Aku Dan Rokokmu

Desember 29, 2006

Aku pernah merokok, bahkan nyaris kecanduan. Bermula dari isengiseng waktu SMA, kemudian berlanjut di awal-awal kuliah. Sampai akhirnya 4 November 1993 aku memutuskan untuk tidak merokok. Dua tahun kemudian, di lokasi KKN, kebiasaan itu kambuh lagi. Dengan dalih memudahkan approach ke masyarakat desa, mulailah aku mendekap batang mungil sembilan senti itu lagi. Hanya alhamduliLlah, aku masih punya tekad untuk berhenti merokok secara total sepulang dari KKN. Maka sebatang 234 menjadi rokok terakhir yang aku isap, dalam perjalanan di atas bus yang mengantarku pulang dari lokasi KKN di Purbalingga.

Kenapa aku berhenti merokok?

Pertama, aku sadar bahwa itu kebiasaan yang buruk bagi kesehatanku. Produsennya saja mengakui, dengan mencantumkan peringatan dalam kemasannya bahwa rokok dapat mengakibatkan serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin serta dapat menyebabkan impotensi. Lah yang pertama dan terakhir ini yang gawat. Kalau beneran impotensi, gimana aku bisa poligami? (eh, walaupun gak impotensi, aku merasa nggak mampu juga kok berpoligami)

Kedua, aku nggak punya cukup modal untuk membiayai kebiasaanku ini.  Saat itu, aku masih nodong ortu. Semasa merokokpun, aku termasuk golongan perokok berat, yang memberatkan teman, serta perokok pasif, pasif membeli. Jadi, daripada bingung-bingung nyari duit buat “ngomprong congor”, mendingan berhenti saja

Sikapku terhadap rokok?

Sewaktu aku memutuskan berhenti merokok, aku cukup menganggap bahwa rokok adalah musuh pribadiku, tapi bukan musuh orang lain, sehingga aku sangat permisif terhadap orang lain yang merokok. Aku cukup rela untuk dikebul-kebuli teman duduk, dengan pertimbangan toleransi, serta kelihatannya kok wagu, seorang cowok menegur teman duduknya untuk tidak merokok di dekatku. Kadang juga serem, kalau ngelihat yang ngerokok tampangnya sangar.

Seiring waktu berjalan, tumbuh kesadaranku, bahwa berada di lingkungan yang berasap rokok juga sama berbahayanya seperti halnya kita merokok sendiri, sehingga mulailah aku mengurangi intensitas keberadaanku di lingkungan yang berpotensi memproduksi asap rokok. Saat itu aku selalu memilih pindah tempat untuk menghindari asap rokok. Sejalan dengan itu, tingkat sensitivitasku terhadap asap rokok semakin meningkat, sehingga sedikit saja udara yang kuhisap terkontaminasi asap rokok, maka akan menimbulkan efek sedikit mual bagi diriku.

Lama-lama aku berpikir, bahwa tidak hanya para perokok saja yang memiliki hak untuk merokok. Aku sebagai orang yang tidak merokok juga punya hak atas udara bersih yang aku hirup. Tak selamanya aku harus mengalah dan menghindar dari mereka. Ada saatnya pula bahwa mereka yang harus mengalah dan menghargai hakku atas udara bersih. Maka saat ini aku menetapkan aturan bagi diriku: Kalau aku datang belakangan, dan orang-orang ditempat itu sudah merokok, maka aku mengalah, dengan konsekuensi aku harus mencari tempat yang sesuai untukku. Tapi kalau aku sudah ada dari tadi di situ, tahu-tahu ada orang muncul dan langsung merokok tanpa permisi, maka aku akan menegurnya, kalau tidak mengusirnya dengan halus.

Kesimpulannya: aku tidak merokok, dan tidak berharap menghirup udara yang terkontaminasi asap rokok (demikian juga halnya dengan para non perokok lainnya). Ada hak bagi kaum perokok untuk merokok, tapi ada juga hak bagi kaum yang tak merokok untuk menikmati udara bersih, jadi bagi kaum perokok, merokoklah hanya ditempat-tempat tertentu, yang tidak mengganggu orang yang tidak merokok.

Jadi, jangan keluarkan rokokmu di hadapanku….

NB.:
Beberapa waktu lalu aku membaca pendapat beberapa ahli fiqih, bahwa merokok itu haram, dengan berbagai alasannya. Terbaca juga puisi Taufik Ismail tentang rokok yang disebutnya sebagai tuhan sembilan senti…

Ibuku sudah hampir memasuki usia 67 tahun. Di usia yang sudah tidak bisa dianggap muda itu, atau bahkan sudah dibilang tinggal menunggu panggilan-Nya, ibuku masih terlihat segar, lincah dan sehat. Walaupun gurat-gurat ketuaan mustahil bisa disembunyikan dari wajahnya.Ingatanku melayang ke masa lalu. Waktu aku kecil, tak pernah sekalipun aku terpisah darinya. Kemanapun ibu pergi, aku senantiasa “nginthil” dibelakangnya, sambil memegangi erat ujung selendangnya. Aku masih ingat, betapa sengsaranya waktu ibu harus mengikuti penataran seminggu di Kaliurang, dan meninggalkanku di rumah bersama kakak-kakakku. Ibuku pula yang senantiasa membela dan melindungiku dari kenakalan kaka-kakakku. Waktu kecilku, aku memang sangat mudah menangis, sehingga menjadi obyek kenakalan kakak-kakakku. Aku hanya bisa menangis dan sesenggukan di pelukan ibu, tatkala ketiga kakakku menakaliku.

Sewaktu aku sakit, ibu selalu disampingku. Aku ingat, dua kali harus opname di rumah sakit, beliau sama sekali tidak pernah sedikitpun beringsut dari sisiku. Bahkan saat aku telah kuliah, dan harus rawat inap, ibuku pun tak pernah meninggalkanku. Ditinggalkannya pekerjaan kantornya demi bisa menunggui aku.

Sampai sekarang, kalau aku hitung, mungkin tak cukup seluruh batu kerikil di depan rumahku untuk menghitung kebaikan ibuku padaku. Sungguh, entah apa yang bisa kulakukan untuk membalas ketulusannya. Pernah aku mencoba menolak uang pemberiannya, dengan harapan agar uang itu bisa dimanfaatkan untuk beliau membeli sesuatu, dan toh aku juga sudah punya penghasilan sendiri, dengan berlinang airmata ibu seolah menjawab: ”Ya sudah, kalau memang keikhlasan ibu tidak lagi kamu butuhkan…”. Saat itupun aku peluk ibuku, dan aku sadar bahwa aku tidak akan pernah lagi menolak pemberian ibuku, sekecil apapun. Karena aku tahu, itulah yang diinginkan oleh ibu, sebagai wujud kasih sayangnya, ketulusannya…

Ibu, sungguh aku belum mampu membalasmu, dan tak akan pernah mampu. Seorang pemuda yang tiap hari memanggul ibunya yang lumpuh sampai pecah-pecah kakinyapun, dikatakan Rasulullah belum sepadan dengan yang telah diperbuat oleh ibu, apalagi aku, yang tak pernah melakukan sesuatu yang berarti bagi ibuku, bahkan sekedar untuk menyenangkan hatinya, melihatnya tersenyum…

Ibu, maafkan anakmu. Tersenyumlah, jangan menangis, karena dunia pun akan menangis, seiring jatuhnya air matamu…