Sepakbola Indonesia di Ambang Kematian?
Januari 31, 2007
Lonceng kematian liga Indonesia sudah semakin dekat. Liga yang didengung-dengungkan sebagai liga sepakbola profesional di Indonesia ini semakin terlihat kepayahan menerima terpaan masalah, dan semakin jauh dari cita rasa dan image profesionalnya. Berbagai masalah mengenai buruknya kualitas wasit, mental pemain, kebrutalan penonton, serta tidak profesionalnya BLI maupun PSSI, menjadi catatan hitam yang menghiasi kepemimpinan Nurdin M Top, eh Nurdin Halid. Mulai dari masalah inkonsistensi sistem kompetisi, peniadaan degradasi dengan berbagai alasan (soal gempa Jogja juga jadi kambing congeknya), skorsing Persebaya, kegagalan Arema dan Persipura bertanding di Liga Champion Asia, sampai permasalahan sponsor Arema. Kalau mau disebutkan di sini, bisa habis kuota wordpressku. Satu-satunya prestasi Nurdin Halid yang kayaknya tak bakalan mungkin disamai oleh federasi sepakbola negara manapun di dunia, adalah kemampuannya untuk memimpin PSSI dari balik bui. Bahkan code of conduct-nya FIFA pun tak mampu menggoyangkan tampuk kekuasaannya. Imbas yang nyata dari hasil ketidakbecusan pengurus, adalah prestasi timnas yang tidak kunjung membaik, bahkan cenderung semakin menurun. Dengan negara yang duapuluh tahun yang lalu masih asyik bergerilya melawan mbah moyangnya Bush pun kini PSSI tak mampu bersaing. Mungkin beberapa tahun lagi, melawan Brunei, Philipina atau Timor Leste pun kita terpaksa harus mendatangkan Ki Kusumo atau Mama Loren untuk nyebeh agar bisa menang. Jangankan Peter Withe, Bora Milutinovic pun akan kehilangan kesaktiannya begitu menginjakkan kaki di Indonesia, selama iklim persepakbolaannya masih seperti sekarang ini.
Membaca Kompas beberapa waktu yang lalu, cukup terhenyak dengan kenyataan bahwa dari 36 tim yang berlaga di Liga mendatang, sekitar 33 tim ternyata mendapatkan dana hibah dari APBD. Besarnya pun nggak tanggung-tanggung, bisa sampai lebih dari 10 M. Berarti selama ini klub sepakbola yang ngakunya profesional itu hidup dari belas kasihan rakyat, tanpa pandang bulu, bahkan yang sengit ndulit sama sepakbola pun tanpa disadari turut menyumbang kelangsungan hidup sepakbola itu sendiri. Dan uang sebanyak itu tak berbekas, kecuali untuk membeli gengsi semu. Mending kalau berbuah prestasi. Sudah bukan rahasia lagi, kalau prestasi di liga lebih banyak ditentukan di belakang meja daripada di atas lapangan hijau. Seorang teman bercerita (awas, mohon dicek, janganjangan hanya fitnah), untuk lolos dari degradasi diperlukan duit sekian juta untuk nyogok sana sini. Keluarnya Permendagri no 13/2007 menjadi gong kematian bagi klub-klub liga Indonesia. Betapa tidak, dinyatakan bahwa mulai tahun 2007, tidak lagi diperbolehkan ada dana APBD yang dihibahkan kepada klub sepakbola. Bisa dipastikan, klub-klub yang selama ini mengemis kepada APBD akan kelabakan mencari dana untuk menutup anggaran yang selama ini ditunjang oleh pemerintah daerah. Selama ini, dengan mengandalkan ketua umum klub yang rata-rata bupati, klub dengan mudah meraup dana APBD, bahkan kadang-kadang budgetnya unlimited dan tidak masuk akal, namun karena ketua umumnya bupati, dan didukung oleh anggota DPRD yang populis dan sok peduli sama urusan rakyat, maka proposal itupun mulus-mulus saja masuk anggaran. Permendagri ini akan membuktikan seberapa profesional kah liga Indonesia. Adakah PSSI atau klub memiliki skema untuk mengatasi masalah ini? Cukup kreatifkan Nurdin Halid mengotak-atik sistem sebagaimana lihainya dia mengotak-atik bisnisnya? Bagi klub sendiri, mampukah mereka memanfaatkan momentum ini untuk berani menjadi klub yang benar-benar profesional sejati. Bukan benalu yang menggerogoti hak-hak warga yang lain. Karena sungguh 10 milyar itu bukanlah uang yang sedikit, yang bisa dipakai untuk membiayai sekian ribu anak sekolah atau mengobati sekian ribu kaum papa. Ataukah semakin membuktikan bahwa mereka hanyalah anak ayam broiler yang hanya mampu membuka mulutnya lebar-lebar, yang kalau tidak diopeni majikannya akan mati mengenaskan. Kita lihat saja. Sungguh, sebagai penggemar sepakbola yang desperately merindukan timnas PSSI berprestasi, saya tidak ingin sepakbola Indonesia mati suri. Tetapi sebagai rakyat yang memiliki hak untuk disejahterakan negara, saya juga tak rela hak anak saya mendapatkan pendidikan terbaik dan hak tetangga saya untuk mendapatkan jaminan kesehatan terampas gara-gara ego segelintir orang yang ngakunya peduli olahraga tetapi justru secara sistematis mematikan olahraga itu sendiri. Saya berharap, semoga PSSI, BLI, pengelola klub, pemain, penonton, dan seluruh pihak yang terlibat dalam persepakbolaan nasional tersadarkan oleh momentum ini, dan kembali kepada perannya masing-masing dalam memajukan sepakbola Indonesia. Sehingga, suatu saat nanti, Ponaryo-Ponaryo muda dengan bangganya mengangkat Piala Dunia dan mengibarkan merah putih di pentas dunia.
Bahasa Jawa Yang Kaya Rasa
Januari 29, 2007
Untuk soal garis keturunan, tampaknya bahasa Jawa memiliki perbendaharaan yang lengkap, baik dari sisi manusia maupun dari makhluk lain. Sampai keturunan kesekianpun, dalam bahasa Jawa ada istilahnya: anak, putu, buyut, canggah, udheg-udheg, gantung siwur, galih asem, debog bosok, dan seterusnya (maaf mungkin nggak urut). Di dunia binatang, hampir semua junior memiliki nama sendiri: cempe anak wedhus, pedhet anak sapi, cemeng anak kucing, kirik anak asu, kuthuk anak pitik, meri anak bebek, minthi anak menthok, piyik anak doro, tobil anak kadhal, bledug anak gajah, gogor anak macan, kowe anak munyuk, hehehe…
Maaf, aku sering kesulitan menggunakan bahasa Indonesia untuk menggambarkan istilah atau kalimat dalam bahasa Jawa dengan tepat. Salah satu kalimat yang sampai saat ini belum berhasil aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan sempurna adalah: “Pitikku mati kunduran trek”.
Ada yang bisa membantu?
Jogja, Yogya, Jogya atau Djokja??
Januari 19, 2007
Kalau menyimak pidatonya Njeng Sultan, pasti deh pronounciationnya Jogjakarta. Tapi kalau melihat papan nama kantor-kantor, yang kita lihat pasti Daerah Istimewa Yogyakarta. Giliran mata kita menatap baliho besar di sepanjang jalan dalam kota, eh, muncul tulisan Jogja, Never Ending Asia. Ketemu sama bis AKAP, tertulis: Magelang – Jogya – Surabaya. Kesasar di Lower Ground Malioboro Mall, muncul tulisan Dagadu Djokja. Lha sing salah sing endi?
Aku mencoba berkunjung ke situsnya Kota Jogja. Dalam satu situs aja nggak konsisten. Kadang nyebut Yogyakarta, kadang juga Jogja. Sing bener sing endi? Anda punya ide kah?
Salah satu tujuan orang berolahraga adalah menjaga dan meningkatkan kebugaran tubuh. Dengan kebugaran tubuh yang terjaga, tentunya penyakit ogah bersarang di tubuh kita, serta kita lebih mudah menjalankan aktivitas sehari-hari seperti bekerja, beribadah, berkebun dan lain-lainnya. Tujuan yang lain: prestasi dan prestise. Dengan prestasi yang tinggi, seorang atlet mampu menjunjung harkat dan martabat diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya. Siapa yang tak bangga apabila negara ini mampu merebut Piala Dunia? Kalau terlalu muluk, ya cukup banggalah kita bisa ngeloni Piala AFF (Sudah empat kali, masih saja gagaaal).
Lain halnya, apabila olahraga sudah mulai bersinggungan dengan bisnis yang memanfaatkan olahraga. Jujur saja, kegiatan olahraga tidak mungkin bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dana yang kuat. Coba hitung, berapa dana yang sudah dikeluarkan untuk seorang Taufik Hidayat, atau seorang Utut Adianto meretas prestasi di tingkat dunia. Atau berapa miliar rupiah yang dihamburkan oleh PSSI, mulai sejak proyek PSSI Garuda, Primavera, Baretti sampai super liga yang nggak ketahuan juntrung prestasinya. Dari mana kira-kira dana itu diperoleh? Tentu dari sponsor. Masalahnya, sponsor selalu memiliki misi di belakang ketulusannya memberikan dana. Tak ada makan siang yang gratis, demikian kata orang
sana. Sebagai institusi bisnis, tentunya tidak ada serupiahpun yang akan dikeluarkan, tanpa adanya timbal balik yang memadai. Sponsor memberikan dananya untuk kegiatan olahraga, tentu dengan harapan bisa meraup untung baik secara langsung maupun tidak langsung dari event tersebut. Baik berupa peningkatan penjualan produk, atau sekedar meningkatkan brand image perusahaan tersebut.
Sayangnya, salah satu industri yang paling banyak mengobral dana di dunia olahraga adalah perusahaan rokok. Tengok saja sejarah kita, hampir semua major event selalu ada stempel rokoknya: Liga Dunhill, Liga Kansas, Liga Djarum, A-Mild Kobatama, Sampoerna Hijau Pro-Liga, Marlboro GP 500, Marlboro Superbike, Gudang Garam A-1 Grand Prix, dan masih banyak lagi. Padahal jamak diketahui bahwa rokok adalah salah satu penyebab kematian yang cukup dominan menurut WHO. Inilah paradoksnya: Kita disuruh menonton, atau melibatkan diri untuk berolahraga, tapi disisi lain tanpa hentinya kita dicekoki untuk menjadi ahli hisap. Salut buat beberapa negara yang telah melarang branding rokok pada berbagai kegiatan olahraganya (dan kegiatan lain pada umumnya). Bagi kita di sini, bagaikan mimpi di siang bolong. Karena hanya industri rokoklah yang memiliki cukup dana dan bersedia untuk membiayai event-event olahraga. Selain itu pragmatisme dari penyelenggara event untuk tidak mau merugi akibat tidak ada sponsor yang mampu mendukung pendanaan. Sikap pemerintah yang mendua terhadap industri rokok juga berpengaruh pada kondisi seperti sekarang ini. Jadi, silahkan nikmati olahraganya, dan petik manfaat kesehatannya, tapi jangan ambil rokoknya.
Tahun Baru, Tak Berarti Apa-Apa Bagiku!
Januari 1, 2007
Kalau akau ditanya, malam tahun baru mau ngapain? Ada acara apa? Maka aku balik bertanya, memangnya harus ngadakan acara? Bagiku, malam tahun baru tak lebih seperti malam-malam yang lainnya, kecuali bahwa besoknya hari libur, jadi bisa sedikit longgar begadang, toh besoknya bisa disaur utang tidurnya. Jadi, buat apa ada acara khusus?
Ada yang bilang, mengakhiri tahun perlu ada introspeksi. Hey dab, introspeksi nggak usah nunggu akhir tahun. Tiap malam menjelang tidur, instropeksilah, apa yang kamu lakukan hari ini. Dosa apa yang kamu lakukan, berapa orang yang kamu kecewakan dan sakiti hari ini. Kalau nunggu sampai akhir tahun, betapa banyak akumulasi dosa, kesalahan, kekurangan yang telah dilakukan. Malah jadi bingung, mana yang harus lebih dulu diperbaiki.
Ada yang bilang, tahun baru saatnya berubah menjadi lebih baik. Lho dab, kenapa nggak mulai berubah saat ini sekalian? Kenapa harus tunggu tahun baru? Memangnya kamu tahu kalau tahun baru kamu masih dikasih umur oleh Allah? Untuk berubah menjadi lebih baik, tak perlulah kita menunda-nundanya. Kata da’i yang pernah kondang, mulailah saat ini.
Tahun baru justru menyuguhkan banyak kesia-siaan dan kesengsaraan. Berapa uang yang dihambur-hamburkan untuk sekedar membakar kembang api. Sekali nyala, sudah itu mati, tanpa sempat memberi arti. Berapa miliar uang yang dikeluarkan untuk berbagai pesta di hotel, pub, kafe, diskotik, stadion, dan tempat-tempat lainnya? Tahun baru mungkin memberikan rezeki dan peluang bisnis bagi beberapa kalangan, tapi tidak bagi rakyat jelata.
Jadi, malam tahun baru mau ngapain?