Padahal artine yo podho-podho pinggir kali”

“Sama juga mas, sekarang kalau bikin slogan, orang-orang senengnya pakai boso londo juga, seakan-akan kalau pake boso Indonesia, harga jualnya terus turun, dan jualannya nggak payu”

“Yang aneh lagi temanku waktu kuliahan dulu Pak Dee. Dia pakai kaos yang ada tulisannya gedhe-gedhe, bunyinya The Jaysmith Big Family. Setelah tak dhedhes-dhedhes opo maksude, dia bilang, itu maksudnya Trah Joyosemito mas, biar kelihatan keren dan nggak malu pakainya, buat yang muda-muda tak bikin seperti ini. Walah, gak mudeng aku”

Malam semakin larut. Mereka bertiga tenggelam dalam kemeriahan tayangan langsung liga Inggris. Untuk yang satu ini, mereka sepakat, bahwa londo memang jauh lebih baik daripada orang kita. Lha wong em-yu kok dibandingkan sama pe-es-es. Ya jelas duren mungsuh timun. Tanpa terasa, gol Jonosi dari em-yu menutup pertandingan malam itu, dan mak tleser, Pak Bawono dan Mas Klowor beranjak pergi meninggalkan warung Pak Dee. Sambil memberesi gelas-gelas yang berada di atas meja, Pak Dee bergumam, besok warungku apa perlu tak tempeli plakat” The Cat Rice Cafe”, biar gengsinya bisa nyaingi Make Donal atau Pitik Pak Kolonel.

Sampeyan pernah masuk ke lingkungan militer? Atau setidaknya pernah berinteraksi dengan militer? Atau setidaknya pernah lewat di depan kompleks militer? Atau pernah baca berita atau artikel yang berkaitan dengannya? Sumpah mati, sampeyan pasti sudah pernah dengar istilah Secapa, Secaba, Ajenrem, Makorem, Seskoad, Sespim, Koarmatim, Kolinlamil dan lain-lain. Hampir semuanya singkatan. Pak Dee nggak tahu, siapa yang pertama kali memulainya. Tapi sungguh, tak ada jabatan, instansi, unit kerja atau apapun yang tak ada singkatannya di ketentaraan di republik ini. Kebetulan, mertua Pak Dee kerja di lingkungan Akademi Militer, kangmas Pak Dee juga ada di institusi pendidikan milik yayasan yang sangat erat kaitannya dengan Mabes TNI. Jadi Pak Dee cukup akrab dengan singkatan-singkatan semacam itu.

Pak Dee tidak ingin menyorot lembaga yang hobi menyingkat itu, salah-salah nanti Pak Dee ikut-ikutan disingkat. Pak Dee cuma sering geli saja melihat banyak yang ketularan membuat singkatan. Coba saja, hampir semua departemen dan kementrian memiliki unit kerja atau direktorat yang sangat nyaman untuk disebutkan dengan singkatannya. Depdiknas memiliki Dikdasmen, Dikti, Diklusepora, Dikmenum, Dikmenjur. Hampir tak ada lembaga pemerintahan yang tak bisa disingkat. Pak Dee tak tahu, apakah kebiasaan ini memang lazim di seluruh belahan dunia, atau khas milik bangsa ini?

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah. Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersnyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang. Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang). Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo. Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang, Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta, Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) saja.

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat. Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza, atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di de Paster alias Depan Pasar Terban. Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong? Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak. Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter. Soal singkatan yang ngeres-ngeres, silahkan tanya sama Wongso Subali (Wonge Ora Sepiro S***ne Sak Bal Voli), atau Minakjinggo (Miring Kepenak, Njengking Nggih Monggo). Naik bis kota oke-oke saja, lha wong Sumuk Ra Kringeten je.. (S***ne didumuk yen ora keri jan kebangeten)

Pak Dee cuma pesen, silahkan sesukanya nyingkat kata toh beberapa memang jadi enak untuk diucapkan. Tapi mboknya jangan sampai menyingkat UMR to, atau menyingkat dana rekonstruksi, dana bencana, biaya operasional sekolah, apalagi sampai menyingkat umur rakyat. Naudzubillahi min dzalik…

Tambahan seko Kang Kombor:

Yang mulai siapa kalau bukan nenek-moyang dulu? Coba saja macam theyong kemiling (senthe dhotong dhekemi maling), burnas kopen (bubur panas kokopen) sampai sing njijiki macam icip turi (tai lancip metu keri), ipak tusik (tai gepak metu dhisik).